MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
57. MEMASTIKAN


__ADS_3

Hera hanya bisa diam mengikuti kemana Tuan Tama akan membawanya, tanpa tau apa dan kenapa? Tuan Tama tak membiarkan tangan Hera terlepas dari genggamannya sepersekian sedetikpun. Dia seolah takut Hera akan menghilang dari pandangannya saat genggaman tangannya terlepas. Tidakkah dia terlalu posesif?


"Ada apa?" Tanya Tuan Tama bingung karena Hera tiba-tiba berhenti.


Tentu saja Hera mematung. Tuan Tama menariknya masuk ke dalam kamar pribadinya. Kamar yang bahkan tak sembarangan orang boleh masuk meski untuk membersihkannya. Dan sekarang dia menarik Hera untuk masuk ke sana. Bukankah itu aneh?


"Maaf Tuan, tapi kenapa Anda membawa saya ke sini? Apa Anda ingin saya membersihkan kamar Anda sekarang? Kalau begitu saya akan mengambil peralatannya dulu." Hera ingin berbalik, namun Tuan Tama menahannya.


"Masuk!"


Jujur saja, ada perasaan takut di hati Hera untuk masuk. Pasalnya ini adalah area pribadi Tuan Tama. Tidak akan ada yang bisa menolongnya jika sesuatu terjadi padanya di dalam sana.


"Jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa. Masuklah!"


Dengan perasaan was-was, Hera memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam kamar keramat tersebut.


Tuan Tama meminta Hera untuk duduk di sofa, bersebelahan dengan nya.

__ADS_1


"Kau tau tentang sayembara itu? Atau kau yang memang ingin melakukannya?" Tanya Tuan Tama. Dia harus memastikan bahwa Hera ingin mencari suami lagi atau tidak.


"Sayembara? Sayembara apa maksud Tuan?"


"Orang-orang tadi. Mereka di undang Deon untuk mengikuti sayembara. Kau tidak tau?"


"Bukankah mereka tamu-tamu Anda? Tuan muda tidak mengatakan apapun tentang orang-orang itu."


"Hera, mereka bukan tamuku. Aku tidak pernah mengundang siapapun untuk datang k sini. Deon sengaja mengundang mereka untuk mencarikan calon suami untuk mu. Menyebalkan" Gerutu Tuan Tama.


"Kenapa?"


"Maksud saya, kenapa Anda harus merasa kesal?"


Tergagap Tuan Tama menerima pertanyaan singkat dari Hera, namun mempunyai makna yang sangat mendalam.


"Itu... karena.... karena.... aku tidak suka ada orang asing yang datang kemari, apalagi tanpa seizin ku." Alibi Tuan Tama, menyembunyikan detak jantung nya. Dia seperti bocah yang ketahuan mencuri oleh ibunya.

__ADS_1


"Berarti Anda juga tidak menyukai saya? Saya kan juga orang asing?"


"Tentu saja berbeda. Kau itu bukan orang asing, kau itu is....." Hampir saja keceplosan. Tuan Tama langsung menghentikan perkataannya dan menatap Hera yang masih setia menunggu kelanjutan kata-katanya.


"Kau itu pengasuh putraku." Entah kenapa, seperti ada rasa bersalah saat mengucapkan kalimat tersebut. Meskipun memang begitulah kenyataannya.


"Oh." Sebenarnya Hera tak berharap banyak dengan jawaban Tuan Tama. Dia cukup sadar diri dengan status nya. Namun tetap saja jawaban dari Tuan Tama mampu menundukkan pandangannya.


"Hera, maukah kau berjanji padaku?"


Hera terdiam, entah karena mendengar permintaan Tuan Tama, atau justru karena laki-laki tampan yang merupakan suaminya itu tengah menatapnya sembari menggenggam erat tangan nya.


"Berjanjilah kau tidak akan menerima seorang pun pilihan Deon. Kau harus menolak keinginannya untuk mencarikan mu suami. Kau mengerti? Berjanjilah kau tidak akan menikah dengan siapa pun.!"


Entah sadar atau tidak, kepala Hera mengangguk setuju. Tentu saja hal itu membuat Tuan Tama sangat bahagia.


"Baiklah, kalau begitu kau boleh keluar sekarang."

__ADS_1


Hera pun berjalan keluar meninggalkan sang majikan yang tengah berbahagia setelah mendapat kan jawaban yang di inginkan nya.


"Ku kira kau akan dikurung selamanya di dalam sana."


__ADS_2