MAFIA CILIK PENCURI HATI

MAFIA CILIK PENCURI HATI
29. TAKUT KEHILANGANMU


__ADS_3

Pagi ini terasa agak berbeda dari pagi-pagi lainnya bagi Hera. Deon, Tuan mudanya telah bangun lebih dulu sebelum dia datang untuk membangunkannya. Dan juga, Deon tidak lagi ingin dimandikan olehnya. Dia hanya akan membantu Deon berpakaian dan sedikit mendandani Tuan kecilnya itu agar terlihat lebih tampan lagi.


Perubahan tak hanya terjadi pada Deon, melainkan juga pada Tuan Tama. Laki-laki tampan yang merupakan suami Hera tersebut sepertinya lebih ramah dari biasanya. Bahkan dia juga meminta Hera untuk ikut sarapan bersama mereka lagi, seperti yang terjadi saat makan malam kemarin.


Tapi sepertinya Hera salah memahami perubahan sikap pasangan ayah dan anak yang menjadi majikannya tersebut. Hera merasa bahwa sekarang dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi. Apa itu artinya dia akan segera di usir dari sana?


Jika dulu, mungkin Hera akan sangat senang membayangkan dirinya akan bisa bebas dari sana. Tapi tidak lagi untuk saat ini. Dia sudah terlanjur jatuh hati pada Tuan muda nya yang baik, perhatian, penuh kasih sayang, dan juga menggemaskan. Hera sudah terlanjur menyayangi Deon seperti anaknya sendiri. Bagaimana jika dia benar-benar di usir dari sana? Itu artinya dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Deon kan? Hera sungguh takut itu terjadi. Bahkan air matanya menetes membayangkan hal menakutkan itu.


Deon melihat Hera yang terus menunduk. Dia tidak mengerti kenapa Hera tidak menyentuh makanan nya sama sekali. Bukankah harusnya dia senang. Pekerjaan nya sudah lebih berkurang, tidak sebanyak sebelumnya. Dan ayahnya juga tidak membencinya lagi. Lalu apa yang terjadi pada Hera?


"Kau baik-baik saja?" Tanya Deon sambil menggenggam tangan Hera dengan tangan kecilnya.


Hera tersentak kaget merasakan sentuhan tangan Deon yang tiba-tiba.


"Ya, Tuan muda butuh sesuatu?" Tanya Hera sembari menatap Deon. Dan seketika Deon dapat melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Hera.


Deon meletakkan sendok di tangannya, kemudian beralih menangkup wajah Hera yang nampak tengah bersedih.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Deon penuh perhatian.

__ADS_1


Mendapatkan perhatian seperti itu sungguh sangat menyentuh hati. Ingin rasanya Hera menangis di pelukan bocah lima tahun tersebut. Namun Hera mencoba untuk tidak menangis di hadapan Deon dan juga Tuan Tama. Dia mencoba memaksakan senyuman nya untuk menutupi kesedihan yang kini mengisi relung hatinya.


"Tidak ada apa-apa Tuan muda. Saya baik-baik saja."Jawab Hera sambil tersenyum.


Tuan Tama yang memperhatikan interaksi mereka pun dapat melihat bahwa senyuman Hera sangat terlihat dipaksakan. Tapi apa yang membuat gadis itu tiba-tiba menjadi sedih begitu? Apa ada yang menyakiti nya?


Meski ingin tahu alasan Hera bersedih, tapi Tuan Tama tidak bereaksi sama sekali. Dia tidak seperti Deon yang begitu perhatian terhadap Hera. Tuan Tama adalah orang yang cuek, dan terkesan lebih dingin kepada perempuan. Mungkin karena selama ini dia tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan wanita manapun. Jadi dia tidak tau bagaimana harus memperlakukan seorang wanita dengan baik dan benar.


"Kau tidak nyaman di sini? Bagaimana kalau kita ke taman?" Tawar Deon. Anak kecil itu berusaha menghibur Hera yang tengah bersedih, entah karena apa. Setahunya tak ada kejadian apapun yang menimpa Hera kemarin. Lalu kenapa tiba-tiba sekarang dia jadi begitu sedih? Sungguh Deon tak mengerti.


"Tidak perlu Tuan muda. Saya hanya kelilipan saja. Sungguh." Hera mencoba beralasan.


"Kau yakin?"


"Iya."


"Baiklah, kalau begitu mari kita makan. Habiskan sarapan mu!" Perintah Deon.


Deon tak ingin memaksa Hera. Biarlah, jika nanti Hera sudah lebih tenang, baru dia akan menanyakan nya lagi. Untuk saat ini, biarlah Hera menikmati makanannya dulu dengan tenang.

__ADS_1


Tapi respon Tuan Tama justru sangat jauh berbeda.


"Pelayan."


"Iya Tuan?"


"Apa kalian tidak membersihkan ruang makan ini? Kenapa banyak sekali debunya?"


"Sudah Tuan, kami sudah membersihkan semuanya."


"Lalu kenapa..."


Tuan Tama tidak jadi meneruskan kalimatnya saat melihat tatapan Deon dan Hera padanya. Deon tidak mengerti apa yang terjadi pada ayahnya. Memangnya dimana dia melihat banyak debu? Meja makan dan semua peralatan makan yang mereka gunakan sudah sangat bersih dan steril. Apa karena Hera mengatakan dia kelilipan? Sangat tidak masuk akal.


"Sudahlah, lupakan saja." Tuan Tama pun segera menyuruh pelayan tersebut untuk pergi. Kini justru dia merasa canggung karena Deon terus menatapnya penuh curiga. Tapi Tuan Tama hanya pura-pura tidak tahu. Dia tetap fokus melanjutkan makan nya dengan tenang.


Deon dan Hera pun memutuskan untuk ikut makan juga. Mereka menikmati sarapan tersebut dalam diam. Tak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Sangat memalukan."

__ADS_1


__ADS_2