
“Iya Kak, kenapa?” Tanya Yuki.
“Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Shiro khawatir, karena wajah Yuki terlihat pucat.
“Tidak, hanya memikirkan tentang besok.” Jawab Yuki sambil tersenyum. Dia berbohong karena tidak ingin kakaknya menjadi khawatir.
“Ayo ke atas sudah larut malam.” Ajak Shiro.
Saat itulah Yuki menyadari bahwa hanya tersisa mereka berdua di ruang tengah, dia melirik jam dinding dan waktu menunjukkan pukul 12 malam.
“Yang lain sudah masuk ke kamar?” Tanya Yuki polos.
“Sudah dari jam 10 tadi. Kamu sih melamun terus.” Jawab kakaknya pura-pura kesal.
'Berarti Kak Shiro sudah menunggu Yuki selama 2 jam.' Batinnya.
Mereka bangkit lalu menuju lift, di dalam lift Yuki meminta maaf kepada kakaknya karena sudah menunggu lama. Mereka sampai di lantai 3, Shiro meminta Yuki untuk masuk ke kamarnya terlebih dahulu. Dan Yuki hanya menuruti kakaknya.
Tepat sebelum Yuki membuka pitu kamar, Shiro berseru didekatnya, “Jangan pikirkan masa lalu lagi, kita sudah hidup di masa depan, jangan biarkan masa lalu membuatmu sedih. Selamat beristirahat Yuki.”
Yuki tercengang dengan kata-kata yang dilontarkan kakaknya, dia hanya berdiri mematung di depan pintu kamarnya. Shiro melihatnya sambil tersenyum hangat, kemudian membuka pintu dan masuk ke kamarnya sendiri.
Yuki masih berdiri di sana selama beberapa menit, sampai angin musim dingin menyapu wajahnya, membuatnya tersadar kembali.
‘Dia selalu mengetahui semuanya, aneh sekali. Terima kasih kak, selamat malam.’ Jawab Yuki dalam hatinya, Yuki bersyukur bertemu dengan Shiro.
***
Hari relokasi dimulai, semuanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Helikopter meramaikan langit desa pinggiran dari pagi sampai sore hari.
Selama 3 hari 10 helikopter bolak-balik setiap hari antara pulau dan desa pinggiran. Senyum mengembang di semua wajah warga desa pinggiran, harapan kembali berkembang di hati mereka. Hingga akhirnya misi relokasi selesai dilakukan.
Yuki dan Shiro tidak sempat datang saat relokasi berlangsung. Shiro selalu mengurung diri di laboratoriumnya seperti biasa, entah apa yang dia lakukan bahkan Yuki tidak tahu.
Terkadang Yuki menemani kakaknya di laboratorium, jika dia bosan dia akan berlatih bela diri atau berolahraga di gym.
Shiro akan keluar laboratorium saat sarapan dan makan malam, kemudian kembali mengunci dirinya lagi di dalam laboratorium.
Yang orang lain tidak tahu, Shiro mengembangkan alat baru yang bisa menyembunyikan keberadaan suatu benda atau bangunan.
Alat itu memberikan ilusi kepada manusia yang berniat jahat maupun tidak terdaftar dalam sistemnya.
***
Seminggu berlalu dengan cepat sejak hari pertama relokasi dilakukan, musim dingin juga telah datang dan salju pertama mulai turun. Sangat lumrah jika banyak yang terserang flu disaat seperti ini. Tetapi ada yang berbeda di desa pinggiran.
__ADS_1
Flu yang menyerang mereka berbeda dari biasanya, setelah seseorang tertular flu, badannya sangat dingin dan mulai menghitam mirip seperti seseorang dengan gejala hipotermia.
Warga mulai panik, ini adalah pertama kalinya terjadi sesuatu seperti itu di desanya. Penyakit itu menyebar dengan cepat hingga beberapa korban jiwa mulai berjatuhan.
Kepala Saudi yang mengetahui informasi itu segera menghubungi ambulance. Dikarenakan sedang terjadi badai salju, ambulance sedikit terlambat datang.
Saat petugas sudah tiba di desa pinggiran, mereka tidak melanjutkan penyelamatan karena penyakit yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya. Para petugas langsung kembali lagi ke rumah sakit dan tidak mempedulikan pasien.
Kepala Saudi yang panik segera menghubungi Shiro. Hanya pada dermawan mereka lah satu-satunya tempat untuk menggantungkan harapan.
"Kepala Saudi? Ada apa tengah malam menelfon?" Tanya Shiro khawatir.
"Shiro, bisakah kamu ke desa pinggiran sekarang? Warga terserah penyakit aneh. Kami sudah menghubungi ambulance dan rumah sakit, tapi setelah mereka datang dan melihat kondisi warga, mereka langsung pergi." Kepala Saudi menjelaskan dengan terburu-buru.
"Kepala Saudi tenang dulu jangan panik, bisa ceritakan kepada saya bagaimana keadaannya?" Tanya Shiro.
"Ba... Baik! Menurut warga, awalnya mereka seperti terserang flu kemudian setelah beberapa waktu jari tangan dan kaki mereka mulai menghitam, dan langsung menyebar dengan cepat!" Kepala Saudi menjelaskan sampai kehabisan nafas karena terlalu panik.
"Baik, saya akan segera ke sana, tunggu kami!"
"Terima kasih Shiro, terima kasih banyak!" Jawabnya lega.
Segera Shiro turun dari tempat tidurnya, berlari menuju kamar Yuki. Shiro mengetuk pintu kamar Yuki berkali-kali, karena terlalu lama, akhirnya dia menerobos masuk ke kamar Yuki.
Yuki yang mendengar keributan itu baru saja turun dari tempat tidurnya, lalu melihat Shiro berjalan terburu-buru kearahnya.
"Warga desa terserang penyakit aneh! Awalnya mereka cuma terserang flu, tapi kemudian gejala selanjutnya mirip dengan hipotermia, jari-jari mulai nekrosis, tapi nekrosis ini menjalar dengan cepat." Jelas Shiro singkat.
"Yuki, kita harus ke sana. Aku akan mengambil beberapa obat dan masker yang ada di lab, kemudian kita harus cepat-cepat ke sana, tapi tidak bisa menggunakan mobil di luar sedang ada badai salju!"
"Kakak tenang saja, aku bisa menggendong Kak Shiro dan berlari ke sana. Kita pasti segera sampai." Yuki berusaha menenangkan kakaknya.
Shiro langsung berlari menuju laboratoriumnya, mengambil beberapa obat yang dia kembangkan untuk dirinya sendiri, dan juga peralatan medis lainnya.
Setelah selesai, Shiro kembali ke lantai 3 kemudian Yuki menggendongnya turun dari balkon dan berlari menuju desa pinggiran secepat kilat.
Puluhan detik berlalu, Yuki dan Shiro sudah sampai di desa pinggiran dan mencari keberadaan Kepala Saudi.
"Shiro...! Yuki...!" Teriak seorang pria paruh baya.
Shiro dan Yuki langsung menoleh ke sumber suara. Kepala Saudi dan kepala Doni melambai dan berjalan ke arah keduanya dengan wajah panik dan lelah.
"Kepala Saudi, berapa banyak warga yang terinfeksi?" Tanya Shiro.
"Untuk sekarang sudah ada sekitar 900 lebih warga yang terinfeksi, dan sebagian ada yang meninggal. Kami berencana untuk mengkremasi mereka besok setelah badai selesai." Jawab Kepala Saudi sambil memimpin jalan menuju aula tempat isolasi warga yang terinfeksi.
__ADS_1
Sambil berjalan mengikuti kedua Kepala Desa, Shiro mengeluarkan koper obat yang dia bawa kemudian membagikan masker kepada Yuki dan kedua Kepala Desa. Setelah menerima masker dari Shiro, mereka langsung memakai masker itu.
Shiro hanya ingin berjaga-jaga, jika benar penyakit ini diawali dengan flu, dia takut jika penyebarannya melalui udara atau melalui droplet. Sehingga dia membagikan masker itu dan memakai juga untuk dirinya sendiri.
"Kak, biar aku yang bawa kopernya." Yuki berinisiatif mengambil koper dari tangan Shiro.
"Terima kasih." Jawab Shiro sambil tersenyum tetapi terhalang masker.
Segera mereka sampai di aula, banyak warga berlalu lalang keluar masuk di aula. Dan lebih banyak lagi yang berkumpul di luar aula menunggu pertolongan medis.
Aula itu sangat besar, bisa menampung ribuan orang di dalamnya, juga terletak di tengah-tengah antara distrik timur dan distrik barat, sehingga tidak heran jika sangat ramai karena sebagian besar warga di kedua distrik berkumpul di sana.
"Kepala Desa!" ratusan warga yang melihat mereka berempat berseru, mereka berharap kedua anak muda yang dibawa kepala desa adalah orang yang bisa membantu mereka.
"Tolong selamatkan orang tuaku!"
"Tolong selamatkan keluargaku!"
Semakin banyak warga yang berteriak memohon kepada kakak beradik itu.
"Tenang! Tenang semuanya! Tunggu sampai Shiro menemukan penyebab kejadian ini, saya mohon kepada semua warga untuk tenang dan menunggu dengan sabar!" Kepala Doni berbicara dengan sangat lantang kepada warganya yang sudah berkumpul di depannya.
"Yuki, aku sudah mengepak beberapa lusin kotak masker, tolong bantu bagikan kepada warga. Jika kurang, minta yang lain untuk membawanya." Kata Shiro sambil memberikan 'Liontin Penyimpan' kepada Yuki.
"Siap Kak." Jawab Yuki tegas sambil mengembalikan koper kepada Shiro dan menerima 'Liontin Penyimpan' sebagai gantinya.
"Kepala Saudi, mari ikut dengan saya ke dalam aula. Kepala Doni tolong bantu Yuki membagikan masker, dan menenangkan warga yang lain."
"Baik!" Jawab kedua Kepala Desa serentak.
Setelah kakaknya masuk ke dalam aula, Yuki membagikan masker dengan cepat, namun karena jumlahnya yang tidak seberapa, dia langsung menghubungi orang-orang di markas untuk membeli banyak stok masker dan membagikannya kepada warga.
"Halo Kurina... Bawa semua anggota inti ke aula tengah distrik desa pinggiran sekarang, secepat yang kalian bisa."
"Beli ribuan box masker yang bisa kalian dapatkan dan langsung bagikan kepada warga desa pinggiran." Yuki menelpon Kurina dan membagikan tugasnya kepada mereka.
"Satu lagi, minta tolong bawakan mantel untuk Kak Shiro, dia tadi lupa membawa mantel dan hanya memakai jas laboratoriumnya. Hati-hati di jalan."
Yuki teringat kakaknya yang hanya memakai sweater dan jas lab, sehingga meminta Kurina. Untuk membawakan Mantel bulu milik Shiro.
Kulit Shiro sangat tipis, sehingga mudah kedinginan atau kepanasan. Sedangkan dia sendiri yang juga hanya memakai sweater hitam tidak terlalu peduli dengan hawa dingin karena dia memiliki daya tahan tubuh yang kuat.
Setelah Yuki menutup telfon, dia langsung menghubungi Kapten Ryu dan meminta beberapa anggota pasukan membawa fasilitas medis paling mutakhir yang mereka miliki ke desa pinggiran.
Setelah Yuki selesai memberi perintah, dia segera masuk ke aula bersama Kepala Doni untuk menemani kakaknya. Dia khawatir jika kakaknya tertular penyakit misterius itu.
__ADS_1
Yuki membutuhkan waktu beberapa menit untuk menemukan kakaknya, karena keadaan aula yang sangat berantakan.
"Kak bagaimana situasinya?" Tanya Yuki.