
Butuh waktu 1 jam agar helikopter sampai di rumah mereka. Karena Pasukan Kirifuda masih melakukan relokasi warga desa pinggiran.
Jadi Yuki masih harus menunggu sampai mereka datang menjemputnya.
"Yuki, bagaimana jika ini tipuan?" tanya Ai yang dari tadi masih duduk di dekat Yuki. Lainnya sudah pergi menjalankan tugas masing-masing sehingga mereka hanya ditinggalkan berdua.
"Aku tidak peduli. Jika itu tentang kakakku, apapun akan aku hadapi. Aku merindukannya."
"Kami semua juga merindukan dia." Jawab Ai dengan murung.
Seketika ruangan kembali sepi, keduanya tenggelam dalam lamunan masing-masing.
***
Suara baling-baling yang berputar dengan kencang terdengar mendekati rumah mereka. perlahan mendarat tepat di lapangan yang cukup luas belakang rumah.
Kapten Ryu tidak mematikan mesin karena Yuki sudah stand by di dekat heli sejak capung raksasa itu bersiap untuk mendarat.
Pemuda itu segera naik dan dalam waktu singkat mereka kembali mengudara di langit kelabu. Salju masih turun menemani mereka di udara yang dingin.
Kapten Ryu sejak awal dikenal sebagai seorang pendiam. Yuki pun sama, jika bukan dengan Shiro, dia juga lebih banyak diam. Keduanya tidak banyak mengobrol jika bukan karena hal-hal penting saja.
Butuh waktu beberapa jam agar keduanya sampai di pulau Niji.
Hamparan laut yang tiada akhir mulai tergantikan dengan daratan penuh pepohonan. Semakin dekat dengan pulau, Kapten Ryu melihat lapangan kecil tepat di tengah pulau yang cukup untuk dua helikopter besar mendarat.
Tanpa menunggu, dia langsung turun ke lapangan kecil itu dan mendaratkan helikopternya.
"Apakah ini pulau yang benar?" tanya Kapten Ryu sesaat setelah baling-baling berhenti berputar.
"Iya, ini tempat yang benar." jawab Yuki beberapa saat setelah sudut matanya menangkap sebuah gerakan.
Yuki segera turun untuk melihat siapa yang mendekatinya, meskipun dia sudah menebaknya.
"Alpha!"
"Sudah kuduga, anda tahu nama saya." jawab pria berseragam hitam yang mendekati Yuki.
"Cukup basa-basi nya, dimana kakakku?!"
"Kami akan bertemu dengannya dalam beberapa jam ke depan. Sebelumnya maafkan saya, kami ingin menunggu anda terlebih dahulu, tetapi keadaannya semakin memburuk jadi kami mempercepat jadwalnya." pria itu menjawab dengan wajah bersalah.
__ADS_1
"Apa maksudmu?!"
"Kalian sudah membawa kakakku pergi tanpa izin, sekarang seakan-akan kalian sedang menyelamatkannya!"
"Kenapa kalian baru memberitahu keberadaan kakak sekarang?!"
Yuki tidak bisa menahan emosinya, pria itu bisa melihat tangan Yuki yang sudah terkepal dengan sangat erat. Alpha tahu temperamen pemuda itu, dia hanya bisa pasrah menerima jika Yuki ingin membunuhnya sekarang.
Tepat sebelum bisa menjawab, Yuki segera melanjutkan kata-katanya.
"Cepat bawa aku bertemu kakak. Tidak ada waktu untuk menunggu, harus sekarang!"
Pupil mata Alpha bergetar hebat, dia merasa bersalah kepada mereka semua. Tetapi dia juga tahu, yang dia lakukan adalah demi keselamatan anak dari Tuan. Sudah menjadi tugasnya untuk melindungi Nona Shiro, anak kesayangan Tuannya.
"Baik, ikuti saya. Sebelum itu izinkan saya meminta maaf sekali lagi." kata Alpha yang sedang mengambil sikap membungkuk 90°, "Maafkan kami semua!" katanya dengan keras dan penuh penyesalan.
Meskipun di luar dia terlihat acuh, tetapi hati Yuki sedikit luluh karena sikap Alpha. Dia sedikit mengerti kenapa Alpha melakukan itu kepada kakaknya. Bahkan Yuki sedikit kagum dengan sikap Alpha yang bertanggung jawab.
Setelah meminta maaf, Alpha memimpin mereka berjalan menuju hutan yang lebat. salju sudah berhenti turun, tapi menumpuk cukup tinggi di sekitar mereka.
Hanya butuh beberapa menit untuk mereka sampai di gua tepat di bawah bukit kecil. Mereka melanjutkan perjalanan masuk ke dalam gua dan mencapai ujung.
Dengan memindai retina mata, dinding di ujung gua terbuka dan memperlihatkan lorong putih. Ketiganya masih melanjutkan perjalanan dan mendapati lift di ujung lorong.
Pintu lift terbuka setelah bunyi dentingan kecil, dan mereka sampai di lantai B7. Lantai itu sangat luas dan bersih, lebih mirip seperti rumah daripada pusat penelitian.
"Kami sudah menempatkan helikopter anda di lantai B1, dan ini adalah lantai yang kami sebut rumah untuk nona. Tetapi untuk sekarang, nona sedang tidak ada di kamarnya, saya akan memimpin anda ke tempat nona sekarang." Alpha memecahkan keheningan lebih dahulu.
"Kenapa dia tidak ada di kamarnya?" tanya Yuki.
"Anda akan tahu sebentar lagi."
Ketiganya berjalan menuju lorong di salah satu sisi dan mulai mendengar suara-suara mesin bersahutan.
Yuki terkejut saat melihat ruangan yang dipenuhi suara mesin itu. Kakaknya Shiro ada di dalamnya bersama belasan orang di sekitarnya.
"Kami harus mengganti jantung Nona Shiro karena jantung itu sudah tidak berfungsi lagi. Kami beruntung karena Tuan dulu juga ilmuwan medis, sehingga kami memiliki banyak kenalan di bidang itu."
Alpha memulai penjelasannya, melihat Yuki dan bawahannya tidak mengatakan apapun dan hanya terpaku melihat Shiro yang terbaring di dalam kamar operasi.
"Kami menemukan seorang ahli yang dapat membuat jantung prostetik, dan kebetulan dia adalah sahabat Tuan, sehingga dengan senang hati dia membantu kami."
__ADS_1
"Tepat setelah jantung prostetik itu selesai dibuat, keadaan nona sudah sangat buruk. Dokter menduga, serum yang anda berikan kepada nona itu efeknya jauh dari cukup untuk menghentikan nekrosis jaringan otot jantung nona."
"Jadi ini adalah satu-satunya pilihan yang bisa kami buat untuk menyelamatkan nona. Kami baru menghubungi anda saat operasi akan dimulai. Semua itu demi nona, agar dia tidak melihat anda sedih. Nona selama ini koma, kami hanya menduga hal itu saja."
Alpha berhenti berbicara, menunggu Yuki memberi tanggapan. Tetapi Yuki hanya menatap kakaknya dengan sedih, entah apa yang dia pikirkan, Alpha tidak tahu.
"Terima kasih banyak. Aku pikir kalian ingin memisahkan kami dengan kak Shiro. Tetapi kalian sedang berusaha menyembuhkan dia. Terima kasih banyak." jawab Yuki sambil memandang mata Alpha dengan tulus.
"Ah tidak, itu sudah menjadi tugas kami, nona adalah segalanya bagi Tuan, jadi itu bukan apa-apa." Alpha salah tingkah dengan jawaban Yuki.
"Bisakah aku masuk dan melihatnya dari dekat?" tanya Yuki
"Tentu saja boleh, pintunya ada di sebelah sana, perawat di sana akan membantu anda." jawab Alpha segera.
Yuki mengangguk dan berjalan menuju tempat yang di tunjukkan oleh Alpha.
Setelah menjalani prosedur yang ditentukan, Yuki bergegas menggunakan jubah steril dan perlengkapan lainnya kemudian masuk ke dalam ruang operasi.
Seorang bawahan Alpha mengenali Yuki, sehingga dia membantu Yuki untuk mengenalkan para dokter ahli yang bertugas.
Yuki hanya bisa melihat dari jauh, karena operasi yang di lakukan adalah operasi besar yang membutuhkan waktu puluhan jam untuk menyelesaikan prosedurnya.
"Bagaimana dengan stok darahnya? Apakah cukup untuk operasi kakak?" tanya Yuki khawatir.
"Kebetulan kami mendapatkan akses untuk mencari golongan darah milik nona di seluruh dunia. Jadi kami mendapatkan lebih dari cukup kantung darah untuk nona." jawab bawahan itu.
"Syukurlah..." sahut Yuki lega.
Setelah puas melihat kakaknya, meskipun hatinya sakit melihat kakaknya melaksanakan operasi seperti itu, dia tetap lega. Karena kehidupan kakaknya bisa terjamin mulai sekarang.
'Aku akan melindungi dia seumur hidupku...' janji Yuki dalam hati.
Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia menahannya karena tidak ingin Shiro melihat bahwa adik laki-lakinya menangis.
......***......
...Lanjuuut… ->...
...。:゚(;´∩`;)゚:。...
...Yuki... Shiro... Semangat.......
__ADS_1
...***...