
Yuki menerima email dari Liu Ao, di dalamnya berisi sebuah video yang cukup membuatnya mencurigai sesuatu.
Saat itu Shiro baru saja dipindah ke ruangan khusus, masih dalam keadaan koma. Tetapi setelah semua orang pergi meninggalkan kamar Shiro, secara tiba-tiba Shiro menghilang dari kamarnya.
Seakan tubuhnya berubah menjadi transparan dan menghilang begitu saja.
Yuki langsung teringat ketiga pria misterius itu. Sayangnya dia tidak memiliki kontak mereka.
Karena mereka juga memiliki alat yang dibuat oleh kakaknya. Namun cukup aneh jika mereka bertindak seperti itu. Apa alasannya?
Ai sejak tadi juga melihat video itu bersama Yuki. Mulai memahami sesuatu.
“Ai, tolong cari tau keberadaan ketiga pria misterius. Jejak mereka, apa pun yang terjadi setelah kita meninggalkan rumah sakit sampai sekarang.”
Ai mengerti tugasnya, segera mengangguk dan mulai sibuk dengan komputernya.
“Tolong cari tau semua rekaman CCTV di rumah sakit, markas dan jalanan sekitar rumah sakit dan markas. Kemudian seingat ku Kak Shiro memiliki sebuah sistem untuk melihat kehadiran orang di markas ini. Bobol sistem itu juga. Aku akan membantumu melakukannya.”
“Siap Yuki!” Jawab Ai tegas.
Keduanya mulai bekerjasama. Sedangkan Aki tidak membantu mereka, dia naik ke dapur di lantai pertama untuk membuat makan siang.
Yuki tahu Aki berada di sekitarnya, tetapi situasi dan keadaan hubungan keduanya sedang canggung. Sehingga Yuki tidak memanggil Aki.
Beberapa hari mereka habiskan untuk mencari informasi mengenai keberadaan Shiro dan alasan kenapa dia menghilang.
Tetapi semakin dalam mereka menggali informasi, semakin bukti dan fakta yang mereka temukan sebelumnya di awal menjadi semakin menjauh dari mereka.
Yuki dan Ai tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa mereka tidak menemukan informasi apa pun?
Keduanya tidak bisa menghubungi para pria misterius itu, bahkan melacak jejaknya pun mereka tidak mampu, karena ketiganya sangat pandai bersembunyi dan menyamar.
***
Malam itu adalah malam tahun baru. Suasana markas masih sangat suram.
Relokasi warga desa pinggiran masih berjalan sesuai rencana. Tetapi semangat juang mereka, Pasukan dan Anggota Inti Kirifuda mulai hancur.
Anggota inti Kirifuda seperti kehilangan pijakannya. Terutama saat Yuki masih belum bisa menemukan keberadaan kakaknya dan ketiga pria misterius itu.
Setiap hari dia menghabiskan waktunya di ruang komputer atau di dalam kamar Shiro, berharap suatu saat kakaknya kembali.
Pemuda itu masih berusaha mencari keberadaan kakaknya. Tetapi hasilnya selalu nihil.
Yuki tidak mengerti harus bagaimana lagi. Dia semakin tidak memiliki niat untuk hidup, putus asa dan kecewa.
Hubungannya dengan Aki semakin hari semakin renggang. Keduanya bahkan jarang berbicara satu sama lain.
Keduanya berusaha untuk saling menghindar. Haruki pun semakin tidak bersemangat melakukan kegiatannya, anggota yang lain juga lebih sering melamun.
Tanpa Shiro di sekitar mereka, membuat organisasi itu seperti tidak memiliki nyawa.
Berat badan Yuki bahkan turun sangat banyak, dia hanya mengurung diri untuk mencari keberadaan kakaknya.
'Tok... Tok... Tok...!’ Ai mengetuk pintu kamar Shiro.
__ADS_1
“Yuki, aku membawakan makan malam untukmu. Aku masuk ya?” Tanya Ai dari depan pintu kamar Shiro.
Mereka berdua bekerjasama mencari keberadaan Shiro, karena itulah Yuki sangat dekat dengan Ai.
Seperti biasanya, Yuki tidak menjawab dari dalam kamar. Dia semakin jarang berbicara sekarang.
Tanpa menunggu lagi, Ai segera membuka pintu, pintu itu tidak pernah terkunci.
Kamar Shiro sangat gelap, tirai putih menutupi jendela prancis kamar Shiro.
“Yuki?” Ai berusaha membiasakan matanya dengan kegelapan.
Dia mencari keberadaan Yuki...
Setelah masuk lebih dalam, Ai mendengar suara rintihan dari tempat tidur Shiro di atas.
"Yuki? Ada apa?" Ai sangat terkejut mendengar suara rintihan Yuki.
Dia segera meletakkan nampan yang berisi makan malam dan air putih di meja teh tengah kamar.
Ai menaiki tangga ke tempat tidur, dan melihat Yuki merintih kesakitan di pinggir tempat tidur kakaknya.
"Yuki?! Apa yang terjadi padamu?!" Ai kaget dan bingung melihat kondisi Yuki.
Pemuda itu meringkuk di pinggir tempat tidur kakaknya sambil memeluk badannya yang gemetaran hebat.
Ai mendekati Yuki, memeriksa keadaannya. Sepertinya Yuki sedang mengigau dalam tidurnya.
Ai melihat Yuki menangis kesakitan. Dia tidak tahu apa yang ada dalam mimpi Yuki, tetapi Ai menduga itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Yuki? Yuki bangun..." Ai membangunkan Yuki dengan lembut.
"Kak Shiro?! Kakak kemana saja? Aku sangat merindukan Kakak..." Seru Yuki setelah melihat Ai.
Ai bingung dengan sikap Yuki, "Yuki aku buka--"
"Kak Shiro jangan pergi seperti itu lagi. Yuki takut!" Pemuda itu mengabaikan kata-kata Ai dan langsung memotongnya.
Sebelum mendengar penjelasan Ai, Yuki segera memeluknya dengan erat.
Dia berhalusinasi bahwa Ai adalah kakaknya. Gadis itu tidak mengerti harus bagaimana. Jika dia memberitahu Yuki kebenarannya, dia yakin Yuki akan kembali sedih.
Tetapi dia bukan Shiro kakak Yuki...
Ai mengalami dilema yang besar.
"Yuki, ayo makan dulu..." Ai tidak tega melihat kondisi Yuki, badannya yang dulu sangat baik, hanya dalam beberapa hari berubah menjadi kurus kering seperti itu.
"Kakak jangan pergi lagi ya... Aku tidak suka kakak meninggalkanku seperti itu!" Kata Yuki sambil memegang erat tangan 'Shiro'.
Yuki takut kakaknya menghilang lagi, Yuki takut kakaknya pergi meninggalkannya.
Ai akhirnya hanya bisa berpura-pura menjadi Shiro seperti bayangan Yuki.
"Iya, kakakmu tidak akan pergi lagi. Sekarang ayo makan dulu." Ajak Ai.
__ADS_1
Keduanya turun dari tempat tidur dan duduk di karpet bulu di tengah ruangan.
Ai tidak menyalakan semua lampu kamar, sehingga kamar itu memiliki cahaya remang-remang.
Ai duduk di depan Yuki, menghidangkan makanan yang sudah dia bawa.
"Aki yang memasak untukmu hari ini. Makan yang banyak. Jangan sampai sakit. Lihat badanmu kurus kering." Kata Ai kepada Yuki.
Di mata Yuki, orang yang berbicara dengannya adalah Shiro kakaknya, bukan Ai.
Sehingga dia menuruti kata-kata Ai. Yuki makan dengan lahap. Beberapa hari terakhir, dia jarang sekali makan. Semakin lama bahkan hampir tidak pernah makan.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Ai.
"Aku tidak tahu, mungkin enak. Bukankah kak Shiro tahu kalau aku tidak bisa merasakan makanan atau minuman apapun?" Tanya Yuki heran.
Itu sebenarnya bukan rahasia, tetapi Yuki dan Shiro tidak pernah memberitahu siapa pun tentang hal itu.
Yuki tidak bisa membedakan rasa. Lebih tepatnya dia tidak memiliki indera pengecap. Dia tidak tau rasa manis, asin, pedas, atau pun gurih.
Yuki hanya tau rasa masakan itu dari kakaknya. Pemuda itu pandai sekali memasak. Tetapi tidak pernah tahu kalau masakannya itu memiliki rasa yang luar biasa enak.
"Iya kah? Mungkin aku lupa." Kata Ai menutupi keterkejutannya.
Ai bingung, bagaimana mungkin seseorang yang pandai memasak ternyata tidak bisa merasakan rasa masakan.
"Selama ini kan kalau aku memasak sesuatu atau makan sesuatu selalu kakak yang mencicipinya terlebih dahulu." Jawab Yuki.
Ai hanya mengangguk.
"Kakak kemana saja? Kenapa meninggalkanku seperti itu?" Tanya Yuki.
Ingatan saat kakaknya hilang membuatnya sakit hati.
Ai tidak tahu harus menjawab apa. Dia masih bingung, kenapa Yuki tiba-tiba memanggilnya Shiro.
Dia takut jika Yuki sadar bahwa dia bukan Shiro, apakah Yuki akan marah?
Ai berada di posisi yang serba salah. Tidak tahu harus melakukan apa.
Sejak Shiro hilang, Yuki tidak pernah memiliki semangat hidup lagi. Semakin mengurung diri, tidak mendengarkan teman-temannya.
Aki, Kurina, Are dan Haruki sangat khawatir dengan keadaan Yuki.
Mereka akhirnya tahu bahwa kedua saudara itu, Yuki dan Shiro tidak pernah bisa terpisahkan. Mereka awalnya menganggap bahwa Shiro yang selalu bergantung kepada Yuki, karena Shiro tidak sekuat dan setangguh Yuki.
Tetapi ternyata kenyataannya, Yuki juga bergantung dengan Shiro. Dia tidak bisa jauh-jauh dari kakaknya.
Bahkan berpisah dengan kakaknya akan berakibat fatal untuk Yuki. Depresi dan hampir menjadi gila adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Yuki yang sekarang.
Berbanding 180 derajat dari Yuki yang mereka kenal.
...***...
...Lanjuuut… ->...
__ADS_1
...ʕ´• ᴥ•̥`ʔ→...
...***...