MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Aku Ingin Membunuhmu!


__ADS_3

Buku harian milik ayahnya sangat tebal. Shiro bahkan belum sempat membaca seperempat dari buku tersebut.


Shiro membaca buku harian itu dengan teliti, banyak penemuan-penemuan yang sudah dilakukan ayahnya ditulis lengkap dalam buku harian hitam itu.


Salah satu penemuannya adalah tentang liontin kubus yang telah dia ciptakan bersama putrinya. Shiro kembali mengingat tentang kenangan itu saat dia menemani ayahnya di laboratorium dan akhirnya mencetuskan ide-ide unik kepada ayahnya.


Salah satu ide unik itu tentu saja liontin kubus berwarna emas yang selalu dia kenakan sampai saat ini.


Shiro menyentuh liontin itu sambil mengenang masa lalunya. Kenangan yang indah menurutnya.


Saat itu hari sudah malam. Tidak ada bulan yang terlihat di langit malam karena sedang fase bulan baru. Sehingga malam yang gelap hanya disinari oleh taburan bintang.


Shiro sedang membaca di kamarnya di lantai 2, hanya ada lampu tidur saat dia membaca di atas tempat tidur.


Salah satu jendela di kamar itu dia buka, karena ingin memenuhi ruangan dengan udara gunung yang segar.


Gadis itu belum bisa tidur karena masih ingin membaca buku harian ayahnya. Dia sangat fokus hingga tidak menyadari saat ada seorang laki-laki yang memasuki kamarnya.


Laki-laki itu mengenakan baju warna hitam, kemarahan tampak di wajahnya yang tampan. Saat melihat Shiro yang sibuk membaca, lelaki itu segera menyerbu ke arah Shiro dan mencekik leher ramping gadis itu.


"S, Siapa kamu?" tanya Shiro tergagap. Dia sangat terkejut, kesakitan, dan kesulitan bernapas.


Pandangannya semakin kabur karena air mata yang keluar akibat kesulitan bernapas. Sehingga gadis itu tidak dapat melihat pria yang mencekiknya.


Dia berusaha melepaskan tangan lelaki itu dari lehernya, meskipun dia tau usahanya akan sia-sia karena kekuatannya jauh lebih lemah dari orang yang mencekiknya.


"Kamu sudah mengusirku. Kini kamu berusaha membubarkan organisasiku juga?" suara dingin pria itu terdengar sangat rendah dan menakutkan.


"Yu, Yuki?" Shiro semakin kesulitan bernapas. Dia bahkan merasa lehernya akan patah sebentar lagi.


Shiro tidak melawan lagi, karena pria yang mencekiknya itu adalah adiknya sendiri.


Dia merasa sudah putus asa dengan semuanya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan Harmonics atau siapa lah itu. Dia merindukan ayahnya dan ingin segera bertemu dengan ayah yang sangat dia cintai.


Shiro merasa bahagia karena orang yang ingin membunuhnya adalah adik kesayangannya sendiri.

__ADS_1


Perlahan senyuman yang tampak lega dan bahagia itu lolos dari bibirnya. Shiro tersenyum meskipun dia hampir kehabisan napas.


Yuki yang sangat marah melepaskan cengkramannya dari leher Shiro setelah melihat gadis itu tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Apakah kamu suka mengejek orang lain? Kamu pikir kamu siapa?!" Yuki berteriak memarahi kakaknya.


"Aku rela mati kalau yang membunuhku itu kamu. Aku pantas mendapatkannya. Ini lebih baik daripada hidup di dunia yang kejam ini. Lebih baik mati sehingga aku bisa bertemu dengan ayahku."


Shiro menjawab Yuki dengan perlahan karena masih kesulitan bernapas. Apa yang dia katakan itu adalah kebenaran tentu saja.


Yuki tidak tau harus berkata apa. Dia hanya dia metatap gadis itu.


"Kamu punya pisau Yuki, bunuh aku sekarang. Keluarkan pisau andalanmu itu."


Shiro yang sudah bisa mengatur napasnya perlahan bangun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Yuki.


Yuki memang selalu membawa senjata pada dirinya kemanapun dia pergi. Sepanjang jalan dia bingung harus bagaimana. Dia ingin melampiaskan kemarahannya pada sang kakak yang telah mengusirnya.


Tapi bukannya perlawanan, kakak yang sangat disayanginya malah ingin cepat mati.


Hati Yuki yang sakit dan penasaran selama berminggu-minggu ini akhirnya dia ungkapkan. Dia selalu ingin bertanya pada kakaknya. Hatinya hancur melihat kakaknya yang dulu sangat bersemangat, bahkan menyelamatkannya agar tetap hidup, kini sudah berubah.


"Bukan begitu." Shiro bingung harus menjawab apa. Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.


"Apakah kami sudah berbuat salah padamu? Apakah kami sudah tidak berharga di matamu?!" tanya Yuki frustasi.


"Kami? Apa maksudmu?"


Shiro semakin bingung dengan perkataan adiknya.


"Kamu sudah mempengaruhi pamanmu untuk mencoba membubarkan kami. Terus sekarang kamu pura-pura bodoh dan tidak mengerti apa maksudku?"


Lelaki tampan itu sangat marah karena merasa kakaknya hanya mempermainkan dirinya sekarang.


Dia ingin sekali membunuh kakaknya, tapi bukan respon takut yang dia dapatkan. Kakaknya sangat senang dengan keinginannya untuk membunuh Shiro.

__ADS_1


"Tunggu Yuki, aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu. Membubarkan apa? Maksudmu Kirifuda? Aku tidak pernah melakukan itu, bahkan aku belum pernah berbicara dengan pamanku."


Shiro berusaha menjelaskan. Dia tidak merasa melakukan hal-hal seperti itu.


"Bullshit! Omong kosong apa yang kamu katakan sekarang!"


Yuki sekali lagi mendekati Shiro dan mencekik lehernya. Dia mengangkat gadis itu dengan satu tangan.


"Ambil pisaumu jika kamu tidak mampercayai aku. Bunuh saja aku." kata-kata Shiro keluar bersamaan dengan senyumannya yang semakin lebar.


Yuki mencekik kakaknya dengan lebih erat, Shiro kehabisan napas dan akhirnya kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen.


"Aku sangat menyayangimu Yuki." Shiro berjuang mengatakan itu di sisa-sisa waktu sebelum pingsan. Yuki telah mendengar kata-kata Shiro meskipun dia mengatakannya dengan suara lirih.


Amarah Yuki langsung hilang setelah mendengar kalimat terakhir Shiro. Dia langsung melepaskan cengkramannya dari leher gadis itu dan membaringkannya di tempat tidur.


Yuki tidak pergi dari kamar kakaknya, dia hanya duduk di tempat tidur sambil menatap kakanya yang tertidur. Terkadang tangannya menyentuh leher Shiro yang terlihat memar karena perbuatannya sendiri. Rasa bersalah segera menyerang hatinya.


Pagi keesokan harinya Yuki masih melamun dan merasa menyesal di kamar Shiro, tetapi gadis itu belum bangun dari tidurnya.


'Tok tok tok...'


Terdengar ketukan di pintu kamar. Dia tahu bahwa yang mengetuk pintu itu adalah Alpha, orang yang sudah menyelamatkan dan merawat kakaknya.


Dia segera bangkit dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.


Senyum ramah Alpha menghilang saat melihat Yuki membuka pintu kamar Shiro.


"Kamu?" Alpha sangat terkejut melihat Yuki. Dia melihat sekeliling kamar di belakang Yuki dan menemukan Shiro sedang tidur di atas tempat tidurnya.


Yuki hanya diam dan melihat Alpha.


"Kenapa kamu disini?" tanya Alpha penasaran. Dia masih berdiri di depan pintu karena Yuki belum mengizinkannya masuk.


Alpa melihat senyuman lebar menggantung di bibir Yuki.

__ADS_1


"Aku ingin membunuh orang itu." jawab Yuki diikuti dengan tawanya keras sambil menunjuk Shiro di belakangnya. Dia melakukan itu seolah-olah sudah gila.


__ADS_2