
Shiro kebetulan juga melihat Haruki, dia tersadar bahwa Haruki pasti sudah terpengaruh oleh kata-katanya. Tapi gadis itu tidak melakukan apa pun kepada Haruki dan mengalihkan pandangannya.
“Kepala Desa, ayo berkeliling.” Ajak Shiro kepada kedua Kepala Desa itu untuk berkeliling aula melihat kondisi warganya.
“Mari-mari, silahkan.” Kepala Saudi mengiyakan ajakan Shiro.
Sudah lebih dari separuh warga mendapatkan penawar itu, untuk pasien yang tingkat keparahan lebih tinggi, Shiro akan memberikan mereka dosis tambahan untuk hari berikutnya.
“Maaf Shiro, boleh saya pamit dulu? Saya ingin memberikan informasi tentang relokasi lusa kepada warga agar mereka bisa bersiap-siap mulai hari ini.” Kepala Doni berpamitan kepada Shiro setelah selesai berkeliling aula.
“Oh iya, silahkan. Kepala Saudi juga bisa pergi untuk memberitahukan berita kepada Distrik Barat.” Jawab Shiro ramah.
“Terima kasih, kami pamit dulu. Sekali lagi terima kasih banyak untuk semua bantuannya.” kedua Kepala Desa sedikit membungkuk untuk berterima kasih kepada Shiro.
“Sama-sama, tidak perlu terlalu formal.” Jawab Shiro terburu-buru karena sedikit tidak nyaman jika ada yang membungkuk kepadanya.
Setelah melihat kepergian kedua Kepala Desa, Ai bergegas menghampiri Shiro.
“Shiro?” Tanya Ai.
“Iya kenapa? Apakah kamu sudah menerima pesan ku?”
“Sudah. Aku tidak menyangka adikmu punya keberanian mencium adikku. Aku harus memberinya pelajaran.” Ai menjawab sambil menerawang dan memikirkan pelajaran yang paling cocok untuk Yuki.
Sikap Ai membuat Shiro tertawa geli.
“Hei, mereka sudah dewasa, kenapa kamu marah?” Tanya gadis itu di sela-sela tawanya.
“Aku tidak marah, hanya saja… aneh rasanya adikku mempunyai pasangan. Kamu pasti memahami maksudku.” Jawab Ai. Dia sendiri juga menganggap reaksinya sangat konyol, tapi dia selalu merasa aneh sejak melihat video kiriman Shiro.
“Kamu harus mengungkapkan perasaanmu juga. Setelah itu perasaan aneh mu pasti hilang.”
“Shiro?! Siapa yang kamu maksud?” tanya Ai bingung.
“Apakah kamu tidak menyadarinya? Bagaimana pandangan matamu saat melihat pemuda tampan dan arogan yang satu itu?” Shiro menjawab ringan sambil memberi isyarat ke arah seorang pemuda yang sedang sibuk di seberangnya.
“Tidak tidak… bukan dia.” Ai menyangkal, tetapi pipinya perlahan mulai memerah.
“Reaksi yang pipimu tunjukkan lebih jujur daripada kata-katamu. Sudah lah Ai, aku tahu kok perasaanmu padanya seperti apa.” Dia suka menggoda Ai.
“Ah lupakan, aku mau lanjut lagi. Tapi ingat, aku pasti memberi adikmu pelajaran.” Ai menghindari Shiro, dia tidak menyangka Shiro tahu isi hatinya, membuatnya sangat malu karena sudah tertangkap basah.
“Hei, jangan kabur!” Shiro berseru tetapi kemudian tertawa renyah.
Dia sendiri tidak menyadari, dari tadi ada yang selalu memperhatikannya. Dan ikut tersenyum saat gadis itu tertawa.
***
Di sisi lain, Yuki menjadi marah karena bukti yang didapatkan oleh Aki.
__ADS_1
‘Aku akan menangkap dan membunuh tangan kanan ini.’ Batin Yuki.
“Sudah, jangan terlalu emosi seperti itu, tenangkan dirimu.” Aki takut jika Yuki marah, karena pasti tidak ada yang bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya.
“Bagaimana aku bisa tenang?!” Tanya Yuki semakin marah.
“Aku tahu yang dilakukannya adalah dosa besar, ratusan nyawa melayang karena keserakahan. Tapi dari yang aku dapatkan, tangan kanan itu sebenarnya adalah ilmuwan yang jujur, dia tidak sepenuhnya bersalah.”
“Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa, apa pun alasannya, dia tetap sudah melakukan dosa besar.”
“Yuki…” Aki sedikit putus asa.
“Sudah lah. Pembunuh tidak perlu diberi hati.” Yuki masih bersikeras. Badannya mulai gemetar karena kemarahan yang membuncah dalam hatinya.
Aki melihat itu dan langsung memeluk Yuki, dia tidak ingin Yuki bertindak konyol. Dia ingin Yuki bertindak setelah memikirkannya dengan tenang.
Pelukan Aki sangat tiba-tiba, Yuki tidak bisa menghindar dia hanya bisa terkejut. Namun saat mencium rambut harum Aki, emosinya perlahan mulai luntur. Dan hatinya menjadi sedikit lebih tenang.
“Aki, maaf karena sudah memarahi mu.” Bisik Yuki.
“Tidak masalah, aku tahu alasan mu marah, aku mengerti.” Jawab Aki dengan lembut.
“Terima kasih.” Yuki membalas pelukan Aki dan hatinya kembali damai.
***
Saat itu salju telah berhenti dan langit sangat cerah, membuat rona menakjubkan di sisi barat.
Yuki dan Aki telah selesai mengerjakan tugasnya. Keduanya duduk di salah satu kursi panjang yang diletakkan di antara tanaman indah balkon lantai 3.
Meski pun sedang musim dingin, tanaman itu tidak pernah meranggas dan malah semakin menghijau diantara salju, menciptakan pemandangan yang sangat indah. Tentu saja semua itu berkat perawatan yang selalu Shiro berikan.
Yuki dan Aki duduk santai dengan kain tebal yang menyelimuti keduanya, Yuki sendiri tidak membutuhkan selimut itu, tapi karena Aki memaksanya, akhirnya dia hanya bisa menuruti kekasihnya.
Keduanya sedang menikmati pemandangan senja sambil minum teh panas kesukaan Aki.
Beberapa saat berlalu, tiba-tiba pintu lift berbunyi.
Shiro keluar dari dalam lift hendak menuju kamarnya. Dia tahu ada Yuki dan Aki di balkon, tapi dia tidak berniat mendekati mereka.
Pasangan itu melihat kedatangan Shiro, Yuki berniat memanggilnya, tetapi tidak enak kepada Aki. Jadi dia juga hanya diam saja.
Setelah memasuki kamarnya, Shiro mengunci pintu dan membuka salah satu pintu lemarinya untuk masuk ke ruang rahasia, lalu mengurung diri di sana.
Malam telah tiba, waktu bahkan menunjukkan sudah pukul 12. Aki sudah tertidur lelap di kamarnya, Shiro masih belum keluar dari kamarnya sejak tadi sore, anggota inti lainnya belum ada yang pulang. Sedangkan Yuki diam-diam menyelinap keluar.
Malam sangat gelap, tidak ada bulan atau bintang yang menyinari langit malam. Salju sudah kembali turun menghujani Bumi, membuat suhu kembali turun.
Yuki menyelinap mendekati salah satu mobil di tempat parkir bawah tanah suatu gedung tinggi. Di tempat itu hanya tersisa segelintir mobil yang terparkir rapi.
__ADS_1
Dengan mudah, pemuda itu menghindari CCTV dan membuka salah satu pintu belakang mobil berwarna hitam, mobil itu sendiri tidak terlalu mewah, namun sangat rapi di dalamnya.
Seorang pria paruh baya keluar dari lift dan berjalan mendekati mobil itu, dia terlihat sangat lelah dan ingin segera pulang. Saat sudah membuka pintu dan duduk di kursi pengemudi, dia merasa seperti ada yang mengawasinya.
Tetapi setelah melihat keliling, dia tidak menemukan apa-apa, sehingga berusaha mengabaikannya dan mulai menyalakan mesin. Mobil keluar dengan mudah dari tempat parkir bawah tanah itu.
Yuki memiliki salah satu alat ciptaan kakaknya untuk menyembunyikan dirinya. Pemuda itu duduk di salah satu kursi belakang dan menunggu momen yang pas untuk memberi pelajaran pria paruh baya itu.
Dalam sekejap, mobil sudah memasuki jalan tol yang lengang, sepertinya pria itu sedang berkendara menuju North City, untuk pulang ke rumahnya.
Kilatan perak muncul dengan cepat, dan langsung berhenti dengan mantap di kulit tenggorokan pria paruh baya itu. Kejadian itu terjadi dengan sangat cepat, dan bahkan tidak sampai 1 detik.
Pria paruh baya bernama Martin itu tentu saja sangat terkejut saat melihat kilatan perak itu dengan mantap menempel di kulit tenggorokannya.
Dengan panik dia langsung menepi dan mengerem mobilnya, tapi pisau tipis dan dingin itu masih menempel di sana dan tidak bergerak sedikit pun.
“Si… Siapa Kamu?!” Martin berteriak ketakutan.
“Apakah kamu ketakutan hanya dengan scalpel yang menempel di kulit tenggorokanmu?” Sebuah suara yang sangat dingin bertanya kepada Martin tanpa ada emosi sama sekali di dalamnya.
“Atau kamu takut mati karena scalpel kecil ini?” Lanjut suara dingin itu
Pertanyaan yang membuat bulu kuduk Martin langsung berdiri dan keringat dingin mulai membanjiri badannya.
Scalpel adalah pisau bedah, berbentuk tipis dan sangat tajam yang biasanya digunakan untuk mengiris, memotong dan menyayat saat melakukan pembedahan.
“Jika kamu ingin merampokku, ambil saja semua barang-barangku, dan tinggalkan aku di sini! Aku tidak akan melaporkanmu. Jangan bunuh aku!” Martin mulai panik dan semakin ketakutan.
Suara dingin itu tertawa dengan keras.
“Merampokmu? Aku tidak butuh uang kotormu itu.”
“Tolong, jangan sakiti aku!” Martin merengek dan hampir mengompol.
Mendengar rengekan itu, Yuki menjadi muak dan geram, dia mulai menggores kulit tenggorokan Martin secara perlahan dengan scalpel peraknya, membuat pria paruh baya itu menjerit ketakutan dan seketika pandangannya menjadi gelap.
...**********...
...Gimana? Seru kan? Selanjutnya lebih seru lagi looo…...
...Jadi jangan lupa like, komen, dan klik love favoritnya yaaa... ^_^...
...Terima kasih dukungannyaaa...
...**********...
__ADS_1