
Shiro melepaskan ikatan pita pada kotak kado itu. Hatinya sangat ingin tahu, hadiah apa yang disiapkan oleh ayahnya selama ini?
Setelah ikatan pita terlepas, dia segera membuka kotak kado dalam pangkuannya tersebut. Betapa terkejutnya Shiro saat melihat isi kado dari ayahnya.
Sebuah pistol revolver S&W686 dan sepuluh butir peluru tergeletak manis di dalam kotak kado beserta sebuah catatan kecil dibawahnya.
Shiro yang tidak memahami maksud sang ayah segera mengambil catatan kecil dibawah revolver tersebut.
..._______________...
...Gadis kecilku Shiro yang manis......
...Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa revolver ini menjadi hadiah untuk ulang tahunmu ke-25....
...Kamu akan mengerti jawabannya setelah datang ke rumah kita di North City. Masih ingat saat usiamu 5 tahun, kita pernah menanam pohon pinus di belakang rumah? Pohon itu pasti merindukanmu dan menantimu pulang....
...Ayah sangat mencintaimu. Meskipun ayah tahu tidak bisa menemanimu tumbuh dewasa....
...Salam cinta, Yama....
..._______________...
Gadis itu membaca catatan kecil ayahnya sekali lagi. Dia sangat merindukan Yama ayahnya. Hanya ayahnya yang dia miliki. Sampai sekarang, Shiro tidak tahu siapa ibunya, dimana ibunya, atau bagaimana keadaan ibunya. Yama tidak pernah memberitahu Shiro tentang hal itu.
Tangan putih yang memegang revolver itu terlihat sangat kontras dengannya. Revolver Smith & Wesson 686 L frame merupakan pistol dengan kaliber .375, panjang keseluruhan 9,6 inci dengan berat 2.5 pon. Revolver ini memiliki sistem penembakan double action.
Segera Shiro turun dari tempat tidur dan berlari mencari Alpha.
"Alpha! Kita harus kembali ke North City!" serunya segera setelah menemukan Alpha.
"Baik nona, kita berangkat segera setelah nona bersiap." jawabnya mantab tanpa bertanya alasan majikan kecilnya yang tiba-tiba ingin pulang ke kampung halaman.
"Kita berangkat sekarang!" pinta Shiro, dia yakin dapat menemukan jawaban surat kecil itu di rumahnya.
__ADS_1
Segera Alpha membawa beberapa rekannya untuk mengatur keberangkatan mereka dengan Shiro ke North City.
Rumah tuannya di North City memang sudah hancur karena gempa 15 tahun yang lalu, tetapi beberapa tahun kebelakang, Alpha berinisiatif untuk membangun kembali rumah itu. Dia merasa, mungkin suatu saat Shiro ingin mengunjungi ke rumah itu.
Alpha segera menghubungi Charlie untuk membuat persiapan di North City, karena anak sang majikan akan datang ke kampung halamannya, sehingga dia ingin Charlie menyiapkan beberapa mobil untuk menjemput mereka di bandara.
Karena jarak pulau Niji dengan North City sangat jauh, mereka tidak bisa bepergian menggunakan helikopter, sehingga mereka memutuskan untuk segera menuju bandara kota terdekat dan mengatur penerbangan eksklusif untuk Shiro ke North City.
Keesokan paginya Shiro dan rombongan sampai di bandara North City. Beberapa staff bandara menyambut kedatangan mereka, karena Shiro adalah ilmuan dan jenius muda yang memang berasal dari North City.
Alpha yang selalu berkoordinasi dengan Charlie sepanjang perjalanan segera membawa Shiro ke tempat parkir bandara diikuti oleh staff petinggi bandara tersebut.
Charlie yang membawa 3 mobil beserta 2 bawahannya bertugas sebagai sopir untuk mengantarkan rombongan itu ke rumah Dr. Yama.
Segera dia melihat rombongan Shiro dan Alpha. Charlie menunjuk mobil di tengah dan membuka pintu penumpang untuk Shiro.
"Baik, saya undur diri dulu, terima kasih atas sambutan yang telah kalian berikan kepadaku." suara manis Shiro terdengar lembut. Dia mengucapkan perpisahan dengan staff petinggi bandara sambil tersenyum dan segera masuk ke mobil.
Rombongan ketiga mobil itu segera keluar dari tempat parkir bawah tanah bandara. Setelah rombongan mobil menjauh, para staff juga membubarkan diri dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.
"Nona, maafkan kami karena kami harus melakukan pengamanan ketat untuk nona. Saya tidak ingin kejadian kecelakaan yang nona alami beberapa waktu yang lalu terulang kembali." kata Alpha memecah kesunyian di dalam mobil.
Alpha sengaja membawa beberapa anak buahnya yang terpercaya untuk perjalanan ke North City. Malam itu saat di pesawat, Shiro memberitahu Alpha tentang hadiah dari ayahnya. Tentu saja Alpha terkejut mengetahui isi kado dari tuannya tersebut.
Alpha merasa memang ada yang telah disembunyikan oleh tuannya. Dia mengingat kembali, saat tuannya Dr. Yama meninggal dalam kejadian gempa bumi 15 tahun yang lalu.
Pria itu entah kenapa merasa bahwa kematian sang majikan sangat janggal. Dr. Yama tidak mungkin teledor, bahkan meskipun majikannya adalah seorang profesor dan ilmuan, tetapi Dr. Yama juga menguasai banyak keterampilan dalam kemiliteran.
Shiro melihat pemandangan kota sepanjang jalan. Dia kembali mengingat saat dimana dia bertemu dengan Yuki di rumah sakit.
"Alpha, apakah rumah sakit itu masih ada?" tanya Shiro yang masih melamun memikirkan Yuki.
"Masih ada nona, apakah Nona Shiro ingin berkunjung ke sana?" tanya Alpha.
__ADS_1
"Apakah kita melewati rumah sakit itu dalam perjalanan ini?"
"Maaf nona, jika nona ingin melihat rumah sakit itu, kami bisa melewati jalur lain." sahut Charlie menawarkan untuk mengambil jalan memutar sehingga majikannya bisa melihat rumah sakit itu.
"Jika tidak merepotkanmu, aku ingin melewati rumah sakit itu. Tidak perlu mampir."
"Baik nona." Charlie melihat Alpha mengangguk padanya melalui kaca spion. Charlie menghubungi mobil di depan untuk memilih jalur memutar dan melewati Rumah Sakit Pemerintah North City.
Jalanan utama di North City cukup lengang, meskipun wilayah North City sangatlah luas, namun warga yang tinggal di kota itu tidak banyak. Banyak dari mereka lebih memilih untuk pindah ke kota besar untuk mencari uang.
Hanya beberapa puluh menit sampai akhirnya rombongan mobil itu melambat saat melewati rumah sakit tempat Shiro dirawat.
'Yuki, apa yang sedang kamu lakukan sekarang?' tanya Shiro dalam hati.
Gadis itu sangat merindukan Yuki, bagaimana keadaannya, apakah dia menghabiskan makanannya, apakah dia marah dengannya, dan bagaimana hubungannya dengan Aki.
Shiro berharap mereka sehat dan bahagia di Ibu Kota. Semenjak kecelakaan yang dialami Shiro, dia merasa Harmonics sedang mengejarnya. Jika dia tetap berada di Kirifuda, maka keadaan mereka akan sangat terancam. Shiro hanya ingin memancing Harmonics untuk keluar dari persembunyiannya sekarang.
Jika dia mati sendirian itu akan lebih baik. Namun Alpha, bawahan kepercayaan ayahnya menawarkan diri untuk bertarung bersama. Shiro tidak setuju dengan Alpha pada awalnya, tetapi dia juga tahu kalau Harmonics tidak semudah itu. Sehingga akhirnya dia setuju dengan bantuan yang ditawarkan oleh Alpha.
Itulah awal perpisahannya dengan Yuki. 'Di masa depan jika aku masih hidup, aku akan menemuimu lagi, setelah semuanya selesai aku akan pulang kepadamu. Semoga kamu bisa mengerti suatu saat nanti.' pikirnya dalam hati.
...*****...
...Shirooo sedih......
...(。ノω\。)...
...Mohon dukungannya untuk novel ini ya readers.......
...Terima kasih banyak semuanya......
...*****...
__ADS_1