MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Titik Terang


__ADS_3

Beberapa jam waktu mereka habiskan untuk menyelidiki CCTV satu persatu. Keduanya tidak ingin melewatkan satu detail kecilpun, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama.


Sesekali anggota inti bergantian pulang ke markas jika ada sesuatu yang sedang mereka butuhkan. Ai dan Kurina juga pulang setiap beberapa jam, memasak beberapa makanan untuk anggota lain dan juga Pasukan Kirifuda.


Sebenarnya warga pinggiran sudah menawarkan untuk memasak beberapa hidangan untuk penolong mereka. Tapi Kurina dan Ai menolak dengan sopan karena keduanya tahu kesulitan yang dihadapi warga setiap hari seperti apa.


Uang mereka sangat pas-pasan untuk sehari-hari, apalagi jika harus memasak untuk orang lain, pasti sangat sulit untuk mereka. Karena itulah Kurina dan Ai menolak kebaikan mereka dan dengan suka rela memasak untuk anggota di lapangan.


Badai salju telah berhenti di siang hari, matahari yang bersinar cerah memberi sedikit kehangatan kepada anggota yang bertugas. Meskipun mereka berada di dalam aula, namun keadaan aula tidak sebaik itu dan juga tidak memiliki pemanas di dalamnya. Bahkan lantainya pun masih merupakan lantai semen.


Sehingga beberapa anggota berinisiatif membuat api unggun di beberapa titik untuk memberi kehangatan kepada mereka dan para pasien.


Warga lain yang mengetahui itu dengan senang hati menawarkan kayu kering yang telah mereka kumpulkan sebelum memasuki musim dingin. Karena hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk meringankan beban penolong mereka.


Melalui Kepala Saudi dan Kepala Doni, mereka memahami situasinya dan mulai mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Saat itu sudah menjelang sore, salju kembali turun. Warga yang berkumpul di sekitar krematorium dengan sabar menunggu giliran kremasi untuk keluarga mereka.


Meskipun krematorium itu sangat besar, tetap saja harus mengantri untuk kremasi. Karena hanya ada 20 unit incinerator di fasilitas itu sedangkan warga yang meninggal berjumlah ratusan.


Krematorium di wilayah desa pinggiran juga dibangun oleh Yuki dan Shiro. Karena tarif yang sangat mahal untuk paket lengkap kremasi di ibu kota, sekitar US$ 2.000 sampai US$ 3.500.


Biaya setinggi itu tidak bisa digapai oleh warga pinggiran yang serba kekurangan. Karena itulah Yuki dan Shiro berinisiatif membangunkan krematorium yang sangat lengkap untuk mereka beberapa tahun yang lalu.


Salah seorang warga mendekati kedua kepala desa yang sedang berdiskusi dengan beberapa warga lainnya di halaman krematorium.


“Maaf Kepala Doni saya ingin bertanya, jika keadaannya seperti ini, jika sumur-sumur kami banyak yang tercemar, apa yang akan kita lakukan setelah ini?” Tanya pria tua itu malu-malu.


“Saya tahu apa yang bapak pikirkan, saya dan Kepala Saudi juga memikirkan ini. Saya ingin meminta tolong kepada Shiro dan Yuki untuk mengantar kita ke pulau Zectter, berkumpul dengan anak-anak dan saudara kita yang lain disana.” Jawab Kepala Doni, kesedihan terpampang nyata dari wajahnya.


Saat kedua orang itu mengobrol, warga yang lain mendekat dan ikut mendengarkan apa yang Kepala Desanya katakan. Mereka sejujurnya juga ingin menyuarakan pendapat itu, tetapi terlalu takut merepotkan.


“Dengan sikap warga ibu kota kepada kami, dan pemerintah yang tidak terlalu memikirkan kami, membuat saya dan Kepala Doni sepakat untuk menyusul ke pulau Zectter. Sebenarnya kami ingin mendiskusikan ini kepada anda semua setelah warga yang lain sembuh, tetapi karena bapak sudah bertanya, kami mengatakannya sekarang.” Kepala Saudi melanjutkan kalimat kepala Doni.

__ADS_1


Warga yang mendengarnya sangat lega dengan keputusan bijaksana kedua Kepala Desa mereka. Mereka merasa tidak pernah di anggap, dan selalu diabaikan. Jika tidak ada tempat yang aman untuk tinggal, mungkin memang lebih baik mereka pergi ke tempat yang mau menerima mereka.


Warga pinggiran kebanyakan adalah orang-orang polos yang baik dan jujur, karena itulah Yuki dan Shiro memutuskan untuk membantu mereka. Kakak beradik itu menyayangi mereka seperti keluarganya sendiri.


“Terima kasih Kepala Desa, akhirnya saya bisa lega sekarang.” Kata pria tua itu dengan penuh syukur, diiringi anggukan warga desa lainnya.


“Kami akan membicarakan ini kepada Shiro dan Yuki setelah penawarnya ditemukan, saya berharap anda semua mau menunggu dengan sabar.” Kepala Doni menenangkan warganya, dan warga desa pinggiran di sekitarnya menyetujui pendapat Kepala Doni.


***


Sudah 4 hari berlalu sejak warga mengalami keracunan, Yuki dan Aki mulai mendapatkan titik terang tentang orang yang melakukan konspirasi. Terlihat dari CCTV ada seseorang yang memiliki gelagat sangat mencurigakan, Yuki memutuskan untuk mengincar orang itu.


Setelah menyelidiki lebih dalam, ternyata dia bekerja di salah satu laboratorium yang sangat terkenal di ibu kota, dan juga memiliki status yang cukup tinggi di laboratorium itu.


“Kita harus menyelidiki latar belakang laboratorium ini juga, bisakah kamu melakukannya?” Tanya Yuki kepada Aki.


“Aku sedang berusaha, masalahnya adalah pertahanan mereka cukup bagus dan sulit ditembus.” Jawab Aki masih sambil berkutat kode-kode yang sulit dimengerti.


“Tidak perlu, aku juga bisa. Hanya saja butuh sedikit waktu. Oh iya, bagaimana dengan penawarnya? Apakah Shiro sudah berhasil menemukannya?” Tanya Aki penasaran.


“Aku belum tahu, belum aku tanyakan kepada Kakak. Kalau begitu aku ke laboratorium Kak Shiro dulu.” Yuki terlalu sibuk mencari tahu pelakunya sehingga lupa dengan penawar.


“Iya kamu pergi saja, serahkan padaku yang ada di sini.” Jawab Aki percaya diri.


Yuki melihat kepercayaan diri Aki menjadi terkekeh karena ekspresinya saat mengatakan itu sangat manis. Saat Yuki berdiri dari kursinya, dia mendekati Aki yang sedang fokus untuk membobol sistem pertahanan laboratorium target. Yuki sedikit menunduk dan mencium dahi Aki dengan lembut.


“Yuki…! Aku sedang bekerja…! Jangan godain aku lah.” Kata Aki yang pura-pura marah sambil memanyunkan bibirnya.


Yuki yang melihatnya langsung tertawa dan mencium ringan bibir Aki, gadis itu membalas ciuman Yuki yang sudah didambakannya dari tadi.


Setelah puas, Yuki mengusap rambut gadis itu lalu keluar dari ruang komputer menuju laboratorium Kakaknya.

__ADS_1


“Kak?” Panggil Yuki setelah memasuki laboratorium.


“Iya? Kenapa?” Tanya Shiro yang sedang sibuk melakukan sesuatu di komputernya.


“Bagaimana penemuannya? Apakah sudah berhasil?” Tanya Yuki penasaran, dia kemudian mendekati Shiro untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.


“Sudah, barusan aku mau memberitahu kamu, tapi karena kamu sedang sibuk jadi aku menunggumu datang saja. Oh ngomong-ngomong, bisakah kamu membantuku?” Tanya Shiro masih sibuk dengan komputernya.


“Apa yang harus aku lakukan?” Yuki melihat Shiro sedang berkutat dengan sistem dan mengupload data-data.


“Itu adalah alat yang baru selesai aku buat, aku merasa ingin cepat-cepat memasang itu. Alat ini juga termasuk pelindung, bisa menyembunyikan sesuatu atau memberi ilusi. Minta tolong pasang itu di setiap sudut halaman yang mengelilingi rumah.” Kata Shiro sambil menunjuk set lengkap alat di atas meja, alat itu diberinya nama ‘Pelindung Ilusi’.


“Sekarang Kak? Untuk penawar warga bagaimana?” Yuki bingung, kenapa Kakaknya malah meminta dia memasang alat bukannya ke tempat desa pinggiran.


“Jangan khawatirkan itu, aku sudah selesai melakukan pengepakan, setelah kamu memasang alat itu dan setelah aku mengaktifkannya, aku akan langsung ke desa pinggiran.” Shiro hanya merasa sesuatu yang selalu mengganggu, dia merasa markasnya tidak aman, sehingga ingin cepat-cepat memasang penemuan terbarunya itu.


“Oh… oke kak.” Jawab Yuki.


“Ngomong-ngomong, kapan kalian menikah?” Shiro menggoda Yuki dan tertawa terbahak-bahak setelahnya.


“Maksudnya?” Tanya Yuki sambil tersipu.


“Janga berpura-pura lagi, aku sudah tahu semuanya. Apa yang kalian lakukan di depan lift dan di ruang komputer.” Jawab Kakaknya masih sambil tertawa.


“Kakak!” Yuki sangat malu karenanya.


“Kakak mendukungmu kok. Tenang saja.” Kata Shiro dengan serius. Dia hanya ingin Yuki bahagia dan tidak tahan jika melihat Yuki kesepian dan bersedih.


Shiro mengetahui itu karena dia sempat melihat melalui CCTV saat kedua pemuda itu masuk ke dalam rumah. Sistem yang dulu pernah dipasang Shiro dapat mendeteksi kedatangan seseorang ke dalam rumahnya dan langsung menampilkan CCTV terkait ruangan itu.


Shiro hanya ingin memastikan bahwa orang yang masuk adalah Yuki. Namun saat melihatnya ternyata Yuki sedang memeluk lalu mencium Aki dengan mesranya. Shiro yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan bahagia untuk keduanya.

__ADS_1


‘Akhirnya mereka berani melangkah. Kupikir Yuki terlalu bodoh sehingga tidak segera menyatakan perasaannya. Jika Ai mengetahui ini, pasti dia juga sangat senang. Kami sudah menunggu kemajuan ini dari lama, dasar anak muda!’ Gerutu Shiro dalam hatinya.


__ADS_2