MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Membagi Tugas


__ADS_3

“Kak, kita harus segera menyelidiki masalah ini!” Hati Yuki mulai dipenuhi dengan emosi dan amarah.


‘Orang hina mana yang tega melakukan ini kepada rakyat miskin?’ Batinnya.


“Yuki, untuk masalah penyelidikan aku serahkan padamu. Aku harus segera menemukan penawarnya, bagaimanapun semua zat itu adalah zat sintetis dan sangat berbahaya. Meskipun kita sudah melakukan perawatan dengan obat-obatan itu, nyawa mereka masih terancam.” Shiro ingin segera membuat penawarnya secepat yang dia bisa.


“Iya Kak. Aku akan memanggil Aki terlebih dahulu. Pasukan Kirifuda terbatas, sehingga kita tidak bisa memanggil semua anggota inti untuk membantu penyelidikan.”


Shiro mengerti yang dimaksud Yuki, dia mengangguk dan menyetujui pendapat adiknya itu.


Sementara Yuki yang telah mendapatkan persetujuan Shiro langsung berlari keluar dan kembali ke desa pinggiran untuk menemui kepala desa dan anggotanya.


Pemuda itu segera memaksimalkan kecepatan larinya. Meskipun begitu, dia tidak boleh berlebihan saat menggunakan kemampuan khususnya, karena sangat berdampak buruk bagi kesehatan fisiknya jika digunakan secara berlebihan.


Puluhan detik berlalu, Yuki akhirnya telah tiba di depan aula. Kerumunan warga masih bertambah, korban yang berjatuhan juga semakin bertambah. Racun itu memiliki efek yang beragam di setiap individu, korban meninggal juga semakin banyak berjatuhan. Melihat pemandangan itu, Yuki semakin tidak bisa menahan amarahnya.


Dia segera mencari Kepala Desa untuk memberitahukan hasil uji sampel darah dan air dari sumur milik warga pinggiran.


Kedua Kepala Desa itu juga sudah melihat kedatangan Yuki dan segera menghampirinya.


“Yuki, bagaimana hasilnya?” Tanya Kepala Saudi tidak sabar.


“Kami menemukan bahwa sebagian besar sumur sudah diracuni. Saya masih belum mengetahui motifnya dan siapa yang melakukan tindakan keji itu, tetapi racun yang aku dan Kakak temukan adalah sesuatu yang sangat buruk.” Jawab Yuki, dia berusaha menenangkan amarahnya.


“Kami menemukan bahwa di dalam air itu ada beberapa kandungan zat berbahaya, yang sama sekali tidak bisa diremehkan karena itu semua adalah zat beracun yang sengaja dibuat oleh manusia. Karena kandungannya yang jauh lebih berbahaya daripada yang alami. Dari situlah kami menemukan bahwa ini adalah suatu konspirasi untuk mencelakai warga.” Lanjutnya.


“Jadi ini bukan sesuatu yang bisa kita tangani dengan mudah? Bagaimana nasib mereka? Apakah masih bisa disembuhkan?” Kepala Saudi dan Kepala Doni sangat khawatir dengan keadaan warganya.


“Untuk itu obat-obatan yang kami berikan sekarang hanya bisa memperlambat daya kerja racun itu. Tapi tidak untuk menyembuhkan mereka, karena racun ini tergolong baru dan saya yakin belum ada obatnya. Karena itulah Kak Shiro sedang mengusahakan untuk menemukan penawarnya secepat yang dia bisa.” Yuki berterus terang dengan keduanya.


“Lalu apa yang harus kami lakukan? Dan berapa lama penawar itu bisa dibuat?” Tanya Kepala Doni.


“Untuk sekarang, kami akan memaksimalkan pasukan kami untuk membantu pengobatan warga. Meskipun tidak terlalu berpengaruh, paling tidak kita bisa mengulur waktu. Kemudian seperti yang tadi malam sudah direncanakan, segera kremasi warga yang sudah meninggal. Karena kami tidak tahu seberapa cepat pembusukan itu terjadi. Sehingga untuk menghindari penyakit baru, kita harus segera mengkremasi yang meninggal.”

__ADS_1


“Untuk penawarnya, kami belum bisa memastikan waktunya. Bisa jadi seminggu, bisa juga kurang dari seminggu. Aku dan Kakak sudah menuliskan daftar sumur yang tidak tercemar racun, kalian bisa mengambil air dari sana.”


“Dan saya akan segera melakukan penyelidikan untuk dalang dibalik kejadian ini. Kalian serahkan saja pada kami.” Jawab Yuki panjang lebar.


Kedua Kepala Desa masih khawatir dengan keselamatan warganya yang lain, namun mereka percaya dengan kemampuan kedua kakak beradik itu. Yang dikatakan Yuki juga benar, mereka harus segera mengkremasi korban meninggal.


Setelah memahami penjelasan Yuki, Kedua Kepala Desa mengangguk dan mempercayakan penyelidikan kepada Yuki. Kemudian pamit untuk segera melakukan kremasi ratusan korban yang meninggal.


Yuki selanjutnya pergi mencari Kurina dan Kapten Ryu. Setelah menemukan keduanya, Yuki langsung menjelaskan hal yang sama seperti kepada Kepala Desa.


“Telah ada orang yang melakukan konspirasi untuk mencelakai warga desa pinggiran. Karena kami belum mengetahui siapa dalang dibalik kejadian ini, kami masih harus melakukan penyelidikan. Namun tidak semua anggota bisa mengikuti penyelidikan, karena itu aku hanya akan mengajak Aki, sementara yang lain masih tetap harus disini membantu warga.”


“Untuk Kapten Ryu, tarik semua pasukan dari seluruh provinsi untuk membantu kalian, tetapi untuk Kapten Aoki biarkan saja berada di pulau untuk melindungi warga bersama 19 pasukan lainnya, sisanya tarik ke sini semua.


“Tugaskan 10 orang untuk melakukan penjagaan di seluruh area desa pinggiran. Sisanya membantu kalian di aula memantau kondisi warga sampai penawarnya ditemukan.”


“Untuk Kurina, tetap berkoordinasi dengan Kepala Desa, Kapten Ryu dan Aku. Jika ada sesuatu yang darurat langsung hubungi aku saja nanti aku sampaikan kepada Kak Shiro jika dibutuhkan.”


“Awasi pergerakan setiap orang dan jangan sampai kecolongan. Jangan sampai situasi bertambah buruk!” Yuki menjelaskan dengan sangat panjang dalam waktu singkat karena keterbatasan waktu yang dia miliki.


“Siap mengerti!” Jawab tegas keduanya.


Setelah itu mereka membubarkan diri dan kembali melanjutkan tugasnya masing-masing. Sementara Yuki langsung mendekati Aki dan mengajaknya pulang ke markas untuk melakukan penyelidikan.


“Aki, temani aku melakukan penyelidikan untuk masalah ini. Aku yakin kita berdua saja pasti sudah cukup untuk mengungkap motif dibalik kasus ini.” Ajak Yuki setelah selesai menjelaskan situasi masalahnya kepada Aki.


“Siap Yuki. Kita harus kembali ke markas. Aku ambil mobil dulu.” Jawab Aki langsung bersiap berlari keluar.


Seketika Yuki menarik tangan Aki, karena menurutnya tidak perlu mobil untuk ke markas.


“Yuki?!” Aki terkejut dengan tarikan Yuki.


“Tidak perlu mobil, kita berlari saja. Lebih cepat sampai.” Jawabnya sambil tersenyum jail.

__ADS_1


Sebenarnya Aki tahu Yuki bisa berlari dengan cepat, tapi dia belum tahu seberapa cepat Yuki bisa berlari dibandingkan dengan naik mobil. Sehingga dia bingung dengan jawaban Yuki yang dianggapnya hanya bercanda.


“Yuki, situasinya sedang darurat, jangan bercanda lah.” Kata Aki sedikit kesal dengan tingkah Yuki.


“Siapa yang bercanda? Ikut aku!” Jawab Yuki yang senyum jahilnya makin melebar dan amarah di hatinya padam karena ekspresi kesal menggemaskan yang Aki tunjukkan kepada Yuki.


Setelah mengatakannya, Yuki menarik tangan Aki dengan lembut dan keluar dari aula mencari sudut yang cukup sepi.


Setelah menemukan tempat yang cocok Yuki melangkah ke depan Aki dan langsung jongkok di depannya.


“Yuki? Apa yang kamu lakukan?” Aki terkejut dengan Yuki, namun juga tersipu malu karenanya.


“Apa lagi? Menggendongmu tentu saja. Ayo!” Ini adalah pertama kalinya untuk Yuki, wajahnya memerah karenanya. Namun dia berusaha menyembunyikannya dari Aki.


Aki ragu dan sangat malu, “Yuki, kita pakai mobil saja ya?”


“Aki, saljunya masih tebal, jalanan juga licin. Kalau kita naik mobil, nanti terjadi kecelakaan karena ngebut bagaimana?” Yuki mencari alasan, jantungnya berdebar kencang.


“Baiklah.” Jawaban Yuki benar juga, jika terjadi sesuatu di jalan, mereka pasti akan menambahkan masalah lainnya lagi.


Aki masih ragu, namun memberanikan dirinya maju dan mendekat ke punggung Yuki, Jantungnya berdebar semakin kencang karenanya.


Saat Aki semakin dekat, dia melihat telinga Yuki yang memerah karena malu. Aki pun semakin tersipu, wajah dan telinganya memerah panas seperti tomat.


Setelah menguatkan hatinya, Aki langsung mengulurkan tangannya untuk memeluk bahu Yuki dan naik ke punggungnya. Tanpa aba-aba Yuki langsung berdiri. Dia bisa merasakan detak jantung Aki yang sangat kencang dari punggungnya, senyum kembali mengembang di bibirnya.


“Record!” Bisiknya untuk mengaktifkan kamera dari matanya, dia ingin merekam momen pertama itu, dan menyimpannya.


Aki tidak mendengar apa yang Yuki katakan dengan jelas, sehingga dia bertanya kepada Yuki, “Yuki, apakah kamu berbicara kepadaku barusan?”


Mendengar suara Aki yang manis di dekat telinganya membuat jantung Yuki berdebar semakin tidak karuan. “Tidak ada kok. Sudah siap?” Tanya Yuki dengan senyuman yang semakin lebar.


“Sudah.” Jawab Aki malu-malu. Kemudian dia menyandarkan wajahnya di bahu Yuki, membuatnya langsung mencium aroma samar Yuki yang sangat disukainya itu. Jantungnya juga ikut berdebar semakin kencang

__ADS_1


Sedangkan Yuki hanya bisa tersenyum karenanya, bunga-bunga di hatinya bermekaran dengan indah dan cerah. Dia segera berlari menuju markas, mereka tidak membicarakan apapun saat di jalan. Keduanya hanya tersenyum, tersipu malu dan larut dalam pikirannya masing-masing.


__ADS_2