
Kedua kakak beradik itu masih di kamar menunggu dokter datang untuk memeriksa keadaan Shiro. Keduanya dipenuhi dengan pikiran masing-masing sehingga kamar itu sangat hening.
"Yuki, kenapa kamu berani menemuiku? Aku sudah memintamu pergi." tanya Shiro memecah suasana yang sepi itu.
"Awalnya memang aku tidak mau kesini, aku masih marah sama Kakak. Tapi tiba-tiba aku ingat, kakak pernah membahas ini sebelumnya."
"Maksudnya?" Shiro bingung dengan jawaban adiknya. Kapan mereka membahas sesuatu seperti ini.
"Waktu itu Kakak pernah tanya, kalau Kakak membuat kesalahan besar, apa tanggapanku. Dan aku bilang kalau kita adalah satu. Jadi Yuki dan Shiro tidak bisa berpisah." jelas Yuki pada kakaknya yang bingung.
"Waktu itu, setelah aku mengusirmu, kamu kemana?"
"Kemana lagi? Kakak tahu, aku harus melampiaskan amarahku jika tidak ingin menyakiti orang lain. Aku tidak mungkin pulang ke markas. Jadi aku pergi ke pulau dekat Shadow Eye. Sampai akhirnya Ai meminta Kapten Ryu untuk memberitahu aku bahwa seseorang ingin menghancurkan organisasi kita."
"Maafkan aku Yuki." Shiro sangat menyesal, ternyata Yuki sangat marah dan harus melampiaskan amarahnya selama itu karena dirinya.
"It's oke Kak, aku ngga masalah. Bagaimanapun aku sudah menyakiti Kakak sampai seperti ini."
'Tok tok tok'
"Nona, Dokter sudah datang, boleh saya masuk?" tanya Alpha dari luar kamar.
Tepat setelah Alpha menyelesaikan kalimatnya, Yuki sudah membuka pintu dan mempersilahkan keduanya masuk.
Kedua pria itu masih di luar kamar, mereka cukup terkejut dengan tindakan Yuki. Kamar itu sangat besar, butuh beberapa waktu sampai dia sampai di pintu dari tempat tidur. Sedangkan Yuki sudah membuka pintu tepat setelah Alpha selesai bicara, itu hanya butuh beberapa detik.
Shiro yang melihat ekspresi di kedua pria itu hanya bisa menahan tawa. Entah kenapa Alpha masih belum paham kalau Yuki bisa bergerak dengan cepat dan memiliki pendengaran yang tajam. Meskipun kamar itu sangat kedap suara, dan suara dari luar tidak bisa masuk, tetapi Yuki sudah mendengar langkah kaki mereka beberapa meter dari pintu kamar.
__ADS_1
Kecuali Yuki lengah, dia pasti bisa mendengar suara selirih apapun itu. Bahkan Shiro tidak bisa seperti Yuki dalam hal kekuatan fisiknya yang luar biasa itu.
"Kalian tidak masuk?" tanya Yuki pada kedua pria yang masih terkejut itu. Dia tidak menunggu jawaban keduanya dan langsung menghampiri kakaknya.
Alpa dan Dokter Victor segera memasuki kamar atasan mereka sambil membawa koper yang berisi obat-obatan dan beberapa peralatan medis milik Dokter Victor.
Jika di Pulau Niji, Shiro mendapatkan perawatan pasca operasi dari Dokter Jake yang merupakan bawahan asli Alpha.
Sedangkan Dokter Victor adalah bawahan kepercayaan Charlie dan dia juga seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit Pemerintah North City. Dokter Victor juga dulu adalah dokter muda yang membantu merawat Yuki dan Shiro saat terjadi gempa besar di North City.
"Nona, anda pasti masih ingat Dokter Victor kan? Dia dulu yang membantu merawat Nona Shiro." Alpha memperkenalkan kembali dokter itu kepada Shiro karena dia memang tidak mengajak Dokter Jake ke North City.
"Halo Nona Shiro sudah lama tidak bertemu dengan Nona, maaf sekali saya kemarin harus bekerja saat Nona datang ke North City."
Dokter Victor dulu selalu merawat Shiro dengan sangat baik saat di rumah sakit. Sekarang dia sudah menjadi salah satu petinggi rumah sakit itu dan juga dokter paling terkenal di North City berkat ayah Shiro.
"Iya Dokter Victor, terima kasih banyak sudah membantu saya dan adik saya selama ini." jawab Shiro ramah. Yuki hanya menyaksikan ketiganya dengan wajah tabah tanpa ada keinginan untuk berbicara sama sekali.
Sehingga dia kemudian menjadi dokter ahli bedah dan sekarang lebih banyak menangani kasus-kasus bedah yang rumit. Sehingga dia jarang menangani masalah ringan seperti sekarang.
Meskipun begitu, keahliannya dalam bidang medis sangat mumpuni sehingga Charlie mengajak dia untuk bekerja sama dan Dokter Victor tentu saja sangat menyetujui ajakan kerja sama itu hingga sekarang menjadi bawahan setia Charlie.
"Sudah selesai Nona, apakah Nona merasa ada yang tidak nyaman?" tanya Victor untuk memastikan keadaan Shiro.
"Sudah lebih baik, terima kasih banyak Dokter." jawab Shiro dengan senyum lembutnya.
Alpha segera mengajak Dokter Victor untuk undur diri dan keluar dari kamar. Dia merasa kakak beradik itu sepertinya ingin waktu pribadi mereka.
__ADS_1
"Sampai mana kita tadi?" tanya Shiro setelah memastikan pintu kamar sudah tertutup.
"Sebenarnya aku masih ingin bertanya tentang alasan kakak saat memintaku pergi, tapi sepertinya aku tidak butuh jawabannya."
"Kenapa? Tidak penasaran?"
"Penasaran. Tapi melihat kakak seperti tidak masalah saat aku datang kesini, aku merasa kakak sudah meramalkan hal ini sebelumnya."
Pria itu berkata dengan serius, tetapi segera memasang ekspresi cuek setelah kakaknya menjawab, "Cenayang dong."
Segera Shiro tertawa setelah mengatakan itu. Tetapi dia melihat ekspresi kosong dan cuek di wajah Yuki dan membuatnya segera menyudahi candaannya.
"Sorry Yuki. Hehehe... Tapi meramal mungkin benar, aku memang sudah menebak sesuatu yang mirip seperti masalah ini. Ada banyak alasan saat aku memintamu pergi, tapi yang paling ingin membuatku penasaran adalah, masalah yang muncul setelah kita berpisah. Sepertinya mereka tidak hanya mengincarku."
"Mengincar Kakak?"
"Awalnya aku ingin menarik mereka padaku Yuki, dengan aku jauh darimu aku yakin mereka akan menargetkanku dan kalian aman. Jadi aku memang berencana untuk memancing mereka datang. Tapi ternyata bukan itu saja masalahnya, aku yang salah menilai dan mengambil keputusan."
Shiro tidak sengaja mengatakan dengan jujur tentang alasannya menjauh dari Yuki. Tanpa sadar Shiro telah membuat Yuki merasa kecewa dan juga sedih.
"Kakak berencana untuk mengorbankan diri?" tanya Yuki pada kakaknya.
"Tidak, aku punya bawahan ayahku kan, jadi yah bukan 'mengorbankan diri sendiri' pokoknya."
Gadis itu tersadar bahwa dia sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya dia katakan pada adiknya.
"Yuki, aku lapar?" kata Shiro yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Yuki tahu lebih dalam tentang pikiran dan rencananya.
__ADS_1
"Oke. Aku akan memasak untuk kakak. Tunggu saja disini."
Yuki sudah lama tidak melakukan kegiatan di dapur, dia juga ingat bahwa kakaknya belum makan sejak semalam, jadi dia berinisiatif untuk memasak makanan kesukaan Shiro yang sudah lama rasanya belum dia lakukan.