
Setelah mendengar informasi dari Hanson, Yuki turun ke penjara bawah tanah. Dia tidak terburu-buru, langkah kakinya yang sedang menuruni tangga terdengar bergaung keras di sepanjang jalan menuju bawah tanah.
Dia bisa melihat Hanson sedang berdiri di samping pria yang duduk di lantai dengan kedua tangan dan kaki dirantai kuat. Pria itu berusaha untuk membebaskan dirinya, suara rantai yang saling bertabrakan terdengar keras, mulutnya yang sudah disumpal hanya bisa mengeluarkan suara erangan terendam.
"Sia-sia saja." suara rendah dan dingin Yuki membuat suara gemericing rantai perlahan berhenti. Pria yang dirantai menoleh dan melihat orang yang baru saja datang.
Pria yang sedang dirantai itu tentu saja adalah Menteri Niro, orang yang baru saja mereka culik dari kantornya.
'Siapa kalian?! Kenapa kalian melakukan ini padaku?!' teriak Niro dalam hatinya, tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya yang disumpal.
Niro melihat Yuki dengan kedua pupil matanya yang gemetar. Mata itu menunjukkan kepanikan yang dia rasakan dalam dirinya. Pria yang dilihatnya terlihat lebih menakutkan daripada pemimpinnya yang selama ini dia anggap seperti iblis.
Tatapan pria itu juga sangat dingin, Niro merasa pria muda yang sedang berjalan mendekatinya bahkan lebih kejam dan menakutkan dari pimpinannya yang selama ini dia anggap sebagai setan. Namun pria muda yang baru datang adalah cerminan dari iblis kejam.
Yuki sedang mengenakan sepasang sarung tangan hitam untuk menutupi tangannya saat dia berjalan ke kursi. Dia tidak sudi jika darah orang kotor yang dirantai itu sampai membasahi kulit tangannya.
Pria muda itu segera duduk di kursi yang sudah Hanson siapkan di depan tawanan. Dia duduk dan menyilangkan kakinya, kemudian membuka koper yang dia bawa lalu membelai scalpel yang tertata rapi di koper itu. Tatapannya melembut saat membelai pisau-pisau tajam koleksinya, tetapi tatapan matanya segera mengeras saat mengambil salah satu pisau dan melemparkannya ke Niro.
Niro sangat terkejut dan tiba-tiba merasa kesakitan pada dada kiri atasnya, dia bisa melihat pisau yang sudah menancap di dadanya.
'Apa yang terjadi? Kenapa dia melakukan ini padaku?!' pikirannya masih berusaha memproses apa yang baru saja pria di depannya itu lakukan.
"Ah, benda itu tidak akan mengenai jantungmu, tenang saja." kata Yuki dengan sangat rendah.
"Record." bisiknya. Dia memerintahkan mata prostetik untuk merekam kegiatannya.
Dia merasakan kesenangan dalam hatinya. Meskipun kesenangan itu telah ditutupi oleh amarah. Tatapan matanya menjadi liar dan penuh kegilaan, hanya Hanson yang bisa melihat emosi yang sekilas melewati mata tuannya yang masih muda.
'Pria sialan yang tidak beruntung.' pikir Hanson saat kembali melihat Niro yang telah dia rantai. Hanson juga mengenakan sarung tangan hitam, dia juga eksekutor. Yuki telah meminta Hanson untuk bergantian menyiksa pria itu saat dia sedang pergi. Keduanya tidak ingin mengampuni Niro.
Yuki dan Hanson memiliki alasannya sendiri. Yuki melampiaskan amarahnya pada anak buah pemimpin Harmonics yang telah mengganggu keluarganya. Sedangkan Hanson sedang membalaskan dendamnya pada anggota Harmonics, organisasi yang sudah menghancurkan keluarganya.
Yuki kembali mengambil pisaunya, dia masih duduk santai dengan punggung bersandar dan kaki yang disilangkan.
'Tolong jangan lakukan itu! Tolong lepaskan aku!' teriak Niro keras, tetapi hanya suara 'ugh dan ah' yang bisa dia dengar dari mulutnya yang disumpal, tubuhnya gemetar hebat saat pria itu mengambil pisaunya lagi, Menteri yang biasa berwibawa itu sangat panik dan ketakutan.
__ADS_1
Pisau kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Yuki sudah lupa berapa banyak pisau yang dia lemparkan ke tubuh Niro yang masih dirantai dengan mulut tersumpal.
Dia hanya mendengar erangan kesakitan, jeritan tertahan dan gemericing rantai setiap kali pisau itu mengenai tubuh Niro. Tubuh tawanan itu sekarang gemetar hebat karena kesakitan, mata dan wajahnya basah karena air mata. Bau amis dan karat sangat pekat tercium di ruangan bawah tanah itu.
"Sepertinya aku sudah memotong beberapa arterimu."
Yuki mengatakan itu seolah-olah dia sedang sangat menyesal, dia melihat darah mengalir deras dari beberapa bagian tubuh Niro hingga lantai dibawahnya mulai digenangi darah merah tua.
"Hanson, berikan ini dan ambil pisaunya."
"Baik Tuan."
Kedua pria itu melihat Niro yang pingsan karena kesakitan dan perdarahan hebat di beberapa bagian tubuhnya.
Hanson memberikan cairan obat yang dibuat kusus oleh Shiro.
'Ini baru permulaan, kamu harus mengalami yang lebih buruk dari ini. Tunggu saja.' kata Hanson dalam hati saat menjejalkan obat itu dalam mulut Niro. kemarahan memenuhi dirinya. Dia tidak berniat untuk memberi kemudahan atau mengampuni pria yang sekarat itu.
"Tuan, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu." Hanson memecah kesunyian sambil membersihkan pisau-pisau milik Yuki dari noda darah.
"Tuan, keluargaku dihancurkan oleh Harmonics. Tuan pasti sudah tahu bahwa aku dulu adalah seorang pembunuh bayaran, keluargaku juga sama. Aku adalah kepala keluarga pembunuh bayaran terkenal saat itu. Tetapi Harmonics menghancurkan keluargaku, membunuh istri dan anak-anakku."
Dia berhenti sebentar sambil menatap Tuannya Yuki yang memandang dirinya tanpa mengatakan apapun.
"Aku baru tahu bahwa musuh Tuan Yuki dan Nona Shiro adalah Harmonics juga, jadi aku memiliki permintaan kepada kalian. Tolong, aku ingin membalas dendam." pinta pria tua itu sederhana, dia hanya ingin membalaskan kematian keluarganya.
Setelah beberapa menit, Yuki hanya memandang Hanson tanpa mengatakan apapun. Dia menyesap wine dan meletakkan gelas itu ke meja di sebelahnya.
"Hanson, Aku tahu." jawan Yuki setelah beberapa waktu.
"Maksud Tuan?" tanya pria tua itu bingung.
"Aku dan Kakak sudah tahu tentang hubunganmu dan Hamonics, tentang keluarga kamu. Kami sudah tahu."
Hanson tersentak saat mendengar jawaban Yuki. Bagaimana mereka tahu? Dia tidak pernah mengungkapkan ini sebelumnya.
__ADS_1
"Tuan, bagaimana-" tanya Hanson terputus saat Yuki segera menyela pria itu.
"Kakakku ingin tahu kenapa kamu terluka malam itu, dia ingin tahu apa yang terjadi padamu sebelumnya, dia menemukan bahwa kamu dan keluargamu adalah pembunuh bayaran terkenal di negara asalmu, tetapi kamu telah dikhianati dan kamu akhirnya terluka. Kemudian kami bertemu denganmu."
Yuki menghela napas setelah bercerita panjang tentang kebenaran yang dia dan kakaknya ketahui. Kemudian dia melihat ekspresi Hanson yang masih terkejut.
"Lalu kenapa Tuan dan Nona tidak mengatakan apa-apa?" tanya Hanson setelah pulih dari keterkejutannya.
"Untuk apa? Kami tidak peduli tentang masa lalu, kita tidak tinggal di masa lalu. Jika kamu ingin membalaskan dendammu, kami tidak akan melarang. Lakukan apapun yang kamu inginkan." jawab Yuki enteng.
Pandangannya segera beralih dari Hanson dan melihat Niro yang masih pingsan.
"Aku akan pergi, lakukan apapun yang kamu inginkan. Aku ke tempat kakak dulu dan pulang lusa. Jaga orang itu tetap hidup sampai aku kembali ke sini." kata Yuki dengan wajah datar.
Dia ingin menyerahkan tawanannya ke tangan pembunuh itu, dia bisa merasakan niat balas dendamnya yang kuat, Yuki memberi Hanson kesempatan untuk melakukan balas dendamnya.
"Terima kasih banyak Tuan." seru pria tua kepada Yui, dia akhirnya bisa melakukan apa yang selama ini ingin dia lakukan.
Segera Yuki bangkit dari duduknya dan kembali ke kamarnya di lantai atas. Dia membersihkan tubuhnya dari noda darah dan membuang pakaian serta sarung tangan hitam yang baru saja dipakainya. Hanson akan membakar semua barang itu untuk menghilangkan jejak mereka.
Pria tua itu selalu teliti, dan dia tidak suka mengenakan pakaian dengan bekas noda darah kotor tawanannya, hal ini juga sama dengan pemikiran Yuki, sehingga dia akan membakar pakaian itu setelah mengenakannya.
***
"Kak." sapa Yuki saat dia melihat kakaknya masih sibuk di depan komputernya.
"Yuki?" Shiro terkejut dengan kedatangan adiknya yang sangat tiba-tiba. Yuki tersenyum lemah saat melihat kakaknya yang terkejut.
"Ayo ke kamarku dulu." dia masih di kamar ayahnya, karena komputer paling canggih ada disana.
Keduanya segera pergi ke kamar Shiro. Gadis itu membawa berkas tebal di tangan kirinya, dan tangan kanannya menggenggam tangan Yuki. Shiro tahu Yuki akan ke rumahnya saat mendengar percakapan antara dia dan Hanson. Tetapi dia tidak menyangka kalau Yuki datang secepat itu.
Setelah keduanya masuk ke kamar, Shiro menutup pintu di belakangnya.
"Ada apa Yu-" tanya Shiro kawatir saat melihat wajah adiknya. Tetapi pertanyaan yang ingin dia ajukan segera terputus setelah adik laki-lakinya memeluk Shiro erat.
__ADS_1
"Kak aku lelah." jawab adik dalam pelukannya. Shiro tidak tega jika adiknya yang selalu terlihat kuat menjadi seperti ini. Tapi satu-satunya orang dimana Yuki bisa menunjukkan kelemahannya hanya pada Shiro saja.