MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Balas Dendam


__ADS_3

Yuki  menduga, Martin akan dijadikan kambing hitam dari kejadian meninggalnya Dr. Ichidai, karena itulah Yuki tidak ingin semuanya menjadi lebih rumit di masa depan, sehingga mengirimnya pergi dengan identitas baru adalah pilihan terbaik.


Anak buah pria misterius itu segera melepaskan penyamarannya di kursi penumpang, sedangkan Delta bertugas menyetir mobil menuju rumah sakit.


Setelah menempuh puluhan menit perjalanan dan matahari hampir terbenam, keempat pria itu akhirnya memasuki rumah sakit. Yuki segera keluar dari mobil dan berlari ke depan ruang IGD diikuti ketiga pria misterius. Kelima temannya masih berada di sana, tetapi kali ini lebih banyak orang di sana. Kapten Ryu dan kedua kepala desa juga menunggu di depan Instalasi Gawat Darurat.


“Bagaimana keadaan Kakak?” Tanya Yuki kepada teman-temannya yang sedang menunggu.


Ekspresi kelima temannya langsung berubah menjadi buruk, air mata mereka kembali mengalir perlahan, Kapten Ryu dan kedua Kepala Desa juga langsung menundukkan wajahnya.


“Apa yang terjadi pada Kakak?!” Teriak Yuki tidak sabar. Orang-orang di sekitar mereka langsung menoleh kearahnya, Yuki tidak peduli dengan semua orang di sekitar mereka.


“Shi… Shiro…” Ai berusaha menjawab tetapi kalimat itu tidak bisa keluar dari bibirnya, air mata mengalir semakin deras.


Hati Yuki sangat sakit karena ekspresi itu, ketiga pria misterius itu juga ikut merasakan sakit di hati mereka. Jika sampai terjadi sesuatu pada putri semata wayang tuannya, maka mereka telah gagal menjalankan tugasnya.


“Keadaan Shiro sangat buruk, Dokter bahkan mengatakan ka… kalau kami harus bersiap… untuk yang terburuk…” Jawab Are dengan nada yang sangat rendah. Jika bukan karena ketajaman indera pendengar  Yuki, dia tidak akan bisa mendengar suara rendah Are.


Setelah mendengar jawaban itu, pupil mata Yuki seketika membesar, perasaan terkejut, sedih, dan tidak percaya bercampur menjadi satu.


Dia memandang kelima temannya bergantian, berharap apa yang dikatakan oleh Are adalah kebohongan. Tetapi kelima temannya memiliki ekspresi terpukul yang sama.


Mereka juga tidak menyangka akan seburuk ini, karena mereka yakin Shiro adalah gadis yang kuat. Mereka berharap, telinga mereka salah mendengar kata-kata Dokter.


Yuki tidak bisa berkata-kata, dia bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak mungkin kakaknya pergi secepat itu.


Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki puluhan orang yang terburu-buru. Itu adalah Liu Ao dan keluarganya ditemani puluhan pengawal.


Liu Ao tentu mengenal Yuki dan yang lainnya, dia segera mendatangi pemuda itu.


“Bagaimana keadaan keponakan ku?” Tanya Liu Ao khawatir.


Bagaimana pun, Shiro adalah anak dari adiknya. Meski pun Shiro pernah mengancamnya, dia tahu bahwa Shiro tidak pernah bermaksud buruk padanya. Gadis itu hanya menyayangi warga pinggiran.


Melihat kedatangan Presiden Blue Sky, semua yang hadir menunjukkan rasa hormatnya, kecuali Yuki tentu saja. Dia hanya memikirkan kakaknya, dan orang yang paling dia hormati selain orang tua dan kakeknya hanyalah kakaknya, Shiro.


Melihat ekspresi Yuki yang sangat sedih, dan juga kelima teman keponakannya, Liu Ao menyimpulkan bahwa keadaan Shiro sangat buruk, bahkan mungkin sudah tidak bisa tertolong lagi. Liu Ao dan keluarganya ikut sedih dengan hal itu.


“Dimana Dokternya? Ada yang ingin aku berikan kepada kakak. Aku yakin kakak bisa segera sembuh.” Yuki tersadar bahwa dia masih menggenggam erat ampul penawar yang dia ambil dari ruangan Dr. Ichidai.

__ADS_1


“Dokter masih ada di dalam, mereka masih berusaha agar Shiro bisa diselamatkan, tetapi kita tidak bisa melakukan operasi atau prosedur pembedahan apa pun, karena stok darah Shiro sedang kosong.” Jawab Are yang berusaha tegar.


Yuki langsung masuk ke ruangan itu mencari Dokter yang menangani kakaknya. Dia harus menyuntikkan penawar itu secepatnya.


Tidak sulit menemukan mereka, suster yang melihat Yuki berlari masuk itu ingin mencegahnya, tapi dia tahu posisi Yuki, Shiro dan Liu Ao pemilik rumah sakit. Sehingga dia hanya diam saja, tidak berani menegur pemuda itu.


“Tuan Yuki? Apa yang anda lakukan di sini?” Tanya salah satu Dokter senior yang menangani Shiro saat melihat Yuki memasuki ruangan kakaknya.


“Saya membawa penawar untuk kakak, tolong berikan penawar ini secepatnya. Saya tidak bisa menjelaskannya, tetapi cepat berikan kepada kakak.” Jawab Yuki terburu-buru.


Dokter senior itu segera mengambil ampul obat yang diberikan Yuki, tanpa ragu sedikit pun, dia langsung menyuntikkan obat itu kepada Shiro.


Hati Yuki semakin sakit saat melihat Shiro yang tergeletak lemah di tempat tidur, wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Semua alat dan obat yang diberikan oleh para dokter tidak memberikan efek apa pun kepada Shiro.


Beberapa saat setelah melakukan injeksi, beberapa dokter senior yang hadir dan juga Yuki memperhatikan keadaan Shiro, mereka berharap penawar itu benar-benar berguna untuk menyembuhkan Shiro.


Terdengar keributan di luar, Liu Ao juga berlari masuk untuk melihat keadaan keponakannya, dia sangat mengkhawatirkan Shiro.


“Bagaimana keadaan Shiro?” Tanya Liu Ao kepada para Dokter.


Semua dokter itu terkejut dengan kedatangannya, mereka segera membungkuk dan menjelaskan keadaan Shiro yang tidak terlalu baik.


Yuki terus memperhatikan tanda-tanda vital kakaknya yang ditampilkan di monitor.


Tetapi setelah beberapa menit, tidak ada yang berubah. Shiro masih mengalami koma.


Yuki tidak menyangka itu, dia segera mengeluarkan telfon genggamnya dan menghubungi penjaga penjara.


“Tuan? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Hanson setelah menerima panggilan telfon Yuki.


“Dimana Martin?” Tanpa panjang lebar, Yuki mencari Martin.


“Tuan ingin berbicara dengan Tuan Martin? Saya akan memberikan telfon kepadanya.”


“Ha… Halo?” Martin takut dengan Yuki, hidupnya berada di tangan Yuki.


“Kamu bilang penawar itu menyembuhkan kakakku? Kamu membohongiku?!” Tanya Yuki geram.


“Ti… Tidak, saya tidak berbohong. Itu memang penawarnya.” Jawab Martin ketakutan.

__ADS_1


“Kenapa kakakku tidak segera bangun?! Jika kamu macam-macam denganku, jangan harap kamu masih bisa melihat keluargamu lagi!” Ancam Yuki.


Yuki tidak mengancam dengan suara rendah, tapi nada itu sangat menakutkan. Bahkan para Dokter dan Liu Ao yang berada di sekitarnya ikut merasakan keringat dingin menetes dari punggung mereka.


Ancaman itu mirip seperti predator yang sedang memburu mangsanya. Rendah namun dingin.


“Tidak Tuan! Saya tidak berbohong.  Virus itu bekerja dengan cara yang berbeda dari setiap orang. Jika yang terinfeksi memiliki daya tahan tubuh rendah, maka efeknya akan lebih mematikan meski pun dengan dosis yang sama. Penawarnya juga bekerja menjadi lebih lambat.” Martin berusaha menjelaskannya, dia takut kebebasannya hanyalah impian untuknya.


Yuki langsung mematikan telfonnya, dia menerima jawaban Martin, tapi dia tidak terima dengan keadaan kakaknya.


“Bagaimana?!” Tanya Liu Ao tidak sabar kepada Yuki.


“Kemungkinan kakak akan segera sembuh, tetapi membutuhkan waktu sedikit lebih lama.” Jawab Yuki berusaha tenang.


“Berapa lama dia akan sadar dari komanya?”


“Aku tidak tahu. Aku berharap itu secepatnya terjadi.” Jawab Yuki.


Pemuda itu segera meninggalkan ruangan berjalan keluar menuju kelompoknya.


Sedangkan Liu Ao tetap di ruangan keponakannya bersama para dokter untuk mendiskusikan tindakan selanjutnya. Karena tidak sembarangan prosedur medis bisa dilakukan, mereka akhirnya memutuskan untuk memindahkan Shiro ke ruangan khusus yang berada di lantai paling atas rumah sakit itu.


Mereka hanya bisa menunggu dan memantau keadaan Shiro menjadi lebih baik. Liu Ao segera mengurus administrasi yang dibutuhkan, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk membereskannya.


Melihat kedatangan Yuki, semua yang menunggu di depan IGD langsung mendesak Yuki dengan beberapa pertanyaan, mencari jawaban keadaan Shiro.


Yuki hanya menjelaskan bahwa keadaan Shiro sudah lebih stabil, dan akan segera sembuh.  Dia ingin menenangkan semua orang agar tidak khawatir dengan kakaknya.


Pemuda itu memberi kode kepada kelima temannya, pemimpin pria misterius dan juga Kapten Ryu untuk mengikutinya.


Mereka berjalan cukup jauh, setelah mencari tempat yang sepi, kelompok yang terdiri dari  7 orang itu segera memperhatikan apa yang akan Yuki katakan kepada mereka.


“Aku ingin membalaskan dendam.” Kata Yuki dengan nada rendah menakutkan.


“Kita harus menghukum laboratorium itu!” Lanjutnya. Sebelumnya dia tidak masalah dengan Dr. Ichidai yang sudah meninggal. Tetapi sekarang dia tidak terima karena keadaan kakaknya yang tidak terlalu baik.


...***...


...Lanjuuut…...

__ADS_1


...(*^3^)/~♡...


...***...


__ADS_2