MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Untuk Kak Shiro


__ADS_3

Aki yang berada tepat di samping Shiro tersentak dan segera mematikan kompor yang tadi dipakai oleh Shiro sebelum berlutut di sebelahnya membantu Haruki.


Sedangkan Ai yang sejak tadi sibuk mengobrol dengan Aki sambil memotong sayuran, hampir saja mengiris tangannya dengan pisau tajam karena teriakan Haruki. Kurina dan Are langsung berdiri dari kursi di ruang makan dan berlari ke dapur.


“Cepat panggil ambulans!” Pinta Haruki dengan panik.


“Sudah, aku baru saja selesai menghubungi ambulans.” Jawab Kurina setelah menutup telfonnya.


“Shiro?! Tahan sebentar lagi, kita akan segera ke rumah sakit.” Haruki sangat ketakutan dan memeluk Shiro.


Shiro tidak bisa menanggapi Haruki dan yang lainnya. Jantungnya terasa sangat menyakitkan, seperti ditusuk-tusuk oleh besi panas. Untuk bernapas saja dia tidak mampu, karena sangat menyakitkan untuknya menarik napas.


Hanya dalam hitungan menit, ambulans segera datang ke rumah itu. Segera perawat dan dokter yang bertugas memberikan prosedur pertolongan pertama dan membawa Shiro ke rumah sakit.


Rumah sakit yang dituju adalah rumah sakit milik Liu Ao, Paman Shiro. Rumah sakit itu sebenarnya milik Ayah Shiro, tetapi sekarang dikelola oleh keluarga pamannya. Shiro tidak keberatan sama sekali, karena dia tidak terlalu suka mengelola perusahaan.


Kelima temannya mengikuti ambulans dengan mobil mereka. Aki yang duduk di belakang bersama kakaknya segera menghubungi Yuki agar lekas datang ke rumah sakit menyusul mereka.


Yuki yang mengetahui kabar itu seketika menjadi tercengang.


‘Kenapa kakak tiba-tiba masuk ke rumah sakit?’ Batinnya diliputi kecemasan.


Untung saja saat itu Yuki sudah tiba di tempatnya menyekap Martin. Pemuda itu bergegas masuk ke dalam mobil dan mengemudi secepat yang dia bisa untuk sampai ke rumah sakit di dekat markas mereka.


Ambulans Shiro segera sampai di pintu masuk Instalasi Gawat Darurat. Dengan sigap, petugas yang berjaga di IGD menangani Shiro.


Para petinggi rumah sakit yang mengetahui bahwa Shiro berada di IGD segera berlari ke unit itu dan membantu tindakan penyelamatan.


Are mondar-mandir dengan cemas di depan IGD rumah sakit. Haruki terlihat sangat terpukul, sedangkan para gadis saling berpelukan berusaha menahan air mata mereka yang bisa jatuh kapan saja.


Apa yang terjadi pada Shiro hari ini sangat membahayakan nyawanya. Tanpa diberitahu, kelima anak muda itu juga mengetahui buruknya situasi yang sedang dihadapi Shiro.


Yuki akhirnya juga tiba di rumah sakit, dia segera berlari ke arah teman-temannya.


“Bagaimana keadaan kakak?” Tanya pemuda itu dengan khawatir.


“Kami belum tahu, Dokter masih berusaha di dalam, kami juga masih menunggu hasilnya.” Jawab Kurina, air mata tidak sengaja menetes dari sudut matanya.


“Ceritakan bagaimana bisa seperti ini? Apa yang terjadi?!” Yuki tidak tahan melihat ekspresi mereka, dia takut terjadi sesuatu yang sangat buruk kepada kakaknya.


“Tadi aku sedang memasak di dapur untuk makan siang. Shiro kebetulan juga turun untuk membuat bubur. Sebenarnya tadi sudah ada yang aneh karena dia tidak menjawab pertanyaan ku dan terlihat sangat lemas.”


“Tapi sebelum aku bertanya, yang lainnya pulang. Karena aku sudah lama tidak melihat Kak Ai, aku menjadi teralihkan dari Shiro dan memasak dengan Kakak.” Aki berusaha menjelaskan kejadian itu di sela-sela isak tangisnya.


“Maafkan aku Yuki…” Aki merasa sangat bersalah.

__ADS_1


Tetapi Yuki tidak menanggapi permintaan maaf Aki.


“Aku juga merasa aneh, saat kami berempat pulang, kami tidak melihat mobil Shiro, aku pikir Shiro belum pulang atau sedang keluar denganmu, tapi kata Aki, dia sudah pulang dari kemarin sore.” Sahut Ai sambil memeluk adiknya yang terisak.


“Yang aku tahu, saat dia sedang memasak bubur, badannya gemetaran hebat, kemudian terlihat kesakitan dan terjatuh. Dia memegang erat dada kirinya dan kesulitan bernapas.” Haruki ikut menyambung kalimat Ai dengan ekspresi sangat terpukul, dia sangat cemas dengan keadaan Shiro.


Yuki mendengarkan penjelasan mereka, tidak bisa berkata-kata dan hanya tertegun setelahnya.


Dia tahu keadaan kakaknya sangat mengkhawatirkan, dan bisa saja mengancam nyawanya. Dia tidak siap kehilangan kakak yang paling dia sayangi.


Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, Yuki menangis.


Keenam anak muda itu masih menunggu dengan cemas di depan ruang IGD. Sekelompok pria memakai masker hitam datang mendekati mereka.


“Yuki?” Sapa salah satu pria di tengah.


Yuki segera berbalik dan menatap ketiga orang asing itu, dia tidak mengenali salah satu dari ketiganya.


“Siapa kalian?” Tanya Yuki.


“Kamu tidak perlu tahu siapa kami. Tetapi kami tahu apa yang terjadi pada Nona Shiro.” Jawab pria yang di tengah, sepertinya pria itu adalah pemimpinnya.


“Nona Shiro? Kalian mengenal kakakku?” Tanyanya bingung.


“Baik.”


Yuki tidak peduli jika pria itu berbohong atau berniat mencelakainya. Apa pun yang menyangkut kakaknya, dia harus mengetahuinya. Keduanya berjalan menjauh dan berhenti di salah satu sudut halaman rumah sakit yang cukup sepi.


“Tolong ceritakan semuanya.” Yuki memecah keheningan.


“Kamu tidak perlu tahu siapa kami, tapi kami tahu siapa kalian. Seseorang bersiasat mencelakai Nona Shiro. Karena itulah kami datang menemui mu.”


“Apa maksud anda?”


“Kemarin sore, Nona Shiro berkendara dengan mobilnya menuju markas kalian. Awalnya tidak terjadi apa-apa, lalu lintas juga cukup lengang. Namun di sebuah persimpangan, sebuah truk menabrak mobil Nona Shiro dengan kecepatan tinggi dari arah kanan.” Dia memulai penjelasannya, tetapi berhenti sejenak untuk mengamati ekspresi Yuki.


Yuki tercengang dengan informasi yang disampaikan pria itu, bahkan dia mengetahui kalau rumah itu adalah markas.


“Lanjutkan.”


“Tabrakan itu sangat keras, mobil Nona Shiro terguling berkali-kali. Kami pikir saat itu Nona Shiro sudah tiada karena benturan yang dialaminya, tapi ternyata dia berhasil keluar dari mobilnya yang sudah hancur.”


“Kemudian Nona Shiro pingsan di samping mobilnya. Seseorang dengan cepat mendatangi Nona Shiro dan menyuntikkan sesuatu kepadanya lalu pergi. Anak buahku sudah mengikuti orang itu dan membawa kami ke dalang kejadian ini.”


“Siapa yang melakukannya?!” Wajah Yuki menjadi gelap, kemarahan membakar hatinya.

__ADS_1


“Dr. Ichidai.” Jawab pria itu.


“B.a.d.j.i.n.g.a.n itu?!” Yuki tidak bisa lagi menahan amarahnya.


“Kami mencurigai, bahwa keadaan Nona Shiro hari ini adalah efek dari sesuatu yang sudah disuntikkan orang itu.”


“Tapi kemarin kakak pulang dan terlihat baik-baik saja. Bagaimana mungkin?” Yuki bertanya-tanya.


“Karena kami menyelamatkannya, itu adalah tugas utama kami. Seharusnya dia beristirahat di tempat kami, tetapi dia memaksa untuk pulang ke markas.” Jawab pria itu, ekspresi sedih terlihat dari matanya.


Yuki sekali lagi ingin bertanya tentang identitas mereka, tapi dia tahu mereka tidak akan menjawabnya.


“Aku harus membunuh b.a.d.j.i.n.g.a.n gila itu!” Kata Yuki penuh tekad.


“Kami akan bersamamu. Kami bisa menyusup dengan mudah ke dalam laboratorium itu, apalagi jika kami bisa menyamar menjadi salah satu karyawannya.” Katanya sambil memandang Yuki dengan tatapan penuh teka-teki.


“Aku tahu apa maksudmu, sebentar lagi setelah dokter selesai memeriksa kakak, kita akan berangkat.” Jawab Yuki.


Yuki merasa pria itu mengetahui segalanya, dia bahkan tahu Yuki sedang menyekap salah satu tangan kanan Dr. Ichidai.


“Baik.” Pria itu senang Yuki mengetahui maksudnya.


Keduanya kembali ke depan IGD, tepat saat mereka sudah dekat dengan kelompoknya, seorang Dokter keluar dari dalam ruangan. Yuki berlari mendatangi Dokter itu diikuti pria misterius.


“Dokter bagaimana keadaan kakakku?” Tanya Yuki.


“Untuk sementara kami menemukan bahwa terjadi peradangan pada otot jantung Nona Shiro, kami masih memeriksa penyebabnya, tetapi menurut pengalaman kami, peradangan ini mirip dengan yang disebabkan oleh virus, dan sangat mematikan. Ini adalah kasus miokarditis pertama dan sangat mematikan yang pernah saya lihat.”


“Kami akan menyelidiki lebih dalam, bisa jadi kami harus melakukan transplantasi jantung, jika peradangan sudah di tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Namun itu sulit karena hampir tidak ada yang memiliki golongan darah seperti milik Nona Shiro.” Kata Dokter itu menjelaskan keadaan Shiro.


Semua yang mendengar penjelasan dokter itu terkejut dan terpukul. Shiro memiliki golongan darah yang sangat langka. Sudah lama tidak ada kabar tentang orang-orang yang memiliki golongan darah itu.


Yuki yang mendengar berita itu, seketika lututnya menjadi lemas. Dia terjatuh berlutut di depan dokter dan yang lainnya, kemarahan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Dia harus membunuh orang itu untuk membalaskan perbuatan yang dia lakukan kepada kakaknya.


 


...***...


...Lanjuuut… ->...


...(人*´∀`)。*゚+...


... ...


...***...

__ADS_1


__ADS_2