MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Syarat Untuk Perlindungan


__ADS_3

Yuki mendarat di salah satu sudut balkon, setelah menundukkan badannya, Shiro turun dari punggung Yuki. Dan berterima kasih kepada Yuki karena telah membantunya.


“Terima kasih banyak Yuki, aku harap dia segera mencabut surat keputusan yang dia buat. Sehingga mereka tetap bisa bertahan di sana. Kamu masuk kamar, sudah malam. Istirahat yang baik, wajahmu masih sedikit pucat.”


“Kakak juga masuk kamar, kakak masih sakit. Sejujurnya aku ingin mereka pindah ke pulau kita, lebih aman di sana.”


“Biarkan mereka yang memutuskan besok, ingin tetap bertahan atau pindah ke Pulau Zectter. Kita hanya bisa menawarkan pilihan, keputusan untuk menjalankan hidup ada pada diri mereka sendiri.”


“Benar juga. Tapi menurutku kasus ini sangat janggal, kenapa tiba-tiba ada yang mempengaruhi pemerintah untuk menggusur mereka. Kenapa baru sekarang?”


“Aku juga belum tahu jawabannya, kita tunggu saja perkembangan kasus ini. Aku ingin duduk dulu di sini, kamu masuk kamar.”


“Baiklah jika kakak memaksa, jangan terlalu lama di luar, udara sudah mulai dingin sekarang.”


“Iya Yuki. Selamat beristirahat.”


“Selamat beristirahat Kak Shiro.”


Yuki memastikan keadaan Shiro beberapa saat sebelum berbalik dan masuk ke kamarnya. Dia lelah, pikirannya rumit. Setelah membersihkan dirinya lalu naik ke tempat tidur, Yuki langsung tertidur lelap.


Matahari pagi menerobos jendela memasuki kamar Yuki, cahaya keemasan menyinari matanya, Yuki terbangun dari tidurnya.


Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, satu jam lagi ada pertemuan yang harus diadakan. Setelah dirinya benar-benar terjaga, Yuki turun dari tempat tidurnya, bersiap-siap untuk sarapan.


Diluar kamarnya sangat sepi, dia langsung turun ke lantai satu, karena dia pikir Shiro juga pasti sudah turun ke ruang makan. Setelah sampai di lantai 1, Yuki menuju ruang makan tapi tidak menemukan Shiro.


“Ai, dimana Kak Shiro? Apakah dia belum turun?” Tanya Yuki


“Aku tidak tahu, aku pikir masih kamarnya dan menunggumu.” Ai dan yang lainnya tidak tahu kemana Shiro pergi.


“Kalau begitu aku cari dia dulu di kamarnya, kalian bisa sarapan lebih dulu, jangan menunggu kami.


“Baik Yuki.”


Yuki segera berbalik dan naik ke lantai 3 mengetuk kamar Shiro. Tapi tidak mendengar jawaban, takut Shiro pingsan lagi, dia segera membuka pintu. Di dalam kamar sangat sepi, tidak ada keberadaan Shiro, bahkan sepertinya Shiro tidak memasuki kamarnya sejak tadi malam. Dia bertanya-tanya, kemana Shiro pergi dari semalam? Apakah dia mengunci dirinya di dalam laboratorium lagi?


Dia berbalik menuju lift, untuk turun ke lantai bawah kedua. Saat pintu lift hanya berjarak 3 meter di depannya, tiba-tiba pintu lift terbuka, Shiro keluar dari lift dengan wajah linglung. Dia tidak menyadari ada Yuki didepannya, dia menuju ke kamarnya, kemudian masuk ke kamar mandi.


Yuki bingung dengan kelakuan kakaknya, jarang sekali dia seperti itu. Yuki menunggu Shiro di depan kamarnya. 30 menit berlalu, Shiro akhirnya keluar dari kamarnya.


Setelah membuka pintu, dia terkejut melihat Yuki berdiri di depan kamarnya dengan tatapan merenung.


“Yuki? Sudah sarapan? Kalau belum ayo sarapan bersama, sudah hampir waktunya pertemuan.” Ajak Shiro dengan riang, seakan-akan yang tadi masuk ke kamar itu orang yang sama sekali berbeda.

__ADS_1


Namun Yuki mengangguk, mereka turun ke lantai 1 menuju ruang makan. Sepertinya anggota lain telah menyisakan beberapa hidangan untuk mereka berdua makan.


Ruang makan sangat sepi, Haruki dan Kurina menjemput kepala distrik desa pinggiran. Sesuai dengan peraturan, jika ada orang luar yang datang ke markas, harus dikawal dan ditutup matanya, karena mereka selalu menjaga kerahasiaan Markas Kirifuda.


Sementara Ai, Aki, dan Are sepertinya sudah turun ke aula terlebih dahulu. Shiro dan Yuki makan dalam diam, dengan cepat menyelesaikan makanannya. Setelah membereskan meja, terdengar bel pintu utama berbunyi, sepertinya itu adalah Kapten Ryu dan wakilnya Kapten Aoki.


Yuki membuka pintu, lalu bersama-sama dengan Shiro dan kedua kapten masuk ke dalam lift menuju aula markas di lantai bawah kedua.


Yuki dan Shiro sama-sama menduduki kursi paling ujung, disebelah Shiro ada Ai dan Aki yang sudah duduk terlebih dahulu. Sedangkan disebelah Yuki, Are sudah menduduki kursinya, kemudian kedua kapten duduk di sebelah Are.


Waktu menunjukkan pukul 07.55, tepat setelahnya pintu segera terbuka, Haruki dan Kurina masuk dengan kepala distrik yang matanya ditutup.


Setelah sampai di aula, Kurina membuka penutup mata kedua kepala distrik. Mereka sudah terbiasa dengan protokol tersebut. Yuki meminta mereka duduk, lalu memulai rapat.


Yuki adalah ahli strategi dan juga pemimpin Kirifuda, sedangkan Shiro berperan sebagai komandan, ahli senjata dan obat-obatan. Karena itulah disetiap pertemuan, Yuki yang akan memimpin.


“Anggota kami menemukan bahwa pemerintah sepertinya akan melakukan perluasan wilayah pemerintahan, karena desa pinggiran Distrik Barat sangat dekat dengan wilayah pemerintah pusat, kemungkinan besar mereka akan melakukan penggusuran pada wilayah tersebut.” Yuki langsung mulai ke inti pembicaraan.


Semua orang yang hadir, kecuali Aki, Haruki dan Shiro terkejut dengan berita itu. Kenapa pemerintah tiba-tiba melakukan ini? Itulah pertanyaan yang ada di dalam benak mereka.


“Presiden juga telah menandatangani surat keputusan penggusuran. Itulah kenapa kami mengundang Kepala Saudi dan Kepala Doni kesini."


"Kami sudah menangani beberapa hal, ada 2 kemungkinan yang menjadi solusi."


“Kenapa baru sekarang pemerintah menggusur kami? Apakah ada sesuatu?” Kepala Distrik Barat Saudi penasaran dengan jawaban pertanyaan itu sehingga tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


“Kami percaya ada seseorang dibalik semua ini, namun mereka terlalu rapi, sampai kami tidak menemukan celah apapun.” Jawab Shiro datar.


Kepala Saudi mulai mulai berkeringat dingin, memikirkan nasib warganya. Jika mereka tetap bertahan, apa yang akan terjadi?


Apakah mereka akan mengalami hal ini lagi di masa yang akan datang. Tapi jika mereka direlokasi, apakah nasib mereka bisa menjadi lebih baik?


“Maaf, jika kami memilih relokasi, kemana kami akan pergi?” Tanya Kepala Doni.


“Nanti kami akan membicarakan itu secara pribadi. Kami memastikan keamanan kalian di tempat relokasi yang baru, tapi sebelum itu bicarakan ini dulu kepada warga. Jika memang ada yang tetap ingin direlokasi meskipun penggusuran dibatalkan, kami tetap akan merelokasi kalian.” Jawab Yuki.


Dia ingin keberhasilan rencananya, dia tidak menyukai pengacau, sehingga dia ingin membicarakan secara pribadi ke orang yang bersangkutan.


“Kami sedang menunggu keputusan pemerintah sebelum 3 hari, kami tunggu keputusan anda sebelum 3 hari juga, memilih bertahan atau relokasi.” Yuki sangat lugas.


“Boleh saya minta tolong untuk Ai, Aki Haruki dan Are keluar dulu? Saya ingin berbicara dengan Kurina dan lainnya.” Pinta Shiro.


“Siap.” Meskipun mereka sedikit keberatan untuk keluar ruangan karena mereka juga ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Yuki, mereka tetap keluar.

__ADS_1


Mereka tahu masalah ini sangat penting karena menyangkut banyak nyawa, mereka tidak meragukan keputusan Shiro dan Yuki. Segera mereka berdiri dan keluar dari ruangan.


Ruangan kembali sepi, semua yang hadir menunggu Shiro dan Yuki memberitahu mereka apa yang ingin dia sampaikan sampai harus mengusir beberapa anggotanya.


Yuki memandang Shiro, namun Shiro tetap memasang wajah datar. Baru kali ini Yuki tidak bisa membaca apa yang Shiro pikirkan, tidak biasanya dia melakukan hal itu kepada anggotanya.


“Jika ada warga yang tetap memilih untuk relokasi, kami akan membawa kalian ke pulau pribadi utama kami. Tapi kami memiliki syarat untuk ini, anggap saja sebagai timbal balik. Kami ingin anak-anak dari remaja sampai dewasa berumur 15-35 tahun mengikuti seleksi menjadi Pasukan Kirifuda.” Shiro dengan datar menjelaskan maksudnya.


“Untuk semua anak dibawah 15 tahun dan juga anak-anak yang tidak lolos seleksi akan kami dirikan sekolah khusus untuk mereka, setelah mereka siap, kami akan mendistribusikan mereka ke beberapa perusahaan atas rekomendasi kami.”


Suasana menjadi semakin hening, apa yang terjadi dengan Shiro?


“Kak?” Yuki curiga dengan Shiro, entah berapa banyak rahasia yang telah dia sembunyikan darinya, dia tidak berharap Shiro menjadi seperti ini.


“Nanti aku jelaskan setelah pertemuan.” Jawab Shiro ringan.


“Untuk tawaran Kak Shiro, menurutku itu hal yang baik. Sekarang terserah kalian ingin melakukan apa? Bertahan atau relokasi. Kami akan memberi fasilitas.” Yuki masih bingung, tapi tetap profesional.


Apapun yang terjadi, dia selalu mempercayai Shiro. Dia percaya Shiro selalu mempercayainya juga.


“Baik, kami mengerti. Kami akan menyampaikan berita ini kepada warga desa pinggiran. Terima kasih untuk bantuan kalian berdua sampai saat ini. Kami benar-benar tidak menyangka ada orang yang mau berbaik hati kepada kami selama bertahun-tahun. Terima kasih banyak.” Kepala Saudi memahami maksud baiknya, meskipun anak-anak itu akan dipekerjakan, dia yakin kehidupan mereka akan lebih baik.


“Benar, Kepala Saudi benar. Kami sangat bersyukur kalian mau menerima kami, dan membantu kami sampai sekarang, jika syarat itu bisa menebus sedikit dari kebaikan kalian, kami tidak akan keberatan jika anak-anak itu dipekerjakan.” Sahut Kepala Doni, ‘kini warga desa pinggiran tidak akan sengsara lagi’ pikirnya.


Pertemuan dengan wakil dari desa pinggiran selesai, Yuki meminta Kurina untuk membawa mereka berdua kembali sesuai protokol yang ada.


Meskipun Kurina masih bingung dengan penjelasan Shiro, dia tetap memenuhi tugasnya, dia akan bertanya kepada Shiro nanti.


Kini di aula pertemuan tersisa 4 orang, sedari tadi Kapten Ryu dan Kapten Aoki hanya diam menyimak percakapan semua orang, mereka tahu bahwa itu belum saatnya mereka berbicara.


“Untuk Kapten Ryu dan Kapten Aoki, aku memiliki tugas untukmu.” Shiro mulai menjelaskan beberapa tugas penting kepada mereka berdua.


Kemudian dia menyerahkan sebuah alat khusus berbentuk silinder yang dia letakkan dalam kotak khusus dengan berbagai macam protokol perlindungan.


Shiro menjelaskan tugas yang perlu mereka lakukan. Setelah memahami tugasnya, mereka pamit untuk kembali ke markas rahasianya di Pulau Shadow Eyes.


Kapten Ryu membawa alat khusus yang diberikan oleh Shiro, dengan dia borgol ke tangannya agar lebih aman dan tidak mudah terlepas dari pandangan.


Tersisa Shiro dan Yuki di dalam Aula. Yuki sedari tadi hanya diam memandang kakaknya, sikap Shiro sangat berubah sejak tadi malam. Sesuatu pasti terjadi padanya tadi malam setelah Yuki masuk ke kamar.


“Kak Shiro?” Panggil Yuki


“Ingin penjelasan dariku? Tidak disini. Ikut aku!”

__ADS_1


__ADS_2