
Setelah Dokter masuk kembali, Yuki masih berlutut ditempatnya, merenungkan kembali semua yang terjadi.
Dia merasa marah kepada dirinya sendiri. Jika kemarin sore dia menemani kakaknya saat dia pulang, bahkan jika kemarin siang dia menemaninya ke desa pinggiran, mungkin masalah ini tidak akan terjadi.
Jika kakaknya pergi, apa yang bisa dilakukan Yuki di masa depan? Apakah dia masih bisa melanjutkan hidupnya? Bisakah dia hidup tanpa kakaknya?
Waktu terus berjalan, Yuki akhirnya berdiri dan berbalik dan memandang pria misterius itu. Yuki memberi isyarat kepadanya untuk mengikutinya. Pria itu mengangguk.
Yuki berbalik memandang kelima temannya, “Kalian tetap disini, temani kak Shiro. Ada yang harus aku selesaikan.” Tanpa menunggu jawaban, Yuki segera pergi diikuti ketiga pria misterius.
Sebelum Yuki berjalan terlalu jauh, Haruki segera memanggilnya.
"Yuki!" Seru Haruki dengan suara lantang.
Yuki segera berhenti dan berbalik. Melihat itu, Haruki langsung mengatakan isi hatinya kepada Yuki.
"Yuki, tolong selamatkan Shiro. Aku tidak bisa hidup tanpanya." Haruki memohon sambil menundukkan badannya dengan ekspresi yang masih terpukul.
"Aku tahu, aku pasti akan menyembuhkan kakak. Aku akan membunuh siapa pun yang mencelakai kakakku." Jawab Yuki yang masih sangat marah.
"Ada yang mencelakai Shiro?!" Haruki terkejut segera bertanya.
Yuki hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Siapa?!" Tanya Haruki memaksa ingin tahu.
"Dr. Ichidai namanya. Aku pergi dulu. Tolong jaga kakakku." Jawab Yuki, langsung berbalik dan pergi.
'Beraninya orang bodoh itu menyakiti Shiro!' Batin Haruki murka. Kemudian dia kembali ke teman-temannya lalu pamit kembali ke rumah dan membuatkan makan siang untuk teman-temannya.
Yuki dan ketiga pria bermasker mengambil mobil masing-masing dan mengikuti Yuki ke salah satu kawasan perumahan elit yang berada di pusat ibu kota.
Mobil Yuki berbelok dan berhenti setelah memasuki salah satu halaman rumah.
Rumah itu sangat berbeda dari yang lainnya, halamannya sangat luas dan asri. Tanaman bunga dan pohon-pohon besar mengelilingi rumah, membuat kesan sejuk dan menyegarkan.
Yuki keluar dari mobilnya setelah memakai topeng, ketiga pria mengikutinya masuk.
Rumah itu tidak besar dan juga hanya berlantai 2, tetapi di dalamnya sangat mewah dan rapi.
Seorang pria menghampiri mereka.
“Tuan, selamat datang kembali.” Sambut pria paruh baya itu. Dia adalah asisten rumah tangga dan juga penjaga penjara.
Ya, rumah itu sebenarnya adalah penjara, bukan rumah untuk ditinggali.
Secara khusus, kedua kakak beradik itu membeli dan merenovasi rumah di kawasan elit itu hanya untuk dijadikan penjara bawah tanah.
“Hanson, mereka adalah tamuku. Tolong sambut mereka.” Kata Yuki setelah melihat Hanson sang penjaga penjara beberapa kali melirik ketiga orang asing yang dia bawa.
“Oh, baik Tuan, maafkan ketidaksopanan saya.” Kata Hanson sambil membungkuk sedikit.
“Kami akan ke bawah.”
“Baik Tuan.” Hanson membuka pintu rahasia menuju penjara, kunci aksesnya hanya dimiliki olehnya.
Ubin lantai bergeser membuka, menampakkan tangga menuju ke bawah.
__ADS_1
Setelah itu Yuki memimpin ketiga pria untuk masuk ke ruang penjara. Koridor tangga itu sangat gelap, hanya terdapat penerangan berupa lampu kuning yang memiliki jarak setiap beberapa meter.
Entah sudah berapa banyak anak tangga mereka lewati. Akhirnya keempat orang itu sampai di ruangan besar.
Terdapat beberapa pintu di ruangan itu. Faktanya ruangan besar itu sangat bersih dan cerah. Tidak seperti tangga aksesnya yang gelap.
Yuki berjalan menuju salah satu pintu, dia membuka pintu dengan sidik jarinya.
Ruangan penjara itu remang-remang. Seorang pria terduduk lemas di lantai, tangan dan kakinya diikat dengan rantai.
Melihat kedatangan Yuki dan beberapa orang lainnya, dia sangat terkejut.
Pria itu langsung berusaha berbicara kepada Yuki, tetapi mulutnya disumpal.
Yuki mendekatinya dan mengambil kain yang menyumpal mulut pria itu.
“Dimana istri dan anak-anakku?! Jangan sakiti mereka! Bunuh saja aku!” Teriak Martin dengan suara serak.
“Jika kamu berteriak lagi, aku akan membunuh mereka sekarang!” Balas Yuki.
Seketika Martin terdiam.
“Bagus. Kami ingin menyusup ke kantor atasanmu itu. Kami membutuhkan wajah, dan informasi mu.” Yuki menjelaskan niatnya.
“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukannya?” Tanya Yuki kepada ketiga pria di belakangnya.
“Mungkin 2 jam, bawahan ku harus mempelajari semuanya, meniru wajahnya, membuat sidik jari, meniru kornea mata, dan cara berbicaranya.”
“Baiklah, silahkan.” Kata Yuki.
“Boleh saya tahu kenapa kalian ingin menyusup ke sana?” Tanya Martin penasaran.
“Kami ingin membalas dendam untuk yang dia lakukan kepada kakakku.”
Martin menyadari hubungan antara kata-kata Dr. Ichidai waktu menelfon dan juga kata-kata pemuda di depannya.
“Ah! Saya kemarin mendengar dia mengatakan itu kepada seseorang. Seperti melaporkan sesuatu.” Seru Martin tanpa sadar mengungkapkan isi pikirannya.
“Apa maksudmu?” Yuki seketika tertarik dengan pria itu, dan ingin menukar informasinya dengan kebebasannya.
“Jika kamu memberitahu kami semua yang kamu tahu, aku akan membebaskan mu dan keluargamu.”
Mendengar janji Yuki, pria itu seketika menjadi lebih hidup dan bersemangat.
“Baik... Baik, saya akan memberitahu semua yang saya dengar dan lihat.” Jawab Martin tanpa pikir panjang.
Martin langsung memberitahunya tetang semuanya, termasuk saat Dr. Ichidai menelfon seseorang, tetapi dia tidak tahu siapa itu.
“Apakah dia mengembangkan suatu obat atau virus yang berbahaya?” Tanya Yuki penasaran.
“Ya, itu adalah proyek pribadi Dr. Ichidai, dia mengembangkan virus yang dapat membuat peradangan, khususnya pada otot jantung, mirip seperti virus-virus lain. Tetapi jauh lebih kuat puluhan kali lipat.” Jawaban itu tentu membuat Yuki tidak bisa membendung niat membunuhnya.
“Kenapa dia membuat virus itu?” Tanya Yuki.
“Saya tidak tahu. Saya pernah bertanya, tapi dia tidak menjawab pertanyaan saya tentang itu. Tetapi yang saya tahu, dia pernah melakukan uji coba kepada seseorang, dan uji coba itu berhasil. Tetapi kemudian dia memberikan sebuah penawar.”
Mendengarnya, Yuki mendapatkan harapan. Dia harus mendapatkan penawar itu.
__ADS_1
“Berapa lama waktu maksimal untuk memberikan penawar?”
“Sayangnya, itu hanya berlaku 36 jam. Jika lebih dari itu maka kita tidak akan bisa menyelamatkannya lagi.” Jawabnya sambil menghela napas panjang.
Mendengar jawaban Martin, keempat orang lainnya sempat tercengang. Jika waktu mereka sesempit itu, mereka harus bergegas.
Kedua pria bermasker mempercepat pekerjaannya, sedangkan sang pemimpin sedang merenungkan nasib tuannya.
“Berapa lama lagi waktu yang kalian butuhkan?” Tanya Yuki kepada kedua pria bermasker.
“Kira-kira 1 jam lagi sudah selesai.” Jawab salah satunya.
Yuki menunggu dengan cemas. Dia harus segera mengambil penawar itu untuk kakaknya, karena waktu mereka hanya tersisa sekitar 12 jam lagi.
Puluhan menit itu terasa seperti setahun. Akhirnya mereka selesai melakukan penyamaran itu. Salah satu anak buah pria misterius sudah berubah menjadi 'Martin', lengkap dengan tanda pengenalnya.
“Terima kasih informasinya” Kata Yuki saat ingin keluar.
“Apakah kamu akan menepati janjimu?” Tanya Martin terburu-buru, takut Yuki tidak mendengarnya.
"Ah! Ada satu pertanyaan lagi, dimana penawar itu ditempatkan? Dan siapa yang bisa mengaksesnya?" Tanya Yuki saat baru saja membuka pintu.
"Bagian terdalam kantor Dr. Ichidai, sebuah ampul obat berwarna biru tua, hanya bisa di akses menggunakan sidik jarinya."
“Baiklah, terima kasih banyak. Satu hal lagi, aku selalu menepati kata-kataku. Setelah ini, jangan pernah terlihat lagi di depanku.” Jawab Yuki, kemudian pemuda itu menutup pintu di belakangnya.
Keempatnya segera menaiki tangga spiral yang gelap. Saat sudah sampai di pintu masuk rahasia, Yuki menekan salah satu tombol, segera pintu terbuka.
Hanson sang penjaga bingung dengan kelompok yang kembali, karena salah satunya sudah tidak ada, dan digantikan oleh Martin, tahanan mereka.
“Tolong pesankan 4 tiket pesawat ke negara yang jauh dan siapkan beberapa juta uang untuk Martin dan keluarganya lalu ubah identitas mereka sebelum keluar dari negara ini. Katakan kepada Martin untuk tidak pernah kembali ke negara ini lagi, jika aku melihatnya kembali kesini, aku tidak akan segan membunuhnya.” Perintah Yuki kepada Hanson.
“Baik Tuan, perintah mu akan kulakukan.” Jawab Hanson sambil menunduk.
“Oh iya satu lagi, belikan mereka pakaian yang layak dan makan malam yang mewah sebelum mereka pergi.”
“Baik Tuan.”
“Aku pergi dulu.” Kata Yuki sambil memimpin yang lain menuju pintu keluar.
“Hati-hati di jalan Tuan.” Kata Hanson dengan ramah, Yuki membalasnya dengan anggukan.
Saat keempat pria itu sudah sampai di dekat mobil mereka masing-masing, Yuki bertanya kepada pemimpin kelompok misterius.
“Bisa kita akan berangkat sekarang?”
"Tentu saja, silahkan naik mobil kami."
Yuki mengangguk dan segera memasuki mobil ketiga pria misterius itu.
...***...
...Lanjuuut… ->...
...(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧...
...***...
__ADS_1