MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Tidak Diizinkan Masuk


__ADS_3

Sesuai dengan yang sudah diperkirakan, butuh waktu puluhan jam sampai operasi itu selesai. Yuki menunggu dengan gelisah, begitu juga Kapten Ryu dan Alpha. semuanya berharap operasinya akan berhasil.


Sepertinya Tuhan juga masih menginginkan Shiro untuk melanjutkan hidupnya, beberapa saat kemudian, lampu indikator pada pintu masuk ruang operasi menyala hijau. Semua orang yakin operasi itu sudah berjalan dengan lancar.


Salah satu dokter yang bertugas, memberikan informasi kepada mereka dan bergegas keluar untuk memberitahu keluarga dan juga pengawal Shiro bahwa operasinya berhasil.


***


Butuh waktu 2 minggu sampai kondisi Shiro stabil dan bisa berkomunikasi dan beraktivitas dengan normal lagi. Selama itu pula, Yuki selalu berada di samping kakaknya dan merawat Shiro dari pagi sampai malam dengan penuh perhatian.


Suatu pagi, saat Yuki akan masuk ke kamar Shiro, Alpha dan ketiga anak buahnya menghadang Yuki di depan pintu kamar pribadi Shiro. Karena kondisinya yang sudah membaik, dia tidak perlu dirawat di ruang khusus lagi.


"Maaf Yuki, kami tidak bisa mengizinkan anda masuk lagi." kata Alpha dengan tegas.


"Apa maksudmu?!" Yuki tidak mengerti apa yang terjadi.


"Sebelumnya saya minta maaf, nona tidak mengizinkan anda masuk ke dalam."


"Apakah kalian sedang bercanda?! Tidak mungkin kakak mengatakan hal itu!" Yuki mulai marah, dia tidak percaya dengan perkataan mereka.


"Tolong jangan mempersulit kami, nona mengatakan bahwa dia tidak ingin melihat anda lagi. Dia tidak mengizinkan anda masuk ke kamar pribadi nona." Alpha yang terlihat garang itu mulai memohon kepada Yuki.


Dia sendiri tidak mengerti kenapa Nona Shiro mengatakan hal itu, dia tahu betapa besar rasa sayang majikannya itu kepada Yuki, adiknya.


"Aku tidak peduli! Aku harus mendengarnya sendiri dari mulut kakak!" Yuki bersikeras dan langsung menerobos masuk.


Alpha dan anak buahnya tidak berusaha menghentikan Yuki. Mereka tidak berani ikut campur lagi.


Pemuda itu membuka pintu dan membantingnya hingga menutup dengan suara yang keras.


Dia melihat Shiro sedang duduk sambil membaca novel favoritnya. Badannya yang kurus membuat Yuki merasa hatinya seperti ditusuk besi panas. Rasa bersalah kembali menghampirinya seperti mimpi buruk.


"Kak? Itu semua bohong kan?! Apa yang Alpha katakan kepadaku adalah kebohongan kan?!" tanya Yuki putus asa dan kecewa.


Shiro mengangkat kepalanya dan memandang Yuki dengan wajah dingin dan datar. Tidak seperti Shiro biasanya.


"Itu benar, aku tidak ingin kamu kesini lagi. Aku tidak mengizinkanmu datang kesini lagi." jawab Shiro tanpa emosi.


Jawaban acuh tak acuh dan dingin itu membuat hati Yuki semakin tersakiti. Perlahan hatinya hancur, tetapi dia menolak apa yang dia dengar. Tidak mungkin kakaknya seperti itu. Dia pasti sedang bercanda.


"Kak, tolong, bercanda mu sangat menyakitkan. Ini terlalu berlebihan." kata Yuki dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak bercanda Yuki. Kenyataannya kamu bukan adik kandungku. Kita tidak memiliki hubungan darah. Dan aku sudah tidak ingin melihatmu lagi. Aku tidak menganggap mu sebagai adikku lagi."


"Sekarang, tolong, pergi dari sini. Aku benar-benar tidak ingin dekat denganmu lagi!" jawab Shiro dengan nada tinggi.

__ADS_1


Seketika kaki pemuda itu lemas kehilangan kekuatannya. Yuki jatuh berlutut memandang kakaknya, meminta penjelasan lebih kenapa tiba-tiba Shiro mengusirnya dari kehidupannya.


Yuki masih tidak mengerti apa yang terjadi, dia berharap ini hanyalah mimpi buruk. Tetapi rasa sakit di hatinya menyatakan bahwa itu bukan mimpi. Itu adalah kenyataan.


Dia mencengkeram dadanya, rasa sakit yang tak tertahankan, membuatnya hampir tidak bisa bernapas.


Api kemarahan timbul di hatinya, dia membenci dirinya sendiri dan juga Shiro.


Saat Yuki mendongak lagi, dia melihat gadis itu kembali membaca dan tidak menganggapnya ada di sana. Shiro mengabaikan dirinya.


Yuki segera bangkit dan berlari keluar dari kamar itu dengan mata semerah darah.


Alpha hanya memandang adegan itu dan ikut merasakan sakit di hatinya.


Sedangkan Kapten Ryu yang juga berada di sana sudah diberitahu Alpha apa yang sedang terjadi, sehingga suasana hatinya ikut memburuk.


Beberapa saat kemudian, keduanya lepas landas dari pulau Niji untuk kembali ke markas mereka di ibu kota. Tanda tanya besar masih bergejolak di hati keduanya, terutama Yuki yang sejak keluar dari kamar Shiro masih memendam amarah yang sangat besar


"Pergi ke pulau Shadow Eye. Aku ingin sendiri dulu." perintah Yuki kepada Kapten Ryu.


"Baik!" jawab Kapten Ryu tegas.


Disisi lain, setelah Yuki pergi dari pulau itu, Alpha langsung pergi ke kamar Shiro.


"Nona, maafkan saya karena sudah lancang, apa yang terjadi dengan nona?"


"Sebelumnya, tolong potong rambutku." jawab Shiro dengan senyuman menyakitkan.


"Maaf, bukankah nona tidak menyukai rambut pendek?" tanya Alpha bingung.


"Yah, aku sedang patah hati, lebih baik ku potong rambutku."


"Baik nona, saya ambilkan gunting dulu."


Alpha terbiasa memotong rambut Shiro semasa gadis itu masih kecil, sehingga dia tahu potongan apa yang Shiro inginkan.


Setelah meletakkan penutup untuk menghindari potongan rambut menempel di baju Shiro, Alpha dengan ahli mulai memotong rambut gadis itu sebahu.


"Aku takut. Karena itu aku menyuruhnya pergi." Shiro memulai ceritanya.


"Dalam waktu singkat bertemu dengannya, sudah membuatku mencintainya lebih dari diriku sendiri. Yuki adalah segalanya untukku. Dia adalah adik yang paling aku sayangi."


"Tapi suatu saat dia pasti pergi kan, dengan kekasihnya. Dan pada akhirnya aku akan ditinggal sendiri."


"Tetapi aku tidak bisa dan tidak ingin ditinggalkan olehnya, aku memang egois. Karena itulah aku menyuruhnya pergi, agar aku bisa melupakan dan merelakan dia sedikit demi sedikit mulai sekarang. Agar aku bisa terbiasa jauh dari dia."

__ADS_1


"Ditambah lagi, aku selalu merasa jadi pengganggu dan beban untuk Yuki, itu sering membuatku frustasi dan berkecil hati. Aku tidak pernah bisa melakukan apapun untuk dia, aku selalu merasa tidak berguna."


"Aku hanya berharap dia bahagia dengan pilihannya. Bodohnya aku, selalu berpikir untuk di samping Yuki selamanya. Tidak mungkin aku mampu, tidak mungkin juga dia mau. Jadi aku hanya akan ada di dekatnya saat dia sedih atau terpuruk. Saat dia bahagia tentu saja aku akan pergi lagi."


"Bagiku melihat dari jauh saja sudah cukup sih, sudah cukup membuat hatiku lega. Asalkan dia baik-baik saja, asalkan dia bisa menjadi dirinya yang biasa dengan bahagia. Aku tidak berharap dia mengerti perasaanku. Karena apa yang aku rasakan itu tidak penting kan."


"Yang penting dia bahagia, hanya itu keinginanku."


"Sejujurnya, aku tidak tahan kehilangan adikku tercinta. Tapi aku sendiri tidak pantas dipanggil kakak. Memang sudah seharusnya seperti ini."


Shiro kembali mengingat masa-masa awal mereka bertemu. Sangat menyakitkan untuknya jauh dari Yuki, tapi dia juga merasa tidak pantas berada di dekat Yuki. Air mata hangat mengalir deras seperti sungai yang sejernih embun pagi.


Di belakangnya, Alpha juga meneteskan air mata mendengar cerita Shiro. Sedikit banyak dia mengerti apa yang Shiro rasakan. Jadi pria itu tidak bisa berkomentar apapun untuk menyanggah Shiro dan hanya fokus memotong rambutnya.


Setelah cukup lama diam untuk menenangkan dirinya, Shiro bertanya kepada Alpha.


"Bagaimana menurutmu? Aku memang egois kan?"


"Nona, maafkan saya. Tetapi saya mengerti maksud nona, saya mengerti apa yang nona rasakan dari cerita nona."


"Terkadang manusia memang ingin melindungi dirinya dari rasa sakit yang menyiksanya. Terkadang memang manusia memperlakukan rasa sakit itu sebagai sahabat agar dia tidak terlalu dalam melukai hati kita."


"Jadi nona mengambil rasa sakit itu lebih awal sebagai sahabat agar nona tidak merasakan sakit yang berlebihan saat dia benar-benar datang suatu saat nanti."


Alpha menjawab pertanyaan Shiro sambil memotong sisa rambut yang masih panjang dan mulai merapikan potongannya dengan penuh perhatian.


"Apakah sudah selesai?" tanya Shiro.


"Tinggal dirapikan sedikit dan selesai." jawab Alpha.


"Momen ini mengingatkanku dengan masa lalu, saat Ayah masih ada disini bersama kita."


"Nona, Tuan sudah bahagia di surga sekarang. Saya yakin Tuan tidak ingin melihat nona bersedih."


"Yah, semoga saja Ayah bahagia sekarang... Aku merindukan Ayah."


...***...


...Lanjuuut… ->...


...(⁠。⁠ノ⁠ω⁠\⁠。⁠)...


...Shiro dan Yuki berpisah?...


...Lalu bagaimana dengan Kirifuda???...

__ADS_1


...***...


__ADS_2