
'Klik'
Suara rendah terdengar saat Alpha memegang senjatanya. Suara itu sangat lirih bahkan dia sendiri sangat samar mendengarnya.
"Tidak perlu menggunakan senjata segala. Sia-sia saja."
Yuki mencibir Alpha karena tindakannya yang sia-sia.
"Aku tahu itu sia-sia. Kenapa kamu di sini!" tanya Alpha tegas. Dia tahu tindakannya sia-sia. Dia juga tidak peduli dengan sikap pria di depannya. Selama dia berniat mencelakai atasannya, maka dia juga adalah musuhnya.
"Aku sudah bilang, aku ingin membunuh wanita itu awalnya. Tetapi aku akan menunggu dulu sekarang." jawabnya enteng.
"Apa alasanmu? Apa kesalahan yang dia lakukan padamu?!"
"Ada dua sih."
Yuki menyingkir dari pintu di depan Alpha dan mulai berjalan menuju tempat tidur dimana Shiro masih tertidur, dia membiarkan pintu terbuka sehingga Alpha bisa masuk ke dalam kamar juga.
Kemudian dia melanjutkan jawabannya.
"Satu, dia mengambilku, membesarkanku, kemudian mengusirku. Lalu yang kedua, dia ingin membubarkan organisasi yang sudah kami buat dan besarkan melalui pamannya, Liu Ao."
Alpha mendengarkan alasan konyol Yuki sambil mengerutkan keningnya. Dia tidak percaya dengan pria bodoh di depannya.
"Kamu memang adik yang bodoh. Kamu gila."
"Ya, aku sudah gila sebelumnya. Lalu aku menjadi semakin gila setelah wanita itu mengusirku. Salah?!" tanya Yuki tegas.
Dia sudah mengambil pisau kesayangannya dan menyusuri leher Shiro dengan sisi tumpul dari pisau itu.
"Dia bilang bahwa adik yang sangat dia sayangi itu orang jenius. Tetapi sekarang aku sadar, kamu tidak punya otak. Bagaimana kamu bisa menuduh kakakmu seperti itu?!"
__ADS_1
Alpha yang melihat tindakan Yuki menjadi tidak sabar dan panik sehingga dia mulai terbakar oleh amarah.
"Hahaha...." pria itu tertawa terbahak-bahak.
Yuki kembali berbicara setelah puas tertawa, "Awalnya kamu bilang aku gila, sekarang kamu mengatakan aku bodoh?! Dia sudah memaksa paman kesayangannya untuk membubarkan Organisasi Kirifuda dengan alasan bahwa organisasi itu sudah mengancam dan membahayakan posisi pemerintah di depan rakyat."
"Nona Shiro tidak mungkin melakukan itu! Kamu seharusnya sudah mencari tahu!"
Alpha semakin marah dengan Yuki, dia taku hampir semua anggota organisasi rahasia itu adalah orang-orang jenius, terutama Yuki dan si kembar.
"Sudah. Kami sudah menelurusi informasi itu berkali-kali. Tapi apa?! Jawabannya menuju ke wanita itu. Semuanya bersumber dari wanita itu!" jawab Yuki marah. Dia sangat marah sampai tubuhnya gemetar hebat.
Kemudian pria itu melemparkan berkas-berkas bukti penelusurannya dan teman-temannya kepada Alpha.
Lemparan itu menuju sasaran yang tepat, bahkan tanpa Alpha bersusah payah menangkapnya. Dia segera membaca berkas tebal itu dan benar saja, dia dapat melihat bahwa masalah itu bersumber dari Shiro, atasannya.
Alpha yang tidak percaya dengan berkas itu membacanya berulang kali. Dia tahu Shiro tidak melakukan hal busuk dan kotor seperti itu.
"Mungkin aku memang bodoh. Aku juga tidak percaya wanita ini melakukan hal kotor seperti itu." kata Yuki setelah melihat ekspresi jelek Alpha.
"Kalau kamu tidak percaya, kenapa kamu melakukan itu? Tega kamu?"
"Ya, itu hanya untuk melampiaskan amarahku, karena dia sudah mengusirku. Aku juga sudah tau kalau bukan kakak yang ingin membubarkan Kirifuda. Aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan."
Yuki tidak pernah percaya bahwa Shiro melakukan hal itu. Dia yakin dengan intuisinya setelah mencekik kakaknya tadi malam. Shiro tidak berbohong atau berbuat sesuatu yang buruk. Dia bisa melihat itu dari sorot mata kakaknya.
Dia hanya ingin Alpha dan kelompoknya tidak melakukan hal-hal yang dapat mempengaruhi ataupun mencelakai kakak kesayangannya. Dia hanya bersandiwara. Namun dia melihat keteguhan dan amarah Alpha kepadanya. Dia benar-benar membela dan mempercayai kakaknya.
Berkas yang dia berikan kepada Alpha bukan berkas palsu. Yuki dan si kembar sudah berusaha keras untuk membuktikan kalau isi berkas itu palsu. Tetapi sepertinya orang yang mengkambing hitamkan Shiro lebih pintar dari ketiganya.
Hanya saja orang itu tidak tahu, jika Yuki dan Shiro sudah bertindak bersama, semuanya akan sia-sia. Tidak ada yang pernah melawan kombinasi kedua kakak beradik itu.
__ADS_1
Keduanya tahu, mereka lemah jika sendiri, tetapi lebih kuat jika bersama. Karena itu dia bingung, kenapa kakaknya mengusirnya. Hal itu hanya membuat Kirifuda menjadi lemah.
Shiro sedari tadi sudah bangun dan mendengarkan adik dan bawahannya berdebat. Tetapi dia memutuskan untuk tidak membuka matanya.
Dia bingung, kenapa ada orang yang ingin memecah belah antara dia dan teman-temannya. Apakah hanya karena pemerintah takut karena organisasi mereka sudah mengikatkan rantai sehingga pemerintahan tidak bisa berbuat semau mereka. Ataukah ada alasan lain.
Shiro percaya, Liu Ao sangat sayang kepadanya, sehingga normal saja jika Liu Ao menyetujui permintaan Shiro untuk membubarkan Kirifuda, meskipun di dalam Kirifuda terdapat sahabat-sahabat keponakannya itu.
Shiro kemudian merasa kedua orang di kamarnya tidak lagi berbicara atau berdebat seperti tadi, sehingga dia perlahan membuka matanya.
Kedua pria itu menatap Shiro saat dia membuka mata. Tetapi Shiro merasa cukup kesulitan untuk menoleh karena lehernya terasa sakit.
"Aku tahu kamu sudah bangun dari tadi kak."
Seru Yuki yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memandang rumit Shiro.
"Aku tidak sedang bersandiwara seperti kamu, aku cuma malas membuka mata dan menyela kalian. Jadi aku menikmati perdebatan lucu kalian." kata Shiro sambio tertawa lirih, masih sulit baginya untuk berbicara karena lebam di lehernya.
"Nona, tunggu sebentar, saya panggil dokter dulu untuk melihat kondisi leher nona." Alpha melihat Shiro seperti kesakitan sehingga dia segera pergi memanggul dokter yang juga anak buahnya.
"Kakak, bawahanmu lucu." kata Yuki segera setelah Alpha meninggalkan ruangan.
Shiro mengangguk dan keduanya tertawa bersama karena tingkah Alpha. Shiro juga selalu merasa, dibalik wajah dan pembawaannya yang tegas dan seram, Alpha adalah orang yang mudah panik, kikuk, dan juga mudah khawatir. Shiro merasa nyaman dengan Alpha di sekitarnya karena dia adalah orang yang sangat perhatian baginya.
"Kak, maafkan aku." Yuki merasa bersalah setiap melihat lebam biru di leher kakaknya.
"Sudah biasa. Santai saja." jawab Shiro santai.
"Aku butuh bantuanmu Kak. Aku tidak bisa sendirian."
"Oke. Tapi aku tidak ingin ke ibu kota dulu, aku ingin tinggal di sini sebentar."
__ADS_1
"Kalau itu mau Kakak, aku juga akan tinggal disini menemani Kakak."