
Menara kontrol mengkonfirmasi kedatangan Yuki dan Kapten Ryu. Dengan arahan dari anggota pasukan di pulau itu, Kapten Ryu mendaratkan helikopternya dengan mulus.
Sebelum baling-baling capung raksasa itu selesai berputar, semua anggota pasukan yang tersisa di pulau Shadow Eye sudah berbaris menyambut kedatangan pemimpin mereka.
"Selamat datang Komandan!" seru mereka serentak.
Yuki yang pertama kali keluar, disusul Kapten Ryu. 10 orang yang berbaris langsung memberi hormat kepada Yuki. Tetapi pemuda itu tidak menanggapi mereka dan pergi begitu saja.
"Komandan sedang ada masalah, jadi biarkan saja beliau sendiri. Tapi tolong lindungi Komandan dari jauh."
"Siap Kapten!"
Kapten Ryu berusaha menjelaskan kepada anggotanya, jika suasana hati Yuki sedang buruk, tanpa banyak bertanya mereka mengerti. Karena mereka tahu temperamen Yuki seperti apa.
Pemuda itu memang tidak biasa mengacuhkan bawahannya, dia dan Shiro selalu dikenal peduli dengan anak buahnya. Hanya saja kali ini pikiran Yuki sedang terganggu.
'Kamu bukan adikku...' hanya kalimat ini yang memenuhi pemikiran Yuki.
Segera dia berlari menuju pantai dan berenang ke pulau seberang yang tidak berpenghuni. Dia hanya ingin melampiaskan amarahnya di sana.
***
Sudah lebih dari 2 minggu Yuki pergi dari markas untuk menemui Shiro. Haruki dan Are mengikuti Yuki sampai ke pulau Niji dengan cara mereka sendiri, saat mereka tau Yuki pulang, keduanya merasa ada yang salah.
Sehingga mereka tidak mengikuti Yuki dan tetap di pulau itu. Penjagaan di sana sangat ketat, tetapi dengan keahlian keduanya yang mumpuni, mereka akhirnya dapat melewati penjagaan di pulau itu.
Dengan bantuan Ai dari markas, mereka akhirnya bisa membobol jaringan keamanan di pulau itu meskipun cukup sulit melakukannya. Mereka tetap harus menunggu dan berusaha selama lebih dari 2 minggu.
Are dan Haruki berencana masuk dan menemui Shiro, karena mereka tahu kalau Shiro masih di dalam.
Keduanya berencana memasuki gua itu pada malam hari. Liontin penyimpan yang mereka bawa, bisa dengan mudah menyimpan bahan makanan dan lainnya untuk menunjang kehidupan mereka di hutan.
Musim dingin yang bersalju tidak dapat menghambat keduanya. Mereka sudah terbiasa dan terlatih untuk menghadapi cuaca ekstrim.
***
Malam hari tiba, keduanya bersiap menerobos masuk untuk bertemu Shiro.
"Kita lakukan sesuai rencana, kita pasti bertemu dengan Shiro." Haruki memulai.
"Rencana yang kita buat dan bantuan dari Ai pasti akan berhasil." sahut Are.
"Kita mulai!"
Haruki dan Are merapikan baju kamuflase yang sudah mereka pakai dan bergegas maju menuju gua yang berada di bawah bukit.
"Ai, apa kamu bisa mendengarkan suaraku?" tanya Are melalui alat komunikasi yang mereka pasang di telinga.
"Aku bisa mendengar suaramu." jawab Ai.
__ADS_1
"Kami sudah berada di depan gua. segera jalankan rencananya."
"Baik!"
Are dan Haruki melanjutkan perjalanan mereka memasuki gua setelah mendapatkan tanda dari Ai. Gadis itu harus mengganti rekaman kamera terlebih dahulu dan mematikan sensor di sekitar gua.
"Kami sudah mencapai ujung gua. Bisa kita mulai sekarang?" tanya Are.
"Aku sudah selesai mengganti pengaturan pada sistem. Kalian bisa masuk sekarang."
Sejenak setelah Ai menyelesaikan kalimatnya, pintu gua perlahan terbuka dan lorong putih muncul di depan mereka.
"Tunggu, ini membuatku penasaran dari dulu, kenapa kita tidak bilang saja ke mereka kalau kita ingin bertemu Shiro?" tanya Haruki kepada Are dan Ai
"Ah, menurutku jika kita melakukannya, pasti tidak ada tantangan yang kita lalui. Sudah lama kita tidak menjalani misi itu lagi, aku merindukannya." jawab Are dengan melamun.
"Astaga Are... jika ingin melakukan misi itu, kenapa tidak bilang saja?" Ai yang ikut tersadar, sehingga sedikit jengkel dengan Are.
"Hahahaha maafkan aku...!" sahut Are.
Haruki hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti lagi dengan pemikiran Are. Pemuda itu memang konyol.
Mereka melanjutkan perjalanan untuk bertemu Shiro.
Salah satu anak buah Alpha melihat keanehan pada sistem keamanan markas mereka. Kemudian dia memberitahu Alpha.
"Cari tahu siapa yang melakukan itu. Segera hubungi aku jika pelakunya sudah ditemukan." perintah Alpha tegas.
"Baik Tuan!"
Alpha sendiri merasa bahwa pelakunya adalah teman-teman majikannya. Dia ingin memastikan itu dan segera menuju lift untuk menunggu jika ada yang menerobos masuk ke markas mereka.
Benar saja, dia melihat angka di atas pintu lift naik menuju ke lantai F1. Alpha segera turun melalui tangga darurat menuju lantai B7 untuk menunggu penyusup itu. Dia tahu kemana tujuan mereka.
Alpha bergegas masuk ke kamar Shiro sampai lupa mengetuk pintu. Bukannya mendapat omelan dari Shiro, Alpha terkejut dengan yang dilihatnya.
Shiro menangis dalam tidurnya sambil memanggil nama Yuki berkali-kali. Tangisan gadis itu membuat Alpha ikut sedih mendengarnya.
Dia segera membangunkan Shiro.
"Nona? Nona Shiro?" panggil Alpha.
Butuh beberapa saat sampai Shiro bangun dengan terkejut.
"Yuki!!!" teriak Shiro.
"Nona, ini saya Alpha." pria itu menenangkan Shiro yang linglung.
"Ah, Alpha. Maafkan aku."
__ADS_1
"Tidak nona, tidak apa-apa. Nona, maafkan saya. Bukankah lebih baik nona berbaikan dengan Yuki saja? Agar nona tidak terluka seperti ini."
"Dia tidak akan memaafkan aku, setelah semua yang aku katakan padanya." jawab Shiro murung.
"Saya pikir, Yuki tidak akan seperti itu. Dia pasti senang jika nona dekat kembali dengannya dan berada di sampingnya. Kondisi nona juga sudah jauh lebih baik."
"Apakah kamu tidak senang aku disini? Apakah aku membebani kamu?" Shiro berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak nona, maksud saya bukan seperti itu. Saya senang nona tinggal disini bersama kami." Alpha bingung harus menanggapi apa lagi, sehingga dia salah tingkah.
"Hahaha..." melihat tingkah Alpha, Shiro hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Seorang pria yang tegas dan garang bisa bertingkah kikuk saat salah tingkah adalah hal yang kontras.
"Nona menggoda saya." wajah Alpha merona merah karena malu.
"Hahaha... maafkan aku, tak ku sangka seorang Alpha bisa bertingkah seperti itu. Lucu sekali... hahaha..." kata Shiro sambil tertawa terbahak-bahak.
Alpha hanya memandang Shiro dengan lega. Dia bersyukur majikannya kembali tertawa. Meskipun dia tahu tawa itu hanya untuk menutupi lukanya. Tanpa sadar, Alpha ikut tertawa bersama Shiro.
Setelah puas tertawa, Shiro tersadar dan bertanya kepada Alpha kenapa dia di kamar Shiro.
"Oh iya, kenapa kamu kesini? Apakah sudah waktunya untuk merawat luka ku atau ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"
"Tidak nona, tadi bawahan saya merasa ada seseorang yang meretas sistem keamanan kami. Saya merasa sebentar lagi teman-teman nona akan segera tiba untuk mengunjungi nona."
Alpha adalah seorang bawahan terpilih, dia sangat cerdas dan kuat. Pria itu dengan mudah menyimpulkan suatu kejadian dan prediksinya selalu benar. Karena itulah dia menjadi pemimpin unggul yang dipilih oleh Ayah Shiro.
"Siapa?" tanya Shiro bingung.
"Saya tidak tahu siapa yang menyusup kesini. menurut tebakan saya, itu adalah Are dan Haruki. Apakah kami harus menghadang mereka atau membiarkan mereka datang kesini?"
Setelah berpikir beberapa saat, Shiro memutuskan bahwa dia merasa ingin bertemu dengan keduanya. Dia juga merindukan teman-temannya.
"Biarkan mereka masuk. Aku yakin mereka sudah mengetahui kamarku dari Ai dan Aki. Kita tunggu saja mereka."
"Baik nona. Tetapi, izinkan saya menemani nona untuk bertemu dengan mereka. Menurut perhitungan saya, mereka sudah sampai di lantai ini dan sedang menuju ke kamar ini."
"Lakukan sesukamu, aku tidak masalah." jawab Shiro santai. Gadis itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keduanya.
"Terima kasih nona."
...***...
...Lanjuuut… ->...
...(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧...
...Shiro tertawa lagi.......
...***...
__ADS_1