
“Menurut dugaan sementara, ini bukan karena flu. Tetapi lebih karena terjadi pengentalan atau bahkan pembekuan darah.” Shiro mengemukakan yang dia temukan kepada Yuki.
Kepala Saudi dan Kepala Doni hanya saling memandang dan tidak mengerti kenapa flu menjadi pengentalan darah.
“Bagaimana bisa Kak?” Tanya Yuki mewakili pertanyaan kedua Kepala Desa itu.
“Kemungkinan besar, yang dianggap flu itu sebenarnya adalah emboli paru akibat dari pengentalan darah, emboli paru juga membuat seseorang menjadi sulit bernapas dan batuk kering."
"Tapi aku masih harus menyelidiki ini lebih lanjut di laboratorium terlebih dahulu, aku juga membutuhkan sampel darah mereka.” Shiro masih perlu memastikan kembali teorinya.
“Kakak membawa peralatannya?”
“Kebetulan ada di koperku, sebentar aku ambil dulu.”
Shiro kembali sibuk dengan peralatannya kemudian melakukan pengambilan sampel darah pada beberapa pasien.
Yuki melihat sekeliling, dan hatinya kembali sakit melihat orang-orang malang itu. Baru selesai satu masalah, kini sudah datang lagi masalah lain.
“Kak, sambil menunggu hasilnya keluar, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka?” Tanya Yuki sedih melihat semakin banyak korban yang berdatangan ke aula, dan semakin banyak juga korban jiwa yang berjatuhan.
“Jika dugaan ku benar, untuk sementara kami membutuhkan antikoagulan untuk masalah ini, juga beberapa obat untuk antiinflamasi.” Jawab Shiro sambil mengambil sampel darah.
Emboli paru adalah suatu kondisi dimana tekanan darah di paru-paru dan di sisi kanan jantung terlalu tinggi.
Arteri di dalam paru-paru tersumbat karena adanya benda asing yang memasuki aliran darah yang menyebabkan terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah atau bisa juga karena terjadinya pengentalan darah.
Hal ini membuat jantung harus berkerja dengan lebih keras untuk mendorong aliran darah melalui pembuluh tersebut.
Jika terlambat ditangani, penderita emboli paru dapat mengalami komplikasi berupa penumpukan cairan di membran paru-paru (efusi pleura), tekanan darah tinggi di pembuluh arteri paru-paru (hipertensi pulmonal), nekrosis bahkan kematian.
Dalam kasus ini, warga kemungkinan besar mengalami pengentalan darah sehingga harus segera diencerkan dengan obat yang memiliki kandungan antikoagulan.
Karena darah kental juga dapat menyebabkan penggumpalan darah di organ jantung dan paru-paru yang dapat menyebabkan kematian.
Yuki yang mendengar penjelasan kakaknya kembali mengambil telfonnya dan menghubungi Kurina dan Kapten Ryu untuk membeli banyak stok obat antikoagulan dan obat antiinflamasi untuk warga.
“Maaf sebelumnya, jika penyakit ini bukan penyakit yang langka, lalu kenapa para petugas itu langsung pergi setelah melihat warga?” Tanya Kepala Saudi penasaran.
__ADS_1
“Karena kemungkinan besar ada suatu pemicu yang menyebabkan nekrosis terjadi dengan sangat cepat."
"Seharusnya jika hanya emboli paru atau pengentalan darah itu bisa ditangani dengan mudah, tapi jika terjadi nekrosis dalam waktu secepat ini.”
“Pasti ada pemicu yang menyebabkan pengentalan darah terjadi dengan sangat cepat hingga membuat darah membeku dan tidak dapat dialirkan lagi."
"Saya sendiri mencurigai ada sesuatu yang masuk ke tubuh mereka sebelum terjadi emboli. Entah itu dari apa yang dimakan atau sesuatu yang lain.”
“Ada zat-zat yang tidak saya ketahui yang menyebabkan mereka menjadi seperti ini, sebenarnya juga mirip seperti seseorang yang terkena bisa ular."
"Karena itulah saya harus menyelidiki lebih dalam lagi dan waktu kita sangat terbatas.” Shiro menjelaskan dengan panjang lebar agar lebih jelas, sebenarnya dia sendiri juga tidak terlalu yakin mana yang benar, karena tidak bisa hanya dengan melihat keadaan fisik saja.
“Jika dugaan Kak Shiro benar, kira-kira sebelum kejadian ini, apakah ada sesuatu yang terjadi sebelum tiba-tiba pernyakit ini terjadi pada warga?” Tanya Yuki, dia juga mulai mencurigai keanehan pada kasus ini.
Sebelum Kepala Desa bisa menjawab, Kapten Ryu dan 30 pasukannya, juga Kurina dan anggota inti yang lain telah tiba di aula dan berjalan menuju komandannya.
“Syukurlah kalian sudah datang, cepat tangani semua orang! Paling tidak, kita bisa memperlambat nekrosis mereka!” Yuki lega melihat bawahannya tiba tepat waktu, padahal diluar sedang terjadi badai salju.
“Siap Komandan!” Jawab mereka serentak, kemudian menyebar sambil membawa obat dan peralatan medis yang mereka persiapkan sebelumnya.
Warga yang melihat dikejauhan dan juga kedua Kepala Desa ikut lega dengan keadaan ini. Pasukan Kirifuda dan juga Anggota Inti Kirifuda semuanya telah dilatih Shiro untuk bisa menangani keadaan darurat seperti ini, sehingga mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.
“Kurina, kenapa kamu membawakanku mantel juga?” Tanya Yuki, dia merasa tidak dingin dan tidak membutuhkan mantel.
“Tidak apa-apa, aku tahu kalian pasti lupa kondisi kalian sendiri jika sedang dalam keadaan darurat."
"Kita tidak tahu berapa lama disini, jadi aku membawa mantel untukmu juga, sebagai tanda terima kasihku kepada kalian karena berusaha menolong warga pinggiran.” Jawab Kurina sambil tersenyum hangat.
“Terima kasih Kurina. Mulai dari sekarang aku minta tolong kepadamu untuk mengambil alih dulu, aku harus kembali ke laboratorium untuk memeriksa sampel darah mereka sebentar lagi.” Shiro senang dengan perhatian yang diberikan Kurina dan Yuki untuknya.
“Terima kasih.” Jawab Yuki sambil tersenyum dan mengenakan mantel hitamnya.
“Sama-sama. Aku permisi dulu.”
Setelah kurina pergi, Shiro mengenakan mantelnya dia bahkan lupa kalau badannya telah membeku karena kedinginan.
Kemudian dia memandang Kepala Saudi dan Kepala Doni untuk meminta kelanjutan penjelasan dari mereka.
__ADS_1
Kepala Saudi menyadari tatapan Shiro langsung menjelaskan yang dia ketahui, “Sejujurnya saya juga tidak mengerti untuk masalah ini, kenapa bisa terjadi hal ini. Tapi setelah saya pikirkan lagi sebagian besar warga yang mengidap sakit misterius ini berasal dari lingkungan yang hampir sama.”
“Ah! Benar sekali! Setelah dipikir-pikir lagi, mereka semua berasal dari lingkungan yang berdekatan. Seperti yang kalian berdua ketahui, warga kami menggunakan 1 sumur untuk puluhan rumah. Dan mereka berasal dari orang-orang yang memiliki sumur bersama itu.” Sahut Kepala Doni menyadari sesuatu.
Karena kemiskinan yang sangat parah, warga pinggiran sangat susah mendapatkan air bersih. Sehingga mereka harus memakai sumur yang sama untuk beberapa puluh rumah tangga karena sulitnya mata air bersih di lingkungan pesisir itu.
“Kami harus memeriksa air sumur itu juga.” Yuki mendapatkan titik terang dari masalah ini.
“Kami akan meminta orang untuk mengambil beberapa sampel air sumur mereka.” Kepala Saudi menanggapi Yuki.
“Baik, terima kasih. Kirim banyak orang sekaligus, ambil sampel air untuk kami dari beberapa sumur baik milik lingkungan korban maupun yang tidak.” Kata Yuki sambil meminta puluhan tabung sampel milik kakaknya kemudian menyerahkannya kepada Kepala Desa.
Kedua Kepala Desa segera keluar dari aula untuk meminta warga masing-masing distrik mengambil sampel air di sumur mereka.
Sambil menunggu sampel air, Yuki dan Shiro ikut membantu anggotanya untuk memberikan perawatan medis kepada warga pinggiran.
Seketika aula berubah menjadi rumah sakit darurat. Keluhan, teriakan, erangan kesakitan, dan juga tangisan masih terdengar disana sini.
Beberapa menit berlalu, Kepala Desa kembali sambil membawa tabung sampel dan mengembalikannya kepada Shiro dan Yuki.
“Kami akan kembali dulu untuk memeriksa air ini. Tolong beritahu semua warga untuk tidak mengkonsumsi air-air itu terlebih dahulu, karena ditakutkan masalah ini berawal dari air sumur.” Pinta Yuki kepada kedua Kepala Desa sebelum kembali ke markasnya.
“Baik, kami akan memberitahu warga. Terima kasih banyak.” Kelelahan dan juga perasaan lega sama-sama terpancar dari kedua kepala desa. Membuat keduanya tampak jauh lebih tua beberapa tahun dalam sekejap.
Setelah memastikan semua warga mendapatkan perawatan, kakak beradik itu kembali menuju laboratorium markas, karena hanya disanalah fasilitas penelitian yang paling lengkap.
***
Tidak terasa matahari telah terbit, Yuki yang sedari tadi membantu Shiro mulai mendapatkan jawabannya. Di dalam sampel darah dan sebagian besar sampel air menunjukkan beberapa zat yang mirip seperti pada bisa ular.
Tetapi zat-zat ini bukan sesuatu yang alami dan telah dibuat oleh manusia karena efeknya yang sangat kuat berkali-kali lipat dan sangat mematikan tidak seperti yang aslinya.
Diantaranya seperti sitotoksin dan miotoksin yang dapat menyebabkan nekrosis bahkan pembekuan darah.
Terdapat pula zat yang mirip seperti enzim metaloprotease yang dapat menyebabkan edema pulmonal sehingga bisa terjadi gagal napas. Juga belasan zat lainnya yang memiliki efek sangat mematikan.
Keduanya tercengang dengan apa yang telah mereka lihat dari hasil penelitian itu.
__ADS_1
Shiro dan Yuki sama-sama menyimpulkan bahwa seseorang sudah membuat konspirasi untuk mencelakai warga desa pinggiran.