MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Warisan Terakhir


__ADS_3

Biasanya setelah makan, mereka akan melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Namun kali ini mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah sambil menonton TV dan melanjutkan obrolan di ruang makan tadi.


Shiro membantu Aki melakukan input data anggota inti ke dalam sistem pelindung dari laptop yang mereka bawa di ruang tengah, karena keduanya juga ingin berkumpul bersama.


“Semoga besok berjalan lancar tanpa hambatan.” Shiro menyuarakan harapannya.


“Iya, Tuhan pasti mengabulkan doa yang baik.” Sahut Ai. Keduanya tersenyum hangat.


Yuki melihat momen itu, kembali bersyukur dalam hatinya. Dia mulai merindukan keluarganya, perasaan pahit kembali muncul dalam hatinya, bayangan masa lalu menghantui pikirannya. Dia teringat kejadian tahun 2010, saat-saat terakhir antara dia dan kakeknya.


***


“Yuki, ini pertama kalinya kamu ke North City kan?” Tanya seorang kakek tua yang masih terlihat gagah itu sambil menggandeng tangan seorang anak kecil berusia 5 tahun.


“Iya Kek, bagus sekali dan lebih dingin.” Jawab anak itu.


Kedua pria itu berdiri di depan gapura menuju salah satu gunung tertinggi di North City. North City sendiri adalah sebuah kota yang berada di lembah dan dikelilingi oleh beberapa gunung dan perbukitan. Berjarak 325 km disebelah utara Ibu Kota Cloud, kota ini memiliki udara sangat sejuk dan pemandangan yang sangat cantik.


Kakek Emu memandang mata cucunya yang bersinar bahagia ikut tersenyum karenanya. Kakek Emu adalah Kakek Yuki dan juga satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini. Ayahnya sudah meninggal 4,5 tahun sebelumnya karena kecelakaan yang terjadi di laboratoriumnya. Sehingga semenjak itu Yuki dijaga oleh Kakek Emu.


Yuki memiliki kemampuan khusus bela diri juga diturunkan dari kakeknya. Kakek Yuki adalah seorang pensiunan salah satu petinggi militer di negaranya, keahliannya dalam bela diri sangat mumpuni, itu juga berkat ‘Warisan Seni Bela Diri’ dari keluarganya yang diturunkan ke kakek Emu.


Dia ingin menurunkan seni bela diri itu kepada anaknya, tetapi anaknya lebih tertarik dengan penelitian, eksperimen, sains dan teknologi daripada seni bela diri. Sehingga Kakek Emu berpikir untuk menurunkan ‘Warisan Seni Bela Diri’ kepada Yuki cucu semata wayangnya.


Suatu hari, kecelakaan menimpa Ayah Yuki, Dr. Sarj di laboratoriumnya, membuat nyawa Dr. Sarj dan beberapa anak buahnya melayang. Kakek Emu sangat sedih, karena Yuki masih kecil. Dia tidak menyangka anaknya akan pergi mendahuluinya, semenjak itu dia mengajukan pensiun dini untuk menjaga cucu satu-satunya.


Meskipun kecelakaan itu terlihat sangat alami, Kakek Emu selalu mencurigai bahwa ada sesuatu dibalik kematian anaknya, karena Kakek Emu mempercayai kemampuan dan kejeniusan anaknya.


Kakek Emu memiliki beberapa bawahan yang paling setia dan terpercaya dalam dunia militer, dia mengerahkan bawahannya untuk menyelidiki kematian anaknya secara rahasia.


3 tahun kemudian, Kakek Emu mendapatkan titik terang dari kematian anaknya, saat itu Yuki sudah berumur 3,5 tahun dan selalu melekat pada kakeknya. Salah satu anak buah Kakek Emu menemukan buku catatan Dr. Sarj di suatu tempat di bawah tanah laboratoriumnya, dalam catatan itu Kakek Emu menyimpulkan bahwa seseorang telah mengatur siasat dan berusaha mencelakai anak dan cucunya.

__ADS_1


Kakek Emu merasakan bahaya akan datang, dia mulai melatih Yuki kecil seni bela diri dan berencana menurunkan warisan itu kepada Yuki secepatnya agar lebih aman. Yuki kecil selalu menuruti dan mengagumi kakeknya, dia belajar dengan sangat cepat.


Tahun 2010 bulan Juli, tepat saat ulang tahun cucunya yang ke-5 tahun, sang kakek mengajak Yuki ke sebuah tempat di North City. Saat itu dia mengajak Yuki mendaki salah satu gunung di North City, Yuki tentu saja sangat senang bisa bermain dengan kakeknya di gunung. Biasanya Kakek Emu hanya mengajak Yuki ke pantai untuk berlibur setelah berlatih bela diri.


Gunung itu sangat tinggi, tapi Yuki kecil yang berumur 5 tahun dengan mudah mendaki bersama kakeknya selama 8 jam lebih. Mereka sampai puncak sebelum malam tiba, Kakek Emu meminta Yuki duduk bersila di tengah puncak gunung, saat itu matahari sudah hampir terbenam dan hanya ada mereka berdua di sana. Yuki memiliki daya tahan yang kuat, sehingga hawa dingin gunung tidak terlalu mempengaruhi tubuh kecilnya.


Setelah keduanya duduk bersila dan saling berhadapan, Kakek Emu meminta Yuki memejamkan matanya. Kemudian Kakek emu menyentuh kepala yuki dengan tangan kanannya dan mulai mentransfer ‘Warisan Seni Bela Diri’ milik keluarganya kepada Yuki. Yuki kecil sudah mengetahui tentang hal ini, dia hanya menerima warisan itu dengan senang hati.


Hari telah berganti, Yuki kecil dan kakeknya turun lalu menuju pusat kota untuk kembali ke hotel yang telah mereka sewa sebelumnya.


Tiba-tiba sekelompok preman terdiri dari 7 orang yang berniat jahat mendekati mereka. Orang-orang itu memiliki badan yang sangat besar dan wajah menakutkan, mereka mendekati Yuki dan kakeknya dan berniat untuk menculik Yuki kecil.


Kakek Emu refleks melindungi cucunya, meskipun umurnya sudah 56 tahun, dia masih sangat kuat, dan mereka mulai bertarung dengan sengit.


Kakek Emu berhasil mengalahkan ketujuh orang itu, namun Yuki sempat terkena sabetan pisau di mata kirinya dari salah satu penculik itu menyebabkan darah mengalir dengan deras. Kakek Emu yang panik dan langsung menggendong Yuki kecil dan membawanya ke rumah sakit.


Saat rumah sakit hanya tinggal berjarak seratus meter di depannya, tiba-tiba gempa berkekuatan 8,9 skala richter mengguncang North City. Kakek Emu terjatuh saat berlari, Yuki terlempar beberapa meter di depannya.


Yuki yang melihat kakeknya tertimpa batang pohon besar itu langsung melebarkan matanya, dia sangat terkejut. “Kakek!!!” Teriak Yuki.


Kakek Emu tahu bahwa ajalnya sudah dekat, sekujur tubuhnya dingin dan mati rasa, dia merasa darah membanjiri badannya.


Pohon yang menimpanya sangat besar, pohon itu juga menimpa kendaraan yang sedang lewat di jalan. Selain itu banyak gedung hancur karena gempa disekitar mereka dan korban jiwa berjatuhan.


Kakek Emu ingin menenangkan cucunya, namun kata-katanya tidak bisa meninggalkan bibirnya, dia hanya bisa tersenyum kepada cucu kecilnya, berharap anak itu selalu diberi keselamatan dan bisa tumbuh dewasa dengan bahagia.


Beberapa saat kemudian Yuki pingsan, dan senyuman kakeknya selalu membayanginya dalam setiap mimpi, dia kecewa karena dia tidak bisa menyelamatkan kakeknya. Tapi dia juga menyadari bahwa dia masih kecil dan tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan kakeknya.


***


Di dalam IGD rumah sakit, seorang perawat muda panik karena tidak menemukan golongan darah yang cocok, “Dokter, kami tidak menemukan golongan darah yang cocok untuk anak ini.”

__ADS_1


“Tolong kamu periksa sekali lagi, dia membutuhkan transfusi darah secepatnya!” Perintah dokter itu. Kemudian dia pergi ke bagian lain ruangan gawat darurat itu untuk memeriksa para korban gempa yang lain.


Yuki yang sebelumnya mendengar percakapan mereka, matanya perlahan terbuka. Tubuhnya mati rasa, mata kirinya tidak bisa melihat dan tertutup perban. Yuki kecil yang lemah hanya bisa memandang sekeliling dengan linglung.


“Nak! Kamu sudah bangun? Siapa namamu?” Tanya salah satu perawat di dekatnya.


“Na… Nama saya Yuki.” Jawab Yuki lemah.


Perawat itu kemudian menuliskan namanya di sebuah kertas, langsung memeriksanya kembali, kelelahan dan kesedihan terlihat jelas dari wajahnya.


Yuki mendengar tangisan dan teriakan kesakitan dimana, rumah sakit itu penuh dengan korban gempa. Dokter dan perawat berlarian ke sana kemari untuk memeriksa setiap pasien.


Yuki tiba-tiba kembali teringat bahwa terjadi gempa besar dan kakeknya tertimpa pohon.


“Kak, dimana kakekku?” Tanya Yuki.


“Namanya siapa?” Tanya perawat itu.


“Kakek Emu.” Jawab Yuki


“Saya tanyakan dulu ya nak, nanti kalau sudah ketemu saya kasih tahu kamu.” Jawab perawat itu menenangkan Yuki kecil.


Sebenarnya perawat itu adalah orang yang membawa masuk Yuki dari trotoar, dan kakek yang dia tanyakan pasti adalah seorang korban meninggal karena tertimpa pohon di dekat anak itu, perawat itu tidak ingin dia sedih, jadi dia hanya bisa berbohong.


“Kami benar-benar tidak menemukan golongan darah yang cocok untuk anak ini.” Seru perawat yang tadi berbicara dengan dokter di dekatnya. “Kami harus segera melakukan operasi untuknya, dan kami tidak menemukan golongan darah yang cocok.” Kata perawat itu dengan panik kepada rekannya.


“Kak? Mungkin golongan darah saya cocok. Boleh saya donorkan kepada anak kecil itu?” Suara seorang anak perempuan terdengar di sebelahnya. Yuki dan kedua perawat sontak menoleh ke sumber suara itu.


***


“Yuki!?” Suara kakaknya Shiro.

__ADS_1


__ADS_2