MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Mengancam Presiden


__ADS_3

Yuki dan Aki refleks menjauh setelah melihat Haruki di kejauhan. Aki membereskan kotak P3K di atas meja, pipinya merona merah tersipu malu.


“Ada apa Haruki?” Tanya Yuki yang penasaran dengan ekspresi Haruki saat dia ke dapur untuk mengambil minum.


“Aku tadi dari Desa Distrik Barat, untuk menemui Kepala Desa seperti biasanya. Saat aku dalam perjalanan pulang, aku mendengar percakapan seseorang yang sedang menelfon di daerah perbatasan."


"Aku mendengar bahwa pemerintah kemungkinan sedang merencanakan penggusuran beberapa desa pinggiran."


"Karena itu aku bergegas untuk pulang dan memberitahu kalian.” Jawab Haruki setelah minum beberapa teguk air.


“Aki, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?” Informasi dari Haruki, Yuki memandang Aki dan bertanya kepadanya.


“Iya Yuki. Aku akan menggali informasi tentang rencana penggusuran itu. Serahkan saja padaku.” Di dalam Organisasi Kirifuda, Aki adalah yang bertugas untuk mencari informasi.


“Oh ngomong-ngomong, kenapa di lantai dan di lift banyak tetesan darah? Apakah ada yang terluka karena misi hari ini?” Tanya Haruki sambil memperhatikan lantai di sekitar dapur.


“Itu milik Yuki, tangannya tergores pecahan kaca.” Jawab Aki.


Menyadari sekitar lantai banyak terdapat bercak darah, Yuki teringat kamarnya yang masih berantakan, dia harus membersihkan semuanya.


“Aki boleh aku minta tolong? Kak Shiro sedang demam, dan aku harus membersihkan semua kekacauan yang telah aku buat sebelum Kak Shiro bangun. Jadi bisakah aku meminta bantuanmu untuk menjaga Kak Shiro?”


“Tentu saja Yuki, kalau begitu aku turun dulu mengembalikan kotak ini, kemudian membawa air hangat untuk kompres Shiro.” Setelah itu Aki pergi menuju lift untuk kembali ke lantai bawah kedua.


“Aku kembali ke kamarku dulu.” Haruki juga menuju lift, menunggu sebentar kemudian masuk dan menuju lantai 2 untuk ke kamarnya.


Yuki kembali ke kamarnya, menyingkirkan perabotan yang rusak dan berserakan, lalu membersihkan semua becak darah yang hampir mengering di seluruh rumah.


Yuki memasuki kamar Shiro, kamar itu terlihat sangat bersih.


“Yuki, ada masalah?” Tanya Aki yang sedang duduk di tempat tidur Shiro.


“Tidak, hanya ingin membersihkan kamar Kak Shiro, bagaimana keadaannya? Sebelumnya terima kasih banyak karena sudah membantuku menjaga Kakak.” Yuki melihat sekeliling, tapi tidak menemukan apapun.


“Bukan masalah sama sekali. Aku sudah membersihkan kamar Shiro, dan mengganti sprei juga baju Shiro. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Istirahat saja di kamarmu.” Jawab Aki.


“Terima kasih Aki. Tapi aku sedang tidak ingin beristirahat. Sudah jam 6 pagi, kamu kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat. Kak Shiro aku saja yang menjaga. Sekali lagi terima kasih banyak.” Yuki tidak bisa beristirahat dan ingin menjaga Shiro.


Aki tahu dia tidak bisa memaksa Yuki, jadi dia mengangguk lalu membawa baskom air membawanya ke dapur untuk mengganti dengan yang baru. “Aku ke dapur dulu, mengganti air hangatnya, kemudian baru aku akan beristirahat.”


“Terima kasih.” Kehangatan mengalir dalam hatinya.


Setelah Aki keluar, Yuki duduk di salah satu sisi tempat tidur. Desa pinggiran adalah tempat yang disayangi Shiro. Bagaimana tanggapan Shiro jika tahu Desa itu digusur. ‘Kami harus menyelamatkan Desa itu.’ Pikir Yuki dalam hatinya.


Waktu berlalu dan telah menunjukkan pukul 7 malam. Yuki masih di kamar Shiro, demamnya sudah turun, Shiro yang terlihat sangat pucat perlahan matanya terbuka. Hal pertama yang dilihat Shiro adalah seseorang yang duduk di sampingnya, yaitu Yuki. 


Shiro bangkit lalu memeluk Yuki dengan erat, “Yuki, kita harus menyelidiki Organisasi Harmonics. Mereka sudah membunuh Ayahku. Mereka membunuh banyak manusia Yuki. Mereka orang jahat!” Kata Shiro, air mata mulai menggenang pelupuk matanya.


Yuki juga memeluk Shiro, “Iya Kak. Kakak tenang saja, kita pasti akan membalaskan dendam kita.” Sambil menepuk ringan punggung Shiro.


Kemudian Yuki melanjutkan, “Tapi sebelum itu, kita harus membantu warga desa pinggiran. Beberapa desa pinggiran akan digusur oleh pemerintah. Kita harus menyelamatkan mereka.”


Shiro melepas pelukannya, duduk di atas tempat tidur dengan cemas memandang Yuki, “Bagaimana perkembangan kasusnya?”


“Aki sedang mengumpulkan informasi, yang lain belum diberitahu, karena kita harus mengetahui kepastiannya dulu. Jika yang lain tahu, pasti akan rumit. Terutama Kurina, dia berasal dari salah satu desa itu juga.”


Keduanya melanjutkan percakapan sambil turun ke ruang makan, di sana sudah ada Haruki, Ai dan Are yang menunggu kedatangan Yuki untuk makan malam bersama. Sedangkan Aki sepertinya masih mengunci dirinya di markas untuk melakukan penyelidikan.

__ADS_1


“Dimana Kurina?” Tanya Shiro setelah masuk ke ruang makan.


“Dia sedang memanggil Aki, sebentar lagi sepertinya sampai.” Jawab Are.


“Shiro, bagaimana keadaanmu? Aku sudah membuatkan bubur untukmu, aku panaskan dulu ya.” Ai selalu perhatian kepada semua orang.


“Sudah lebih baik, terima kasih Ai.” Jawab Shiro sambil tersenyum hangat.


Yuki sejak tadi hanya diam dan melihat juga ikut tersenyum. Dia senang mengetahui bahwa anggota yang lain juga menyayangi Shiro sebagai saudara mereka sendiri.


Sebagian besar anggota Kirifuda diselamatkan oleh Yuki dan Shiro, jadi semua anggota menganggap Yuki dan Shiro adalah dermawan mereka, yang membantu mereka mendapatkan hidup lebih baik, mereka akan selalu menghormati kedua penyelamat mereka.


Tepat setelah Ai meletakkan bubur di meja depan Shiro, Aki dan Kurina masuk ke ruang makan.


Aki menyerahkan setumpuk berkas kepada Yuki. “Yuki, ini informasi yang berhasil aku kumpulkan.”


“Terima kasih Aki. Kita makan dulu, nanti baru aku baca.”


Suasana sangat hangat, mereka berbincang dan bercanda bersama. Sarapan dan makan malam bersama adalah waktu yang wajib untuk mereka.


Aturan tidak tertulis itu menjadi waktu yang selalu mereka tunggu, karena mereka senang berkumpul bersama, namun karena pekerjaan dan tugas masing-masing, waktu mereka untuk berkumpul sangat berkurang.


Selesai makan malam, giliran Are dan Haruki untuk membersihkan meja. Mereka tidak menyewa pengurus rumah, mereka lebih suka membagi tugas rumah bersama.


Yuki membaca berkas informasi yang diberikan Aki. Tak disangka, ternyata begitu banyak tokoh petinggi Negara yang terlibat dalam kasus ini. Bahkan Presiden sudah menyetujui perencanaan pengembangan.


Shiro mengamati ekspresi rumit Yuki, dia tidak sabar untuk bertanya, “Bagaimana? Apakah kita masih bisa untuk tetap bertahan?”


“Rumit Kak, kita sepertinya harus melanjutkan rencana 3 tahun yang lalu untuk menyelesaikan masalah ini.”


“Rencana apa itu?” Tanya Haruki penasaran.


“Relokasi.” Jawab Yuki singkat.


Anggota lain selain Shiro terkejut dengan jawaban Yuki. Belum pernah ada yang mendengar apapun tentang rencana relokasi. Shiro dan Yuki terlalu misterius.


Yuki menyerahkan berkas kepada Shiro. Mereka tidak pernah menanyakan sumber keakuratan berkas itu, karena kemampuan Aki tidak perlu dipertanyakan.


Saudara kembar itu terlalu berbakat dari kecil. Dan dari spesialisasi Aki tentang informasi, apapun yang ditulisnya adalah kepastian. Shiro membaca berkas dengan cepat, ekspresi rumit juga terlihat jelas dari wajahnya.


“Besok jam 8 pagi, kita akan berkumpul di aula. Haruki, minta tolong hubungi Kapten Ryu, Kapten Aoki, Kepala Saudi dari Distrik Barat, dan Kepala Doni dari Distrik Timur untuk ikut berkumpul.” Perintah Shiro.


“Kenapa Kedua kepala distrik desa pinggiran juga dipanggil?” Tanya Kurina.


“Besok akan kami jelaskan di aula.” Jawab Yuki tegas.


“Siap!” Semua anggota menjawab serentak. Jika Yuki dan Shiro tidak ingin menjawab, maka mereka tidak akan bertanya untuk kedua kali.


“Aki, terima kasih untuk kerja kerasmu. Kemampuanmu semakin meningkat pesat, bagus sekali. Terima kasih juga sudah membantu merawat aku dan Yuki tadi pagi, Yuki sudah menceritakan semuanya.” Kata Shiro sambil tersenyum hangat.


Setelah dipuji Shiro, Aki mau tidak mau menjadi tersipu malu, “Terima kasih Shiro, aku akan selalu bekerja dengan keras untuk mengembangkan kemampuanku. Tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tugasku.”


Setelah waktu menunjukkan pukul 9 malam, mereka membubarkan diri dan naik ke kamar masing-masing.


Shiro dan Yuki sampai di lantai 3, sebelum Yuki memasuki kamarnya, Shiro menarik Yuki ke salah satu sudut di balkon. “Yuki, bisa kamu membawaku ke tempat Paman Liu?”


“Apa yang ingin Kakak lakukan? Paman Liu sudah menandatangani surat keputusan penggusuran. Dia tidak mungkin mendengarkan kita.”

__ADS_1


“Tidak masalah, jika dia tidak bisa mencabut surat itu, setidaknya dia tidak membuat masalah lagi. Tapi kita tidak ke sana memakai mobil. Aku tidak ingin ada yang tahu, cukup kita berdua saja.”


“Baiklah, jika itu keputusan Kakak, aku bisa menggendongmu dan berlari ke Istana Negara. Kita akan sampai dalam waktu beberapa detik. Bagaimana?”


“Oke siap.”


Yuki menurunkan badannya, sedikit jongkok di depan Shiro, setelah Shiro naik ke punggung Yuki, dia memegang erat bahu Yuki. Yuki melompat ringan kebawah dari balkon lantai 3 dan mendarat di tanah tanpa suara.


Yuki mempunyai banyak kelebihan, ‘Kekuatan Guntur’ dan ‘Kecepatan Cahaya’ adalah beberapa diantaranya. Dengan ‘Kekuatan Guntur’, bahkan dia bisa menghancurkan gedung 5 lantai dengan pukulan tangan kosongnya.


Dia juga bisa berlari tiga kali lebih cepat dari cheetah dengan ‘Kecepatan Cahayanya’, sehingga dia bisa mencapai Istana Negara dari rumahnya yang berjarak 20 Km hanya dengan beberapa detik saja.


Setelah sampai di salah satu sudut istana, Mereka melompati tembok setinggi 5 meter dengan mudah, mengikuti titik buta CCTV dan menuju ruang kerja Presiden yang lampunya masih menyala.


Sampai di balkon lantai 2, Shiro mengintip ruangan di dalam. Dia memastikan Pamannya sedang sendirian, lalu menerobos masuk dengan mudah tanpa suara diikuti Yuki di belakangnya.


Seorang Pria paruh baya duduk di meja kerjanya membelakangi Shiro dan Yuki, karena terlalu fokus membaca berkas, dia bahkan tidak mendengar kedatangan kedua orang itu.


“Paman, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Kata Shiro, mengagetkan Paman Liu.


Setelah mendapatkan kembali ketenangannya, dia berbalik memandang Shiro. Hatinya dipenuhi nostalgia saat melihat wajah datar Shiro, mengingatkannya dengan Yama adiknya.


“Shiro, kenapa kamu menyelinap masuk ke tempat Paman? Ada apa?” Liu Ao adalah Presiden Negara Blue Sky, dia tidak terlalu gemuk, juga tidak kurus.


Meskipun usianya sudah 50 tahun, karena dia selalu menjaga tubuhnya disela-sela aktivitasnya, dia tampak seperti berumur 40 tahun, sangat mirip dengan Ayah Shiro.


Sehingga untuk sesaat Shiro linglung setelah memandang wajah pamannya.


“Kak Shiro. Ini berkasnya.” Yuki menepuk bahu Shiro dan memberikan salinan surat keputusan yang ditanda tangani Pamannya.


Shiro menyerahkan salinan surat keputusan ke meja pamannya. Membuat wajah Liu Ao sedikit pucat dan panik untuk sesaat. “Dari mana kamu mendapatkan surat ini?”


“Tidak penting dari mana. Jawab saja pertanyaanku. Kenapa Paman melakukan ini?” Kekecewaan terpancar dari mata Shiro.


“Tidak ada yang bisa aku lakukan Shiro, desa itu dekat dengan pemerintahan, dan kami membutuhkan lahan untuk memperluas beberapa gedung.”


“Gedung untuk koruptor? Negara Blue Sky sudah sangat maju Paman, uang Negara juga sangat berlimpah. Kenapa kalian tidak mensejahterakan rakyat kalian?”


“Apa maksudmu Shiro? Kami selalu memberi mereka uang dan tunjangan. Mereka yang tidak mau berjuang untuk perut mereka, mereka tidak mau bekerja, kenapa kamu harus memikirkan mereka?” Liu Ao benar-benar bingung dengan pemikiran keponakannya.


“Tidak mau bekerja? Tidak ada perusahaan yang mau menerima mereka, bagaimana mereka bisa bekerja?” Yuki ikut protes dengan suara rendah, membuatnya tampak lebih ganas hingga Liu Ao merinding.


“Siapa yang mengatakan itu? Dalam peraturan yang aku keluarkan sudah jelas tertera bahwa semua rakyat termasuk yang tinggal di desa pinggiran sangat layak mendapat pekerjaan.” Liu Ao tidak terima protes Yuki.


“Mungkin Anda sudah lupa. Dulu anda memang sering datang ke sana dan mengulurkan tangan anda, sehingga perusahaan masih mau menerima mereka. Tapi 3 tahun terakhir, pernahkah anda ke sana untuk sekali saja? Pernahkah anda mengulurkan tangan anda kepada mereka seperti dulu?” Tanya Yuki mulai tidak sabar.


“Aku… Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di sini. Hampir tidak ada waktu untuk mampir ke desa pinggiran.” Liu Ao berdalih.


“Paman, jangan lupa, dulu kami membantu Paman menjadi Presiden agar bisa mensejahterakan desa pinggiran. Tapi bertahun-tahun duduk di kursi kulit yang mahal ini sepertinya sudah membuat Paman lupa janji yang dulu Paman ucapkan kepada kami. Kami bisa mengganti Paman dengan mudah. Bagaimana sekarang? Apa yang akan Paman lakukan?”


“Shiro, kamu mengancam ku? Apa yang bisa kamu gunakan untuk mengganti posisiku dengan orang lain? Aku masih punya waktu 3 tahun lagi untuk duduk di kursiku. Kamu tidak berhak mengatakan hal bodoh seperti itu kepada Pamanmu.” Liu Ao mulai meninggikan suaranya.


“Paman perlu bukti? Kami bisa membuktikannya. Jika paman tidak mencabut surat keputusan penggusuran itu maksimal 3 hari kedepan, dalam waktu 30 hari, kursi itu akan berganti pemilik. Apa yang aku ucapkan selalu aku wujudkan. Jangan menyesal.” Ancam Shiro dengan kesal.


“Anda harus ingat satu hal. Kartu truf anda kami pegang. Kami mengetahui semua kejahatan pemerintah, kami bisa dengan mudah menggulingkan pemerintah sesuka kami. Jika anda bukan Paman Kak Shiro, aku pasti sudah membunuhmu dari tadi.”


Kemarahan membakar hati Yuki karena semua ketidakadilan pemerintah dan janji-janji palsu yang mereka berikan. Setelah mengatakan itu, Shiro dan Yuki menyelinap pergi, meninggalkan Liu Ao berdiri di dekat mejanya dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


__ADS_2