
Setelah sampai di lantai 3, Yuki tidak masuk ke kamarnya, melainkan ke kamar Shiro.
'Tok tok tok.. '
"Kak, kamu pasti belum tidur. Buka pintunya!” Yuki jarang bicara basa basi.
Sesaat setelahnya, pintu terbuka. Shiro dengan linglung berdiri di depan Yuki masih memakai dress sepanjang lutut putih yang sama saat keluar tadi.
Shiro sebenarnya cukup disiplin, setelah memasuki kamar, dia akan langsung berganti pakaian rumah atau piyama.
Melihat pakaian Shiro, Yuki mengangkat salah satu alisnya. Jelas ada sesuatu yang benar-benar mengganggu Shiro.
“Kenapa kamu ke kamarku?” Tanya Shiro.
“Ceritakan tentang organisasi itu. Apa pun dan siapa pun lawannya, Kirifuda kita pasti bisa menjatuhkan mereka.” Jawab Yuki sambil masuk ke kamar Shiro.
Kamar mereka berdua di lantai tiga cukup besar, memakan lebih dari 2/3 lantai, sisanya hanya terdapat balkon dengan berbagai macam tanaman bunga dan buah, sehingga lantai 3 terlihat sepeti balkon hijau besar terbuka dengan rumah ditengahnya.
Kamar Shiro memiliki desain putih minimalis, sehingga banyak ruang yang tersisa. Dari pintu masuk, disebelah kiri terdapat kamar mandi yang luas, dinding kamar dipenuhi lemari putih setinggi atap tempat baju dan barang-barang Shiro.
Tempat tidur diletakkan di sebelah kanan atas, di bawahnya terdapat meja dengan seperangkat komputer dan beberapa monitor besar, Bagaimanapun Shiro dan Yuki juga merupakan jenius muda yang bisa dengan mudah membobol sesuatu atau menciptakan sesuatu yang mereka inginkan.
Diseberang tempat tidur terdapat jendela paris selebar 3 meter dan berdiri dari lantai sampai ke langit-langit.
Di tengah kamar tergantung lampu kristal yang cukup megah, dan di bawah lampu gantung diletakkan karpet bulu putih besar dan tebal dengan meja teh bundar kecil tempat mereka biasanya mengobrol dan menghabiskan waktu.
Sekilas Yuki melihat monitor Shiro yang menyala menunjukkan beberapa kode-kode yang sulit dimengerti, sepertinya Shiro tadi sedang mencari informasi.
Setelah mencerna informasi dari kode-kode itu, Yuki duduk di karpet bulu. Shiro juga mengikuti Yuki dan duduk di seberangnya.
“Apakah Kakak meragukan Kirifuda?” Yuki selalu to the point dalam setiap percakapan.
“Bagaimana mungkin aku meragukan organisasi yang sudah kita bangun dengan susah payah 10 tahun yang lalu.” Shiro takut dan sedih, ingatan masa-masa sulit mereka berdua kembali membayangi Shiro.
“Tidak ada yg sulit jika kita menggunakan ‘Kartu Truf’ kita Kak. Karena itulah kita membangun Kirifuda.” Yuki terluka saat melihat ekspresi Shiro. Hanya mereka berdua yang mengerti betapa sulit perjuangan itu.
“Kali ini menyangkut masa lalu kita berdua Yuki. Aku terlalu takut.” Air matanya mulai menggenang, Shiro memang cengeng, apalagi jika menyangkut tentang mereka berdua.
Yuki mengalihkan pandangannya dari Shiro menuju deretan monitor di atas meja, dia tidak suka melihat Shiro menangis. “Organisasi Harmonics?” Tanya Yuki.
“Secara tidak sengaja, aku menemukan fakta kematian Ayah dan Kakek Emu, Yuki. Semua itu ada kaitannya dengan Harmonics.” Jawab Shiro sambil terisak.
__ADS_1
Yuki terkejut dengan jawaban Shiro, sehingga membutuhkan waktu untuk mencerna informasi itu. Mereka tahu, kejadian besar 15 tahun yang lalu itu sangat menyakitkan untuk mereka.
Menyadari kemungkinan keterkaitan antara kematian Kakeknya dan Organisasi Harmonics, tanpa sadar Yuki mengepalkan kedua tangannya. Yuki akan meledak dalam kemarahan, dia berlari keluar dari kamar Shiro dan masuk ke kamarnya di sebelah.
Shiro hanya bisa terisak di tempatnya dan melihat Yuki keluar dari kamar, masa lalu kembali muncul dalam pikirannya.
Bencana besar tahun 2010 menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa di negara mereka dan jutaan lainnya terluka, secara tidak sengaja Shiro dan Yuki bertemu di salah satu rumah sakit sebagai korban.
Sejak pertemuan itu mereka berdua merasa seperti ditakdirkan untuk bersama sebagai saudara. Saat itu Shiro berumur 9 tahun dan Yuki berumur 5 tahun, mereka adalah jenius muda dari keluarga ilmuan yang terkenal. Meskipun Ayah Shiro dan Kakek Yuki meninggal, Mereka tetap mewarisi sebagian dari kekayaan keluarganya.
5 tahun mereka tinggal bersama, menjadi saudara sedarah yang selalu berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersama. Mereka memiliki pandangan khusus tentang dunia ideal mereka.
Mereka lelah dengan orang-orang berkuasa yang menyalahgunakan kekuasaannya. Mereka lelah dengan aturan yang selalu tajam ke bawah menyengsarakan yang lemah.
Tepat tahun 2015 Shiro dan Yuki mendirikan organisasi rahasia bernama Kirifuda yang berarti ‘Kartu Truf’, mereka berdua ingin membantu yang lemah dengan ‘Kartu Truf' mereka.
Awal pendirian itu hanya ada mereka berdua, yang bisa mereka lakukan saat itu adalah dengan peretasan. Membongkar kebusukan tikus-tikus pemakan uang, membela kebenaran dari yang lemah, dan mengembalikan hak-hak rakyat.
Dalam sekejap, mereka menjadi hacker nomor 1 di dunia bawah tanah karena kecerdasan mereka. Shiro tiba-tiba pingsan akibat demam yang melanda karena terlalu lelah secara fisik dan mental dengan semua informasi itu hingga badannya tidak mampu menahan beban lagi.
Disisi lain, Yuki benar-benar tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Hanya bisa berteriak dan memukul apa pun di dekatnya. Semua yang menyangkut keluarganya adalah hal yang paling menusuk di hatinya.
Sekarang sudah tahun 2025, yang berarti 15 tahun telah berlalu sejak bencana itu, Yuki masih sering memimpikan ekspresi saat-saat terakhir Kakeknya. Yuki selalu ingin bisa menangis dan meluapkan kesedihannya, tapi dia tidak seberuntung Shiro.
Yuki tahu bahwa Shiro juga sedang kalut dan sedih di kamarnya karena teringat kembali dengan kematian Ayah yang paling dia cintai.
Setelah melampiaskan sebagian amarahnya, pikirannya menjadi jernih. Menyadari kamarnya yang berantakan dan tangannya yang berdarah tergores pecahan kaca, Yuki masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Air dingin cukup membantu menjernihkan pikirannya, dia juga teringat kembali masa sulit yang mereka hadapi, sampai Organisasi Kirifuda membalikkan semua keadaan menjadi masa kejayaan mereka sampai sekarang.
Selesai mandi dia keluar memakai bajunya dan bergegas ke kamar Shiro lagi, dia lupa menutup luka di tangannya, karena dia sangat mengkhawatirkan Shiro.
Di dalam kamar, Shiro tertidur di atas karpet bulu putihnya, jejak air mata masih terlihat di wajahnya. Hati Yuki sakit melihat kakak yang dia sayangi menangis.
Dengan mudah Yuki mengangkat Shiro dan membawanya ke tempat tidur, tubuh Shiro panas karena demam. Yuki lupa kalau tangannya terluka, dan darah masih menetes di semua tempat, dia hanya terlalu fokus dengan keadaan kakaknya.
Setelah Shiro mendapatkan posisi yang nyaman, Yuki langsung turun ke dapur merebus air agar bisa mengompres kakaknya dengan air hangat.
Lantai 1 sangat sepi, sepertinya semua orang sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Yuki mengisi panci kecil dengan air, kemudian merebusnya.
Terlalu banyak kenangan yang melintas dalam benaknya sehingga tidak menyadari saat seseorang masuk ke dapur.
__ADS_1
Aki terkejut melihat Yuki di dapur sendirian, faktanya Yuki selalu bersama dengan Shiro dimana pun mereka berada.
Untuk sesaat, Aki ragu apakah tetap ke dapur atau kembali ke kamarnya, sebelum dia sempat berbalik, Yuki menyadari keberadaannya, dan menoleh ke Aki, “Kenapa kamu berdiri disana?” Tanya Yuki.
“Eh, a... aku haus, jadi ingin mengambil air dingin. Apakah kamu ingin membuat sesuatu? Tidak biasanya kamu malam-malam ke dapur sendirian.” Aki tergagap, karena hanya berdua dengan Yuki, hatinya terlalu gugup.
Dia berjalan mendekati Yuki, dan menyadari tangan kanan Yuki terluka dan masih meneteskan darah segar.
“Yuki, tanganmu!” Aki merasa sangat khawatir dengan luka Yuki. Refleks Aki mendekati Yuki dan memegang tangannya untuk memeriksa seberapa parah luka itu.
“Ah itu, aku lupa mengobati luka itu. Hanya luka kecil karena pecahan kaca, aku sedang merebus air untuk kompres air hangat Kak Shiro, dia sedang demam.” Jawab Yuki menenangkan Aki yang khawatir.
“Tunggu disini, aku ambil kotak P3K dulu, ini harus diobati sebelum terinfeksi. Sepertinya membutuhkan jahitan. Tunggu sebentar jangan kemana-mana!” Secepat kilat Aki menuju ke laboratorium bawah tanah, karena disana terdapat kotak P3K khusus milik Yuki yang sangat lengkap.
Yuki ingin menghentikan Aki, dia merasa itu hanya luka kecil. Tetapi sebelum dia bisa mengatakannya, Aki sudah berlari ke arah lift. Yuki hanya bisa tertegun dan perasaan yang hangat mengalir dalam hatinya, tanpa disadari senyum mengembang di bibirnya.
Bukan rahasia jika Yuki dan Aki saling jatuh cinta, semua anggota inti dari Organisasi Kirifuda juga sudah mengetahui itu sejak lama dan mereka hanya pura-pura tidak tahu, karena Yuki dan Aki tidak pernah ingin mengakui perasaan mereka secara terbuka.
Lima menit telah berlalu, air sudah sejak tadi mendidih, setelah mematikan kompor, Yuki dengan patuh hanya berdiri disana menunggu Aki kembali.
Pintu lift terbuka, Aki datang dan mengajak Yuki duduk di ruang makan. Aki membuka kotak itu dan mulai membersikhan luka di tangan Yuki, luka sobek itu cukup besar dan memerlukan tiga jahitan untuk menutupnya.
Melihat Aki yang sangat serius mengobati lukanya, Yuki hanya bisa tersenyum melihatnya. Beberapa saat kemudian Aki telah selesai membalut tangan Yuki dengan perban.
“Sudah selesai, seharusnya tidak akan terjadi infeksi. Kamu harus lebih berhati-hati lagi karena darahmu sangat berharga, dan jangan menghancurkan barang-barangmu lagi.”
Aki mendongak dan melihat Yuki sedang menatapnya dengan senyuman lembut. Aki yang tersipu oleh tatapan lembut Yuki langsung menundukkan kepalanya lagi.
Tangan kanan Yuki yang terluka masih terulur ke arah Aki, perlahan dia menyentuh dagu Aki dan mengangkatnya hingga mereka berdua saling memandang, dia suka melihat iris mata Aki yang berwarna coklat muda yang cerah.
Setiap dia memandangnya, mata itu mengingatkan dia dengan pasir di pantai tempat favorit Yuki dan Kakeknya saat berlibur.
Meskipun Aki dan Ai saudara kembar, wajah Aki lebih bulat dan mata Aki lebih cerah daripada Ai. Warna coklat di mata Ai lebih tua daripada Aki.
Begitu juga dengan Aki, wajah Yuki sangat tampan dan maskulin meskipun sedikit pucat karena kehilangan banyak darah.
Mata kirinya telah diganti dengan mata prostetik karena luka yang dia alami dari kejadian 15 tahun yang lalu, meski terdapat bekas luka di sekitar mata kirinya, Aki selalu merasa wajah Yuki sangat tampan.
Terpesona oleh wajahnya, Aki mengangkat tangan kirinya kearah Yuki. Jari-jarinya dengan lembut membelai bekas luka di sekitar mata kiri Yuki.
Mereka hanya saling memandang, seakan hanya mereka berdua yang ada di muka bumi.
__ADS_1
“Ting…!” Suara pintu lift terdengar.
Keluarlah Pemuda 22 tahun dengan rambut abu-abu dari dalam lift dengan tergesa-gesa menuju dapur untuk mengambil minum.