MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Kehangatan Ini Janganlah Cepat Berlalu...


__ADS_3

“Saya akan menempatkan sebuah pertahanan di sekitar pulau, saya membutuhkan data diri selengkapnya untuk saya masukkan ke dalam sistem, sehingga meminimalisir penyusup suatu saat nanti.” Jawab Shiro datar.


“Oh begitu, maaf saya tidak mengerti tentang alat-alat seperti itu.” Kepala Saudi malu karena ketidaktahuannya.


“Baik, kami besok akan mulai melakukan pendataan tepat sebelum keberangkatan.” Sahut Kepala Doni.


“Oke, kalau begitu Kapten Aoki, saya tugaskan untuk melakukan pendampingan pendataan kepada warga juga kepada anggota pasukan yang lain. Saya minta tolong untuk tidak ada yang membocorkan informasi ini, jika ada yang bertanya untuk apa, jawab saja untuk pengecekan kesehatan.” Lanjut Shiro.


“Siap Komandan! Saya akan mengatur ini dengan anak buah saya.” Jawab tegas Kapten Aoki.


“Untuk Kapten Ryu, saya sudah selesai menyempurnakan ‘Pelindung Ganda’, nanti minta tolong untuk dibawa kembali ke pulau Zectter, dan pasang tepat di tengah pulau setelah pendataan pasukan selesai di upload ke sistem pelindung.” Perintah Shiro.


“Siap Komandan!” Jawab Kapten Ryu tegas.


“Baiklah, Kak Shiro apakah ada lagi yang perlu disampaikan?” Tanya Yuki.


“Sepertinya sudah, tinggal kita pantau saja untuk keberangkatan besok.” Jawab Shiro ringan.


“Oke kalau begitu, Kurina besok yang menjadi koordinator untuk mereka. Kamu yang akan menjadi perantara antara warga dan Kirifuda.” Perintah Yuki.


“Siap!” Seru Kurina.


Yuki menutup pertemuan, Kurina kembali menuju desa pinggiran bersama Kepala Saudi dan Kepala Doni untuk melanjutkan pembahasan keberangkatan besok kepada warga pinggiran.


Shiro menyerahkan alatnya kepada Kapten Ryu, ‘Pelindung Ganda’ yang asli ternyata ukurannya lebih besar 3x lipat daripada prototype yang kemarin. Sehingga lebih berat daripada yang kemarin. Namun itu bukan apa-apa untuk Kapten Ryu, karena tubuhya yang besar dan kuat, membawa alat seberat itu hanya masalah kecil untuknya.


Shiro dan Yuki mengantarkan Kapten Ryu dan Kapten Aoki keluar dari rumahnya, setelah Yuki menutup pintu, anggota lain yang sudah menunggu mereka di ruang tengah mendekati keduanya. Karena mereka perlu membicarakan tentang rencana besok, Yuki dan Shiro mengajak mereka untuk kembali dan mengobrol di ruang tengah.


“Kami ingin menyampaikan beberapa berita kepada kalian.” Yuki dan Shiro duduk di salah satu sofa memulai penjelasannya kepada keempat anggota inti Kirifuda yang duduk di sofa panjang di sebelah kanannya.


“Besok kami akan melakukan relokasi untuk warga pinggiran, ada lebih dari 200 ribu warga yang akan mengikuti relokasi. Untuk misi kali ini akan dipimpin oleh Kurina. Apakah ada yang keberatan?” Tanya Yuki.

__ADS_1


“Tidak!” Jawab Are, Haruki, Ai dan Aki serempak.


Yuki kembali melanjutkan, “Baik jika tidak ada. Relokasi akan dilakukan selama 3 hari, kami ingin misi ini berjalan dengan lancar, jadi kalian pasti tahu apa yang harus dilakukan tentu saja. Untuk izin relokasi aku serahkan kepada Haruki, karena ini adalah tugasmu.”


“Baik Yuki, aku akan memastikan tidak ada masalah dengan izin ini, serahkan saja padaku.” Haruki menanggapi Yuki.


“Bagus, nanti kamu akan dibantu Ai untuk masalah lainnya jika dibutuhkan. Kemudian Are dan Aki akan membantu Kurina secara langsung di lokasi. Jika aku dan kakak ada waktu kesana, kami juga akan memantau secara langsung. Ingat, kami hanya ingin kelancaran dalam misi ini, tidak boleh ada hambatan apapun.” Yuki berhenti sebentar, memastikan anggotanya benar-benar memahami tugasnya.


“Kak Shiro ada lagi yang perlu ditambahkan?” Tanya Yuki.


“Aku butuh data diri kalian, sehingga kalian dengan mudah bisa keluar masuk ke pulau Zectter. Nanti biarkan Aki yang mengurusnya, bisa kan Aki?” Tanya Shiro.


“Bisa, serahkan saja padaku.” Jawab Aki.


Shiro dan Yuki mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua sudah menantikan misi ini dari dulu, mereka ingin warga pinggiran memiliki kehidupan yang lebih baik.


Sebenarnya di kota lain juga ada masyarakat yang memiliki perekonomian cukup rendah. Namun tidak seperti warga pinggiran ibu kota, ketimpangan ekonomi di ibu kota terlihat sangat nyata, sedangkan di daerah lain tidak separah ibu kota.


Bukan berarti dengan kota lain yang ketimpangan ekonominya lebih tipis kemudian Yuki dan Shiro tidak memperhatikan mereka, sebenarnya Pasukan Kirifuda juga tersebar di berbagai provinsi. Blue Sky memiliki 29 provinsi, setiap provinsi memiliki 1 perwakilan dari Kirifuda. Mereka lah yang akan membagikan hasil jarahan dari Kirifuda kepada rakyat yang membutuhkan.


Shiro dan Yuki sangat puas dengan anggota dan pasukannya, karena keefektifan mereka dan juga kesetiaan yang mereka tunjukkan selama ini. Keduanya benar-benar berharap bawahannya akan selalu setia dan tidak pernah mengecewakan mereka, apalagi sampai berkhianat. Keduanya tidak pernah memikirkan itu karena mereka selalu mempercayai bawahannya.


***


Banyak hal yang mereka bahas setelahnya, hingga sore. Kemudian mereka membubarkan diri dan melakukan aktivitasnya masing-masing. Shiro dan Yuki kembali ke kamarnya juga. Setelah pukul 6 sore, keduanya turun ke dapur untuk memasak. Ai dan Aki membantu menata peralatan makan di meja. Pintu lift terbuka, Kurina keluar dari dalam lift menuju ruang makan dengan wajah berseri-seri.


“Kurina? Jarang melihatmu sebahagia ini.” Ai menggoda Kurina.


“Hehe… Aku bahagia, sebentar lagi warga pinggiran memiliki hidup lebih baik.” Jawab Kurina sambil tersenyum lebar.


“Iya, kami juga ikut bahagia. Meskipun banyak yang masih bertahan, paling tidak sebagian anak-anak akan mulai bersekolah lagi dalam waktu dekat. Itu yang terbaik.” Ai menanggapi.

__ADS_1


“Benar, jika bukan karena Shiro dan Yuki, entah bagaimana kita dan mereka sekarang.” Kurina berbicara lirih sambil mengintip kearah dapur dimana Yuki dan Shiro sedang fokus memasak.


“Mungkin kami berdua masih di panti asuhan, dan kamu masih berada di desa pinggiran.” Jawab Aki kepada Kurina sambil menggenggam tangan kakaknya.


Ketiganya mulai larut dalam pikirannya masing-masing. Memikirkan masa lalu kelam mereka yang selalu ingin mereka lupakan. Namun mereka juga bersyukur, karena jalan yang mereka lalui di masa lalu itu membawa mereka menuju masa depan yang tidak pernah bisa mereka bayangkan. Masa depan yang ternyata jauh lebih indah daripada yang mereka mimpikan.


“Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, agar kita selalu bersama seperti ini selamanya. Karena hanya kalian lah keluarga yang aku miliki.” Sahut Ai sambil menggenggam erat tangan adiknya.


“Sama Ai, aku juga selalu berdoa kepada Tuhan agar kita selalu bisa seperti ini, dan juga agar Tuhan selalu memberi kedua penyelamat kita kesehatan dan kebahagiaan.” Kata Kurina sambil menatap hangat Shiro dan Yuki yang sedang bekerja di dapur.


Dapur dan ruang makan berada di area yang sama, dapurnya terbuka dan jarak dengan meja makan lumayan jauh, sehingga jika berbicara dengan suara lirih pasti tidak terlalu terdengar. Dapur di rumah itu memiliki desain kontemporer namun sangat mewah dengan warna hitam yang mendominasi.


Sebenarnya dari tadi Yuki mendengarkan obrolan para perempuan, dia hanya bisa tersenyum karenanya. Dia bisa mendengar percakapan lirih mereka tadi karena kemampuan seni bela diri membuatnya peka terhadap banyak hal.


Yuki sendiri tidak ingin menyela meraka karena dia juga merasakan hal yang sama seperti ketiganya, dia selalu berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan karena bisa bertemu dengan Shiro dan yang lainnya, dia hanya berharap semuanya berjalan dengan baik dan selalu bahagia.


Mengingat kembali masa lalu itu, dan apa yang terjadi di masa kini membuat hatinya menjadi hangat. Senyum kembali mengembang indah di wajah maskulinnya.


Shiro yang menyadari tatapan Kurina mendongak dan bertanya kepadanya, “Kurina apa yang kamu lihat? Apakah ada yang salah denganku?”


“Tidak, sepertinya aku jatuh cinta dengan Shiro.” Kurina mulai menggoda Shiro.


“Hei hei! Aku masih wanita tulen, jangan dong…!” Jawab Shiro.


“Hahaha iya deh iya… Cintaku ditolak” Kata Kurina sambil berpura-pura patah hati.


Shiro yang melihatnya hanya hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepalanya, ‘ada-ada saja kelakuan mereka.’ Batinnya.


“Kurina, minta tolong panggilkan Haruki dan Are, sepertinya mereka tadi sedang di ruang gym. Makanan sebentar lagi siap.” Pinta Shiro.


“Oke siap.” Jawab Kurina, dia langsung berjalan menuju lift ke lantai bawah kedua.

__ADS_1


Ai dan Aki duduk di kursinya di meja makan, melanjutkan obrolan mereka. Setelah semuanya berkumpul dan makanan selesai dibuat, mereka makan dengan bahagia sambil membicarakan banyak hal.


__ADS_2