
Yuki mengemudikan mobilnya memasuki sebuah kompleks perumahan. Mereka segera melihat rumah yang tampak lebih sederhana dibandingkan dengan rumah lain di kompleks itu.
Yuki berbelok memasukkan mobilnya ke tempat biasa lalu segera turun untuk membuka pintu mobil untuk kakaknya.
Shiro sudah terbiasa dengan perlakuan manis Yuki hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Keduanya memasuki rumah, tepat setelah sampai di dapur, mereka melihat Hanson yang baru saja naik dari bawah tanah. Pintu rahasia ruang bawah tanah ada di dekat dapur.
"Tuan Yuki dan Nona Shiro, selamat datang." sapa Hanson yang sangat ramah seperti biasanya. Pria paruh baya itu tampak seperti pelayan rumah yang jinak di depan Shiro dan Yuki.
"Halo, bagaimana kabarmu?"
Shiro sudah lama tidak bertemu pria yang umurnya hampir setengah abad itu. Gadis itu segera memeluk Hanson. Pria itu masih mengenakan kemeja putih, rompi hitam, dasi kupu-kupu dengan celana hitam seperti biasanya.
"Baik Nona. Terima kasih banyak."
Hanson menoleh kepada Yuki, dia merasa Yuki ingin segera turun menemui tahanannya. Hanson sangat ingat sekali bahwa dia tidak sengaja memotong jari-jari menteri itu, pria itu merasa sedikit menyesal dan memberitahu Yuki tentang penyesalannya.
"Tuan, saya mohon maaf karena tidak sengaja memotong beberapa jari tahanan Tuan."
"Hanson, aku hanya tidak ingin kamu membunuh orang itu, lakukan apapun yang kamu inginkan sebagai gantinya." jawab Yuki masih dengan kedatarannya yang biasa.
Shiro memperhatikan mereka dengan sedikit ngeri awalnya, bahkan dia merasa kasihan dan merinding sekarang. Mereka membicarakan tentang penyiksaan seperti sedang membahas kenikmatan dari pemandangan yang indah. Bukankah itu mengerikan.
Yuki memimpin Hanson dan Shiro turun ke penjara bawah tanah. Bau darah dan daging busuk mulai samar tercium saat mereka hampir sampai di penjara tempat Niro disekap.
Entah apa yang sudah dilakukan Hanson sampai bau busuk itu tidak terlalu kuat. Dia pasti sering melakukan pembersihan dan hanya Hanson yang tahu bagaimana caranya. Shiro dan Yuki tahu kalau Hanson adalah orang yang luar biasa jika menyangkut masalah ini.
Yuki segera melihat menteri yang diculiknya beberapa hari lalu terdiam seperti daging tanpa nyawa. Keadaannya cukup mengerikan, beberapa jari di tangan dan kakinya terlihat sudah hilang. Luka yang tersisa di tempat jarinya dulu sekarang menampakkan warna yang mengerikan.
Niro menyadari beberapa langkah kaki itu dan segera melihat tiga orang berdiri melihatnya. Sebagian menatapnya dengan jijik dan kemarahan, sebagian lagi menatapnya kasihan. Tentu orang yang melihatnya dengan tatapan kasihan adalah Shiro.
Yuki bergerak mendekat ke depan tahanan itu. Suara gemericing rantai yang bertabrakan memenuhi pendengarannya. Tahanan itu takut Yuki menyiksanya. Dia sudah melewati hidup dan mati berkali-kali beberapa hari ini. Tentu saja dia sekarang takut setengah mati.
__ADS_1
Tetapi Yuki hanya mengambil kursi untuk kakaknya. Tahanan itu kembali lega meskipun hanya sedikit.
"Silahkan duduk kak."
Nada Yuki yang sangat ramah sangat berbeda dari yang Niro dengar sebelumnya. Dia merasa kengerian merayap di hatinya, bagaimana mungkin iblis itu berbicara seperti malaikat sekarang.
"Terima kasih Yuki." jawab Shiro kepada adiknya. Gadis itu segera duduk menyilangkan kakinya. Tatapannya sedikit melamun, tetapi dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Niro.
Yuki beralih dari sisi kakaknya dan segera mengenakan sarung tangannya seperti biasa, begitu juga dengan Hanson, dia melakukan hal yang sama dengan tuan mudanya.
Gemericing rantai kembali terdengar. Kini diwarnai dengan ketakutan dan kegelisahan. Niro bahkan kembali mengerang dan berteriak, tetapi terendam oleh kain tebal yang menyumpal mulutnya.
Penyiksaan yang dilakukan oleh orang tua itu sudah sangat menyakitkan dan menakutkan. Dia ingat bagaimana tatapan pemuda di depannya saat melempar pisau berkali-kali padanya.
Kini pandangan Niro dengan jelas melihat keberadaan dua iblis hitam dan satu malaikat putih yang menatapnya. Keadaan halusinasi itu juga disebabkan oleh warna rambut ketiganya sehingga Niro melihat kedua pria muda dan lebih tua berambut hitam seperti iblis dan gadis muda cantik beramput putih yang sedikit melebihi bahu seperti malaikat. Warna putih itu sangat kontras di penjara yang remang-remang dan kelam itu.
'Apakah aku sudah mati dan di neraka sekarang?' pikir Niro dalam halusinasinya.
Dia melihat dua iblis itu datang mendekatinya, sedangkan malaikat putih duduk mengasihaninya di belakang.
"Record." bisik Yuki untuk merekam adegan seperti biasa.
Kemudian dia melanjutkan perintahnya kepada Hanson sambil mengulurkan tangan kiri kepada pria di belakangnya, "Cambuk!" suara rendah Yuki terdengar seperti iblis kejam dari neraka bagi Niro.
Sesaat keheningan memenuhi ruangan remang-remang yang cukup besar itu. Niro melihat iblis raksasa paling menakutkan memegang cambuk rantai mendekatinya. Niro hanya bisa melihat dan menangis ketakutan sekarang.
Yuki meminta cambuk rantai dari Hanson, pria paruh baya itu sekarang hanya betindak sebagai asisten eksekutor. Sedangkan Shiro hanya duduk dan menonton mereka di belakang.
Cambuk rantai mungkin bukan kata yang tepat, rantai itu terlihat cukup kasar, seakan duri tumbuh di setiap rantai besi.
Yuki menjentikkan cambuk dengan pergelangan tangannya. Rantai itu bergerak seperti ular mendekati badan Niro yang tangan dan kakinya di rantai seperi huruf 'X' di dinding penjara.
Teriakan terendam terdengar setiap rantai besi itu menggores dan mengoyak setiap inchi badan sang tahanan. Darah segar sang tahanan kembali mengalir seperti sungai dan menggenangi lantai di bawahnya. Bau darah kembali tercium kuat sekarang.
__ADS_1
"Scalpel!"
Yuki bosan dengan cambuknya setelah beberapa menit dan meminta barang lain. Dia masih suka pisau bedah kecil itu. Setelah melempar pisau beberapa kali dia melihat tahanan itu seperti sudah sampai pada batasnya.
"Hanson, sembuhkan dia!" perintah Yuki acuh tak acuh.
Pemuda itu segera berbalik melihat kakaknya Shiro, dia lupa kakaknya duduk di sana melihat dia menyiksa orang. Tetapi tatapan mata kakaknya yang tabah dan dingin membuat Yuki kembali mengalihkan pandangannya dari Shiro dan mencabut scalpelnya dari Niro. Sementara Hanson memberikan cairan obat yang dibuat oleh majikannya kepada Niro.
Shiro sendiri memang awalnya merasa kasihan pada Niro, tetapi setelah melihat penyiksaan yang dilakukan Yuki, tatapannya semakin lama berubah menjadi tabah dan dingin. Rasa kasihan itu perlahan juga hilang.
Dia tidak merasa takut ataupun ngeri dengan penyiksaan yang dilakukan Yuki. Bahkan rencana-rencana penyiksaan yang selama ini Yuki ceritakan sebagai cerita pengantar tidurnya untuk Shiro lebih kejam dari yang dia lakukan sekarang, tentu saja itu karena keterbatasan ruang dan tempat di penjara bawah tanah ini. Jika Yuki ingin melakukan lebih, dia pasti sudah menghancurkan tahanan itu menjadi cacahan daging di hari pertama.
"Berapa lama kamu akan menyiksa dia seperti ini?" tanya Shiro pada adiknya yang sedang membersihkan pisau scalpel dengan sungguh-sungguh di sampingnya.
"Sampai aku puas mungkin." jawabnya enteng, Yuki menuang anggur merah ke dalam dua gelas kaca dan menyesap anggur dari salah satu gelas.
"Lanjutkan apapun yang kamu inginkan. Aku ke atas dulu memasak makan malam." Shiro merasa lapar sekarang, dia belum makan sejak pagi hari.
"Kakak takut melihat penyiksaan ini?" Yuki meremehkan kakaknya.
"Ini belum seberapa Yuki. Aku tahu itu. Kamu bisa lebih kejam dari ini."
Shiro tersenyum lembut kepada adiknya, lebih tepatnya dia mengejek Yuki karena tidak bisa bebas di tempat ini. Setelah melihat wajah jengkal adiknya, Shiro tertawa dan naik ke dapur setelah mengambil gelas wine dari Yuki.
"Hanson, punya bahan-bahan segar kan di dapur?"
Shiro segera berbalik setelah menaiki dua anak tangga untuk memastikan Hanson masih memiliki beberapa bahan makanan di dapurnya.
"Saya selalu menyediakan bahan makanan lengkap untuk Nona dan Tuan jika sewaktu-waktu berkunjung." jawab Hanson masih dengan keramahan dan senyum lembutnya.
"Baik, aku tunggu kalian jam 7 di ruang makan." kata Shiro tegas. Dia ingin makan bersama seperti dulu, saat Shiro hanya bersama Yuki dan Hanson.
Bakat memasak yang dimilikinya sekarang adalah berkat ajaran ayahnya dan Hanson. Kemudian Shiro menyalurkan bakat memasaknya kepada Yuki.
__ADS_1
Dengan anggun Shiro menaiki tangga tanpa menunggu jawaban dari kedua pria itu. Alasan lain kenapa Shiro ingin segera pergi adalah karena dia tidak ingin mengotori off shoulder midi dress putih yang dia kenakan. Itu adalah salah satu midi dress favoritnya, jadi tidak mungkin Shiro merelakannya terkena percikan darah.