
"Halo Ai, Aki, Kurina..." sapa Shiro segera setelah melihat ketiga gadis menyambut kedatangannya di markas Kirifuda.
"Shiro...!"
"Halo Shiro."
"Selamat datang dirumah."
Ketiganya memberi tanggapan yang berbeda bersamaan. Raut wajah bahagia dan nostalgia terlihat jelas pada keempat gadis yang kini saling berpelukan.
"Hei Shiro! Kamu melupakan kami lagi." keluh Are yang berjalan mendekat bersama Haruki. Keduanya terkejut setelah diberitahu oleh si kembar bahwa Shiro akan kembali ke markas.
"Mana mungkin lupa. Senang bertemu kalian lagi." sapa Shiro sambil memeluk pria-pria muda yang menyambutnya.
Yuki hanya mengamati interaksi mereka dari belakang, dia masih pendiam seperti biasa, dan ekspresinya yang datar selalu menghiasi wajahnya.
Shiro membawa teman-temannya duduk di sofa ruang tengah seperti biasa. Dia ingin menyampaikan sesuatu yang serius.
"Teman-teman, kalian pasti sudah mengerti tentang Ichidai dan Niro. Kami, Aku dan Yuki ingin menyampaikan sesuatu."
Mata Shiro menunjukkan keseriusan hingga membuat yang lain bingung.
"Ada apa?" tanya Haruki penasaran.
"Kami ingin menyerang Harmonics. Kami ingin meretas sistem keamanan mereka sehingga kami bisa bisa menyusup ke markas Harmonics dengan mudah."
Shiro bisa melihat teman-temannya menunjukkan ekspresi yang berbeda. Marah, tidak percaya, bingung, dan bersemangat.
"Kamu yakin?" salah satu yang tidak percaya adalah Haruki. Dia merasa mereka seperti sedang bercanda. Tidak mungkin mereka bisa meretas sistem keamanan milik Harmonics, dia yakin itu.
"Kenapa tidak? Mereka sangat menyebalkan. Kita pasti harus melakukannya." sahut Are bersemangat. Kurina dan Ai mengangguk menanggapi Are.
"Are benar. Aku juga sudah lelah dengan mereka. Apa salah yang sudah kita lakukan sampai mereka mengganggu kita berkali-kali." Kurina mengatakan isi pikirannya dengan sangat keras.
Shiro memandang Aki, karena hanya dia yang belum memberi tanggapan. Tetapi sepertinya dia sedang melamun sekarang.
"Aki, bagaimana menurutmu?"
Mendengar Shiro yang tiba-tiba bicara dengannya membuat Aki tersentak.
"Ah, aku ikut kalian saja." jawab Aki.
"Kamu kenapa?" Shiro semakin bingung dengannya, Aki biasanya cukup ceria.
"Aku mungkin sedikit lelah sekarang karena harus mengalihkan perhatian pemerintah dan kepolisian tentang kepergian Niro yang tiba-tiba." Aki mengatakan yang sebenarnya. Dia sedang memikirkan langkah selanjutnya untuk mengecoh tim penyelidik.
'Aki, aku membutuhkan bantuanmu untuk menyelesaikan ini. Kepergian Niro akan menghebohkan negara ini, aku sudah memiliki semua bahannya dan plot yang bisa kamu gunakan, jadi tolong bantu aku.'
__ADS_1
Aki ingat saat Shiro meminta bantuan untuk membuat plot palsu tentang hilangnya Niro, dia masih belum selesai menjalankan tugasnya sehingga dia masih banyak pikiran sekarang.
"Maafkan aku Aki, pasti aku sudah menyulitkanmu." Shiro sangat menyesal membuat tugas yang rumit untuk Aki.
"Tidak Shiro, itu tidak sulit sama sekali, tanpa bantuan Shiro dan Kak Ai pasti tidak akan semudah ini. Hanya saja plotnya masih berjalan separuh dan belum selesai. Santai saja Shiro."
Aki tersenyum manis, berusaha menenangkan Shiro.
Dia juga beberapa kali mengintip Yuki yang duduk disebelah Shiro, hubungan mereka masih menggantung. Aki tidak masalah karena mereka juga sekarang sedang menghadapi banyak hal, dia merasa kejelasan hubungan mereka bisa menunggu nanti.
Dia juga tidak merasa marah dengan Shiro dan Yuki. Justru dia merasa kecewa pada dirinya sendiri. Karena hubungannya dengan Yuki telah memecah belah pertemanan di Kirifuda.
"... Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu Aki."
Shiro masih merasa tidak enak merepotkan Aki, tetapi tugas itu memang adalah keahlian Aki, sehingga dia merasa lebih baik kalau Aki yang mengerjakan tugas ini.
"Apakah tidak ada cara lain?" Haruki masih merasa tidak percaya dan khawatir jika sistem Kirifuda sampai bocor.
"Aku sudah menemukan lokasi yang kami curiagi sebagai markas utama. Tetapi kita tidak mungkin menyerang secara membabi buta."
"Iya juga, kita tidak pernah melakukan cara seperti itu sebelumnya." Haruki dan lainnya juga menyadari bahwa mereka selama ini sangat berhati-hati melakukan sesuatu. Bahkan jika hal itu sangat remeh. Mereka selalu berusaha menyelesaikan masalah tanpa ada masalah lain yang timbul.
Shiro tidak menanggapi Haruki, dia tidak mengerti kenapa Haruki menentang keputusannya dan Yuki. Keheningan dan ketegangan segera melayang di ruang tengah itu. Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi sekarang.
"Kita bahas ini besok jam 10 pagi. Kakak ikut aku sekarang."
Dia segera menarik tangan kakaknya, mengajaknya turun untuk mengambil mobil.
"Yuki, kita belum selesai dengan mereka." keluh Shiro pada tindakan adiknya.
"Tidak, aku ingin memastikan dari Niro. Menurutku kekhawatiran Haruki itu benar kak."
"Tapi Yu-"
Shiro tidak bisa melanjutkan kalimatnya setelah melihat tatapan mata adiknya yang tegas. Shiro bisa merasakan keinginan kuat Yuki untuk menyelesaikan semua masalah secepatnya. Tetapi dia juga masih harus berhati-hati.
"Sudah ikut saja denganku."
Yuki memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lalu lintas sore itu sangat ramai karena banyak orang yang pulang dari pekerjaannya, arus lalu lintas yang padat tidak menyurutkan niat Yuki untuk menurunkan kecepatannya.
Shiro hanya bisa pasrah dengan gaya mengemudi Yuki seperti ini. Sehingga dia hanya duduk diam disamping Yuki menunggu sampai mereka sampai di rumah itu.
Sedangkan teman-temannya di markas hanya tertegun melihat kepergian Yuki dan Shiro.
"Kenapa kamu menentang keputusan mereka?" tanya Are kepada Haruki yang masih tertegun.
Banyak hal yang melintas dalam pikiran Haruki saat ini, sehingga Haruki tidak langsung menjawab pertanyaan Are
__ADS_1
"... Aku, aku memiliki firasat buruk tentang hal ini."
Are bisa melihat ketakutan muncul di mata Haruki hingga membuat pupil mata Haruki bergetar beberapa kali.
"Apakah kamu tidak mempercayai kami?!" kemarahan muncul dalam hati Are. Dia hanya tidak mengerti, kenapa Haruki menjadi pengecut disaat seperti ini.
"Cukup kalian berdua! Kita tunggu Yuki dan Shiro kembali!" Ai meninggikan suaranya untuk mencegah kedua pria itu bertengkar. Mereka semua tahu, bahwa Are merupakan orang yang cukup mudah tersulut emosinya. Dia juga sering bertengkar dengan Haruki dan yang lain tidak pernah tahu apa alasan Are marah kepada Haruki.
"Aku akan kambali menyelesaikan tugasku." Aki menghindari mereka, dia memiliki banyak tugas sekarang, dan dia tidak ingin ikut campur dalam pertengkaran mereka. Dia sudah sibuk.
"Astaga, ini membuatku gila." Kurina menggerutu dengan suara rendah setelah Aki pergi.
"Haru, temani aku keluar." pinta Ai pada Haruki. Dia lelah di markas, dia ingin mencari ketenangan sekarang.
"Oke Ai, aku ambil mobil dulu."
Ai dan Haruki sangat dekat dari dulu, dia ingat saat Haruki pertama kali datang ke rumah Shiro dan Yuki. Malam itu Ai menemukan Haruki kecil pingsan dan badannya penuh luka, mereka juga bisa melihat posisi tangan dan kaki Haruki yang terpelintir dengan sudut yang aneh.
Saat itu mereka masih tinggal di rumah yang sekarang dijadikan penjara oleh Yuki. Karena rumah yang saat ini mereka tempati masih belum selesai saat itu.
Melihat anak kecil yang pingsan di depan rumah membuat Ai langsung berlari ke kamar Shiro dan Yuki.
Ketiganya segera meminta Hanson untuk membawa Haruki ke rumah sakit karena kondisinya yang saat buruk.
Setelah beberapa hari perawatan di rumah sakit, akhirmya Haruki bangun. Orang yang pertama kali melihatnya bangun adalah Ai, karena dia juga yang sering menjaga Haruki di rumah sakit.
Saat itu dia akhirnya tahu kalau orang yang mereka selamatkan bernama Haruki. Dia juga mengatakan tidak ingat apa yang terjadi padanya hingga pingsan di depan rumah Ai kemudian Haruki juga memberitahunya bahwa dia tidak mengingat asalnya dari mana atau rumahnya dimana.
Ai segera memberitahu Shiro dan Yuki tentang kondisi Haruki, mereka memutuskan untuk mengajak Haruki tinggal bersama mereka di rumah yang hampir selesai mereka bangun, yang sekarang menjadi markas organisasi mereka.
Ai dan Haruki menjadi sahabat setelah mereka sering berinteraksi bersama. Ai juga orang yang pertama kali mengetahui tentang perasaan Haruki kepada Shiro. Dia selalu mendukung Haruki, tetapi Haru mengatakan bahwa dia tidak bisa melangkah lebih jauh tentang hubungannya. Karena dia merasa Yuki tidak menyukai kalau ada orang yang dekat dengan Shiro.
Ai dan Haruki segera sampai di taman yang sering mereka kunjungi saat memiliki waktu luang. Ai mengajak Haruki duduk di tempat favorit mereka.
"Haru, kenapa?" tanya Ai.
"Aku sudah mengatakannya kan Ai, aku punya firasat buruk tentang hal ini!" jawab Haruki frustasi.
"Ceritakan padaku apa yang kamu pikirkan."
"Kamu tahu, jika aku memiliki firasat yang buruk, pasti sesuatu itu menjadi kenyataan. Aku merasa hal buruk akan terjadi jika Shiro dan Yuki benar-benar ingin menembus sistem keamanan Harmonics. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak mau mereka melakukannya."
"Haru, kamu pasti tahu, jika mereka tidak melakukannya, Harmonics akan mengganggu kita lagi. Apakah kamu tidak lelah dengan gangguan mereka?"
Ai berusaha membujuk Haruki agar menyetujui rencana Shiro dan Yuki. Disisi lain dia juga menyetujui Haruki, tetapi untuk situasi saat ini, menurutnya rencana kakak beradik itu lebih baik untuk dilakukan.
Di sela-sela waktunya, Ai menghubungi Kurina yang masih di markas. Ai dan Kurina sudah sering melakukan ini, jika terjadi pertengkaran antara Are dan Haruki maka Ai bertugas menenangkan Haruki, sedangkan Kurina harus menenangkan Are.
__ADS_1
Kurina memberitahu Ai bahwa Are sudah tidak terlalu marah sekarang. Haruki juga sudah lebih baik mengatur emosinya. Sehingga sudah waktunya Ai dan Haruki pulang. Mereka harus memasak untuk makan malam nanti.