
Martin berpikir dia akan segera mati. Tetapi dia merasa dia belum mati. Goresan di tenggorokannya masih terasa perih, namun tidak terlalu menyakitkan.
Perlahan dia membuka matanya, pandangannya masih terlihat buram. Martin berusaha memfokuskan matanya dan melihat sekeliling.
Dia berada di ruangan yang sangat gelap dan duduk di lantai. Tangan dan kakinya diikat dengan rantai yang sangat kuat, dia mulai menyadari bahwa pergelangan tangan dan kakinya terasa perih menyakitkan.
Martin ingin meminta tolong, tapi mulutnya sudah disumpal sehingga hanya suara tidak jelas yang bisa keluar.
'Dimana ini?!' Batinnya ketakutan sambil menarik tangannya berusaha melepaskan rantai yang mengikatnya.
Sebuah benda berwarna perak meluncur dengan cepat ke arah Martin, membuatnya terkejut dan membeku. Tapi benda itu menancap erat di dinding belakang Martin, nyaris mengenai wajahnya.
Pria itu seketika menjadi gemetaran di tempatnya, terlalu takut bergerak maupun bersuara.
Suara sepasang sepatu bergema di ruangan itu. Kemudian langkah kaki itu berhenti, menyalakan saklar lampu di salah satu dinding.
Lampu kuning di tengah ruangan menyala sedikit redup. Martin melihat seorang laki-laki berdiri di dekat saklar lampu. Laki-laki itu mengenakan mantel hitam dan sebuah topeng hitam yang menutupi dahi sampai hidungnya.
Melihat penampilannya saja sudah membuat Martin merasa ngeri. Tapi dia masih tidak berani bersuara.
"Sudah bangun rupanya. Bagaimana rasanya?" Tanya lelaki itu sambil berjalan perlahan ke arah Martin.
"Tidak menjawab? Apakah mati itu menyakitkan?" Lanjutnya.
Dari dekat, Martin melihat lelaki itu masih sangat muda meskipun tertutup topeng. Matanya memiliki warna yang berbeda, merah dan ungu. Martin tidak berani melihatnya, hanya mengintip sedikit dan langsung menundukkan wajahnya lagi.
"Ah, aku lupa kalau mulut busuk mu sudah aku sumpal." Kata Yuki sambil tertawa mengejek.
"Aku ingin membunuhmu, tapi sepertinya aku harus menyiksamu terlebih dahulu." Kata Yuki ringan.
Martin yang mendengarnya terlonjak kaget, suara gemerincing rantai mengikuti membuatnya hampir menangis.
"Sebelum itu, jawab dulu pertanyaan ku."
Pemuda itu mengeluarkan pisau perak dan mengulurkan pisaunya. Ujung scalpel menyentuh bawah dagu Martin, memberikan sensasi dingin mencekam. perlahan Yuki mengangkat dagu Martin dengan scalpel.
"Apakah benar Dr. Ichidai yang sudah memerintahkan mu melakukan tindakan keji itu?!"
Sekali lagi, Martin terkejut.
'Apakah dia orang dari desa pinggiran?! Tidak…Tidak mungkin! Pasti dia orang yang dimaksud Dr. Ichidai itu!' Batinnya dipenuhi pertanyaan dan keterkejutan.
Martin menggelengkan kepalanya, dia sudah berjanji kepada atasannya itu, dia tidak akan membocorkan bahwa atasannya sudah memberi perintah kepadanya untuk meracuni warga pinggiran.
"Oh, tidak mau mengaku rupanya... Atau terlalu setia sampai rela mati demi orang serakah itu?!" Yuki sangat marah.
'Jika aku mengatakannya, keluargaku akan dibunuh oleh Dr. Ichidai. Tentu saja aku tidak ingin mengatakannya.' Jawabnya dalam hati masih ketakutan.
"Baiklah, aku akan menjemput istri dan anak kembar mu itu. Biarkan mereka meminum racun itu juga. Kita lihat bagaimana reaksi mu setelah itu."
Setelah mengatakannya, Yuki segera berbalik dan berjalan ke arah pintu.
Pupil mata pria itu melebar setelah mendengar ancaman Yuki, Martin semakin ketakutan dan berusaha berteriak memanggil pemuda itu agar tidak mencelakai keluarganya.
__ADS_1
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, dia ingin berdiri tetapi tidak bisa, berusaha melepaskan rantai juga tidak berguna. Air mata panas mengalir deras. Martin putus asa.
'Jangan sakiti keluargaku! Bunuh saja aku!' Teriak batinnya putus asa.
Namun tidak ada yang bisa mendengarnya, pemuda itu sudah keluar dari ruangan. Martin hanya bisa menangis di sana.
Yuki benar-benar menjemput istri dan anak kembar Martin. Dia selalu melakukan apa yang dia katakan.
Marti sudah meracuni warga, dia benci dengan orang hina seperti itu. Menyiksa dan membunuhnya adalah hal terbaik. Membuatnya putus asa merupakan tujuan utamanya.
Yuki sudah mengetahui rumah Martin, dia segera mengambil mobilnya dan berkendara ke sana.
Martin masih dikurung di ruangan kosong itu, tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan keluarganya.
Bayangan masa lalunya dengan sang istri membanjiri pikiran Martin.
Martin dan istrinya sudah menikah selama sepuluh tahun, tetapi mereka tidak segera dikaruniai keturunan karena Martin memiliki masalah dengan kesuburannya.
Martin adalah seorang ilmuwan yang bekerja di laboratorium milik Dr. Ichidai. Suatu hari Dr. Ichidai berencana melakukan penelitian untuk membuat obat untuk orang yang tidak bisa memiliki keturunan.
Martin yang mengetahui rencana itu langsung mengajukan diri untuk menjadi bahan percobaan Dr. Ichidai.
Setelah berkali-kali melakukan percobaan, mereka akhirnya berhasil. Istri Martin akhirnya bisa hamil.
9 bulan lebih mereka menanti kelahiran anak pertama mereka, dan Martin akhirnya memiliki anak kembar, laki-laki dan perempuan beberapa bulan lalu.
Tentu saja dia sangat bahagia. Martin mengatakan kepada Dr. Ichidai akan melakukan apa pun sebagai ucapan terima kasihnya kepada atasannya itu.
Suatu malam, Dr. Ichidai memanggil Martin ke ruangannya. Dia meminta Martin menyebarkan racun ke sumur-sumur warga desa pinggiran.
Dr. Ichidai tidak menerima penolakan itu. Dia mengancam Martin, jika tidak melakukan perintahnya dan membocorkan rahasia itu kepada orang lain, istri dan anak kembar Martin akan dibunuh olehnya.
Karena itulah, dengan sangat terpaksa, pria itu melakukan tindakan keji kepada warga desa pinggiran.
Setelah kejadian itu, hampir setiap hari, Martin tidak bisa tidur dan mengalami mimpi buruk.
Kemarin sore, Martin ingin menemui atasannya, Dr. Ichidai untuk memberikan penawar kepada warga desa pinggiran. Saat dia akan berbelok menuju ruangan atasannya, dia mendengar Dr. Ichidai berbicara dengan seseorang di koridor melalui telepon genggamnya.
Dr. Ichidai berbicara dengan sopan dan hormat kepada orang di telfon. Martin belum pernah mendengar atasannya berbicara se-formal itu sebelumnya.
Dalam percakapannya, Martin hanya mendengar kalau dia sudah membereskan kakak pemuda itu.
Tetapi Martin tidak mengetahui apa maksudnya. Karena takut mengganggu, dia segera pergi dari tempat itu dan kembali ke ruangannya.
Namun setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia tidak bisa pulang, dan disekap di tempat menakutkan dan dingin seperti itu.
Martin memikirkan nasib keluarganya. Sampai tidak merasa haus dan lapar, padahal sudah dari kemarin sore dia belum makan dan minum sama sekali. Dia berencana makan saat sudah sampai di rumahnya di North City.
Hatinya terasa hancur. Dia berharap pemuda itu tidak benar-benar menyakiti anak-anak dan istrinya.
***
Shiro keluar dari kamarnya dan turun ke dapur untuk membuat makan siang.
__ADS_1
"Shiro, apakah kamu melihat Yuki?" Tanya Aki saat dia sudah sampai di ruang makan.
Shiro hanya menggeleng dan perlahan berjalan ke dapur.
Aki menyadari ada yang aneh dengan Shiro. tetapi sebelum sempat bertanya, suara pintu lift terbuka diikuti teriakan nyaring Ai.
"Aki... kamu dimana?" Tanya Ai.
"Kak Ai jangan berteriak! Aku di dapur." Teriak Aki.
Segera seseorang berlari menuju dapur diikuti suara langkah kaki yang lainnya.
"Baunya enak, sedang masak apa?" Tanya Ai saat memasuki ruang makan.
"Kenapa selalu saja teriak-teriak." Aki mengeluh dengan tingkah kakaknya.
"Eh, Shiro? Aku pikir kamu belum pulang atau sedang keluar... Aku tidak melihat mobilmu di garasi." Ai keheranan melihat Shiro di dapur juga.
"Maksud kakak apa sih? Shiro sudah pulang dari kemarin sore kok." Jawab Aki.
Sedangkan Shiro tidak menjawab dan hanya sibuk menyiapkan bubur untuk dirinya sendiri.
Anggota lain segera sampai di ruang makan. Haruki, Are dan Kurina duduk di ruang itu sambil mengobrol serius.
"Dimana Yuki?" Tanya Ai sambil menoleh ke kanan kiri.
"Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi. Aku pikir sedang di kamar Shiro seperti biasanya. tetapi dia juga tidak tahu dimana Yuki."
"Oh begitu..."
Ai segera membantu adiknya untuk membuat makan siang. Keduanya sudah beberapa hari tidak bertemu, tentu saja mereka saling merindukan satu sama lain.
Si kembar itu tidak menyadari Shiro yang badannya gemetar, dan wajahnya semakin pucat.
Haruki berdiri dan berjalan menuju lemari es di sebelah Shiro untuk mengambil air dingin.
Pemuda itu menyadari badan Shiro yang gemetaran, saat dia ingin menanyakan keadaan Shiro, gadis itu langsung terjatuh ke belakang.
Dengan sigap, Haruki menangkap badan Shiro agar kepalanya tidak membentur lantai.
"Shiro?!" Panggilnya panik.
...***...
...Gimana? Seru kan? Selanjutnya lebih seru lagi looo…...
...Jadi jangan lupa like, komen, dan klik love favoritnya yaaa......
...(ノ◕ヮ◕)ノ*.✧...
...Terima kasih dukungannyaaa...
__ADS_1
...***...