MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Tersenyum Kembali


__ADS_3

Keesokan harinya saat waktu sarapan tiba, Yuki turun ke dapur untuk memasak bersama kakaknya, karena seharusnya saat itu adalah giliran mereka yang memasak.


Dapur dan ruang makan sudah diramaikan oleh teman-teman Yuki, meskipun begitu, suasana yang ada tidak terlalu ceria.


Saat Yuki sudah sampai di ruang makan, semua yang ada di sana langsung menoleh ke arah Yuki, setelah sekian lama, akhirnya dia keluar.


“Yuki?” Kurina tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Yuki.


“Apakah keadaanmu sudah lebih baik?” Sahut Are sambil berjalan mendekati Yuki, mereka baru pertama kali melihat Yuki se kurus itu.


“Aku baik-baik saja, hari ini giliran aku dan kak Shiro yang memasak, tunggu sebentar.” Jawab Yuki ceria.


Semua orang yang mendengar kata-kata Yuki kembali dibuat kaget.


‘Bukankah Shiro belum ditemukan?’


‘Apa yang terjadi?’


‘Yuki sudah tidak waras?’


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di pikiran mereka, tapi tidak ada satu pun yang berani menyuarakan pikirannya.


Yuki dengan santai berjalan ke dapur, di sana sudah ada Ai dan Aki yang bersiap untuk memasak sarapan, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Ai bingung apakah Yuki masih menganggapnya Shiro, sedangkan Aki bingung dengan perkataan Yuki yang tidak masuk akal.


Tetapi keduanya melihat senyuman Yuki yang sudah lama tidak mereka lihat, Ai semakin bingung, dan Aki merasakan sakit di hatinya.


“Kak, kita masak apa hari ini?” Tanya Yuki ringan kepada Ai.


Seluruh ruangan menjadi gempar dengan pertanyaan Yuki. Hanya ada satu hal dalam benak mereka semua.


‘Apakah Yuki sudah gila?!’


“Kak, maksudnya apa?” Tanya Aki lirih kepada kakaknya, dia tidak mengerti apa yang terjadi, dia tidak mempercayai telinganya.


“Nanti aku ceritakan.” Jawab Ai.


“Kakak, kenapa bisik-bisik? Hari ini mau masak apa?” Tanya Yuki sekali lagi dengan bingung.


“Terserah Yuki ingin masak apa untuk sarapan. Mungkin makanan kesukaan Yuki?” Jawab Ai berusaha menutupi kegugupannya.


Dia tidak tahu berapa lama harus berusaha menjadi Shiro di depan Yuki. Tidak mungkin selamanya kan?


Yuki harus segera periksa ke psikiater. Pikiran Ai penuh dengan pertanyaan. Suasana dapur dan ruang makan menjadi hening.


‘Tok... Tok... Tok...!’


Ketukan dari pintu utama memecah keheningan di sekitar mereka. Meskipun suaranya tidak terlalu kencang, tetapi karena keadaan aneh itu, mereka bisa mendengar ketukan dari pintu utama.


Yuki merasa itu adalah hal yang aneh, jarang sekali ada yang mengetuk pintu mereka. Sehingga dengan cepat dia berjalan menuju pintu. Diikuti oleh teman-temannya yang lain.

__ADS_1


Pemuda itu segera membuka pintu dan mendapati halaman yang kosong. Melihat sekeliling dan tidak menemukan apapun aneh, Yuki menunduk.


Terkejut melihat sebuah kertas yang dilipat dengan rapi tergeletak di depan pintu rumahnya.


‘Apa ini?’ batinnya bertanya-tanya sambil membungkuk mengambil surat itu.


Lipatannya sangat rapi. Yuki mulai membuka surat itu dan kata pertama yang dia baca adalah nama kakaknya Shiro.


Seketika ingatan tentang kakaknya menyerbu dalam pikiran dan hatinya. Wajah kakaknya saat tersenyum, kenangan masa kecil mereka, dan semua hal yang sudah mereka lalui beberapa tahun sebelumnya.


Dia merasa kepalanya seperti ingin pecah, dia mencengkeram kepalanya dan meraung kesakitan.


“Yuki?!” Ai dan Aki berteriak karena mengkhawatirkan Yuki yang tiba-tiba kesakitan. Keduanya segera berlari untuk menenangkan Yuki.


“Ada apa dengan Yuki?” tanya Are yang ikut berlari dibelakang si kembar itu, diikuti Haruki dan Kurina.


Aki lebih dulu sampai di dekat Yuki dan segera memeluknya.


“Ada apa Yuki?! Kenapa tiba-tiba kamu kesakitan?” tanya Aki yang mulai menangis ketakutan.


“Shiro! Kak Shiro!!!” teriak pemuda itu sembari memberikan surat yang dia pegang kepada Aki, kepalanya masih terasa menyakitkan.


Aki segera menerima surat itu dan membacanya.


“Ada apa Aki? Apa isi surat itu?” tanya Ai.


“Shiro sudah ditemukan. Kak, lihat surat ini.” Aki menyerahkan surat itu kepada kakaknya dan memeluk Yuki semakin erat. Dia menangis bersama Yuki. Hatinya menjadi sedikit lebih lega.


 


...__________________________________...


...Shiro kakakmu ada pada kami....


...Datanglah ke pulau Niji. Sendirian....


...Kami menunggumu....


...__________________________________...


 


“Yuki, akhirnya kita menemukan Shiro.” Aki ingin menenangkan Yuki.


***


Butuh waktu beberapa menit agar Yuki benar-benar bisa kembali tenang. Ai merasa lega karena Yuki tidak mengingat apapun yang terjadi saat dia berhalusinasi.


Ai takut Yuki kecewa atau marah jika hal itu terjadi. Dia benar-benar bersyukur.


Mereka semua duduk di ruang tamu. Menunggu perintah Yuki.

__ADS_1


“Yuki, apakah kamu akan pergi kesana sendirian? Apakah kamu yakin?” tanya Haruki yang mulai gelisah.


“Mereka, entah siapapun itu, ingin aku datang sendirian. Aku bisa mengatasi segalanya sendirian. Aku yakin itu.” jawab Yuki yang sudah mulai tenang.


Keputusannya sudah sangat bulat. Dia harus segera menemui kakaknya.


“Tolong utamakan keselamatanmu Yuki. Kami yakin kamu bisa menghadapi siapapun mereka. Tapi, jika ada yang bisa kami bantu, tolong beritahu kami.” sahut Ai, dia sangat mengkhawatirkan Yuki dan Shiro.


Ai merasa kalau dia belum tahu siapa orang yang membawa Shiro, jika sesuatu yang buruk terjadi, dan ternyata itu adalah jebakan, maka situasinya akan menjadi lebih buruk.


“Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya, aku berjanji akan lebih berhati-hati.” kini giliran pemuda itu yang ingin menenangkan keluarganya.


Meskipun perkataan Yuki terlihat percaya diri, kelima anggota inti keluarganya itu tetap memperlihatkan ekspresi khawatir mereka.


“Kurina, kamu adalah yang paling tua setelah kakak, tolong jaga mereka semua dan markas selama aku pergi. Ai dan Aki, bantu aku mencari informasi tentang siapa pun yang mengirim surat ini."


"Haruki dan Are, pantau aku dari jauh, jangan mendekat, cari sesuatu yang mencurigakan di sekitar pulau itu.”


Dia tahu, kelima keluarganya sangat mengkhawatirkannya dan ingin ikut membantu Yuki. Karena itulah dia mulai membagi tugas kepada mereka. Dan itu berhasil membuat ekspresi mereka menjadi sedikit lebih cerah.


“Bagaimana? Apakah kalian bersedia?”


“Baik!” jawab kelimanya serentak.


Kelima orang itu langsung mengatur rencananya masing-masing, sedangkan Yuki menatap sepucuk surat yang dia pegang dengan erat sambil tersenyum lega.


Dan satu-satunya yang melihat momen itu adalah Aki yang duduk di sebelahnya. Melihat senyuman Yuki, yang sudah lama tidak dia lihat, Aki ikut tersenyum karenanya. Dia sangat merindukan Yuki kekasihnya.


Yuki tanpa sengaja menoleh ke arah Aki yang sedang melihatnya sambil tersenyum, keduanya saling memandang. Kerinduan tampak jelas dalam tatapan keduanya.


Pemuda itu belum mendekati Aki karena masih merasa bersalah dengan kakaknya. Dia berpikir, sebelum meminta maaf kepada Shiro, dia tidak berhak mendekati Aki.


Segera dia mengalihkan pandangannya kembali ke surat yang dia genggam erat.


“Aku akan berangkat sekarang.”


Kelima anggota inti Kirifuda mengangguk. Mereka harus segera menemukan kebenarannya.


“Aku akan menghubungi Kapten Ryu untuk segera mengirimkan helikopter kesini.” Kurina segera mengambil telfon genggamnya.


Yuki hanya mengangguk dan mengunggu kedatangan helikopter untuk membawanya ke pulau Niji.


 


...***...


...Lanjuuut… ->...


...(⁠人⁠*⁠´⁠∀⁠`⁠)⁠。⁠*゚⁠+...


...Semangat Yuki........

__ADS_1


...***...


__ADS_2