
Malam itu bulan terlihat indah dengan buntuk sabitnya. Bintang-bintang juga bersinar terang menemani sang bulan. Tetapi di malam yang damai itu tidak membuat tiga orang yang sedang duduk di dalam mobil hitam di pinggir jalan merasa damai juga.
Ketiga orang itu adalah Yuki, Kurina, dan Are. Mereka terlihat sedang memantau salah satu gedung kementerian yang tidak pernah mereka lirik sebelumnya.
Meskipun malam di ibu kota juga seramai siang hari, tetapi jalan-jalan di kompleks gedung kementerian terlihat cukup lengang saat ini. Kebanyakan mereka yang melintas adalah pegawai-pegawai kementerian atau orang-orang yang keluar masuk dari salah satu kompleks perumahan elit di dekat gedung kementerian.
Terdapat juga banyak mobil yang terparkir di kedua sisi jalan. Hal ini sudah biasa terjadi disekitar ibu kota karena lahan parkir yang sempit. Meskipun banyak mobil yang terparkir, tetapi masih terlihat rapi dan tidak mengganggu pengguna jalan lain. Karena itulah tidak mungkin ada yang akan mencurigai ketiganya.
"Kalian bisa mendengar suaraku?" tanya Shiro.
Dia masih di North City sekarang. Tetapi terhubung dengan markas di ibu kota.
"Kami mendengarmu." jawab Yuki.
"Kami bisa mendengarkanmu Shiro." jawab Ai.
Ai dan Aki sekarang juga memantau dan membantu ketiganya dari markas.
Disaat seperti ini Haruki tidak terlalu ikut campur dalam kegiatan seperti ini karena memang dia tidak memiliki keahlian seperti teman-temannya. Tetapi dia juga memiliki peran penting dalam mencari relasi, investigasi, dan beberapa hal penting lainnya. Dia juga orang yang penting dalam menjaga komunikasi antara warga desa pinggiran dan Kirifuda.
Sehingga disaat teman-temannya melakukan suatu misi seperti hari ini, dia akan menjaga orang yang ada di markas, karena Haruki juga memiliki keahlian dalam menggunakan senjata api. Sehingga dia bertugas melindungi orang-orang di dalam markas saat orang lain sedang keluar.
"Kita lakukan sesuai dengan rencana awal." kata Yuki sebelum mengajak Are dan Kurina bergerak.
Are dan Kurina selalu memiliki tugas sebagai pembersih, tetapi tugas keduanya juga berbeda. Are memiliki keahlian dalam seni beladiri seperti Yuki, tepapi dia juga tidak bisa menyamai tingkat Yuki saat ini. Dia selalu menjadi orang terkuat kedua setelah Yuki dalam hal fisik. Hal ini juga membuatnya memiliki indera yang cukup kuat seperti Yuki. Dia bisa merasakan kehadiran orang lain.
Sedangkan Kurina memiliki mata yang tajam, dengan matanya dia bisa melihat isi dari sesuatu, juga bisa melihat menembus gedung. Meskipun tidak secara harfiah, tetapi dia bisa merasakan adanya orang atau benda meskipun dihalangi oleh beberapa lapis dinding beton.
__ADS_1
"Kantor itu cukup sepi, hanya ada beberapa orang di setiap lantai. Untuk di lantai paling atas hanya target kita yang ada di dalam. Dia sendirian." kata Kurina memberitahu Yuki.
'Yuki, orang itu sudah kita temukan, berdasarkan kebiasaannya dia selalu pulang paling terakhir dan tidak mengizinkan orang lain untuk memasuki kantornya.' Yuki ingat kata kakaknya saat keduanya berhasil menemukan dalang dibalik rencana pembubaran organisasi.
Keduanya menghabiskan waktu seharian penuh di depan komputer canggih yang berada di kamar Dr. Yama untuk mencari akar masalah. Ternyata benar, jika keduanya bersatu, maka keduanya dengan cepat menyelesaikan masalah yang ada.
'Lalu apa rencanamu Yuki?' tanya Shiro setelah mereka berhasil menemukan orang itu.
'Aku tidak bisa memaafkan dia. Mungkin aku ingin menyiksa orang itu kak.' jawab Yuki enteng.
'Yah... Aku serahkan padamu. Aku ingin hidup damai disini.' kata gadis itu setelah mendengar jawaban Yuki. Dia sudah terbiasa mendengar rencana-rencana kejam adiknya. Bahkan Yuki sering menceritakan cara-cara menyiksa orang dengan kejam sebagai dongeng pengantar tidur Shiro.
"Ayo pergi."
Dengan ringan, ketiganya berhasil menyusup ke dalam gedung kementerian itu. Ketiganya tentu saja dibantu oleh si kembar dan Shiro.
"Dia sendirian." bisik Kurina.
Yuki dan Are hanya mengangguk karena keduanya juga merasakan hal yang sama dengan pengelihatan Kurina.
"Kalian bisa masuk sekarang." kata-kata Shiro segera terdengar.
Ai dan Aki sudah membantu gadis itu meretas dan memantau keadaan di dalam kantor itu.
'Klik'
Pintu kantor terbuka dengan suara yang sangat lirih. Are membuka pintu dan hanya berdiri di depan kantor. Dia tidak masuk mengikuti Yuki dan Kurina ke dalam kantor karena dia yang bertugas berjaga di luar.
__ADS_1
Sedangkan Yuki ingin menculik menteri itu seorang diri dan Kurina memiliki tugas untuk mencari harta atau berkas-berkas penting yang dimiliki oleh Niro, Menteri Kesehatan Blue Sky.
Niro sedang fokus di meja kerjanya hingga tidak mendengar orang-orang yang masuk.
Sebuah benda keras telah memukul Menteri Niro tepat di belakang kepalanya dan dalam sekejap pria itu pingsan tanpa tahu apa yang terjadi. Benda keras itu adalah tangan Yuki, dia telah memukul Niro dengan sangat keras hingga Are dan Kurina terkejut karenanya.
"Ah maaf, terlalu lemah dari yang aku harapkan." kata Yuki kepada kedua rekannya yang sedang menatapnya dengan terkejut.
"Yuki, kamu bisa membunuhnya jika sekeras itu." Shiro pertama kali memecah keheningan.
Setelah lepas dari keterkejutam mereka, Are dan Kurina segera melakukan tugasnya seperti rencana awal.
Ai dan Aki sedang mengobrol tentang kejadian barusan dengan Shiro. Hingga akhirnya Yuki melepas alat komunikasi dari telinganya karena merasa ketiga gadis itu sangat berisik.
Si kembar itu akhirnya bergosip tentang hal lain dengan Shiro. Terkadang Kurina ikut bergosip dengan mereka hingga Yuki menegur Kurina.
"Selesaikan tugasmu!" tegur Yuki tegas.
Bukan takut atau menyesal, Kurina hanya tertawa cekikikan. Dia sudah setengah jalan dalam menyelesaikan tugasnya meskipun gadis itu sedang berbisik dengan gadis-gadis lainnya melalui perangkat komunikasi.
Yuki yang melihat Kurina hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah. Dia tidak akan berhasil jika melawan gadis-gadis itu.
Are yang sedari tadi mendengarkan gosip-gosip para gadis juga ikut menikmati acara gosip jarak jauh itu. Sudah lama mereka tidak mengalami kedamaian mengobrol bersama seperti ini. Semenjak Yuki dan Shiro bertengkar, situasi di markas juga cukup murung. Jadi Are tahu alasan kenapa gadis-gadis itu sangat berisik sekarang.
"Sudah selesai." seru Kurina pada kedua pria di sekitarnya.
Are segera masuk ke dalam ruang kantor untuk membawa Niro, sedangkan Kurina sudah memasukkan semua yang dia temukan ke dalam liontin kubus.
__ADS_1
Ketiganya segera turun dan pergi membawa Menteri Kesehatan Niro yang masih pingsan.