MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST

MAFIA KIRIFUDA : TERROR FROM THE PAST
Saling Melindungi


__ADS_3

Melihat senyum jahil kakaknya, Yuki sangat malu dan langsung mengambil alat ‘Pelindung Ilusi’ dan membawanya keluar dari laboratorium untuk memasangnya di setiap sudut di sekitar rumahnya.


Karena tindakan adiknya yang kekanak-kanakan itu, Shiro hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Dia sudah mengunduh video itu di sistemnya, dan langsung mengirimkannya ke Ai.


Beberapa menit berlalu, Shiro melihat melalui notifikasi sistem, bahwa Yuki telah selesai memasang alat pelindung, dan segera mengaktifkannya melalui sistem di komputer laboratoriumnya.


Tanpa menunggu balasan dari Ai dan kedatangan Yuki ke laboratoriumnya, Shiro segera berdiri memakai mantelnya dan meninggalkan laboratoriumnya menuju tempat parkir di lantai pertama bawah tanah.


Shiro memilih mobil yang tidak terlalu mencolok yang dia miliki, dan langsung mengendarai salah satu mobil favoritnya menuju desa pinggiran.


Yuki baru saja masuk ke dalam rumah saat mendengar suara mobil kakaknya keluar dari tempat parkir bawah tanah.


Dia menebak Shiro ingin adiknya itu menyerahkan urusan warga desa kepadanya sehingga Yuki bisa lebih fokus menyelidiki pelaku yang meracuni warga.


Yuki turun menuju markas, dia melihat Aki terburu-buru keluar dari ruang komputernya.


“Kenapa sayang?” Tanya Yuki ringan.


“Sa… Sayang?” Gadis terlonjak kaget karena panggilan yang Yuki lontarkan kepadanya.


“Apakah ada yang salah?” Jawab pemuda di depannya sambil tersenyum lebar.


“Ah… Tidak, hanya sedikit terkejut.” Aki hanya belum terbiasa dengan panggilan itu.


“Apakah kamu sudah menemukan tentang informasi laboratorium itu?” Tanya Yuki mulai serius saat melihat tumpukan berkas yang dibawa gadisnya.


“Iya, aku sudah berhasil menemukannya, dan baru saja ingin mencari mu. Darimana saja kamu?”


“Kakak memintaku melakukan sesuatu tadi.” Jawabnya ringan, tetapi setelah mengingat pertanyaan kakaknya saat di laboratorium, wajah Yuki mulai kembali memerah.


“Yuki ada apa? Kenapa wajahmu memerah?” Aki sangat penasaran dengan reaksi tiba-tiba yang ditunjukkan pemuda itu.


“Tidak ada apa-apa. Mana hasilnya? Aku ingin mempelajarinya.” Dia terlalu malu mengatakannya.


“Apakah kamu yakin? Atau mungkinkah kamu sedang demam?” Tanya Aki sambil mengulurkan tangannya untuk memeriksa suhu badan Yuki.


“Aku tidak demam.” Jawabnya singkat sebelum tangan Aki sampai pada dahinya. Dia langsung mengambil berkas dari pelukan Aki dan masuk ke ruang komputer meninggalkan Aki berdiri di depan ruangan itu sendirian.


‘Kenapa Yuki? Apakah ada yang sedang dia sembunyikan?’ Batin gadis itu dipenuhi pertanyaan.


***


Dengan kecepatan yang sangat tinggi, dan lalu lintas yang sedikit lengang karena hujan salju, hanya butuh beberapa jam bagi Shiro untuk sampai di desa pinggiran.

__ADS_1


Setelah menghentikan mobilnya di depan aula, dia langsung mengeluarkan koper dari liontinnya, yang sudah dia siapkan dan berisi ribuan ampul serum yang sudah dia buat untuk warga.


Koper itu sangat besar dan cukup berat, untuk gadis bertubuh kecil seperti Shiro tentu saja membutuhkan sedikit usaha untuk mengangkat dan membawanya ke dalam aula.


Tepat saat dia akan mengangkat koper itu dari pangkuannya dan membuka pintu mobil, seseorang mengetuk kaca mobilnya. Orang itu adalah Haruki.


Haruki kebetulan sejak tadi berdiri tidak jauh dari mobil Shiro. Dia sebelumnya berniat mencari sedikit udara segar diantara dinginnya hujan salju untuk menghilangkan penatnya.


Saat pemuda itu bersiap untuk kembali ke aula, dia melihat kedatangan mobil Shiro dan mendekatinya.


“Haruki, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Tanya Shiro setelah membuka pintu.


“Kebetulan tadi sedang melepaskan sedikit penat, lalu aku melihat kedatangan mu.” Jawabnya sambil tersenyum ramah.


"Pasti kalian sangat lelah. Terima kasih atas kerja keras kalian beberapa hari ini." Kata Shiro.


“Tidak masalah, itu sudah menjadi tugas kami. Kenapa kamu tidak bersama Yuki?”


“Dia sibuk dengan tugasnya, lebih cepat jika kita membagi tugas kan… Ayo kita masuk bersama.” Ajak Shiro setelah turun dari mobilnya sambil menenteng koper.


“Biar aku yang bawa, pasti sangat berat.” Haruki menawarkan diri untuk membawa koper besar itu setelah menutup pintu mobil Shiro.


“Terima kasih…” Jawab Shiro sambil tersenyum sangat manis.


Keadaan aula itu masih sangat berantakan, beberapa api unggun masih menyala karena salju yang turun tanpa henti beberapa hari terakhir. Saat memasuki aula, Shiro langsung merasakan udara yang sedikit lebih hangat bercampur aroma samar kayu bakar, membuatnya menjadi lebih nyaman.


Shiro selalu memakai pakaian berwarna putih ke mana pun dia pergi, bisa dibilang, isi lemari pakaiannya penuh dengan warna putih. Ditambah dengan rambutnya yang se putih salju dan kulitnya yang sangat putih sedikit kemerahan membuatnya selalu menarik perhatian.


Seluruh anggotanya melihat kedatangan Shiro dan merasa lega, begitu juga dengan para pasien dan keluarga di sekitarnya, wajah-wajah mereka mulai dipenuhi senyuman seperti bunga yang bermekaran di musim semi.


“Komandan!” Sapa para bawahan saat Shiro berjalan melewati mereka, Shiro langsung membalas sapaan itu dengan anggukan dan senyuman yang selalu menggantung di bibir pinknya yang imut.


Mendengar keributan dari pintu masuk, kedua Kepala Desa, Kapten Ryu dan Anggota Inti Kirifuda bergegas mendatangi Shiro dan Haruki.


“Kepala Saudi, Kepala Doni, bagaimana kabar kalian?” Sapa Shiro ramah saat kedua Kepala Desa sudah cukup dekat dengannya.


“Kami, baik-baik saja. Syukurlah Shiro sudah datang.” Jawab Kepala Saudi tersenyum cerah.


“Maaf, saya baru berhasil menemukan penawarnya. Sekarang sudah siap, kita bisa segera memberikannya kepada warga yang sakit.” Shiro sedikit menyesal karena dia merasa terlambat menemukan serum penawar.


“Tidak, tidak! Bahkan kami tidak menyangka akan secepat ini, kami pikir masih beberapa hari lagi sampai serum penawar itu bisa ditemukan.” Kepala Doni terburu-buru menjawab Shiro dengan jujur.


Jawaban itu membuat suasana hati gadis itu menjadi sedikit lebih baik.

__ADS_1


“Kapten Ryu dan yang lainnya, segera berikan serum ini. Semoga besok keadaan warga bisa menjadi lebih baik.” Kata Shiro sambil menunjuk koper yang dibawa Haruki.


“Siap!” Tanpa menunggu lama, semua bawahannya bergegas melakukan tugasnya, menyisakan Kepala Saudi, Kepala Doni dan juga Shiro di dekat pintu masuk aula.


“Kepala Saudi, Kepala Doni, maaf sebelumnya. Bagaimana jika kalian semua menyusul yang lain ke pulau Zectter? Karena kan sumur-sumur di sini sudah tercemar, kami tidak tahu bagaimana membersihkan racun itu dari sana. Jadi menurut saya, lebih baik jika semuanya direlokasi juga.”


“Ah…! Sejujurnya, kami juga ingin mengatakan ini kepadamu Shiro. Tapi kalian sudah terlalu sering membantu kami, sehingga kami bingung bagaimana cara mengatakannya.” Sahut Kepala Saudi dengan perasaan malu dan senang bercampur menjadi satu.


“Benar. Kami sebenarnya sudah lama ingin meminta tolong kepadamu untuk mengantar kami ke pulau Zectter, kami sudah tidak ingin berada di sini lagi. Tidak ada yang menginginkan kami di sini.” Kepala Doni menjelaskan isi hatinya, tanpa sengaja membuat ekspresi sedih dan putus asa terpampang nyata dari wajahnya.


Melihat kesedihan itu, Shiro sedikit mengalihkan pandangannya. Dia selalu merasa tidak tega jika ada yang seperti itu di depannya, namun yang didapatnya adalah ekspresi sedih warga lain di sekitarnya. Mereka juga mendengarkan percakapan ketiganya.


Tetapi menyadari pandangan Shiro kepada mereka, semuanya langsung berusaha memperbaiki ekspresinya karena tidak ingin gadis itu terluka. Warga pinggiran sudah menganggap Shiro dan Yuki seperti keluarganya juga.


“Kami akan mengirimkan helikopter lusa. Warga yang masih sehat akan berangkat terlebih dahulu. Mungkin butuh waktu 1-2 minggu untuk merelokasi semuanya. Warga harus segera bersiap.” Shiro berusaha menenangkan semua orang.


“Terima kasih banyak Shiro.”


“Terima kasih banyak Kak.”


Beberapa orang di sekitarnya berterima kasih dengan sangat tulus kepada Shiro, air mata yang hangat tidak sengaja mengalir dari sudut mata sebagian besar warga.


Suka cita bercampur haru menjadi satu, seketika suasana menjadi sedikit mendung karena perasaan campur aduk yang ada di dalam hati semua orang.


Kapten Ryu yang berdiri tidak jauh dari Shiro juga mendengar keputusan Komandannya itu.


‘Ini yang selalu membuat ku bangga menjadi bagian dari Kirifuda. Aku sudah memilih jalan yang benar, dan aku berjanji kepada Tuhan akan selalu melindungi kedua kakak beradik itu dengan nyawaku.’ Batin Kapten Ryu penuh tekad.


“Terima kasih banyak. Kami tidak akan pernah melupakan kebaikanmu yang tak terhitung jumlahnya kepada kami. Terima kasih banyak.” Seru Kepala Saudi penuh syukur diikuti anggukan Kepala Doni.


“Sudah menjadi tugas keluarga untuk saling melindungi kan. Jadi tidak perlu berterima kasih, aku dan adikku selalu senang melakukannya.” Jawab Shiro sambil tersenyum indah seperti malaikat.


Haruki juga sejak tadi selalu berada di dekat Shiro, setelah mendengar kata-kata Shiro tentang keluarga membuat hatinya sedikit sakit, tapi juga menyetujui pendapat Shiro. Pemuda itu berdiri melamun dan merindukan keluarganya.


...**********...


...Dikarenakan Shirooo ada sedikit kesibukan, jadi sedikit telat update....


...Sebagai permintaan maaf, tunggu Crazy Up Shirooo besok yaaa......


...Jangan lupa like, komen, dan klik love favoritnya... ^_^...


...Terima kasih dukungannyaaa...

__ADS_1


...**********...


__ADS_2