
Dia berlari keluar dari ruangan kakaknya menuju suster yang sedang berjaga.
“Tolong cari tahu keberadaan kakakku, jika ada informasi lebih lanjut tentang keberadaan kakakku, langsung hubungi aku.”
“Baik, kami akan selalu memberi anda informasi terbaru dari kami.” Jawab perawat itu.
Yuki mengangguk dan segera berlari pergi, menuju lift kemudian tempat parkir bawah tanah dan kembali ke markasnya.
Karena jaraknya dengan markas lebih dekat, dia lebih cepat sampai daripada Ai.
Yuki tidak menunggu waktu lama, dia langsung mencari keberadaan kakaknya di seluruh rumah bahkan sampai ke ruang rahasia mereka, tetapi hasilnya nihil.
Dia tidak menemukan kakaknya, bahkan saat membuka beberapa lemari pakaian kakaknya, dia merasa pakaian kakaknya banyak yang berkurang.
Saat masuk ke laboratorium, beberapa barangnya juga hilang. Barang-barang yang hilang adalah barang paling penting yang dimiliki kakaknya.
Terkejut dan tidak percaya adalah apa yang ada dalam hati Yuki.
‘Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa yang terjadi pada kak Shiro?’ Yuki benar benar tidak mengerti.
Dia segera masuk ke ruang komputer milik Ai dan Aki di markas bawah tanah.
Beberapa saat setelahnya, Ai segera masuk dengan terburu-buru ke ruang komputer itu, dan mendapati Yuki duduk di tempat milik Aki baru akan menyalakan komputernya.
“Yuki, apa yang terjadi?!” Tanya Ai dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Dia terburu-buru kembali ke markas dan segera berlari menuju ruang komputer dari garasi.
“Kakak menghilang.” Yuki masih tidak ingin mempercayai kata-katanya sendiri. Dia tidak percaya kakaknya hilang begitu saja.
“Apa maksudmu?! Tidak mungkin Shiro hilang.” Ai juga masih tidak mempercayai perkataan Yuki.
“Bantu aku mencari jejaknya. Beberapa barang-barangnya juga hilang.”
Ai terperanjat dengan informasi yang Yuki berikan.
‘Bagaimana mungkin bisa seperti itu?’ Batin Ai bertanya-tanya.
“Aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini. Aku tidak mengerti. Kakak tidak mungkin meninggalkanku seperti ini.”
Perasaan frustasi dan kemarahan mulai tumbuh di hati Yuki.
Matanya menjadi panas, dia berusaha tidak mempercayai semua ini. Berharap dia hanya bermimpi.
Dia percaya kakaknya tidak akan meninggalkannya.
Tanpa sadar, Yuki mengepalkan tangannya dengan erat. Urat nadi sampai terlihat jelas dari tangannya. Memori saat pertama kali bertemu dengan kakaknya mengalir deras.
...***...
__ADS_1
“Nona Shiro? Golongan darah anda sangat langka, kami tidak bisa membiarkan anda melakukan itu begitu saja. Bagaimana jika Paman anda mengetahuinya?” Seorang perawat di dekatnya khawatir dengan keadaan Shiro.
Kedua perawat itu terkejut karena Shiro tiba-tiba mengajukan diri untuk mendonorkan darahnya kepada Yuki. Keduanya sudah mengenal Shiro dari dia masih bayi. Karena ayah Shiro adalah pemilik rumah sakit itu dan beberapa rumah sakit lainnya.
Yuki kecil melihat anak perempuan berumur 9 tahun itu dengan seksama, dia adalah seorang anak perempuan dengan rambut dan kulit yang seputih salju, dengan mata biru cerah.
Kedua perawat di dekatnya tampak sangat khawatir. Yuki kecil belum memahami maksud mereka. Sehingga dia hanya diam dan memandang ketiga orang itu secara bergantian.
Shiro menggelengkan kepalanya, “Tidak masalah. Nyawa anak itu lebih penting daripada aku. Ayah sudah tiada, tinggal aku sendirian. Jadi tidak masalah kalau terjadi sesuatu padaku.” Jawabnya sambil tersenyum manis meskipun kata-katanya mengandung kesedihan yang mendalam.
Senyum tulus itu membuat Yuki tertegun. Seluruh tubuhnya menjadi lebih tenang dan hangat. Senyuman yang mengubah rasa sakitnya menjadi kehangatan yang nyaman.
“Tapi Nona...” salah satu perawat ingin membantah.
“Sudah, ambil saja darahku, segera lakukan operasi pada anak itu.” Sela Shiro tegar. “Namamu Yuki kan?” Lanjutnya sambil memandang Yuki kecil.
Yuki melihat senyuman Shiro tanpa sadar mengangguk.
“Tolong lakukan prosedurnya. Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja.” Kata Shiro kepada kedua perawat dengan masih tersenyum hangat.
“Baik...” Kedua perawat itu masih ragu, tetapi tetap menuruti permintaan Shiro. Mereka segera mencari dokter dan melakukan prosedurnya. Meninggalkan Shiro dan Yuki yang masih berbaring di tempat tidurnya masing-masing.
Setelah kedua perawat itu pergi, Shiro keluar dari selimut, dan mendatangi tempat tidur di sebelahnya.
Yuki baru pertama kali melihat Shiro secara utuh saat dia keluar dari selimutnya dan berjalan ke arahnya. Badan gadis itu penuh dengan luka goresan dan memar, seperti telah berguling diantara pecahan kaca.
Shiro mendekati Yuki dan segera memeluknya. Yuki sangat terkejut dengan perlakuan Shiro kepadanya.
“Jangan sadih, tetap semangat. Kamu sekarang memiliki ku. Kamu tidak sendirian. Kita akan selalu bersama selamanya.” Kata Shiro sambil mengelus rambut Yuki.
Yuki kecil masih terkejut dan tidak tahu harus menjawab apa, tetapi Shiro tidak menunggu jawabannya. Dia segera melanjutkan kalimatnya.
“Mulai sekarang, kamu adalah adikku.” Kata Shiro dengan ceria.
Pupil mata Yuki perlahan melebar, dia terkejut dengan pernyataan tiba-tiba itu.
Gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap Yuki dengan senyum hangatnya yang sangat cerah.
Sedangkan Yuki masih diliputi kebingungan dengan sikap Shiro yang tiba-tiba itu. Tetapi dia merasa bersyukur dan kehangatan mengalir di dalam hatinya.
...***...
“Maaf Yuki...” Ai masih berdiri di tempatnya tadi, memandang Yuki dengan cemas.
Yuki tersadar dari lamunannya, pipinya basah karena air mata hangat masih menetes dengan cepat dari pelupuk matanya.
Kakaknya adalah penolongnya. Seseorang yang membantunya melawati masa kelam itu, seseorang yang memiliki golongan darah langka yang sama, seorang gadis yang rela memberikan sebagian darahnya saat Yuki sedang sangat membutuhkannya.
__ADS_1
“Maaf, aku melamun.” Jawab Yuki sambil mengusap air matanya.
Ini adalah pertama kalinya bagi Ai melihat Yuki benar-benar sangat terluka dan rapuh.
“Tidak apa-apa Yuki. Jika kamu ingin menangis, luapkan saja kesedihan itu dalam air matamu. Kamu tidak perlu terlihat kuat di depan kami, di depanku.” Ai sudah menganggap Yuki seperti adiknya sendiri, seperti keluarga.
Dia segera memeluk Yuki untuk berbagi kesedihan bersama, berbagi duka bersama.
Yuki menangis dengan keras dalam pelukan Ai. Dia takut terjadi sesuatu pada kakaknya, dia takut tidak akan pernah bertemu dengan kakaknya lagi.
Dia benar-benar ketakutan. Setelah bertahun-tahun tidak merasakan perasaan itu, untuk pertama kalinya dia kembali merasa ketakutan lagi.
“Ai, aku takut kehilangan kak Shiro!” teriak Yuki di sela-sela tangisannya.
“Kita tidak akan kehilangan Shiro, kita pasti menemukannya. Kita pasti menemukan malaikat kita.” Jawab Ai berusaha menenangkan Yuki.
Yuki tidak bisa lagi membendung kesedihannya, tidak bisa menahan air mata yang sudah mengalir deras, tidak bisa menghentikan tangisannya.
Sejak tadi Aki berdiri di luar ruang komputer, Yuki tidak menyadarinya. Aki sangat terluka saat melihat Yuki seperti itu. Tetapi dia tidak berani mendekatinya dan menenangkan pemuda itu.
Aki masih merasa bersalah. Seharusnya saat itu dia meminta Yuki untuk menemani kakaknya. Seharusnya waktu itu Yuki tidak duduk berdua dengannya.
Dia berharap bisa bisa membalikkan waktu. Dia berharap dia bisa mencegah kejadian ini. Dia berharap Shiro tidak pernah mengalami kecelakaan dan menghilang seperti ini.
Tetapi dia sadar, dia hanya manusia biasa yang diberi Tuhan kecerdasan untuk membantu memperbaiki kehidupannya. Dia tidak bisa membalikkan waktu, dia tidak bisa melawan takdir Tuhan.
Aku hanya bisa bersandar dan menangis dalam diam, menyesali masa lalu.
Tetapi jika Shiro berada di sana, dia pasti tidak akan menyalahkan siapa pun. Tidak Aki, tidak juga Yuki. Tidak ada yang salah diantara mereka. Shiro selalu percaya bahwa, semua yang terjadi adalah takdir Tuhan.
Saat itu telfon genggam Yuki berdering, Yuki dan Ai sama-sama melepaskan pelukan mereka. Yuki melihat panggilan itu dari Liu Ao.
“Halo.” Yuki berusaha menutupi suaranya yang sedikit serak.
“Yuki, apakah kamu sudah menemukan Shiro?!” Suara serak Liu Ao terdengar sangat khawatir.
“Aku sudah mencarinya di rumah, dan tidak menemukan kakak dimana pun.” Jawab Yuki.
“Kami menemukan keanehan di CCTV rumah sakit. Kamu harus melihatnya. Aku akan mengirimkannya ke email mu.” Kata Liu Ao
...***...
...Lanjuuut… ->...
...(~‾▿‾)~...
...***...
__ADS_1