
Memang sejak kejadian mama membawa ku ke bandung itu , bude sering memarahiku di belakang pakde . Aku sangat takut jika aku di rumah namun pakde belum juga pulang .pasti ada aja yang bikin bude marah sama aku . Padahal aku sangat tau aku ngga ngelakuin apa-apa . Namun masih untung anak mereka mba ega yang waktu itu mengobati luka-luka ku . Dan membelaku bila bude memarahiku . Kadang juga mba ega melaporkan bude pada pakde . Namun tetap saja bude seperti sudah sangat beda .
“tilililit...tilililit telephone rumah bude berbunyi siang itu . Ngga usah pada komplen yah . Bunyi telephone kriiiing mah udah jadul . Biasanya aku yang selalu mengangkat telephone itu . Namun kali ini bude dengan cepatnya menyambar telephone itu . “ halo ? Iya .. Iya .. Oh ngga ada .. Iya ..” . “Siapa bude ?” tanya ku . Bude hanya menjawab kalau itu teman pakde yang mencarinya . Sedangkan seperti biasa pakde dan mba ega sedang latihan badminton . Mba ega sudah memenangkan banyak sekali kejuaraan badminton . Sedangkan pakde selain sebagai kepala sekolah, dia juga pelatih badminton di kota itu .
__ADS_1
Ke esokannya telephone kembali berbunyi , “halo.. Les .. Iya sekarang banyak les , badminton, banyak kegiatan . Nanti lagi ya” aku kemali bertanya . Siapa bude . Bude menjawab kalau itu temennya mba ega . Semakin aneh karena telephone sering masuk di siang hari di jam yang sama . Tapi mencari pakde dan mba ega yang jelas-jelas pasti badminton. Sampai bude sangat melarangku untuk tidak mengangkat telephone disaat bude nggak ada . Ya aku hanya menurut saja . Hanya iya-iya apa yang di katakan bude .
Sampai suatu ketika . Rumah sedang sepi . Aku di tinggal d rumah sendiri . Bude pergi karena ada penataran sedangkan pembantu bude yang saat itu sedang hamil muda juga pergi untuk memeriksa kandungannya . Telephone kembali berbunyi . Aku benar tidak mengangkatnya . Siapa tau juga itu bude yang hanya mengetes ku . Setelah mati , telephon kembali berbunyi . Aku masih tidak mengangkatnya . Hanya saja suaranya sangat berisik sekali . Akhirnya telephone pun mati . Tak selang beberapa menit , telephone kembali menyala . Aku sangat kesal karena suaranya benar-benar berisik .
__ADS_1
Mamah pun cerita kalau ayah saat membawaku kesana , ngga pamitan sama mamah . Akhirnya mamah hanya mengatakan kalau aku sementara harus sabar dulu sampai mamah punya rumah . Kalau sudah, mamah berjanji akan menjemputku . Dan mamah juga berpesan agar aku ikut bantu bersih-bersih rumah . Aku hanya menjawab kalau ada pembantu disini . Mamah ga mau tau katanya aku harus bisa cuci piring dan menyapu juga . setelah telephone tertutup , aku bergegas berlari ke arah wastafel dapur dan mengambil dingklik (kursi kecil) dan berdiri di atasnya , sambil mencuci piring .
Aku juga bingung kenapa bude bohong kalau ternyata yang telephone itu mamah ku ? Saat itu aku berfikir kalau bude jahat . Dan ada niat yang jahat . Aku akan sedikit demi sedikit menjauhkan diri dari bude yang waktu itu aku panggil ibu . Selesai mencuci piring . Aku turun dari dingklik . Dan berniat untuk mengambil sapu untuk menyapu . Namun alangkah kagetnya , pembantu sudah ada di samping kamar mandi . Sejak kapan ia disana ?
__ADS_1