
Mamah menyuruhku untuk diam dulu di rumah bos agar tidak mengganggu mamah . Aku sangat ingat betul jalan arah rumah bos yang terletak di belakang kantor . Hanya saja aku malu sekarang . Mamah membentakku di depan teman kantornya . Aku hanya diam karena malu . Sampai bos datang karena suara mamah yang sangat keras . “ada apa?” tanya bos yang sudah lumayan bisa berbahasa indonesia itu . Bos kaget melihatku . Tersenyum dan menarik tanganku . Dia akan mengantarku ke ruang keluarga sambil menonton televisi sampai jam istirahat mamah .
__ADS_1
Dan aku menarik tangan ku dan mengatakan kalau aku takut dengan anjing-anjing yang mengerumuniku saat aku kecil dulu . Bos bilang , semua sudah di sumbangkan . Karena istrinya sudah meninggal . Aku akhirnya mau untuk ikut . Namun saat baru sampai teras rumah bos , tepat lurus di depan pintu masuknya ada yang menggonggong . Menggonggong sangat keras , seakan melihat kalau aku adalah ancaman baginya . Aku sangat kaget sampai melompat . Karena ini suaranya benar sangat keras sampai menggema , benar saja ketika aku menoleh , ada kandang anjing besar . Sangat besar . Ada anjing raksasa . Sungguh seperti melihat singa jantan .
__ADS_1
Aku memeluk kaki kanan bos sangat erat , semakin erat ketika anjing itu mulai menggonggong lagi . “lili kenapa ya buat saya kaki ini sakit ?” yah seperti itu lah bos mamah kalau bicara suka di bolak-balik . Tapi aku tetap mengerti apa yang di utarakannya . “ayo-ayo sini ini dianya juga mau bertemu . Ini dia nya tidak pernah menggonggong begitu . Lihat lili dia nya mau ketemu”. Kata bos sampai menarik tangan ku mendekati kandang . Gila aja nih . Mau bunuh aku nih .. Gumamku dalam hati . Aku menarik kuat taganku dari genggaman bos , dan berlari menjauhi kandang itu .
__ADS_1
Setelah turun dari angkutan umum , seperti biasa kita musti jalan dari komplek bawah ke komplek atas . Karena jalannya yang naik , di pertengahan jalan aku sangat kelelahan . Tapi aku ngga berani bilang ke mamah . Yang ada malah aku di marahi lagi di depan umum . “lili capek . Yuk gendong belakang” . Hah ? Mamah ku menawarkan punggungnya ? . Kadang aku sendiri juga bingung kadang mamah galak , kadang mamah baik . Tapi aku lebih senang saat mamah ku yang saat aku kecil ini . yang terkadang masih baik dan tersenyum.
__ADS_1
Aku naik ke punggungnya , sangat jauh mamah menggendongku . Ketika tanjakan semakin tajam aku mendengar nafas mamah terengah-engah . “udah mah . Aku nggak capek . Aku turun aja” . Percaya atau nggak , sampai sekarang mamah masih mengingat kejadian itu . Hanya saja mamah lupa kalau saat itu aku yang di gendongnya bukan Nova. Mungkin mamah ga bisa lupa kejadian itu karena seorang anak kecil yang sudah peduli melihat orang tua nya kelelahan menggendongnya . Anak normal umumnya ngga akan peduli ibunya lelah atau apa . Aku juga nggak tau kenapa aku begitu . Mungkin karena dari kecil aku di besarkan oleh lingkup yang berbeda-beda . Menjadi adrenalin juga untuk mental dan psikis ku . Dan aku sedari kecil menjadi anak yang SENSITIF . Orang tua ku sendiri tak tau itu sampai sekarang .
__ADS_1