
Dua Minggu berlalu, eunha merasa dua Minggu itu selama dua tahun dan akhirnya ia menghadapi hari terakhir itu.
Dia berjalan meninggalkan kampusnya, perlahan-lahan semua juga ikut keluar dari situ karena sudah menyelesaikan ujiannya.
Momo pulang lebih awal dari eunha, sedang kan mina tidak kuliah karena ujiannya baru saja selesai sehari yang lalu.
Eunha berjalan, menunggu di parkirkan berharap joshua keluar lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Saat menunggu eunha melihat seorang laki-laki mendekat ke arahnya, laki-laki itu tak lain adalah sungyoon.
Jantungnya berdegup kencang, darahnya serasa berhenti mengalir, tubuhnya terasa membeku, bagaimana tidak? Di tangannya terdapat cutter yang tajam.
Dia tersenyum menyeringai kepada eunha lalu mengeluarkan isi cutter itu.
"S-sungyoon" ucap eunha ketakutan
"Kenapa kau ketakutan?" Tanya sungyoon
Dia menghadap kesamping kemudian menusuk cutter itu ke mobil.
"Ada stiker yang susah di lepaskan, mobil ku jadi jelek jika stiker itu menempel" ucapnya
Ternyata eunha salah mengira, dia kira sungyoon akan menusuk perutnya dengan pisau cutter itu.
"Kau pacar joshua kan?" Tanya alena yang baru saja datang
Eunha hanya diam, menatap alena dengan tatapan datar.
"Sombong sekali, kau tak cocok dengan joshua"
"Kau sendiri?! Memangnya cocok dengannya?!" Marah eunha
Alena terkejut mendengar perkataan eunha, ia melayangkan tamparannya.
Plak
"ALENA! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Bentak sungyoon
"Menamparnya" ucap alena
Eunha memegangi pipinya, ia tak tahan dengan prilaku alena kepadanya.
"Dasar kau!!" Marah eunha
Dia menarik rambut alena, dan terjadilah pertengkaran antar perempuan.
"Sudah!" ucap sungyoon
Dia binggung harus bagaimana memisahkan mereka.
Joshua datang dengan beberapa roti di tangannya, tapi roti-roti itu jatuh ketika melihat eunha dan alena yang bertengkar serta sungyoon yang berusaha memisahkan mereka.
"Hei alena! Lepaskan eunha!" Marah joshua
Mereka terus saja bertengkar tanpa sadar, sungyoon dan joshua juga ikut menjadi korban.
"SUDAH HENTIKAN!" Teriak joshua
Eunha dan alena berhenti bertengkar setelah mendengar teriakkan joshua.
"Joshua! Pacar mu yang memulainya" ujar alena
"Apa?! Kau yang dulu menampar ku!"
"Sudahlah!! Alena ayo pulang!" Marah sungyoon
__ADS_1
Dia menarik alena dengan paksa lalu mengajaknya pulang.
"Dasar wanita gila" gumam eunha
"Kau sendiri kenapa menjambaknya?!"
"Jadi kau menyalahkan ku?!"
"Seharusnya kau mengalah!"
"Apa?! Jadi kau membelanya?! Kau jahat Joshua!" Jerit eunha
Dia menangis lalu masuk kedalam mobil.
Joshua menggelengkan kepalanya pelan, menggaruk tengkuknya yang terasa gatal.
Sebelum masuk kedalam mobilnya, joshua memunguti roti yang berjatuhan tadi.
___
"Kau marah eun?" Tanya joshua sembari terus mengemudikan mobilnya
Eunha hanya diam, berpura-pura tidur dengan nyenyak, padahal joshua tahu dia sedang berpura-pura.
"Eun.." panggil joshua
"Maafkan aku" lanjutnya lagi
"Eung.." desis eunha yang masih tertidur.
Joshua menghela nafasnya panjang, dia mengemudikan mobilnya cepat.
Sesampai di rumah, bibinya sudah mempersiapkan baju mereka dan membuat makan siang sebelum mereka pulang ke seoul.
"Sebenarnya apa tujuan mu?"
"Apa?!"
Joshua mengendong eunha masuk, di sambut dengan bibinya di halaman.
"Ada apa dengan eunha?!" Tanya bibi itu panik
Joshua tertawa lalu menjawab "dia berpura-pura tertidur lalu benar-benar tertidur"
"Kalian ini lucu sekali" tawa bibinya
Joshua membaringkan eunha di kamarnya, dengan bibinya yang membuntuti dari belakang.
"Jam berapa kalian akan pergi?" Tanya bibinya
"Seusai jam makan siang" jawab joshua
"Syukurlah, bibi sudah menyiapkan kalian makan" senang bibinya
Mereka berdua turun keruang tamu.
Dua puluh menit kemudian, setelah eunha merasa tidurnya cukup, dia terbangun dan turun ke bawah.
Setelah sampai di bawah, ia melihat joshua yang sedang berbincang dengan bibinya.
Eunha datang lalu memeluk bibi itu.
Selama di situ eunha selalu di manjakan dengan bibi joshua, bibi joshua tak mempunyai anak, jadi dia sangat sayang kepada eunha mau pun joshua.
"Dari mana roti ini?" Tanya eunha
__ADS_1
Dia melihat banyak roti yang berserakan di atas meja, ada juga beberapa bungkus roti yang sudah terbuka.
"Tentu saja dari penggemar ku" canda joshua
Eunha menjulurkan lidahnya mengejek joshua yang memuji dirinya sendiri.
"Aku ini sangat populer di kampus jadi wajar saja mereka memberikan hadiah kepada ku seusai ujian" cengirnya
Eunha hanya mengangguk malas lalu memakan satu bungkus roti.
'tunggu? Aku tadikan marah' -eunha
"Eunha, makanlah sebentar lagi jam keberangkatan kalian"
"Iya bibi"
Mereka semua berjalan kedapur lalu makan siang bersama.
*Bandara
Eunha memegang kopernya berjalan mendekati joshua dan bibinya.
"Kau sudah siap?" Tanya joshua
Eunha mengangguk lalu memeluk bibi itu erat.
Bibi joshua menangis rasanya ia kehilangan anaknya sendiri.
"Bibi, aku dan Joshua akan pulang lagi" senyum eunha
"Jika kalian sudah sampai di sana..jangan lupa memberi tahu bibi"
Dia membelai rambut eunha dan joshua lembut.
"Bibi..aku pulang"
Sebelum pergi, mereka menundukkan kepalanya pada bibi tua itu.
"Huh.. sampai jumpa lagi Amerika" gumam eunha
"Ayo" Joshua menarik lengan eunha
Pesawat mareka terbang bersamaan dengan bergeraknya awan.
"Eunha bangun!" Joshua menyiram eunha dengan air dingin
"Joshua!" Marah eunha
'dimana ini?!' batin eunha
"Aku sedang bermimpi ya?!" Teriak eunha
Joshua tertawa lalu membuka jendela kamar agar cahaya matahari masuk.
"Pagi?! Jadi aku benar-benar sedang bermimpi?! Jadi kita masih berada di rumah mu?!" Teriaknya
Joshua tertawa dengan ekspresi bingungnya sambil melihat handphonenya.
"Ayo kuliah" ajak Joshua
"APA?! JADI BENAR!! SELAMA INI AKU HANYA BERMIMPI?!!"
"TIDAKKKK! AKU MAU PULANG" rengek eunha
"Hei! Ada apa dengan mu" tanya joshua
__ADS_1
Eunha menangis sejadinya-jadinya, ia bahkan mengacak-acak sprei kasurnya.
Joshua tak sanggup menahan tawanya, melihat eunha yang bersikap seperti orang gila.