
Arjuna membantu Davina turun dari atas kuda, Arjuna dan Davina sambil menuntun kuda berjalan ke arah sungai. Aliran yang tidak terlalu deras dan tidak terlalu dalam.
Davina langsung naik di atas bebatuan, Arjuna menali kuda di sebuah pohon agar tidak lepas.
"Disini ini biasa saya sama Robinson main." ucap Davina.
"Siapa Robinson?" tanya Arjuna penasaran.
"Tuh yang dekat pohon." jawab Davina sambil menunjuk ke arah pohon.
"Mana sih?" tanya Arjuna sambil menoleh ke kanan dan kiri.
"Itu kuda, namanya Robinson." jawab Davina.
"Oh kirain Robinson siapa."ucap Arjuna.
" Memang di kira siapa? pacar saya gitu!" ucap Davina.
"Ya kali." ucap Arjuna.
"Kamu kata siapa , saya ada disini?" tanya Davina.
"Kata Mami kamu." jawab Arjuna.
"Hah.. Mami? memangnya Mami kapan ketemu sama kamu?"
"Kamu tanya?" ucap Arjuna.
"Iyeeee saya tanya, kapan ketemu sama Mami?"
"Kapan ya?" ucap Arjuna sambil berpikir.
"Ih... nyebelin, tanya baik - baik malah jawabnya begitu." ucap Davina dengan wajah cemberut.
"Hahahaha.., Mami kamu datang ke Batalyon dia cerita banyak tentang kamu.Dan kamu harus tahu, kalau Mami kamu itu dukung kita satu juta persen bukan seribu persen lagi." ucap Arjuna.
"Sok pede ih.. Mami saya itu datang ke kamu, bukan buat dukungan tapi buat lihat bagaimana wajah pria yang ngejar anak gadisnya."
"Kan sudah tahu, kata Mami saya ganteng."
__ADS_1
"Ih.. geer banget."
"Davina, kamu kenapa sih? kok saya di tolak. Tapi saya yakin kamu itu, sebenarnya itu memang suka sama saya juga."
"Ih.. kenapa sih kamu itu bisanya suka nge halu, kapan nggak pede gitu kalau ngomong."
"Iya saya itu suka nge halu, saya itu kepedean tapi orangnya itu tepat banget, kalau saya itu suka sama dia, dan aslinya dia suka tapi tidak mau mengakui."
"Iya... terserah lah." ucap Davina sambil turun dari atas batu.
Saat berjalan melewati, batu satu ke batu lainya, Davina terpeleset hingga jatuh namun segera Arjuna tangkap dan Davina tanpa sengaja memeluk tubuh Arjuna.
Awwww
Davina memeluk tubuh Arjuna, dan langsung Davina segera melepaskan pelukannya, tapi Arjuna tahan dan semakin memeluk erat Davina.
"Lepaskan saya, kalau tidak saya teriak." ucap Davina.
"Biar seperti ini, saya hanya ingin menegaskan lagi, kalau saya sangat mencintai kamu. Tolong kamu jangan tutupi perasaan kamu, saya tahu kamu juga memiliki perasaan yang sama. Saya tidak seperti Daddy kamu, saya bukan tipe pria yang menyakiti hati wanita." ucap Arjuna.
"Saya tidak mau, saya tidak mau seperti Mami." ucap Davina segera melepaskan pelukannya.
Arjuna bangun, kedua tangannya memegang pipi Davina. Bibir Arjuna langsung mencium bibir Davina, kedua mata Davina terbelalak saat bibir Arjuna menempel pada bibirnya.
Davina ingin melepaskan dari ciuman Arjuna namun Arjuna tetap mencium bahkan lebih menekan ciumannya.
Plaaakkk
Davina menampar pipi Arjuna, tangan Arjuna memegang pipi yang di tamparnya.Davina langsung pergi meninggalkan Arjuna.
"Davina, Dav. .!!" panggil Arjuna mengejar Davina yang berjalan cepat.
Arjuna melepaskan tali yang mengikat kuda milik Davina, Arjuna dengan menaiki kuda dengan mengejar Davina yang berjalan cepat.
"Davina, maaf kan saya. Kamu naik jangan jalan kaki gitu, kan jauh." ucap Arjuna.
"Nggak, saya tidak mau. Kamu itu pria yang kurang ajar, nggak sopan." ucap Davina kesal.
"Maafkan saya Davina, tolong kamu jangan marah."
__ADS_1
"Apa kamu bilang? jangan marah! hey.. hello...memangnya saya itu wanita apaan , jangan samakan saya dengan wanita di luar sana ya, dasar cowok geblek. " ucap Davina melanjutkan langkahnya.
****
Arjuna memberikan kuda milik Davina pada penjaganya, untuk di masukan ke dalam kandang. Sedangkan Davina yang masih marah, pada Arjuna pergi meninggalkan Arjuna.
"Maafkan saya Davina, sampai kamu pergi meninggalkan saya." ucap Arjuna dengan menyesal.
***
"Mami itu kenapa sih? main cerita ke cowok seperti Arjuna. Mami mau dukung dia? yang anaknya Mami itu saya atau Arjuna?" ucap Davina kesal.
"Sayang dengarkan Mami, kamu jangan marah gitu dong. Mami itu hanya ingin kamu membuka hati, Arjuna itu pria baik, Mami yakin kamu akan bahagia sama dia." ucap Ibu Tika.
"Mam, dia itu sama seperti Daddy. Nggak jauh beda, di luar baik tapi di dalam busuk, disini setia tapi disana tidak setia."
"Davina, kamu jangan berpikiran seperti itu terus. Kalau kamu seperti itu terus, kapan kamu akan menikah. Apa kamu mau sendiri terus? apa kamu mau sampai tua."
"Kalau iya kenapa Mam? saya tidak mau seperti Mami, saya tidak mau menangis setiap malam, seperti Mami menangisi Daddy tapi yang di tangisi tidak peduli sama Mami."
"Davina, kamu kenapa berpikir seperti itu. Kamu tidak akan merasakan seperti Mami, cukup Mami saja yang merasakan. Biar Allah yang akan membalas apa yang Daddy kamu perbuat pada kita, tolong kamu buka hati kamu. Jangan seperti ini terus, jangan menutup hati untuk lelaki." ucap Ibu Tika dengan mata berkaca - kaca.
"Mami, tolong jangan paksa Davina." ucap Davina.
"Katakan sama Mami, kalau kamu sebenarnya itu suka sama Arjuna. Tolong kamu katakan sama Mami, sama Mami kamu itu tidak akan bisa bohong."
Davina hanya diam, dengan memalingkan wajahnya ke samping. Maminya beralih tempat duduk, dan duduk di samping Davina.
"Mami tahu, kamu itu sebenarnya suka sama Arjuna. Ada rasa sama Arjuna tapi kamu tidak ingin mengakuinya, Mami hanya berpesan, suatu saat kalau Arjuna pergi meninggalkan kamu, dia tidak akan mendekati kamu lagi. Dan dia mencari cinta yang lain, dan cinta itu bersambut, apa kamu tidak akan menyesal? Mami yakin kamu akan menyesal, dan penyesalan itu akan seumur hidup. Percaya sama omongan Mami, sebelum terlambat kamu bukalah hati ini." ucap Ibu Tika sambil menunjuk ke arah dada Davina.
"Tidak tahu Mami, saya masih bingung." ucap Davina.
"Kalau kamu ingin berpikir, jangan lama - lama berpikirnya. Mami tidak ingin kamu menyesal, dan menangisi Arjuna." ucap Ibu Tika.
"Jujur Mami, saya itu.. " ucap Davina.
.
.
__ADS_1
.