Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik

Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik
Karena Cinta


__ADS_3

"Saya suntik kamu saya tahan tubuh, kalau memiliki gejala sesak, demam, tubuh sakit segera hubungi kami." ucap Rizal sambil menyuntik Arjuna.


"Saya akan menjaga Davina." ucap Arjuna sambil melihat Davina yang sudah tertidur akibat, obat tidur yang di suntikkan melalui selang infus.


"Apa kamu sangat mencintai Davina?" tanya Rizal.


"Iya, saya sangat mencintainya." jawab Arjuna.


"Kamu bisa tidur di atas tempat tidur yang sudah di sediakan, disini ada alat komunikasi untuk menghubungi kita. Di ruangan ini terdapat kamera, kami berada di ruangan sebelah." ucap Rizal.


"Terima Kasih." ucap Arjuna.


Rizal pun keluar, namun masih dalam area ruang isolasi hanya bersekat tembok tanpa pintu. Arjuna duduk di kursi samping Davina, tangan Arjuna menggenggam tangan Davina.


"Kamu kuat Dav, kamu akan melewati semuanya."


Arjuna mengecup punggung tangan Davina, yang terasa sangat panas. Arjuna merasakan, nafas Davina yang tidak teratur.


Sedangkan para dokter sedang mengadakan rapat, pembahasan masalah penyakit yang menular pada Davina.


"Berdasarkan sampel dari darah keduanya, positif terinfeksi sebuah virus yang mematikan, virus ini di bawa oleh hewan kecil seperti lalat atau nyamuk. Ada kasus pernah terjadi di luar negeri, dan obatnya tidak di jual bebas. Obat itu pun masih dalam tahap uji coba, tapi sudah pernah salah satu pasien menggunakan obat tersebut." ucap dokter Lukman.


"Kalau begitu, bawa obat itu kesini." ucap Pak Haris.


"Tapi obat itu harus di pesan dulu, untuk sementara hanya bisa anti biotik dan obat anti nyeri. Di anti Nyeri itu, sudah ada obat penurun demam." ucap dokter Lukman.


"Tapi si pasien sempat muntah, dan merasakan haus yang luar biasa, apakah hewan tersebut, membawa penyakit melalui kotorannya, hingga bakteri masuk dan berkembang biak pada tubuh manusia. Untuk menunggunya, waktu berapa lama agar sampai ke tanah air? sedangkan kondisi dokter Davina semakin kritis. Dari laporan tim medis, demam tinggi semakin naik, dari 38 ke 39 sekarang 40 derajat, begitu juga pasien yang meninggal dunia, kita tidak bisa menunggu, karena nyawa harus segera tertolong sebelum terlambat." ucap dokter Sarah.


"Saya akan terbang ambil vaksin dan obatnya hari ini saya akan terbang ke sana, tolong kabari disana, saya akan mengambilnya sendiri." ucap Pak Haris.


"Baik saya akan kirim email ke mereka sekarang juga." ucap dokter Lukman.


"Apa stok nya masih terbatas?" tanya Pak Haris.


"Karena obat ini masih uji coba, dan baru akan di pasarkan tahun depan." jawab dokter Lukman.


"Apa harus tahun depan, baru di obati. Menunggu pasien meninggal dulu hah..! Saya akan kesana, membawa vaksin dan obatnya."


"Mereka melakukan berbagai uji coba, karena ini adalah penyakit langka."


"Saya berangkat sekarang." ucap Pak Haris.


***


"Arjuna benar - benar, apa dia mau mati dan menularkan pada kita." ucap Komandan Syarif.


"Itu namanya cinta semati." ucap Farhan.


"Sekarang dia bagaimana?"


"sekarang dia di isolasi bersama dokter Davina."

__ADS_1


"Kasih kabar tentang kondisi dia, jangan lupa terus pantau."


"Siap komandan."


****


Davina bangun dari tidurnya, saat bangun Davina melihat Arjuna tidur bersandar kursi, dengan tangan yang masih menggenggam tangannya.


Arjuna bangun saat merasakan pergerakan tangan Davina, Davina tersenyum ke arah Arjuna.


"Kamu sudah bangun?" ucap Arjuna.


"Kenapa kamu disini? kalau kamu tertular bagaimana?" ucap Davina.


"Tidak apa - apa, asal bisa menemani kamu disini sampai sembuh." ucap Arjuna.


"Kamu tidak memikirkan keluarga?"


"Yang ada di otak, hanya kamu. Saya khawatir, saya takut."


"Uhuk.. uhuk... kalau saya tidak bisa sembuh bagaimana?" ucap Davina.


"Kamu akan sembuh, percaya. Mereka sedang berusaha mencari obatnya, kamu kuat kok percaya sama saya." ucap Arjuna.


"Kamu kenapa, rela seperti ini? kalau tertular bagaimana?"


"Saya tidak takut, yang di takutkan kamu disini sendirian, merasakan sakit yang luar biasa. Di luar sana saya tidak bisa, melihat kamu seperti ini. Saya tidak ingin, orang yang saya cintai tersiksa sendirian."


"Kamu mencintai saya?"


"Nggak romantis uhuk.. uhuk.. di rumah sakit, dalam keadaan kusut begini, kamu mengatakan cinta sama saya."


"Kalau mau, momen saya lamar kamu. Setelah kamu sembuh, saya akan lamar kamu, kita menikah."


"Kamu itu terlalu pede, kalau masalah seperti ini. Kamu sok yakin, kalau saya akan menerima kamu."


"Buktinya ini apa?" ucap Arjuna menunjukkan jemari Davina memainkan jari Arjuna.


Davina tersenyum lantas menarik tangannya, namun di tarik kembali di genggam erat oleh Arjuna.


"Kita pacaran ya? mulai sekarang kita pacaran, mau kan?" ucap Arjuna.


"Nggak romantis."ucap Davina.


" Nanti romantisnya, sekalian lamaran."


"Serius?"


"Iya serius, kamu nggak percaya."


"Kamu akan pegang janji apa, kalau sudah jadi pacar saya?"

__ADS_1


"Saya akan setia sama kamu, buat kamu selalu tersenyum, buat kamu selalu bahagia."


"Janji."


"Janji."


"Saya mau." ucap Davina sambil tersenyum.


Arjuna mengecup punggung tangan Davina, keduanya saling tersenyum bahagia. Disaat duka ada rasa yang membuat hati berbunga - bunga.


Mereka tak sadar, Rizal mendengar percakapan keduanya. Rizal cemburu, dan patah hati saat wanita yang di sukainya lebih memilih pria lain.


****


"Vera! kamu ngapain di rumah sakit?" tanya Ibu Tika saat bertemu Ibu Vera di parkiran.


"Saya ingin melihat anak tiri saya." jawab Ibu Vera.


"Mas Haris cerita?"


"Iya, dia cerita sama saya.Sekarang dia sudah di luar negeri, berangkat kemarin siang." ucap Ibu Vera.


"Davina kondisinya kurang baik, kita tidak bisa melihat secara langsung. Hanya bisa lihat, dari CCTV. "


"Tapi dia masih bisa komunikasi?"


"Bisa, mereka selalu memantau perkembangan Davina."


"Kita masuk sekarang, saya ingin lihat sendiri." ucap Ibu Vera.


Dokter Rizal menyuntik Davina dan Arjuna, kondisi Arjuna terlihat sedikit kurang baik. Ada rasa demam, dan matanya sedikit memerah.


"Kamu sepertinya tertular, di lihat dari kondisi kamu, saya akan ambil sampel darahnya baru gejala atau bukan." ucap Rizal.


"Saya rela tertular, asal Davina sembuh." ucap Arjuna.


"Apa karena cinta?" ucap Rizal dengan tersenyum sinis.


"Kamu jangan sampai seperti ini, semoga baru gejala dan bisa cepat sembuh." ucap Davina.


"Saya sudah tahu memikirkan resikonya, saat ingin masuk kesini."


"Saya akan bawa sampel darah kamu, tunggu kabarnya saya akan segera kasih tahu kalau sudah keluar hasilnya." ucap Rizal.


Arjuna kembali mendekati Davina yang masih berbaring diatas tempat tidur, Arjuna membelai lembut pipi kekasihnya.


"Kamu masa sakit, kalau parah gimana?" ucap Davina.


"Kita akan bisa melewati ini bersama." ucap Arjuna.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2