Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik

Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik
Tertular


__ADS_3

"Tante, Davina sedang sama saya."ucap Arjuna melalui panggilan telepon.


" Syukurlah, Tante khawatir. Jam segini belum pulang, soalnya tadi siang sempat ada masalah dengan dia." ucap Ibu Tika dari seberang.


"Iya Tante jangan khawatir ya, dia baik - baik saja kok."


"Jun, Tante minta tolong sama kamu. Tolong bahagiakan Davina, tolong kamu selalu hibur dia. Hanya kamu, orang yang Tante harapkan. Davina itu rapuh, jangan kamu bikin rapuh lagi. "


"Siap Tante, dan Tante saya minta ijin sama Tante. Untuk menjadi kekasih dia, pendamping dia, dan Ayah buat anak - anaknya."


"Tante sudah kasih ijin sejak lama, karena Tante yakin kamu itu, adalah pria yang baik. Tante tunggu kedatangan resmi kamu kesini, untuk segera melamar anak Tante."


"Iya Tante, pasti segera."


Setelah menelepon Ibu Tika, terlihat Davina sedang duduk di tempat awal baru datang. Arjuna lantas duduk di sampingnya kembali, sambil memegang tangan Davina.


"Pulang sudah malam." ucap Arjuna.


"Sebentar lagi." ucap Davina.


"Kasihan Mami, atau Mas antar kamu?"


Davina langsung menoleh ke samping kiri, dengan kedua mata berkedip seperti mata boneka.


"Kamu tadi bilang apa? Mas! nggak salah tuh." ucap Davina.


"Bu - bukannya kita sudah jadian?" ucap Arjuna, dan Davina menarik tangannya dari pegangan Arjuna.


"Kapan saya terima kamu? saya tidak menerima kamu."


"Tadi kamu bilang, waktu kamu nangis itu."


"Eits... jangan salah paham ya."


"Jadi kamu belum jadi pacar saya?"


"Ya belum lah, siapa yang mau jadi pacar kamu." ucap Davina beranjak berdiri.


"Kamu tadi kepalanya bersandar di pundak, tangan saya pegang kamu diam saja, terus kamu curhat ke saya, lantas kamu anggap saya ini apa?" ucap Arjuna.


"Itu suatu kesalahan, tadi mobil yang salah beloknya kesini. Sudah ah saya mau pamit pulang, oh iya kamu sudah sembuh ya kalau masih ada yang dirasa kamu telepon saya saja." ucap Davina langsung pamit pulang.


***


Ting.. tong...


"Ya sebentar." ucap Ibu Tika saat mendengar bunyi bel rumah.


Ceklek


"Vera."ucap Ibu Tika saat membuka pintu adiknya yang datang, dengan menoleh kebelakang Ibu Vera terlihat tampak panik.


" Kamu kenapa mba, kok kayak takut begitu?" ucap Ibu Vera.


"Kamu datang disaat waktu yang tidak tepat, Davina ada di rumah." ucap Ibu Tika.


"Saya kesini datang baik - baik, hanya untuk memberikan selamat pada mba. Katanya sedang hamil lagi, makanya saya kesini."


"Mas Haris cerita ya?"

__ADS_1


"Iya mba, selamat ya kamu masih di berikan kesempatan hamil lagi, di usia yang sudah tidak muda lagi."


"Sama - sama, kamu masuk lah. Mba buatkan minum dulu, duduk saja anggap rumah sendiri." ucap Ibu Tika.


"Eh.. ada istri muda." celetuk Davina.


"Kamu mau berangkat ya?" ucap Ibu Vera ramah.


"Iya, ada perlu apa? kalau sampai membuat janin Mami saya terganggu awas saja." ucap Davina.


"Davina, Tante kamu itu kesini hanya ingin memberikan selamat sama Mami, kalau Mami itu hamil." ucap Ibu Tika sambil menaruh secangkir teh manis hangat.


"Tante lihat kan, Mami hamil lagi. Berarti Daddy cinta sama Mami, kalau nggak cinta nggak akan mungkin bisa mau punya 2 anak." ucap Davina.


"Davina, tolong kamu sudah ya. Jangan menyalahkan Tante terus, kamu sudah besar dan sudah paham. Kalau kami ini mencintai satu pria yang sama, mungkin memang Tante tidak bisa hamil, tapi Tante senang kalau Mami kamu itu sedang hamil. Anak Mami kamu, anak Tante juga." ucap Ibu Vera.


"Jangan harap, kamu anggap saya anak kamu juga." ucap Davina beranjak bangun.


"Kamu mau berangkat nak?" tanya Ibu Tika.


"Iya, Mam hati - hati. Kalau terjadi sesuatu sama Mami saya, kamu yang saya cari." ucap Davina langsung pamit pada Maminya.


"Saya bilang apa, kamu jangan datang kesini." ucap Ibu Tika setelah Davina pergi.


"Pantas Mas Haris selalu marah - marah tentang anak itu, mba seharusnya ajari sopan santun." ucap Ibu Vera.


"Sopan santun, dia sudah besar. Tidak perlu di ajari lagi, dia akan sopan pada orang yang menghargainya."


****


"Masuk." ucap Davina.


"Bapak langsung naik ke atas brankar, soalnya terlihat kondisi Bapak parah." ucap Davina.


"Saya sudah sekitar satu minggu, entah tubuh terasa demam, menggigil bahkan pandangan pun sekarang tidak terlalu jelas. Ada rasa mual, bahkan terasa tenggorokan haus, minum banyak tetap terasa haus." ucapnya.


"Makan gimana?" tanya Davina sambil memeriksa data pria tersebut, dengan stetoskop nya, lanjut memeriksa kedua matanya, dan mulutnya.


"Saya tidak nafsu makan, hanya saja haus yang berlebihan."


Davina memeriksa kulit pria tersebut tampak pucat, dan nafas naik turun.


"Pak saya sarankan, darah bapak di ambil buat sampel, dan yang di khawatirkan ini seperti virus. Bapak dirawat ya, karena kalau di biarkan bisa bertambah buruk pada kondisi Bapak." ucap Davina.


"Virus apa dok?" tanyanya sambil duduk di atas brankar.


"Saya belum pasti, yang jelas darahnya di ambil buat sampel, dan bapak harus di rawat." ucap Davina.


Uhuk.. uhuk.. uhuk..


Pria tersebut batuk, Davina menoleh ke arah pasiennya, yang batuknya semakin menjadi. Davina segera bangun, untuk menolong pasiennya.


Uhuk.. uhuk.. uhuk...


"Pak." ucap Davina.


Pria tersebut lantas menjatuhkan tubuhnya di atas brankar, Davina segera mengambil tindakan. Namun saat sedang memberikan pertolongan pria tersebut memuntahkan darah ke pakaian Davina hingga mengenai tangannya.


"Tolong dok, sesak dada saya." ucapnya tercekat hingga pria tersebut melotot kan kedua matanya.

__ADS_1


Davina segera memasangkan alat bantu pernapasan, namun saat akan memasang Davina tersentak kaget, melihat sisa darah di sudut bibirnya seperti ada benda kecil bergerak.


"Dokter." panggil suster Tia.


"Jangan mendekat sus, praktek saya cukup hari ini. Pindahkan ke dokter rizal, kamu minta tolong untuk siapkan ruang isolasi." ucap Dokter Davina.


"Baik dok." ucap Suster Tia panik.


Para dokter berdatangan, saat mendengar kabar ada sebuah virus yang di bawa pasien, dan dokter Davina terkena cairan darahnya. Dua orang petugas medis masuk, dan langsung menangani pasien, dengan menggunakan pakai APD lengkap.


Davina tetap menangani pria tersebut, setelah olehnya di bersihkan bekas darah yang sekitar mulut. Nafas pria tersebut, masih tidak beraturan dengan detak jantung yang semakin melemah.


"Dokter, sampel darah pria tersebut akan kamu bawa ke Laboratorium, dan sampel darah dokter juga. Untuk sementara dokter harus isolasi, demi kebaikan bersama." ucap salah satu dokter, yang mengenakan APD lengkap.


"Iya, saya tahu. Dari darahnya, tadi saya lihat. Dia membawa penyakit menular, tapi bukan virus biasa. Ini cacing atau apa bergerak,di lihat dari darahnya. Dan dokter harus lihat, matanya terlihat merah tadi." ucap Davina.


"Kita akan tahu lebih detailnya lagi."


Dokter Toni, dokter Farah dan dokter Rizal berlari ke ruang praktek Davina. Ruang praktek yang sudah terisolasi, bahkan rumah sakit menutup sementara.


"Bagaimana dokter Davina?" tanya dokter Toni panik.


"Apa dia baik - baik saja?" tanya dokter Farah.


"Davina masih baik - baik saja, kita belum tahu reaksinya nanti, tapi tim medis sudah menanganinya." jawab dokter Lukman.


"Apa Davina masih di dalam bersama pasiennya?" tanya dokter Rizal.


"Iya, kami sedang menyiapkan ruangan untuk mereka berdua." jawab dokter Lukman.


***


"Anak saya bagaimana?" tanya Pak Haris yang mendapatkan kabar, bahwa Davina tertular oleh salah satu pasien.


"Dokter Davina sudah kami isolasi, dia satu ruangan dengan pasien tersebut, dia meminta karena dia masih bertanggung jawab dengan pasiennya." ucap dokter Lukman.


"Tolong berikan perawatan semaksimal mungkin untuk anak saya." ucap Pak Haris.


"Baik dok." ucap dokter Lukman.


Davina menatap pasiennya mengerang kesakitan, Davina lantas mengecek tubuhnya. Terlihat dari sudut bibir nya mengeluarkan cairan, Davina memeriksa pupil matanya.


"Pak, apa bapak mendengar saya?" ucap Davina.


"Dok, to - tolong sa- sakit." ucapnya.


"Sabar ya Pak, kami sementara hanya baru kasih obat antibiotik, dan obat untuk sesak nafas, karena hasil laboratorium belum keluar, kita belum tahu Bapak terkena penyakit apa. Dan yang jelas, ini menular saya kontak dengan Bapak kita sama - sama di isolasi." ucap Davina.


"Saya saat itu ke hutan, entah hewan apa menggigit saya. Mungkin hewan tersebut membawa penyakit, saat itu tubuhnya saya langsung menggigil, dan linu pada tubuh saya."


Tiba - tiba Davina merasakan haus, dan tubuhnya sudah merasakan tidak enak. Davina langsung mengambil air minum botol, dan menegak sampai habis.


Namun rasa haus terus terjadi, Davina kembali minum, hingga 3 botol air mineral habis.


Uhuk... uhuk.. uhuk..


"Saya merasakan seperti pasien itu." ucap Davina melalui talkie - walkie.


.

__ADS_1


.


__ADS_2