
Satu garis yang selalu Davina cek, dibuang langsung kedalam tempat sampah di dalam kamarnya. Davina berjalan dengan malas, lantas menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Negatif lagi?" tanya Arjuna.
"Iya, negatif." jawab Davina.
"Padahal kita menikah sudah lebih dari 5 bulan, dan Mami hamil sudah masuk 8 bulan." ucap Davina.
"Sabar sayang, kalau sudah waktunya, pasti nanti juga akan di Kasih." ucap Arjuna memberikan semangat.
"Mas itu santai banget, apa tidak takut kalau kita tidak bisa di berikan anak?"
"Takut gimana? orang belum waktunya! terus mau gimana? mau nangis!"
"Cek Mas, kita cek." ucap Davina.
"Ok, kita cek. Tapi kalau salah satu dari kita tidak subur, apa masih saling terima?" ucap Arjuna.
"Kok Mas bicara begitu, masa tidak subur, pasti subur lah." ucap Davina.
"Kamu buatkan janji, kita nanti cek kesuburan."
***
"Pagi sayang, sarapan dulu. Mami buatkan omelet sama roti bakar, Daddy susu hangat sama telur." ucap Ibu Tika.
"Mami masih ke butik?" tanya Davina.
"Masih, nanti saat mendekati lahiran Mami akan banyak di rumah." jawab Ibu Tika.
"Daddy padahal sudah melarang Mami kamu, tapi Mami kamu selalu memaksa. Mami kamu itu bandel." ucap Daddy.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Ibu Tika.
"Negatif Mam." jawab Davina.
"Sabar ya, belum dikasih."
"Kalian jangan patah semangat, tidak kalian sendiri yang seperti ini, banyak yang seperti kalian, mengharapkan memiliki anak." ucap Pak Haris.
"Iya Dad." ucap Davina.
***
"Davina minta saya itu cek kesuburan." ucap Arjuna pada Fuji dan Farhan.
"Tunggal Cek kesuburan saja, apa susahnya." ucap Fuji.
"Iya sih, dari pada penasaran. Padahal kami itu setiap hari usaha buat anak, mungkin belum di kasih kali ya."
"Ya mungkin, kan kalian nikah saja belum satu tahun, santai lah jangan terburu - buru." ucap Farhan.
"Iya, mungkin Allah itu, ingin buat kalian menikmati, masa - masa berdua dulu. Baru nanti ada masa, kalian memiliki anak."
"Semoga saja ya Allah."
****
"Mam, kita liburan ke puncak yuk? ajak Davina dan Arjuna. " ucap Pak Haris.
"Boleh Dad, kapan?" ucap Ibu Tika.
"Weekend besok lah, kita kan belum pernah weekend sama - sama, kita jalan lah sekali - kali." ucap Pak Haris.
"Nanti kita bicarakan sama Davina dan Arjuna." ucap Ibu Tika.
"Mami sini dong." ucap Pak Haris.
"Ada apa?" tanya Ibu Tika mendekat.
"Daddy ada sesuatu buat mami." ucap Pak Haris memberikan sebuah kalung ber liontin permata.
__ADS_1
"Masya Allah, ini cantik sekali Mas." ucap Ibu Tika.
"Mami suka kan?" tanya Pak Haris.
"Suka Pah, sangat suka." jawab Ibu Tika.
Pak Haris memakaikan kalung tersebut, ke leher Ibu Tika. Pak Haris tersenyum, saat melihat istrinya memakai kalung pemberiannya.
"Mas, makasih ya." ucap Ibu Tika mengecup pipi Pak Haris.
"Sama - sama sayang." ucap Pak Haris.
****
"Kalian tunggu hasilnya, semoga hasilnya bagus ya."ucap dokter Kiki.
" Amin." ucap Davina dengan memegang tangan Arjuna.
"Saya kok degdegan ya Mas." ucap Davina.
"Sama Mas juga, ingin lihat hasilnya."ucap Arjuna.
Setelah menunggu hasil, dokter kiki memberikan amplop berisi hasil laboratorium. Arjuna membuka dengan hati - hati, dan saat buka membuat keduanya merasakan lega.
" Alhamdulillah." ucap Arjuna dan Davina.
"Kalian itu subur semua, bagus semua. Kalian santai, jangan takut. Ini masalahnya belum di kasih saja." ucap dokter Kiki.
"Saya lega kalau begini, karena sudah tahu hasilnya." ucap Davina.
"Saya tunggu kabar terbaiknya di sini." ucap dokter Kiki.
****
"Kita ini hanya belum di kasih saja Yank, jadi sabar." ucap Arjuna.
"Iya Mas, saya takut saja. Takut tidak punya keturunan, kalau sudah tahu kan tenang pikiran kita." ucap Davina.
"Gimana hasilnya?" tanya Pak Haris.
"Alhamdulillah, kami subur semua." jawab Arjuna.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Oh iya, weekend besok, kalian ada acara nggak?" ucap Pak Haris.
"Memangnya, mau kemana Dad?" tanya Davina.
"Daddy sama Mami ingin ajak kalian, liburan kepuncak." jawab Pak Haris.
"Asik tuh, kebetulan kita tidak ada acara." ucap Arjuna.
"Bagus dong, kita menginap disana."
"Apa tidak mengganggu! " ucap Davina.
"Ya tidaklah, memangnya Mami sama Daddy
mau ngapain. Mami sama Daddy sudah tua, ngapain aneh - aneh." ucap Ibu Tika.
"Itu buktinya, bisa hamil lagi." celetuk Davina.
"Ya ini mah kecurian."
"Sama saja Mami."
"Yaudah, besok kita berangkat."
****
"Saya minta uang sama kamu." ucap Ibu Vera.
"Saya sudah kasih kamu 1 Milyar, dan kamu itu bukan istri saya lagi. Jadi kamu tidak usah ganggu rumah tangga saya, sekarang kamu pergi jauh - jauh."
__ADS_1
Tut..
Pak Haris mematikan ponselnya, Ibu Vera lantas membanting ponsel mahal seharga 20 juta nya, hingga pecah.
"Aaaaaaa Tika! kamu berhasil mendapatkan Mas Haris." ucap Ibu Vera.
"Kenapa! kenapa kamu pilih dia." ucap Ibu Vera emosi.
"Saya tidak akan biarkan kalian hidup bahagia."
****
"Vera minta berapa lagi Mas?" tanya Ibu Tika.
"Sudahlah, jangan tanggapi orang gila." jawab Pak Haris.
"Saya tidak mengerti, jalan pikiran dia seperti apa. Dia masih saja mengganggu rumah tangga kita, yang sudah jelas tidak ada hubungannya lagi."
"Sudahlah Mam, Daddy juga sudah tidak menanggapi dia."
"Walau Mas tidak menanggapinya, dia tetap terus mengejar. Sebelum mati, dia akan terus Mas." ucap Ibu Tika.
"Kalau macam - Macam, Mas akan lapor polisi." ucap Pak Haris.
****
"Mas, bawa baju dinas ini bagus nggak?" tanya Davina sambil menunjukkan lingerie nya.
"Bagus Yank, tapi masa kamu pakai itu Yank. Kan ada Mami sama Daddy, malu lah." ucap Arjuna.
"Mas, memangnya saya itu mau pakainya di depan mereka? ya di depan kamu lah Mas. Didalam kamar, Mas paham kan?"
"Ya Mas paham." ucap Arjuna.
"Nah, ini pakaian renang yang super seksi." ucap Davina sambil menunjukkan pada Arjuna.
"Kamu jangan macam - macam Yank, kita tidak berdua loh."
"Kan ada kolam renang privat Mas."
"Nggak, Mas tidak mau. Dan tidak ada acara berenang. Sekarang itu baju renang, kamu taruh jangan masukan kedalam koper."
"Ah Mas nggak asik." ucap Davina cemberut.
"Biar." ucap Arjuna.
"Yank, Ayank... cuit.. cuit.. " goda Arjuna.
"Apa!" ucap Davina.
"Galak amat, pijitin Mas dong. Pada capek nih, Mas ingin di pijat." ucap Arjuna.
"Kalau ada maunya, bisanya merayu. Giliran saya ngerayu, ah eh oh. " ucap Davina sambil mencibir.
"Ayolah, Mas bayar nih."
"Betapa duit?" tanya Davina.
"Pijat dulu dong, baru Mas kasih."jawab Arjuna.
" Alah paling juga seratus."
"Nggak, malah lebih."
"Ya berapa lebihnya?"
"Pijat saja dulu, kerja saja belum. Sudah tanya bayaran, buruan Yank capek nih."
.
.
__ADS_1