Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik

Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik
Rencana Hari Lamaran


__ADS_3

"Serius! kalian bakalan tunangan?" ucap dokter Farah.


"Iya, kita bakalan tunangan." udak Davina.


"Kamu yakin Dav? kamu nggak sedang mempermainkan hatinya kan?" tanya dokter Toni.


"Yakin, memangnya wajahnya saya itu meragukan ya?" ucap Davina.


"Ya nggak gitu sih, secara di lihat dari mata bathin yang serius itu si cowoknya, sedangkan si cewek nih kayaknya setengah - setengah." ucap dokter Farah.


"Betul itu, sepemikiran." ucap dokter Toni.


"Mungkin dia memang jodoh saya, di lihat dari cara dia itu, sangat tulus sekali. Mami yang terus menyakinkan saya, kalau saya itu harus terima dia karena dia itu berbeda dengan pria lainnya."


"Betul itu Dav, saat kamu sakit dia malah menerobos masuk hanya demi bersama kamu. Malah saya itu iri sama kamu, punya pacar seperti Arjuna." ucap dokter Farah.


"Kalau dibanding sama dokter Rizal, lebih baik Arjuna deh. Tapi dia tetap profesional, saat tahu kamu jadian sama Arjuna." ucap dokter Toni.


"Terus juga, saya tuh entah kenapa malah gimana ya, sama Arjuna itu kok tiba - tiba klik gitu, apa memang jodoh saya kali." ucap Davina.


"Betul, itu namanya jodoh. Kalau bukan jodoh, kamu juga itu hati akan menolak." ucap dokter Toni.


Ponsel Davina berdering, Arjuna yang menelepon. Davina meminta dokter Toni dan dokter Farah untuk tidak berisik.


"Hallo."


"Assalamu'alaikum sayang."


"Walaikumsalam." ucap Davina.


"Nanti kita pulang sama - sama ya, saya tunggu di parkiran."


"Iya, kita mau kemana?"


"Mau kemana?"


"Kemana saja."


"Yaudah nanti di bicarakan lagi, dah sayang."


"Dah...!! "


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam." ucap Davina mematikan panggilan teleponnya.


"Cieeeeee.... " ucap dokter Toni dan dokter Farah.


"Apa sih? biasa aja kali." ucap Davina.


****


Arjuna berdiri di samping motornya, Davina berjalan mendekati. Keduanya saling tersenyum, dengan segera Arjuna merapikan anak rambut yang menutupi sebagian mata Davina.


"Mau kemana?" tanya Davina.


"Kemana enaknya?" tanya kembali Arjuna.


"Ke Cafe saja yuk." jawab Davina.


"Nongkrong." ucap Arjuna.


"Iya, nggak suka ya?"


"Suka sih, yaudah. Nanti Saya ikuti dari belakang, kan kamu yang tahu tempatnya."

__ADS_1


****


Arjuna mengikuti mobil Davina, menuju ke arah Cafe yang akan mereka kunjungi. Mobil pun berbelok ke arah sebuah Cafe, dengan nuansa kereta api.


"Ini Cafe baru ya." ucap Arjuna.


"Nggak juga, sudah lama sih." ucap Davina.


"Kok saya nggak tahu, apa kurang update ya."


"Kurang bergaul." ucap Davina dengan menggandeng lengan Arjuna.


Davina dan Arjuna masuk ke salah satu gerbong, dengan ruang kelas eksekutif di desain khusus 2 orang. Gerbong kereta yang di sekat satu gerbong di bagi 2.


"Bagus banget ya, yang ekonomi itu berarti ada beberapa meja ya."


"Ya gitu, konsepnya di buat seperti gerbong asli, tapi yang Eksekutif sendiri yang khusus makan berdua begini, ada juga yang tipe buat keluarga. Dan yang penting, makanannya enak - enak." ucap Davina.


"Yang enak apa?" tanya Arjuna saat melihat buku menu.


"Kalau saya suka sama steak , sama kebabnya. Makanan berat nya juga enak, ini seperti sup buntut, sup jamur, sama ini nih Bebek bakar madu." jawab Davina.


"Coba Bebek bakar Madu saja, kamu apa?" ucap Arjuna.


"Itu saja sup jamur." ucap Davina.


"Minumnya Lemon tea." ucap Davina kembali.


"Minumnya samain saja lah." ucap Arjuna.


Davina lantas meneken bel, dan pelayan pun datang, untuk mengambil catatan pesanan. Pelayan tersebut.


"Mohon tunggu sebentar. " ucapnya.


"Mas Arjuna." ucap Davina sambil memainkan jemari Arjuna.


"Nah itu bagus, enak kan di dengarnya."


"Iya deh, mulai sekarang panggilnya Mas Arjuna." ucap Davina.


"Kamu kok tambah cantik saja sih, jadi penasaran waktu kecilnya seperti apa."


"Mulai deh, paling sebel dengar cowok yang suka gombal."


"Hahahaha masa sih?" ucap Arjuna sambil mencium punggung tangan Arjuna.


"Sudah ih, nanti di lihat orang." ucap Davina menarik tangannya.


Setelah menunggu 20 menit pesanan mereka pun datang, lantas keduanya makan sesuai pesanannya masing - masing.


"Mau coba sup jamur?" ucap Davina menawarkan.


"Boleh." ucap Arjuna, lantas Davina menyuapi Arjuna.


"Gimana?" tanya Davina.


"Enak Yank, ladanya terasa banget." jawab Arjuna.


"Ini favorit saya Mas, kalau Mami itu sukanya sama sup buntut."ucap Davina.


" Nih mau coba bebeknya?" tanya Arjuna.


"Nggak ah, ingin makan sup saja." jawab Davina.


"Ih.. jorok itu nasi nya nempel." Davina mengambil sisa nasi yang ada di sudut bibir.

__ADS_1


"Makasih sayang."


"Sama - sama Mas sayang."


****


"Mau langsung pulang?" tanya Arjuna.


"Iya, mau mampir?" jawab Davina kembali bertanya.


"Nggak ah, Mas capek ingin istirahat terus ini juga perut kenyang banget."


"Kalau begitu, duluan ya."


"Hati - hati sayang."


Arjuna menunggu mobil Davina pergi, lantas setelah pergi dan tidak terlihat lagi. Arjuna naik ke atas motornya, untuk pulang ke rumah.


Dalam perjalanan Davina sambil mendengarkan musik, tubuhnya sambil meliuk - liuk.


"Gini ya rasanya punya pacar." ucap Davina.


****


"Saya ingin melamar Davina Mak, buat Emak siapnya kapan?" ucap Arjuna.


"Mas sih terserah kamu kapan, kan yang punya niat itu kamu. Emak ikut apa kata kamu, besok juga Emak siap." ucap Emak.


"Emak cari hari dan tanggal yang baik, saya ingin saran dari Emak."


"Boleh, nanti Emak cari tanggal dan hari yang baik buat acara lamaran, untuk di bulan ini kan?"


"Iya Mak, untuk bulan ini."


"Emak senang akhirnya kamu mau nikah, semoga kalian jodoh dunia akhirat."


"Amin Emak." ucap Arjuna.


****


"Mas kamu, mau menikah?" ucap Niken.


"Menikah sih nggak tahu kapan, yang jelas mau lamaran." ucap Sinta sambil memakan snack.


Niken diam dan Sinta pun melirik ke arah Niken, dengan menghela nafas panjang Sinta menepuk pundak Niken.


"Sudahlah, kamu sama kakak saya itu hanya masa lalu. Itu kan hanya sesama orang tua, yang ingin kamu nikah sama Mas Arjuna. Tapi Mas Arjuna pernah ada rasa tapi Mas Arjuna merasa kurang cocok, kalau cinta di paksa itu tidak enak."


"Ini juga gara - gara orang tua saya, yang buat Emak tersinggung."


"Jangan begitu, tidak baik kamu bilang seperti itu. Ini namanya belum jodoh, kamu harus bisa membuka hati untuk orang lain, kamu itu cantik masih ada yang lebih dari Mas Arjuna."


****


Davina mendengar suara orang tertawa saat berada di dalam kamar, Davina membuka pintu kamarnya, terlihat Mami dan Daddy nya sedang duduk berdua sambil mengobrol di selingi tawa.


"Saya rindu melihat hal seperti ini, saya hanya meminta sama Allah, agar kedua orang tua saya selalu bersama."


Davina tersenyum dengan kedua matanya berkaca - kaca, melihat haru bahagia sesuatu yang di rindukan selama ini.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2