
"Sayang..!! " panggil Davina.
Arjuna melihat penampilan istrinya, yang memakai gaun warna merah, dengan belahan samping hingga sebatas paha.
Arjuna yang kini memakai stelan jas, berjalan memutari Davina. Hingga istrinya menatap Arjuna, dan tatapannya dari atas sampai bawah.
"Kenapa?" tanya Davina.
"Apa nggak ada gaun robek lagi?" tanya Arjuna.
"Ada sih, tapi ini kan seksi, elegan." jawab Davina.
"Ganti! Mas tidak mau paha itu, di lihat sama para pria. Nggak ganti, nggak ada ke acara pesta dansa." tegur Arjuna.
"Iya ganti."ucap Davina menurut.
Arjuna menunggu hampir 10 menit, di lihatnya Davina memilih berbagai macam gaun malam.
" Pakai yang itu." tunjuk Arjuna.
"Yang ini! " ucap Davina sambil menunjuk pada gaun malam panjang, dengan lengan pendek 3/4.
"Ok."
Davina pun menggantinya, di depan Arjuna. Disini Arjuna, mulai di uji. Istri yang belum di sentuhnya, dengan bebas mengganti pakaian di depannya.
Terasa sesak, di balik celana ingin keluar, menunjukkan aksinya. Hingga Arjuna memegang miliknya, agar tidak berbuat onar.
"Kenapa Mas?" tanya Davina saat melihat Arjuna memegang miliknya.
"Ingin uang air kecil." jawab Arjuna langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.
****
Alunan musik berbunyi indah, dimana para pasangan berdansa di lantai dansa. Davina menarik tangan Arjuna, untuk berdansa dengannya.
"Mas Ayo." panggil Davina dengan mengulurkan kedua tangannya.
Arjuna meraih tangan Davina, Arjuna tampak kikuk, sehingga membuat Davina menatap tajam.
"Jangan bilang, Mas tidak bisa berdansa?" celetuk Davina.
"Mas baru pertama, kalau goyang atau joget biasa Mas bisa." bisik Arjuna.
"Astaga Mas, dandan sekeren ini, gaya mengajak dansa. Ternyata nggak bisa, terus mau ngapain ada disini, lebih baik kita makan malam saja." ucap Davina, langsung menarik tangan Arjuna, keluar dari lantai dansa.
"Yank, maaf ya."
"Mas, saya sih nggak masalah, nggak bisa juga. Masalahnya, saya juga tidak bisa dansa." ucap Davina sambil tersenyum.
"Huuuu... asem! "ucap Arjuna sambil merangkul pundak istrinya.
__ADS_1
***
Mereka pun makan malam romantis di dalam kapal pesiar, menu steak dan spaghetti yang mereka pilih. Arjuna dan Davina tampak begitu bahagia, dan menikmati indahnya lautan malam.
"Sayang, kalau misalnya Mas belum bisa bahagiakan kamu, jangan marah ya."
"Kenapa bilang begitu Mas, orang itu ada pasang surutnya, begitu juga rumah tangga. Satu kata, asal kita tetap berpegang teguh, mempertahankan pernikahan." ucap Davina sambil memegang tangan Arjuna.
Arjuna mencium punggung tangan Davina, keduanya saling bertatap mata, lantas saling tangan mereka lepas, saat seorang pramusaji datang menghampiri mereka.
"Maaf mengganggu, ada hadiah dari kami, spesial untuk pasangan yang baru menikah, semoga hadiah dari kamu, berkesan untuk Bapak sama ibu." ucap nya.
"Terima kasih banyak, ini bagi kami sangat berkesan." ucap Davina.
"Kalau begitu, saya pamit." ucapnya lalu pergi.
Saat Davina buka, hadiah yang baru saja di terimanya sangat begitu indah, sebuah jam weker dengan model klasik.
"Indah banget." ucap Davina.
"Mungkin kapten disini tahu, karena kita adalah pasangan pengantin baru, sehingga menyuruh anak buah nya untuk kasih ini buat kita." ucap Arjuna.
"Ini adalah bagian dari service." ucap Davina.
****
"Apa anak kita ada kabar?" tanya Pak Haris.
"Tika, kapan cek kandungan?" tanya Pak Haris.
"Besok Mas, apa Mas mau antar?" tanya kembali Ibu Tika.
"Iya, Mas ingin memberikan perhatian lebih, pada anak kita ini. Mas tidak ingin, seperti Davina." jawab Pak Haris.
"Makasih Mas, saya bahagia mendengar semua ini, saya bahagia dan bersyukur doa saya terkabul."
Pak Haris merangkul pundak Ibu Tika, mengecup kening istrinya. Ibu Tika sangat senang, suaminya telah berubah dan lebih bertanggung jawab.
"Mas akan berlaku adil, apa yang tidak pernah Mas berikan, akan Mas berikan."
"Terima kasih Mas."
****
"Nyonya, kenapa belum dimakan?" tanya asisten rumah tangganya.
"Saya sedang menunggu tuan." jawab Ibu Vera.
"Tuan bilang sama saya, agar tidak menunggu." ucapnya.
"Dia bilangnya sama kamu, tidak sama istrinya! semakin kesini, tuan kamu semakin menjadi."
__ADS_1
"Maaf nyonya, kalau saya lancang. Wanita hamil itu, kadang selalu ingin dimanja, dan di perhatikan, maaf nyonya juga harus mengerti."
"Arrrrgggghhhh tahu apa kamu." ucap Ibu Vera lantas meninggalkan asisten rumah tangganya.
****
Kedua pasangan suami istri, masih berguling di balik selimut, kapal pesiar mereka telah menepi di pelabuhan, di salah satu negara Eropa. Davina bangun, saat melihat banyak gedung dari dalam kapal.
Berada di lantai sepuluh, Davina bisa menikmati pemandangan yang indah, Davina lantas segera bangun dari atas tempat tidur.
"Mas, bangun Mas!" panggil Davina.
"Mas! coba lihat, kapal kita sudah menepi." ucap Davina.
Arjuna membuka kedua matanya, melihat istrinya berada di depan jendela kapal. Arjuna lantas turun dari atas tempat tidur, berjalan melihat apa yang di lihat istrinya.
"Bagus ya, kita bergegas mandi, sarapan lalu kita jalan - jalan." ucap Davina segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Arjuna masih mengantuk, dan menguap dengan malas naik ke atas tempat tidur. Davina keluar dari kamar mandi, karena ingin mengambil sesuatu yang tertinggal.
"Ya Allah Mas, kamu bangun dong. Niat jalan nggak sih? istri semangat begini, masa Mas tidak." tegur Davina.
"Yank, kamu juga mandi belum, nunggu kamu mandi saja hampir 30 menit, lumayan buat lanjutkan tidur tadi." ucap Arjuna sambil memejamkan kedua matanya kembali.
"Mas! lebih baik Mas duduk sambil nonton acara televisi, dari pada Mas tidur." ucap Davina menarik selimut.
"Yank! " protes Arjuna.
****
"Malam sekali Mas?" tegur Ibu Vera.
"Tadi pulang dari rumah sakit, Mas ke rumah Tika, mungkin besok pulang malam lagi." ucap Pak Haris.
"Mas! kamu akhir - akhir ini, tidak perhatian sama saya, kamu malah lebih fokus sama Mba Tika. Dari awal Davina mau menikah, disitu Mas telah berubah."
"Vera! mereka juga keluarga saya. Tika istri saya, Davina anak saya. Apanya yang salah? saya begini karena kamu, demi kamu saya menyakiti mereka. Kamu itu seharusnya tidak protes begini, kamu itu selama bertahun-tahun, sudah puas dengan saya. Saatnya saya menebus kesalahan yang sudah lama, kamu seharusnya sadar dan mengerti, resiko istri muda, harus rela di bagi. Dari awal kamu rela seperti ini, asal bersama saya. Karena cinta saya begitu besar sama kamu, saya rela menyakiti mereka." ucap Pak Haris kesal.
"Maafkan saya Mas." ucap Ibu Vera.
"Kita ini sudah tua, bukan pasangan muda lagi. Kita akan punya cucu, apa tidak malu? Davina juga anak kamu, walau kamu tidak merasa melahirkannya. Tolong, saya itu ingin berlaku adil, jangan selalu jadi pemisah."
"Saya hanya ingin, suami saya yang dulu Mas. Saya takut, kamu pergi meninggalkan saya."
"Saya telah berjanji, tidak meninggalkan kamu. Hanya maut, yang akan memisahkan kita." ucap Pak Haris.
.
.
.
__ADS_1