
"Tika..!! Tika... Mas datang bawakan kamu buah mangga." ucap Pak Haris.
"Tika..!! " panggil kembali Pak Haris.
Pak Haris berjalan ke arah kamar istrinya, terlihat Ibu Tika sedang berbaring sambil menonton televisi.
"Pantas saja kamu menyalakan volume televisi sangat keras, sehingga Mas panggil kamu tidak dengar." ucap Pak Haris.
"Maaf Mas, saya pusing sekali kepalanya. Mau di bawa tidur tidak bisa, jadi memutuskan menonton televisi." ucap Ibu Tika.
"Saya bawakan kamu buah mangga, kalau mas bantu kupas kulitnya. " ucap Pak Haris.
"Boleh Mas, semoga pusingnya hilang." ucap Ibu Tika.
"Sebentar Mas kupas dulu."
Ibu Tika tersenyum, suaminya memberikan perhatian. Sebuah perhatian yang telah lama tidak di rasakan.
Ibu Tika lantas memoles bedak dan lipstik, agar terlihat cantik dan fresh. Pak Haris datang, membawa buah mangga yang sudah di kupas kulit nya.
"Ini enak, bisa buat nggak pusing. Tapi Mas tidak bisa buat sambalnya, hanya di kasih gula pasir saja."
"Nggak apa - apa begini juga, makasih ya Mas."
"Tika, Davina sudah semakin membaik." ucap Pak Haris.
"Alhamdulillah Mas, kapan dia bisa keluar dari rumah sakit?" ucap Ibu Tika.
"Mas belum tahu, karena mereka masih harus di observasi."
"Terima kasih Mas, sudah membawa vaksinnya. Kalau tidak bisa di sembuhkan, entah saya tidak bisa berkata apa - apa lagi." ucap Ibu Tika.
"Tika, apa lelaki itu serius dengan Davina?" tanya Pak Haris.
"Dia pria yang baik, saya kenal Arjuna. Dia berprofesi sebagai seorang Tentara, dan di besarkan dari keluarga sederhana, tapi tidak membuat mundur untuk mendapatkan Davina. Banyak pria yang ingin mendekati Davina, hanya dia yang bisa menaklukkan Davina." ucap Ibu Tika.
"Saya tidak melarang Davina untuk menjalin dengan siapa saja, yang terpenting dia bisa membawa ke masa depan.Jangan seperti saya, yang hanya bisa mengecewakan wanita yang benar-benar tulus mencintai saya."
"Kamu sadar Mas? kamu sadar apa yang di ucapkan Mas. Davina pernah takut menjalin hubungan dengan seorang pria, takut tersakiti seperti Maminya, tapi Arjuna berhasil menyakinkan kalau tidak semua pria itu sama. Cukup Davina saja Mas, yang merasakan sakit melihat orang tua nya seperti ini, anak kita yang kedua jangan."
****
"Kalian boleh pulang, istirahat yang cukup banyak minum vitamin juga." ucap dokter Rizal.
"Alhamdulillah, terima kasih ya dok." ucap Arjuna.
"Sama - sama." ucap dokter Rizal tersenyum.
"Rizal, makasih ya. Kamu sudah rawat kami berdua, ternyata kamu itu tulus tidak hanya sesuatu di belakangnya. Dan mungkin kamu juga tahu, saya itu sekarang tidak sendiri lagi." ucap Davina dan membuat Arjuna menoleh ke arah nya.
"Santai saja, saya akan siapkan vitamin untuk di rumah ya." ucap dokter Rizal pergi.
__ADS_1
"Dia itu memang benar suka sama kamu, sejak kapan?" tanya Arjuna.
"Kapan ya, sudah lama." jawab Davina.
"Tapi lebih ganteng dia loh, dari pada saya."
"Saya itu terima kamu karena terpaksa, makannya nyesel saya."
Arjuna tersenyum lantas memegang tangan Davina, mengecup punggung tangannya. Davina diam, tidak menolak saat Arjuna melakukan itu.
"Dari rumah sakit mau kemana?" tanya Arjuna.
"Ya pulang lah, masa mau nge mall." jawab Davina.
"Tak kira mau jalan."
"Kamu tuh ya, badan masih lemas gini langsung jalan."
"Kan kalau sudah di luar, sama kamu pasti nggak lemas lagi."
"Nggak - nggak next time saja."
"Berarti mau ya?"
"Iya."
"Yes."
****
"Kamu sehat kan, tidak ada yang dirasakan lagi?" tanya Emak.
"Iya Mak, sehat." jawab Arjuna.
"Alhamdulillah Emak senang, kalau begitu Emak buat acara selamatan buat kamu, dan calon mantu nanti suruh kesini sama itu Ibunya juga, sama ayahnya juga."
"Iya Mak, tapi kalau mengundang Davina nanti lagi, kalau sudah sehat. Kalau mau buat acara selamatan, buat saja dan untuk Davina di kirim saja Mak."
"Begitu ya, kalau gitu Mak ke pasar dulu."
"Mak, nanti lah besok saja. Saya baru pulang Mak, apa kata orang."
"Emak kan sudah nazar, harus di laksanakan."
"Besok juga bisa kan Mak."
"Ah.. lama." ucap Emak langsung pergi.
"Biar Mas, kalau Emak lagi senang nggak usah di larang." ucap Sinta.
"Dek, Mas mau tanya sama kamu."
__ADS_1
"Tanya apa?" ucap Sinta.
"Kamu kalau ada yang mengajak nikah, senang nggak?"
"Jelas senang lah Mas, kan bisa ketemu sama si dia terus, walau kata Emak itu orang nikah sudah nggak ingat cinta lagi, yang di ingat itu suara token listrik yang berbunyi, gas habis, bayar air bersih, bayar sampah."
"Ya kalau itu sih sudah jelas, tapi kenapa ya Davina itu seperti nggak semangat kalau ada kata nikah."
"Kata Mas, dia kan takut lihat ayahnya karena mendua."
"Mungkin dia pikir Mas, suatu saat akan poligami."
****
"Mami lega rasanya, kamu sekarang sudah bisa pulang. Kamu harus berterima kasih sama Daddy, kalau nggak ada Daddy yang langsung ke sana, menunggu vaksin dikirim lama." ucap Ibu Tika.
"Iya Mam, saya juga nggak akan lupa. Dengan segala pengorbanan Daddy." ucap Davina.
"Nak, Daddy kamu sekarang lebih perhatian sama Mami."
"Ya kan karena Mami hamil, berharap anaknya cowok. Coba kalau nggak hamil, dia tetap seperti itu."
"Vera juga kemarin datang ke rumah sakit, Vera itu sayang sama kamu."
"Dia begitu karena satu saya ponakannya, dua saya itu anak tiri dari suaminya, tiga karena dia tidak punya anak."
"Kamu jangan begitu ah, sekarang ganti topik. Arjuna kapan bawa keluarganya, untuk melamar kamu?" ucap Ibu Tika.
"Nanti lah Mam, saya masih ingin bebas." ucap Davina.
"Daddy kamu itu sudah kasih lampu hijau, jadi kuncinya tinggal sama kamu."
"Saya takut Mam." ucap Davina.
"Nak, tidak semua pria seperti Daddy. Buktinya dia rela tertular penyakit oleh kamu. Taruhannya nyawa loh, kalau tidak selamat bagaimana. Kamu lihat dari situ, Mami yakin Arjuna itu pria yang bertanggung jawab."
****
Ibu Vera menghisap rokoknya, dengan tangan kanan memegang segelas anggur hitam. Rizal pun sedang duduk di depan wanita berkelas itu, dengan sama meminum anggur hitam.
"Saya tidak bisa lagi berharap mendapatkan anak tiri Tante. " ucap Rizal.
"Cinta memang tidak bisa di paksakan, begitu juga dengan Tante. Dia lebih banyak perhatian dengan istri tua, apalagi sedang hamil. Perhatian ke Tante mulai menipis, apa menurut kamu ini adil? Tante sudah berusaha, agar menjadi milik dia satu - satunya. Tapi apa, sekarang dia kembali sama wanita itu, yang tidak lain kakak saya sendiri." ucap Ibu Vera.
"Entahlah Tante, saat ini hati saya galau." ucap Rizal.
.
.
.
__ADS_1