
"Masuk." ucap Davina, saat ada yang mengetuk pintu.
Davina masih fokus menulis laporan, dan Davina langsung menutup buku laporannya, lalu mengangkat wajahnya.
"Kel.. " ucap Davina tidak melanjutkan bicaranya.
"Hi." sapa Arjuna.
"Kamu ngapain kesini? ada keluhan penyakit?" tanya Davina ketus.
"Nggak ada, hanya ingin mengobrol saja." jawab Arjuna.
"Maaf, saya masih harus menangani pasien, dan kamu bisa saya tuntut telah membuat laporan pendaftaran palsu." ucap Davina.
"Saya akan menunggu kamu, sampai kamu selesai praktek." ucap Arjuna beranjak bangun dari duduknya.
Davina hanya menatap kesal ke arah Arjuna, yang keluar dari ruang prakteknya. Lantas, pasien berikutnya masuk.
"Suster Tia, tolong kalau ada pria tadi yang barusan masuk, jangan kamu tangani." ucap Davina.
"Maaf dok, dia kan keluhannya sakit." ucap Suster Tia.
"Iya, yang sakit itu otaknya. Jadi salah masuk poli, nanti kamu arahkan saja pada dokter saraf dulu, karena ada beberapa jaringan yang terputus." ucap Davina asal.
"Ya kalau begitu, saya kejar dia." ucap suster Tia dengan polosnya.
***
"Pak, mari saya antar." ucap Suster Tia.
__ADS_1
"Antar kemana Sus?" tanya Arjuna.
"Maaf tadi bapak salah poli, seharusnya ke dokter saraf. Saya antar, bapak nanti langsung masuk saja." jawab Suster Tia.
"Dokter Saraf! memangnya kata siapa saya sakit? saya tidak sakit loh." ucap Arjuna.
"Tapi kata dokter Davina, bapak sakit sarafnya."
Arjuna tertawa kesal, lantas menggelengkan kepalanya, atas apa yang di katakan Davina pada suster nya.
"Maaf ya Sus, sepertinya ada salah paham deh. Sebaiknya Suster kembali bekerja saja, biar saya tunggu disini."
"Oh gitu ya, ya sudah." ucap Suster Tia dengan menatap penuh arti.
"Davina, kamu itu nakal ya. Mengatakan calon suami kamu, punya penyakit saraf." ucap Arjuna.
***
"Saya kira kamu itu sudah pergi jauh ya, ternyata masih saja ada disini." ucap Davina kesal dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Saya tidak menyangka, lidah kamu tajam juga ya." ucap Arjuna.
"Hahaha.. baru sadar ya." ucap Davina.
"Kamu duduk dong, jangan berdiri begitu. Tidak sopan tahu, duduk di samping saya." ucap Arjuna.
Davina pun menurut, dan duduk di kursi penunggu pasien dengan jarak yang jauh. Arjuna hanya tersenyum, sembari menggelengkan kepalanya.
"cepat mau bicara apa?" tanya Davina.
__ADS_1
"Saya minta maaf, kemarin mencium paksa kamu." jawab Arjuna.
"Sadar juga kamu." ucap Davina ketus.
"Lagian percuma minta maaf, kalau kamu itu dapat dukungan dari Mami." ucap Davina kembali.
"Maafkan saya." ucap Arjuna.
"Ya saya maafkan, karena hari ini mood saya sedang bagus." ucap Davina.
"Sekali lagi saya bilang, kalau saya mencintai kamu."
"Apa tidak ada kata - kata lain, selain minta maaf? saya itu sudah bilang, kalau saya tidak suka sama kamu. Gimana saya harus mencintai kamu, belajar?" ucap Davina.
"Kita sama - sama belajar saling mencintai."
"Itu bukan belajar mencintai, tapi belajar menghargai." ucap Davina.
"Terserah apa kamu saja, yang penting saya sudah mengatakan isi hati saya." ucap Arjuna dengan wajah tersenyum.
Arjuna pergi meninggalkan rumah sakit, Davina hanya menatap punggung Arjuna yang semakin menjauh.
"Saya hargai perasaan kamu, tapi baru begini saja malah pergi." ucap Davina kesal.
.
.
.
__ADS_1