
Arjuna membuka kedua matanya, saat sadar dirinya sudah di pasang alat bantu pernafasan, begitu juga dengan Davina. Arjuna berusaha bangun, dengan tubuh yang sangat sakit, seperti tukang remuk.
Dengan sekuat tenaga Arjuna berjalan ke arah Davina, Arjuna memegang tangan Davina yang kedua matanya masih terpejam.
"Demam kamu tinggi sekali Dav." ucap Arjuna lantas segera memanggil dokter.
Tak lama Rizal datang, dan dengan segera memeriksa keadaan Davina. Dengan termometer, Rizal mengecek suhu tubuh Davina.
"Terakhir 40, sekarang masih tetap 40." ucap Rizal.
"Kapan vaksin nya datang?" tanya Arjuna dengan nafas naik turun.
"Seharusnya sudah kembali malam ini, karena dokter Haris sudah dalam perjalanan pulang." jawab Rizal.
"Kondisi Davina semakin memburuk, apa tidak akan terlambat?"
"Semoga saja tidak, tapi saya tahan tubuh kamu termaksud bagus karena kamu tidak seperti Davina." ucap Rizal.
"Saya tidak memperdulikan tubuh saya, yang hanya saya pedulikan adalah Davina."
***
Pak Haris berlari hingga sampai di depan ruang Isolasi, dokter Lukman yang malam itu tidak pulang sengaja menunggu Pak Haris
"Saya dapatkan vaksin nya." ucap Pak Haris.
"Suster, hubungi dokter yang di dalam, agar segera suntikan pada kedua pasien." ucap dokter Lukman.
Pak Haris melihat Arjuna dari CCTV, pria yang mencintai putrinya tampak sedang berada di sampai Davina.
"Mas." panggil Ibu Vera.
"Alhamdulillah, saya dapatkan vaksin nya. Dan saya dapatkan banyak, untuk di rumah sakit ini. Bahkan vaksin ini sudah bisa di gunakan, Davina pasti sembuh." ucap Pak Haris.
"Mas." panggil Ibu Tika.
Pak Haris lantas memeluk tubuh Ibu Tika, keduanya saling berpelukan di depan Ibu Vera. Ibu Vera melihat Pak Haris mencium pucuk kepala Ibu Tika, Ibu Vera ada sedikit rasa cemburu namun segera di tepisnya.
"Saya bawa vaksin nya, anak kita akan sembuh." ucap Pak Haris.
***
Dokter Rizal menyuntikkan vaksin di tubuh Arjuna, dan menyuntikkan juga pada Davina. Rizal tersenyum, kedua nya telah mendapatkan vaksin dari virus berbahaya.
"Insya Allah, kalian sembuh." ucap Rizal. "
"Alhamdulillah, makasih ya Allah." ucap Arjuna.
Sedangkan di luar Emak dan Sinta yang masih ada di rumah sakit, sudah merasakan lega. Tak henti - hentinya, Emak mengucapkan banyak terima kasih pada Pak Haris.
"Pak dokter, makasih banyak Pak. Kalau nggak ada bapak, gimana kondisi anak saya nanti." ucap Emak.
__ADS_1
"Jangan terima kasih pada saya, tapi sama yang di atas. Saya hanya sebagai perantara, membawakan vaksin nya." ucap Pak Haris.
"Tapi saya ucapkan banyak - banyak terima kasih." ucap Emak.
"Alhamdulillah bu." ucap Ibu Tika.
Ibu Vera tersenyum, melihat kebahagiaan Pak Haris dan Ibu Tika. Ibu Vera memutuskan untuk pergi, karena masalah sudah teratasi. Pak Haris melihat Ibu Vera pergi, dan langsung mengejarnya.
"Vera." panggil Pak Haris.
"Ya Mas." ucap Ibu Vera.
"Kamu kenapa pergi?"
"Ini acara kamu Mas sama Mba Tika, tugas saya sudah selesai menemani mba Tika. Ajak dia pulang, kasihan dengan calon bayi kalian." ucap Ibu Vera.
"Mas akan antar pulang Tika, tapi kamu tetap sama Mas."
"Nggak Mas, jangan. Saya tidak mau mengganggu."
"Ssssttt kamu tidak mengganggu."
Pak Haris kembali menggandeng tangan Ibu Vera, untuk kembali ke tempat duduk dimana Ibu Tika sedang duduk bersama Emak Euis dan Sinta.
"Kita pulang, Mas antar kalian, besok baru kesini lagi untuk melihat kondisi Davina dan Arjuna."ucap Pak Haris.
" Bagaimana mereka?" tanya Ibu Tika.
"Tenang saja, pasti besok juga membaik." jawab Pak Haris.
"Tidak usah Tante makasih, nanti saya akan hubungi orang rumah, untuk jemput kami." ucap Sinta.
"Oh seperti itu ya, yaudah kalau begitu. Kami pamit, istirahat kita sekarang akan nyenyak tidurnya." ucap Ibu Tika.
***
"Sinta, Emak lihat kayanya dua perempuan itu istri dari Bapaknya Davina?" ucap Emak yang penasaran.
"Iya Mak, mereka itu istrinya semua." ucap Sinta.
"Ih.. kalau Emak sih nggak mau, sudah Mak minta cerai."
"Hus Mak, nggak boleh bicara begitu." ucap Sinta.
"Tapi akrab ya, ya punya istri dua juga semuanya terpenuhi. Kalau nggak ada duit, nggak akan bisa akrab begitu.";
" Udah Mak, jangan ghibah terus. Mereka calon besan loh, jangan jadi bahan gosip saat belanja sayuran."
****
Davina membuka kedua matanya, tubuhnya merasakan membaik. Rasa sakit sekujur tubuh tidak terlalu terasa, bahkan demamnya pun turun.
__ADS_1
"Alhamdulillah, saya sudah tidak merasakan seperti kemarin." ucap Davina.
Arjuna membuka kedua matanya, tubuhnya pun sudah merasakan membaik. Davina tersenyum, Arjuna menajamkan penglihatannya.
"Davina." ucap Arjuna, beranjak bangun dan langsung turun dari atas tempat tidur.
"Gimana? ada yang dirasa?" tanya Arjuna.
"Alhamdulillah, tidak seperti kemarin." jawab Davina.
"Alhamdulillah, kemarin kita sudah di suntik vaksinnya, ternyata bekerja cepat."
"Iya, Alhamdulillah ya Allah."
"Pagi, gimana setelah disuntik vaksin? ada perubahan kan?" tanya Rizal.
"Iya kita sudah agak mendingan." jawab Arjuna.
"Alhamdulillah, dokter Haris mengambil langkah vaksinnya, karena kalau menunggu di kirim akan lama. Karena tidak ingin anaknya terjadi sesuatu, sekarang dokter Haris belum datang mungkin siang. Dia dari luar negeri langsung kesini, demi anaknya untuk sembuh." ucap Rizal sambil memeriksa kondisi Davina.
***
Pak Haris masuk, dengan menggunakan APD lengan. Davina diam, begitu juga Arjuna dan lebih memilih memainkan ponselnya.
"Gimana kondisi kamu?" tanya Pak Haris.
"Sudah membaik." jawab Davina.
"Arjuna, saya salut sama kamu. Demi Davina kamu rela tertular, dan kamu pun berhasil melewati bersama dengan Davina." ucap Pak Haris.
Arjuna tersenyum saat Pak Haris mengajaknya berbicara, Pak Haris mendekati Arjuna.
"Kamu benar - benar mencintai anak saya?" tanya Pak Haris.
"Iya Om, saya sangat mencintai Davina. Dan janji saya, kalau sembuh saya akan melamar Davina." ucap Arjuna.
"Nggak, saya nggak mau." ucap Davina.
"Kenapa? bukannya kemarin kamu bilang mau." ucap Arjuna.
"Tapi tidak harus tunangan sekarang, nanti lanjut nikah. Saya ingin puas - puaskan masa gadis ini, saya belum kenyang." ucap Davina.
"Tapi kita sudah dapat lampu hijau loh."
"Nggak mau tetap."
Pak Haris tersenyum, sebuah senyuman yang tidak pernah Davina lihat selama 28 tahun. Davina tersenyum ke arah Daddy nya, begitu juga Pak Haris.
"Akhirnya saya bisa melihat kamu tersenyum, semoga kamu akan tetap tersenyum pada Daddy." ucap Pak Haris dalam hati.
.
__ADS_1
.
.