
Davina menabur bunga diatas malam kedua orang tuanya, yang berdampingan. Arjuna terus berusaha untuk menghibur Davina, agar tetap tegar.
"Mami, Daddy bahagia selalu disana."ucap Davina.
Hiks.. hiks.. hiks..
" Sudah, jangan nangis ya. Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan, yang kuat, yang ikhlas. Ingat ada adik kita, dia sendiri disana."ucap Arjuna.
"Iya Mas." ucap Davina.
"Sekarang kita pulang yuk, kita jenguk adik."
"Saya belum bisa meninggal Mami sama Daddy, hiks.. hiks.. "
"Jangan begitu, mereka sudah bahagia disana."
"Hiks.. hiks... Mami Daddy, hiks.. hiks.."
"Sudah ya, kita harus bertemu adik bayi. Kasihan dia, kita buka lembaran baru, kita punya tanggung jawab."
"Iya Mas, hiks.. hiks.. hiks.."
***
Davina tersenyum melihat bayi mungil yang masih merah, adiknya lahir saat yang tidak tepat. Davina mencoba menggendong adik lelakinya, Arjuna datang, dan mencium pucuk kepalanya.
"Kamu akan jadi pria kuat, semoga kamu menjadi anak yang sholeh." ucap Arjuna.
"Mas, si dede belum bisa dibawa pulang sekarang, dia masih harus di inkubator." ucap Davina.
"Iya, dia kan belum waktunya lahir."
"Kita kasih nama siapa ya Mas?"
"Mau kamu siapa?"
"Gimana di kasih nama Danil Altair Zaen."
"Bagus, cocok."
"Dek, nama kamu Danil." ucap Davina sambil menggendong adiknya.
****
Arjuna sibuk menata kamar Mami dan Daddy nya, di sulap menjadi kamar bayi. Sedangkan Davina dan dibantu Sinta menata pakaian bayi, di dalam lemari yang baru saja di beli.
"Yank, kalau tidak salah. Daddy beli perlengkapan bayi deh, coba cek kamar sebelah, kayanya sudah komplit." ucap Arjuna.
"Kenapa Mas, tidak bilang dari tadi. Ini kan sudah beli, gimana dong?" ucap Davina.
"Ya nggak tahu, kirain kamu ingat."
"Kalau nggak ke pakai kan, bisa buat anak kalian." ucap Sinta.
"Nah tuh ada benar nya Yank." ucap Arjuna.
"Ya deh, kita ke kamar sebelah yuk." ajak Davina.
Sedangkan Baby Danil yang sudah di perbolehkan pulang sedang di gendong oleh Emak. Bayi mungil itu tampak tenang, dan asik menyusu di botol.
"Nggak rewel ya Mak."ucap Davina.
" Iya nggak rewel, pintar anaknya." ucap Emak.
"Alhamdulillah, kamu pintar sayang. Kecil - kecil juga mengerti ya, kita ini hidup nggak ada orang tua, tapi kita jangan patah semangat, jangan sedih." ucap Davina sambil mengecup kening Danil.
"Davina, ini nanti gimana kalau kalian kerja? mau di bawa!" ucap Emak
"Iya Mak, seperti Mami bilang, urus sendiri."
__ADS_1
"Terus, kalau nanti kalian punya anak, apa tidak repot tanpa pengasuh?"
"Nggak lah Mak, kita kan saling kerja sama."
"Emak sudah bayangkan, betapa repot nya."
****
Owaaaa.. owaaaaa..
"Mas, itu Danil nangis minta susu." ucap Davina dengan masih menutup matanya.
"Ada Emak Yank." ucap Arjuna, yang masih malas memeluk guling.
Owaaa... owaaaa
Tangisannya semakin kencang, Davina lantas bangun dan berjalan ke kamar Danil. Terlihat Danil menangis, dan Davina memberikan susu untuk Danil, namun tidak mau.
"Kamu PUP ya, atau sudah nggak nyaman Pampers nya?" ucap Davina sambil memeriksa pampers nya.
"Ah.. kamu PUP, nanti kakak panggil Mas ya."
Davina berjalan kembali ke arah kamarnya, dan membangunkan Arjuna dengan paksa.
"Apa sih Yank."ucap Arjuna.
" Bersihkan Danil, dia PUP." pinta Davina.
"Ada Emak."
"Emak kan pulang Yank, bantuin."
Dengan mata yang masih berat, Arjuna berjalan ke arah kamar Danil, membantu membersihkan kotorannya.
Arjuna kembali berbaring, dikamar Danil. Sedang kan Baby Danil tidak kembali tidur, namun melainkan mengajak kakaknya untuk bergadang.
"Danil tidur, kakak ngantuk." ucap Davina.
"Tiduri saja samping Mas."
"Ah nanti jatuh gimana? "
"Nggak akan, tiduri sini."
Davina meletakkan tubuh Danil disamping Arjuna, namun Danil menangis. Arjuna lantas bangun, saat mendengar suara tangisan Danil yang semakin kencang.
"Kenapa Danil? kok malah nangis!" ucap Arjuna.
"Danil maunya begini, gantian Mas. Gimana nanti punya anak sendiri, malah saya yang bergadang setiap malam."
"Maaf, sini Mas gendong. Kamu sana, tidur." ucap Arjuna dengan mengambil alih Danil dari gendongan Davina.
****
"Eh nih anak kenapa tidur di jam makan siang?" tanya dokter Farah.
"Malamnya bergadang dia." ucap Toni.
"Ini baru adik loh, gimana nanti mengurus anak sendiri."
"Berisik ah, saya lagi tidur." ucap Davina.
"Nggak makan siang?"
"Nggak ah, masih ngantuk."
Sedangkan Arjuna sibuk dengan adik iparnya, yang sedang menangis. Arjuna membawa Danil ke tempat dinas, hingga tangisan Danil sampai ke ruangan Komandannya.
"Itu siapa yang bawa bayi?"
__ADS_1
"Arjuna."
Langkah kakinya, mengarahkan ke arah ruangan Arjuna, melihat Arjuna sedang memberikan susu.
Arjuna kaget, namun Komandannya agar untuk santai. Pria berusia 45 tahun itu tersenyum, pada bayi yang sedang digendong nya.
"Dia adik ipar kamu?"
"Siap benar."
"Kenapa tidak di asuh sama baby sister?"
"Tidak boleh sama istri saya."
"Asal kamu bisa membagi waktu, mana kerja mana santai."
"Siapa Komandan."
Arjuna merasakan lega, dan Danil pun perlahan menutup kedua matanya. Baby Danil, lantas di tidurkan di atas stroller.
"jangan rewel ya, Mas mau kerja lagi."
****
"Yank, kalau begini repot.Masa harus di bawa setiap hari, secara bergantian. pakailah Baby sister, kamu harus percaya." ucap Arjuna.
"Sudah biar sama Emak, nanti Emak yang jaga." ucap Emak.
"Tuh, kalau Emak saya setuju." ucap Davina.
"Emak tidak repot?" tanya Arjuna.
"Tidak repot kok, pagi sampai kalian pulang, Danil sama Emak. Malam sampai pagi, kalian yang asuh Danil. Hitung - hitung kalian belajar mengasuh bayi, sebelum punya bayi sendiri."jawab Emak.
" Boleh juga ide Emak." ucap Davina.
****
"Selamat sore!" sapa Ibu Vera.
"Tante ngapain kesini?" tanya Davina.
"Tante mau lihat keponakan Tante, apa tidak boleh?"jawab Ibu Vera, kembali bertanya.
" Bukan tidak boleh, kita kan tidak punya hubungan apa - apa lagi, ngapain Tante kesini ."ucap Davina ketus.
"Yank, tamu itu jangan ditolak. Kalau di tolak, berarti menolak rejeki. Tante Vera kan, datang kesini baik - baik, masa kamu tolak." ucap Arjuna.
"Mas, kalau saya tolak dia, berarti menolak hawa jahat." celetuk Davina lantas membawa Danil masuk kedalam kamar.
"Maafkan istri saya Tante." ucap Arjuna.
"Tidak apa - apa, saya hanya ingin memberikan ini buat Danil, semoga suka." ucap Ibu Vera.
"Terima kasih Tante, jadi merepotkan."
"Tidak kok, mungkin Davina masih kesal sama saya, tolong sampaikan maaf saya."
"Saya akan sampaikan salam nya."
"Kalau begitu, Tante pamit."
****
"Ini dari Tante Vera, kamu jangan begitu. Bagaimana juga, dia adiknya Mami." ucap Arjuna.
"Sudah ya Mas, jangan bahas dia. Dan ini tolong, dari dia Mas buang."
.
__ADS_1
.