
Paijo sedang mengiris daging kambing, di bantu Ratna istrinya dan Sinta. Mereka akan membuat sate sesuai pesanan Davina, dan sisanya di buat gulai.
Arjuna hanya diam, menatap Romeo yang sudah siap di olah.Terlihat Juliet terus mengeluarkan suara khas kambing. Davina lantas duduk di sebelah suaminya, yang sedang memangku Danil yang asik makan es krim.
"Mas kenapa?" tanya Davina.
"Mas kangen Romeo!" jawab Arjuna.
"Mas, kambing itu kan di pelihara selain di ternak, ujung - ujungnya di potong. Kalau sudah tua, mau menunggu sampai mati." ucap Davina.
"Tapi kenapa harus Romeo Yank? Mas tuh rawat dia dari kecil."
"Yaudah, kalau tidak tega. Mas jangan makan tuh daging, biar saya yang habiskan."
"Iya, terserah. Mas masih lemas!" ucap Arjuna sambil memeluk Danil.
"Jin, bakar dong biar cepat." ucap Paijo.
"Iya Mas, bakar nih jangan melamun saja, nanti kerasukan loh." ucap Sinta.
"Buruan Mas."ucap Davina.
" Iya, Mas bakar." ucap Arjuna.
Arjuna membakar sate kambing, asap yang mengepul hingga wangi daging kambing semerbak. Davina yang menunggu tidak sabar, lantas mengambil satu tusuk yang masih di atas bara api.
"Yank, panas." ucap Arjuna.
"Nggak kok, malah enak masih panas."ucap Davina.
" Mam." ucap Danil minta.
"Nanti ya, belum matang sempurna." ucap Davina.
"Ma - mam. " ucap Danil kembali sambil menarik celana panjang kakaknya.
__ADS_1
Davina mengangkat tubuh Danil, dan mengambil satu tusuk sate lalu meniup terlebih dahulu. Dan menyuapi nya, Danil tampak tidak suka langsung membuang langsung dari mulutnya.
"Kagak enak ya?" tanya Davina, pada adiknya.
Danil terlihat menjulurkan lidahnya, dan dengan segera Davina memberikan minum pada adiknya.
***
Semua makan bersama, kecuali Arjuna yang hanya makan lontong dengan sambal bumbu kacang, karena tidak tega makan kambing peliharaannya.
"Kamu nggak makan? enak loh dagingnya." ucap Emak.
"Ini lagi makan." ucap Arjuna.
"Mas, makan nggak pakai daging. Soalnya terasa tersayat, si Romeo sudah jadi sate." ucap Sinta.
"Yaelah Mas, sampe segitunya. Demi anak kamu loh, berarti Mas itu tidak sayang sama calon anak dalam perut." celetuk Davina.
"Nggak yank, sayang kok." ucap Arjuna dengan lemas.
"Ikhlas sayang, tuh senyum." ucap Arjuna dengan senyum terpaksa.
"Senyumnya terpaksa tuh mba." ledek Sinta.
****
Davina berbaring di atas tempat tidur, mereka menginap di rumah orang tua Arjuna. Dengan penuh cinta, Arjuna mengusap perut Davina.Lalu mencium dan memeluknya.
"Nggak sabar, pengen cepet lahir." ucap Arjuna.
"Sabar dong, baru saja satu bulan." ucap Davina.
"Mas." panggil Arjuna.
"Ya." ucap singkat Arjuna.
__ADS_1
"Kalau lahir nanti mirip siapa ya?"
"Yang jelas mirip kita Yank, masa mirip tetangga."
"Jujur deh Mas, dulu tuh saya ilfeel banget sama kamu, eh malah kita beneran jodoh. Nggak menyangka saja."
"Yah dengan pesona Arjuna yang tampan, gimana tidak menolak. Pastilah dengan seribu jurus, bakal langsung klepek - klepek."
"Alah.. jurus apaan, kagak ada."
"Nah ini keunggulan jurusnya, yang tidak bisa dirasakan."
"Kenapa suka sama saya?"
"Kamu itu cantik, unik terus apa ya? bisa buat Mas selalu ingin ketemu, dan berhasil mengaduk - aduk hati."
"Mulai gombalnya, nyebelin banget."
"Serius Yank, masa bohong.".
" Ehm.. iya deh percaya."
"I love you." bisik Arjuna.
"I love you too." balas Davina.
Sebuah ciuman mendarat di bibir Davina, lalu mendarat lagi dan Davina membalas nya lagi.
"Semoga cinta kita, abadi hingga akhir waktu."bisik Arjuna kembali.
" Amin..!! " ucap Davina dengan mengecup kembali bibir suaminya.
"Mam, Dad, Davina bahagia bersama pria yang kini menjadi pendamping hidup. Danil pun bahagia, dalam asuhan keluarga Mas Arjuna. Ada calon cucu kalian, seandainya kalian masih hidup, pasti kalian akan bahagia. Walau kalian tidak ada, tapi kalian tetap ada dalam hati saya dan Danil. I love you Mam Dad. " ucap Davina dalam hati.
.
__ADS_1
.