
"Saya terima nikah dan kawinnya Davina Permata Indah Binti Haris Anugerah dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai." ucap lantang Arjuna.
"Alhamdulillah."
SAH
"Yeeessss.... akhirnya resmi nikah Mak..!! " teriak Arjuna, hingga semua yang hadir tertawa.
"Heboh banget sih?" tegur Davina.
"Kita resmi Yank." ucap Arjuna.
"Sekarang sudah Sah, cium keningnya dong, dan pengantin perempuan cium tangan suaminya." ucap Pak Penghulu.
Davina mencium punggung tangan Arjuna, yang sekarang resmi menjadi suaminya. Arjuna lantas mencium kening Davina, lantas turun ke bibir, sontak mendapat tepuk tangan yang riuh.
Davina menunduk malu, melihat suaminya yang agresif di depan umum, dan tak henti berteriak bahagia.
"Bisa diam nggak sih? punya laki tambah gila saja." ucap Davina menahan malu.
"Perjuangan saya, ternyata berhasil."
"Biasa saja kali."
Para tamu undangan memberikan selamat pada kedua mempelai, bahkan suasana tambah heboh, saat teman - teman Arjuna memberikan selamat.
Teman - teman Davina pun heboh, membawa kado sebuah peralatan dapur, mulai dari kompor, panci, wajan, sapu dan semua peralatan dapur.
Hingga membuat Davina tertawa, apalagi dokter Toni membawa buket bunga uang yang lebar sekitar 5 meter, dan Farah membawa sebuah kalung uang lembaran 2000 an yang sangat panjang, lantas di kalungkan pada Davina, dan buket di berikan pada Arjuna, sehingga pengantin tidak terlihat.
"Aduh.. kalian ya, ih.. heboh banget. Makasih ya, makasih." ucap Davina sambil tertawa.
"Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah." ucap Toni.
"Amin, makasih." ucap Davina dan Arjuna.
Yang semakin bikin tertawa, Farhan membawa kambing betina, dan Fuji membawa kambing betina.
"Hey.. aduh, itu kambing kenapa bisa masuk?" ucap Arjuna.
"Ini hadiah dari kita, kambing nya nanti di kawinkan ya." ucap Fuji menyerahkan kambing pada Arjuna.
"Ini namanya Selly." ucap Fuji.
"Nah, Bu dokter ini Ucok, rawat dengan baik ya bu. Semoga mereka, menjadi keluarga bahagia." ucap Farhan sambil menyerahkan kambing pada Davina.
"Iya, makasih banyak." ucap Davina.
"Bu dokter ini kambing taruh dimana?" tanya Farhan.
"Aduh dimana ya, kalau disini nanti banyak yang rusak, bisa makan rumput hias." jawab Davina.
"Kamu bawa keluar deh, tadi lewat mana tuh kambing. Lagian kasih hadiah kambing, amplop kek yang tebel." sindir Arjuna.
"Yeeee ini kambing, kalau di uangkan besar, kalau nggak mau kita bawa lagi." ucap Fuji.
"Jangan, enak saja." ucap Arjuna.
"Ih.. itu kambingnya keluar kotoran Mas." ucap Davina langsung menyingkir.
"Ah... asem benar, cepat bawa." ucap Arjuna.
***
Acara masih terus berjalan, hingga malam. Keduanya memutuskan untuk istirahat, dan berganti pakaian kedua.
"Mas, pijat kepalanya. Rasanya berat banget, cenat cenut gini."ucap Davina.
Arjuna memijat pelipis Davina, kini mereka sedang berada di dalam kamar, Arjuna yang hanya memakai celana pendek dan kaos lengan pendek, sedangkan Davina memakainya kemben dan celana pendek.
" Enak?" tanya Arjuna.
__ADS_1
"Enak Mas, pusing banget." jawab Davina.
"Yah, kalau pusing gimana nanti malam?" celetuk Arjuna.
"Memangnya nanti malam kita mau ngapain?" tanya Davina.
"Nggak ngapa - ngapain sih, hanya tidur sama - sama." jawab Arjuna.
"Oh."
Tok.. tok..
"Masuk." ucap Davina.
Ceklek
"Sudah siap?" tanya salah satu MUA.
"Make up suami saya saja dulu, saya ingin ingin minum obat sakit kepala dulu." ucap Davina.
"Mari Mas, saya make up dulu."
****
Tamu undangan berganti, para tamu dari teman - teman Pak Haris, Ibu Tika dan beberapa undangan teman - teman Emak, bahkan tetangga jauh dan dekat.
Davina memijat kedua kakinya, karena berdiri terlalu lama, hingga Arjuna membantu memijat kedua kaki Davina.
"Masih pusing?" tanya Arjuna.
"Sudah agak mendingan, tinggal capeknya saja." jawab Davina.
"Besok kita berangkat pagi loh, kamu kuat kan?" ucap Arjuna cemas.
"kuat dong sayang, masa tidak kuat." ucap Davina.
"Syukurlah, takut bulan madu kita gagal." ucap Arjuna.
"Kalau gagal, bisa lain waktu sayang."
"Besok tetap berangkat kok."ucap Davina.
"Davina, Arjuna."
Davina dan Arjuna mengangkat wajahnya saat ada yang memanggilnya, Davina dan Arjuna lalu bangun dari duduknya.
"Selamat ya, maaf Tante baru mengucapkan sekarang." ucap Ibu Vera.
"Terima kasih Tante." ucap Arjuna.
Davina tersenyum kecut, dan hanya menatap Mami tirinya, yang sedang berhadapan dengan dirinya.
"Maaf, Tante baru memberikan ucapan sekarang, semoga kamu bahagia."
"Terima kasih Tante."
"Oh iya, Tante sudah taruh hadiah di kamar pengantin kalian, semoga bermanfaat."
"Iya, pasti bermanfaat." ucap Davina.
"Kalau begitu, Tante turun dulu ya."
Davina hanya menatap malas, namun dengan segera di nasehati oleh Arjuna.
"Kamu tidak boleh begitu, dia tulus datang memberikan ucapan selamat."
"Iya." ucap malas Davina.
"Sudah ah, ini hari bahagia jangan di rusak." ucap Arjuna.
****
__ADS_1
"Alhamdulillah, malam ini nikmat sekali. Alhamdulillah lancar Mas, ini seperti mimpi." ucap Davina.
"Mas bahagia sayang." ucap Arjuna.
"Sama sayang, udah ah mau mandi." ucap Davina lantas bangun.
"Mau Mas bantu buka gaunnya?" bisik Arjuna di telinga Davina, dan satu kecupan di daratkan pada leher Davina.
"Boleh." ucap Davina.
Arjuna membuka resleting gaunnya, terlihat punggung putih dan mulus, Arjuna mengecup nya, sehingga Davina memejamkan kedua matanya.
"Mas, saya mandi dulu."
"Iya sayang, nanti gantian." ucap Arjuna.
Davina dengan hanya memakai dalaman, masuk kedalam kamar mandi, bahkan Arjuna merasakan miliknya telah mengeras.
"Sabar tong, sarangnya lagi di siapkan." ucap Arjuna.
***
Ceklek
Davina keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk, yang dililit sebatas dada. Arjuna mengedipkan salah satu matanya, saat berpapasan dengan Davina.
Plaaakkk
Awwwww
"Mas!" ucap Davina kaget.
"Tunggu Mas ya." ucap Arjuna, lantas masuk kedalam kamar mandi.
"Kadonya besok lagi saja lah, sekarang nggak kuat capek." ucap Davina.
***
"Sayang." peluk Arjuna dari belakang, saat Davina sedang memasukkan pakaian miliknya kedalam koper.
"Mas." ucap Davina, saat kedua tangan Arjuna yang sudah tidak terkontrol.
"Main yuk, Mas ingin langsung unboxing, si otong sudah ingin keluar dari sarangnya." bisik Arjuna.
"Sarang itu apa? terus si otong siapa?" tanya Davina polos.
"Masa kamu nggak paham, ini rasakan sudah keras." ucap Arjuna sambil menggeseknya, sehingga Davina merasakan sebuah benda kenyal dan keras.
"Mas, ini apa?" tanya Davina.
"Ini si otong, yuk kita pemanasan dulu." jawab Davina.
"Ih... Mas, geli tahu."
"Geli juga enak." Arjuna membalikkan tubuh Davia, keduanya saling berciuman, bahkan tubuh Davina di angkatnya, untuk di baringkan ke atas tempat tidur.
Arjuna memberikan beberapa tanda merah, hingga membuat Davina menggigit bibirnya, saat kedua tangan bermain di dua bukit kembar.
"Mas!"
"Kenapa sayang?" ucap Arjuna, saat bermain di area perut.
"Mas, jangan kebawah!"
"Kenapa?"
"Saya palam merah."
"Astaga! kok nggak bilang sih? si otong bagaimana!" ucap Arjuna menunjuk miliknya yang sudah menegang.
.
__ADS_1
.
.