Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik

Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik
Masih Bulan Madu 2


__ADS_3

Davina dan Arjuna, berjalan tak jauh dari pelabuhan, mereka ke salah satu tempat wisata, salah satu negara di Eropa. Berbagai macam makanan, keduanya mencoba.


"Kamu pernah ke negara mana saja?" tanya Arjuna.


"Jepang, Korea, Inggris, Amerika, Paris, Jerman banyak." jawab Davina.


"Berati kesini sudah dong?" ucap Arjuna.


"Sudah Mas, tapi kalau naik Kapal Pesiar belum. Ini baru pertama, kalau Daddy sih sering sama Vera." ucap Davina.


"Hus jangan panggil Vera, panggil Mami atau Tante."tegur Arjuna.


" Malas ah, enak juga panggil nama."


"Kita kembali ke kapal yuk, sudah banyak barang yang kita beli."


"Ok!"


"Yank, kita nggak telepon keluarga, mereka juga sama. Kita kok sampai lupa ya, gara - gara terlalu asik." ucap Arjuna.


"Mungkin mereka mengerti Mas, kan kita sedang bulan madu." ucap Davina.


Mereka pun naik keatas kapal, saat keluar dari Lift menuju ke arah kamar, Davina menatap seorang pria yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Hi." sapa pria tersebut.


"Jimi." ucap Davina.


"Apa kabar Dav? kamu makin cantik saja." ucap Jimi, yang membuat Arjuna semakin panas.


"Baik, kenalin ini suami saya." ucap Davina.


"Arjuna." ucap Arjuna sambil berjabat tangan.


"Jimi, mantan Davina! " ucap Jimi.


"Kamu kok bisa ada disini?" tanya Davina.


"Biasa, saya sedang liburan. Karena dokter juga, butuh refreshing." jawab Jimi.


"Sendiri?"


"Sendiri, karena setelah putus sama kamu, saya belum pernah menjalin hubungan lagi."


"Maaf, kami masuk dulu." ucap Arjuna langsung menarik tangan Davina masuk kedalam kamar.


"Sorry kami masuk dulu."


"Nanti kita lanjut ngobrol ya." ucap Jimi.


Pintu kamar di kunci oleh Arjuna, paper bag Arjuna lempar di sofa, dan langsung berkacak pinggang di depan Davina.


"Kenapa Mas?" tanya Davina santai.


"Kenapa kamu tidak jujur, kalau kamu pernah pacaran?" tanya Arjuna.


"Katanya kamu benci pria, tapi dia siapa? katanya baru saya, yang kamu pacari." ucap Arjuna kembali.


"Memang benci pria, contohnya saya sama dia, putus karena orang ketiga. Sama seperti Daddy, ada orang ketiga. Menurut saya itu sama saja, dan baru menjalin hubungan lagi itu sama Mas."


"Jadi saya bukan cinta pertama?"


"Iya, kenapa?"


"Mas kira, Mas cinta pertama dan terakhir. Ternyata?" ucap Arjuna terpotong.


"Mas cinta sejati dan terakhir." ucap Davina.


"Berapa tahun sama dia?"


"Betapa ya? sekitar 3 tahun.Itu saat kuliah."

__ADS_1


"Tiga tahun! "


"Terus kenapa sih Mas? heboh amat deh." ucap Davina heran.


"Mas kan hanya ingin kamu jujur, kenapa baru tahu dia mantan."


"Sudah Mas, jangan di bahas ih.Gara - gara Mantan saja, jadi bertengkar. Lagian, saya itu benci banget sama dia. Dia itu selingkuh, jadi malas buat di ingat - ingat."


"Terus kalau putusnya bukan karena selingkuh, pasti di ingat?" ucap Arjuna.


"Ya ampun Mas, bagi saya mantan ya mantan Mas. Sudah dong, jadi bete." ucap Davina, mengambil remote dan menyalakan televisi.


Arjuna lantas mendekat dan memeluk istrinya, dicium kedua pipi Davina lantas berbaring di kedua paha Davina.


"Jangan marah gitu Yank, masa marah gitu." ucap Arjuna.


"Nggak marah, bete saja."


"Biar nggak bete apa dong?"


"Apa ya?" ucap Davina sambil berpikir.


"Yank, maaf ya." ucap Arjuna.


"Iya Mas, udah ah jangan bahas mantan. Saya saja, nggak pernah bahas si Nunik."


"Tuh kan!"


"Apa Mas, kita seri dong."


****


Malam tepat bulan purnama, dengan jaket tebal Arjuna dan Davina berphoto. Laut yang tenang, membuat perjalanan sangat nyaman.


"Bagus Mas photo nya" tanya Davina.


"Bagus, kan kameranya bagus." jawab Arjuna.


"Hi Jim, kamu sendirian lagi? tidak mau cari pasangan!" ucap Davina.


"Malas, mereka tidak seperti kamu." ucap Jimi, yang dengan sengaja memanasi Arjuna.


"Please lah Jim, kamu jangan cari masalah." ucap Davina pelan.


"Hahahaha... sorry, kalau gitu saya pergi." ucap Jimi dengan melirik ke arah Jimi.


"Mas dukung kamu putus sama dia, terlihat dari cara bicara dan gaya tubuhnya, dia itu bukan pria baik - baik." ucap Arjuna.


"Nah paham."


****


Nunik melihat status yang di posting Arjuna, terlihat photo - photo bulan madu Arjuna dan istrinya, Nunik meneteskan air mata, saat melihat postingan photo bulan madu. mereka.


Hiks... hiks..


"Seharusnya itu saya, hiks.. hiks..!" ucap Nunik terisak.


"Kenapa kamu nangis?" tegur Ibu Nunik.


"Nggak nangis." ucap Nunik bohong langsung mengusap air matanya.


"Buat apa kamu nangis! dia itu suami orang, keluarga sekarang lihatnya ke atas terus, tidak pernah lihat ke bawah. Apalagi kamu, hanya orang tidak punya, di mata mereka sekarang."


"Bu, kalau saja itu tidak terjadi. Kami itu menikah bu." ucap Nunik.


"Mimpi kamu, sekarang kamu siap - siap, ada tamu datang. "


"Bu, Ibu jadi jodohin saya sama dia?" ucap Nunik.


"Iya, kenapa? dia orang kaya. Dari pada Arjuna, lebih baik yang ini. Sekarang kamu siap- siap, Ibu tidak mau tahu dan banyak alasan."

__ADS_1


****


"Mak, lihat status Mas Arjuna. Asik banget ya, bulan madu ke luar negeri." ucap Sinta sambil menunjukkan photo di status Arjuna.


"Anak Emak hebat, bisa jalan - jalan ke luar negeri. Nggak menyangka, gayanya kayak sultan." ucap Emak.


"Mas Arjuna bawa oleh - oleh apa ya, saya chat ah biar di belikan oleh - oleh." ucap Sinta langsung mengchat kakaknya.


"Kamu video call saja."


"Chat saja dulu Mak."


****


"Yank, kamu masih palang merah?" tanya Arjuna.


"Sudah selesai tadi sore."jawab Davina, Arjuna langsung tersenyum lebar.


" Berarti, bisa dong kita itu." ucap Arjuna dengan menaik turunkan alisnya.


" Bisa apa Mas?"


"Bisa ini!! "


"Mas...!!!


Davina menjerit di bawah selimut, saat tangan nakal Arjuna, terus memegang milik Davina. Namun kegiatan mereka, terganggu gara - gara bunyi ponsel Arjuna yang terus berdering.


" Mas, itu chat dari tadi tegur Davina."


"Biar!"


"Tapi bukan chat, itu telepon."


"Siapa sih? lagi enak - enak malah telepon, kemarin - kemarin tidak ada yang telepon." ucap Arjuna.


Saat dilihat sebuah panggilan Video Call, Arjuna lantas menjauh dari posisi dekat Davina.


"Mas...! "teriak Sinta.


" Dek, Emak." sapa Arjuna.


"Mas, mba Davina mana?"


"Hi.. Sinta." sapa Davina, yang sudah ada di belakang Arjuna.


"Gimana kabarnya?"tanya Emak.


" Alhamdulillah Mak kami sehat, disana sehat semua?" jawab Arjuna kembali bertanya.


"Alhamdulillah sehat, kalian kapan pulang?"


"Nanti Mak, 4 hari lagi kami pulang."


"Mas, Mba jangan lupa oleh - oleh." ucap Sinta.


"Iya Mas sudah siapkan."


"Sekarang kalian lagi ngapain?"


"Lagi terima video call dari kamu."


"Yaudah, lanjut kalian buat anak nya, kasih ponakan buat saya, bye.. " ucap Sinta langsung mematikan video call nya.


Arjuna melirik kembali ke arah Davina, dengan tatapan bagai singa kelaparan, Arjuna langsung memeluk tubuh Davina dan menciuminya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2