Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik

Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik
Lika Liku Cinta


__ADS_3

"Kambing sialan...!! " teriak Davina saat dirinya harus menahan rasa sakit di pantatnya, akibat kambing bernama Juliet dengan kepalanya menubruk Davina hingga terjatuh tersungkur.


"Yank, kamu nggak apa - apa?" tanya Arjuna.


Aaaaaa


"Kambing sialan..!! lihat ini kedua telapak tangan saya, kotoran kambing." jawab Davina kesal.


Arjuna membantu Davina berdiri, dan membersihkan kedua lutut Davina yang konor. Lututnya lecet, karena Davina memakai celana pendek.


Embeeee


"Juliet! kamu nakal." tegur Arjuna.


"Pokoknya, itu kambing Mas potong. Kita buat saya sama gulai." ucap Davina sambil menatap tajam ke arah kambing.


"Jangan sayang, maaf ya. Juliet mungkin cemburu."


Awwww


"Sakit Yank?" tanya Arjuna.


"Sakit tahu." jawab Davina.


*****


Hahahaha..


Sinta tertawa terbahak - bahak, saat tahu cerita. Kalau kakak iparnya di seruduk oleh Juliet.


"Hahahaha.. Juliet bisa marah ya!" ucap Sinta yang tidak sanggup menahan tawa.


"Kamu bisa diam nggak? kasihan sakit dia." tegur Arjuna.


"Emang dasar tuh kambing, Mak di jual atau di potong saja, buat sate sama gulai. Masa saya harus saingan sama kambing, lucu juga saingan saya." ucap Davina.


"Arjuna, itu si Juliet mungkin salah makan kali. Bisa galak gitu, takutnya dia begitu sama Emak atau Paijo."


"Mak, jangan ah. Itu kan kambing kesayangan Arjuna." ucap Arjuna.


"Mas, pilih istri atau kambing? lihat nih pantat masih kerasa sakit banget." ucap Davina.


"Pilih istri dong, masa pilih kambing."


"Yaudah, besok eksekusi."


****


"Assalamu'alaikum Mami." sapa Davina.


"Walaikumsalam." balas Ibu Tika.


Davina mencium pipi kanan dan kiri Maminya, Arjuna pun bersalaman dengan mencium punggung tangan Ibu Mertuanya.


"Mami sampai kangen sama kalian berdua." ucap Ibu Tika.


"Sama Mami, Davina juga kangen sama Mami." ucap Davina.


Arjuna membawa koper masuk kedalam kamar, Pak Haris datang dari arah pintu belakang.


"Anak Daddy, gimana sayang bulan madunya?" ucap Pak Haris.


"Menyenangkan Daddy, makasih ya." ucap Davina memeluk Daddy nya.


"Sama - sama sayang."ucap Pak Haris.


" Dad." sapa Arjuna dengan bersalaman mencium punggung tangan Pak Haris.

__ADS_1


"Daddy senang, bulan madu kalian sebegitu bahagianya." ucap Pak Haris.


"Ada banyak oleh - oleh buat Mami, ada juga sama Daddy nanti saya ambil." ucap Davina masuk kedalam kamarnya.


"Bagaimana Davina?" tanya Pak Haris.


"Bagaimana gimana Dad?" tanya kembali Arjuna.


"Selama dia jadi istri kamu." jawab Pak Haris.


"Dia istri yang menyenangkan, dan istri yang nurut sama suami." ucap Arjuna.


"Syukurlah, Mami sama Daddy senang dengarnya." ucap Ibu Tika.


"Ini ada oleh - oleh, buat Mami sama Daddy." ucap Davina menyerahkan dua paper bag pada Mami dan Daddy nya.


"Apa ini sayang? kayanya ini, nah benar kan perfume sama gelang." ucap Ibu Tika.


"Mami kan suka sama perfume itu."


"Makasih sayang."


"Sama - sama Mami."


Pak Haris membuka paper bag tersebut, dan saat membukanya sebuah stetoskop mahal, Pak Haris tersenyum senang, saat mendapatkan hadiah pertama kalinya.


"Saya terima kasih, kamu belikan buat Daddy." ucap Pak Haris.


"Saya beli waktu mau pulang, pas melewati toko peralatan medis, ingat Daddy, saya hadiah kan ini."ucap Davina.


" Terima kasih nak."


Braaaakkk


Pintu di buka paksa, terlihat Ibu Vera datang dengan penampilan yang kacau. Pak Haris beranjak bangun.


"Pulang! dua malam kamu tidur disini Mas, sekarang kamu pulang!" bentak Ibu Vera.


"Saya mau pulang atau tidak, bukan urusan kamu. Disini itu, sama saja keluarga saya. Ada anak dan istri, dan ini adil bagi mereka, bukannya saya sudah bertahun-tahun sama kamu." ucap Pak Haris.


"Saya bilang pulang! " ucap lantang Ibu Vera.


"Vera, besok juga Mas Haris pulang ke rumah. Tanpa kamu minta, memang sudah waktunya." ucap Ibu Tika.


"Ini semua gara - gara kamu Mba, kalau kamu tidak hadir, saya sudah bahagia dengan Mas Haris. Kenapa kamu tidak cepat mati saja mba! "


Buuuggghhh


Davina tiba - tiba meninju wajah Ibu Vera, hingga semua terkejut.


"Sekali lagi kamu minta Mami saya meninggal dunia, saya akan buat kamu lebih dulu mati." ucap Davina emosi.


"Anak kurang ajar... " bentak Ibu Vera dan akan menampar pipi Davina, namun tangannya ditahan oleh Pak Haris.


"Jangan harap bisa sentuh kulit anak saya, kamu sentuh dia, saya ceraikan kamu." ancam Pak. Haris, dan Ibu Vera menurunkan tangannya.


"Mas, pulanglah. Saya malu takut, didengar tentang ga saya malu." ucap Ibu Tika dengan segera masuk kedalam kamarnya.


"Ingat! sekali lagi kamu injak kaki di rumah ini, saya patahkan kaki kamu." ancam Davina lantas berjalan masuk kedalam kamarnya.


Arjuna yang hanya bisa lihat dan diam, segera menyusul istrinya masuk kedalam kamar. Sedangkan Pak Haris dan Ibu Vera masih saling bertatap mata.


"Kita pulang." ucap Pak Haris.


****


"Kamu sama orang tua, main pukul saja. Itu tidak baik." tegur Arjuna.

__ADS_1


"Dia bukan orang tua, tapi iblis." ucap Davina.


"Kasihan mereka, saya sebagai pria juga merasakan bagaimana perasaannya." ucap Arjuna.


"Lupakan masalah tadi, itu tidak penting." ucap Davina langsung memejamkan kedua matanya.


****


Plaaakkk


Plaaaakkk


"Ampun Mas! " ucap Ibu Vera memohon, saat Pak Haris memukul hingga memar di bagian wajah, dan tangan.


"Istri kurang ajar!" bentak Pak Haris yang terus menyiksa.


Plaaaakkk


Plaaaakkk


Buuugghh


Buuuggghhh


"Ampun Mas, ampun." ucap Ibu Vera yang sudah tidak bisa menahan sakit.


"Jujur saya sudah muak sama kamu, semakin kesini semakin menjadi. Saya sudah tidak tahan." ucap Pak Haris.


"Mas, maafkan saya Mas. Saya janji, tidak akan melakukan seperti tadi, tapi tolong kamu jangan tinggalkan saya." ucap Ibu Vera dengan memegang kedua kaki Pak Haris.


"Saya talak kamu." ucap Pak Haris, yang membuat Ibu Vera kaget dan syok.


"Apa Mas, saya pasti salah dengar." ucap Ibu Vera.


"Saya talak kamu, kamu bukan lagi istri saya." ucap Pak Haris melepaskan kedua tangan Ibu Vera yang memegang kedua kalinya.


Pak Haris langsung pergi begitu saja, mengambil kunci mobil, tidak menghiraukan Ibu Vera terus berteriak memanggilnya.


"Mas Haris...! Mas...!!! "


****


"Awwww Mas sakit." ucap Davina, saat Arjuna menggigit gemas pucuk bukit milik Davina.


"Sakit tapi enak kan?" goda Arjuna saat tubuhnya berada di atas Davina.


"Isssshhh ah... jangan di putar kayak volume geli." protes Davina.


"Gak mau ah enak."


Aaaaawwwww


"Sakit! " bentak Davina, lantas langsung di bungkam mulut Davina, karena suaranya akan terdengar ke kamar Maminya.


"Diam dong, jangan berisik." ucap Arjuna.


"Sakit tahu Mas, kamu nggak ngerasa kan sakit." ucap Davina.


Terdengar suara bunyi bel rumah, Arjuna segera bangun dan mengintip dari jendela kamar, siapa yang datang.


"Siapa Mas?"


"Daddy."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2