Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik

Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik
Ada Cinta Yang Tersembunyi


__ADS_3

Arjuna memegang kepalanya saat akan pergi Dinas, sudah siap untuk berangkat Arjuna kembali membaringkan tubuhnya.


"Mas, bareng yang ke kampusnya." ucap Sinta yang masuk kedalam kamar Arjuna.


"Mas, kok tiduran sih?"tanya Sinta saat melihat kakak nya sedang tiduran.


"Nggak tahu Dek, Mas kepalanya pusing banget sama badanya terasa ngilu semua." jawab Arjuna.


Sinta memegang kening Arjuna yang terasa sangat panas, dan terlihat Arjuna dengan wajah yang pucat.


"Mas sakit ya? ke dokter ya." ucap Sinta.


"Nggak usah dek, Mas nggak kuat buat jalan. Ambilkan obat sakit kepala saja, yang ada di kotak obat." ucap Arjuna.


"jangan Mas, demam mas tinggi banget. Ke dokter saja ya, atau saya telepon kan dokter Davina?" ucap Sinta.


"Jangan hubungi Davina, memangnya dokter dia saja." ucap Arjuna.


"Jun, kamu sarapan dulu." ucap Emak.


"Kamu kenapa Jun?" tanya Emak mendekat.


"Pusing banget Mak, kepalanya sakit sama badanya linu semua." jawab Arjuna.


"Kamu kenapa sih Arjun? kemarin kamu baik - baik saja." ucap Emak.


"Nggak tahu Mak, namanya juga orang sakit. Datang kan nggak di undang, malah datang sendiri, dan pulang juga harus di usir sama obat."


"Ya Allah Jun, demam kamu tinggi. Ke dokter ya." ucap Emak.


"Obat yang ada saja, yang biasa Arjuna minum."


"Benar kata Emak, ke dokter saja. Tak bilang hubungi dokter Davina malah tidak mau." ucap Sinta.


"Sinta, ambil ponsel Mas kamu. Telepon calon istrinya, suruh periksa Mas kamu sekarang juga." perintah Emak.


"Kalian itu ngapain sih? kalau dokter yang lain saja, jangan undang dia kesini, kayak nggak ada dokter lain saja." ucap Arjuna.


"Kamu itu kenapa sih? orang sakit rewel banget." ucap Emak.


"Bukannya rewel Mak, masa harus Davina. Kan ada dokter lain, jangan ganggu dia. Terus juga jauh kasihan kesini."


Emak lantas bangun dari duduknya, dan meminta Sinta untuk keluar juga dari kamar Arjuna.


"Kamu berangkat sama Paijo saja, terus kamu ke rumah sakit suruh Davina Kesini." ucap Emak.


"Ya Mak, kalau dokter Davina tidak repot ya Mak." ucap Sinta.


"Iya."


****


Arjuna sudah berganti pakaian, dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek. Arjuna setelah meminum obat, Arjuna kembali tidur.


Emak masuk kedalam kamar, memegang kening kepalanya dan masih terasa panas. Emak pun langsung mengompres kening Arjuna.


"Kata Emak juga apa, kalau belum ke dokter nggak akan bakalan sembuh."


Sedangkan Paijo berada di rumah sakit, menunggu Davina di parkiran karena Davina belum tiba.


"Bu dokter." panggil Paijo saat melihat Davina.


"Eh Mas Paijo, siapa yang sakit? sudah ada di rumah sakit." ucap Davina.


"Bu dokter, tolong bisa ke rumah?"


"Ada apa ya?"


"Arjuna sakit, dari pagi tidur terus."


"Sakit! terus sudah di obati?" tanya Davina.


"Belum eh baru minum obat yang ada di rumah." jawab Paijo.


"Oh." ucap Davina.


"Bu dokter maaf, kalau bisa Ibu dokter ke rumah tolong periksa dia." pintar Paijo.


"Bawa saja kesini, nanti saya yang periksa."

__ADS_1


"Masalahnya, Arjuna tidak bisa bangun, katanya sakit kepalanya."


"Oh gitu ya, tapi saya tidak bisa kesana sekarang. Karena pasien saya sudah menunggu, paling pulang praktek." ucap Davina.


"Yaudah nggak apa - apa, kami tunggu."


"Iya, nanti saya kesana sampaikan saja. Tapi sudah minum obat kan?" ucap Davina.


"Sudah dok." ucap Paijo.


"Hari ini jadwal praktek sampai jam 11 kalau hari jumat, tunggu saja."


***


"Paijo, sudah kasih tahu belum? demamnya belum juga turun." ucap Emak.


"Tenang Mak, hari ini sampe jam 11 prakteknya. Mungkin lagi di jalan Mak, tenang saja." ucap Paijo.


"Ya sudah sana, kamu pulang sebentar lagi kamu kan harus siap - siap shalat jum'at."


"Ya Mak, saya pamit dulu."


Setelah Paijo pulang, mobil Davina berhenti tepat di depan rumah. Emak langsung menyambut Davina.


"Assalamu'alaikum Bu." ucap Davina langsung bersalaman dengan Emak Euis.


"Walaikumsalam." ucap Emak.


"Arjuna sakit apa Bu?" tanya Davina.


"Emak tidak tahu, yang pasti demam." jawab Emak.


"Sejak kapan?"


"Kemarin masih baik - baik saja, sekarang malah mau berangkat sudah begitu."


Emak pun mengantarkan Davina ke kamar Arjuna, Davina melihat Arjuna yang sedang tertidur. Davina melihat ada bekas bungkus obat yang di minum Arjuna.


Davina memegang Arjuna yang masih terasa demam, dengan alat termometer Davina mengecek suhu tubuh Arjuna.


"Demamnya masih tinggi Bu, 39 derajat suhu tubuhnya. Saya periksa ya Bu, maaf kalau nanti Arjuna bangun keganggu." ucap Davina.


Arjuna membuka kedua matanya saat merasakan ada benda di dadanya, Davina tersenyum saat Arjuna bangun.


"Kamu! " ucap Arjuna bangun dengan merasakan kepala yang sangat berat.


"Iya Emak panggil dokter Davina kesini, biar kamu cepat sembuh." ucap Emak.


"Ya di rasa apa?" tanya Davina.


"Kepala sakit, pusing sama berat. Badan juga linu semua, ini saja ingin berbaring terus." jawab Davina.


"Sudah makan?"tanya Davina.


" Belum, nggak nafsu." jawab Arjuna.


"Tadi minum obat jam berapa?"


"Jam 7 an."


"Ada obat yang harus di minum sesudah dan sebelum. Nanti asal masuk sedikit saja, kalau ada roti makan roti." ucap Davina.


"Ada di kulkas, nanti Emak ambil." ucap Emak Euis keluar dari kamar Arjuna.


"Kamu kok perhatian sekali sih." ucap Arjuna dengan sedikit menggoda.


"Ih.. saya itu kesini karena kemanusiaan, bukan karena saya itu suka juga sama kamu." ucap Davina.


"Masa sih? nggak percaya."


"Yasudah." ucap Davina.


"Ini ada roti tawar, kamu makan dulu." ucap Emak.


Arjuna lantas mencoba bangun dengan bersandar di kepala ranjang, Emak menyuapi Arjuna.


"Mak, bisa makan sendiri." tolak Arjuna.


"Kamu kan lemes, duduk saja susah."

__ADS_1


"Mak...!! "


"Mak..!! " teriak Paijo.


"Ada Jo?" ucap Emak beranjak bangun.


"Mak, Juliet melahirkan anaknya perempuan." ucap Paijo.


"Alhamdulillah, Arjuna Juliet melahirkan." ucap Emak, dan Arjuna hanya tersenyum.


"Dokter Davina, maaf Emak tinggal. Juliet lahiran." ucap Emak langsung buru - buru pergi bersama Paijo.


"Juliet siapa?" tanya Davina penasaran.


"Juliet itu nama kambing punya saya." jawab Arjuna.


Hahahhaha..


Davin tertawa sampai terpingkal - pingkal, saat mendengar nama kambing milik Arjuna bernama Juliet.


"Kenapa tertawa?"ucap Arjuna.


" Namanya Juliet, jangan bilang suaminya namanya Romeo." ucap Davina.


"Memang iya, terus kenapa?"


"Kok bisa sih, kasih nama Juliet sama Romeo?"


"Nama kuda kamu saja Robinson, kenapa bisa kasih nama Robinson." ucap Arjuna tidak mau kalah.


"Sekarang minum obat, biar kamu cepat sembuh." ucap Davina.


"Kalau kamu tahu dan mengerti, obatnya itu adalah kamu.Saya yakin sakit ini akan sembuh, kalau hanya sebatas minum obat tidak akan sembuh."


"Mulai deh gombalnya."


"Serius, kalau kamu tidak percaya ya sudah."


"Buruan minum obatnya, saya harus buru - buru pulang." ucap Davina.


Davina lantas memberikan obat pada Arjuna, dan Arjuna langsung meminum obat yang di berikan dari Davina.


"Jangan lupa di minun, kalau mau cepat sembuh, kalau kamu tidak mau minum berarti tidak mau sembuh." ucap Davina.


"Dav, kamu yakin kesini itu bukan ada rasa kan?" ucap Arjuna.


"Rasa kemanusiaan saja, bukan rasa yang lebih." ucap Davina.


"Tatap mata saya, coba tatap kalau kamu memang tidak ada rasa sama sekali." ucap Arjuna.


Davina menundukkan kepalanya, tidak mau mengangkat kepalanya. Sedangkan Arjuna menatap ke arah wajah Davina, Davina yang merasakan di perhatikan langsung memalingkan wajahnya.


"Dav." panggil Arjuna, dengan mengangkat dagu Davina, sehingga Davina menatap ke arah Arjuna.


"Kamu suka kan sama saya?"


"Kamu kenapa sih? penasaran banget."


"Kamu suka kan sama saya? katakan sama saya, kalau kamu itu suka."


"Apa saya harus mengatakan sekarang?"


"Iya, saya ingin kamu katakan sekarang. Saya yakin, kamu itu suka sama saya, dari cara kamu tapi kamu berusaha menolak."


"Saya harus pulang." ucap Davina, lantas Arjuna menahan tangan Davina.


"Katakan sekarang, kalau kamu tidak berani menatap saya, berarti kamu itu suka sama saya." ucap Arjuna.


"Katakan, saya tunggu jawaban kamu sekarang juga."


Davina berusaha menatap kedua mata Arjuna, dengan sangat lama Davina berusaha terus menatap. Tapi Davina langsung memalingkan wajahnya kesamping, dan Arjuna tersenyum sambil memegang tangan Davina, yang tanpa di tolak.


"Makasih, kamu memiliki perasaan yang sama. Walau kamu itu tidak mau mengakuinya, saya akan menjadi pria satu - satunya di hidup kamu, saya akan menggantikan sosok Daddy kamu, dengan memberikan kasih sayang dan selalu ada buat kamu, apa yang tidak pernah Daddy kasih saya akan kasih."ucap Arjuna.


"Saya hanya butuh kasih sayang secara bathin, bukan materi. Dan cinta yang setia, tidak ada suatu pengkhianatan." ucap Davina.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2