
"Itu anak gimana, orang mau jauh dari penyakit malah ini anak dekati penyakit." ucap Emak berjalan di lorong rumah sakit bersama Sinta.
"Mas kamu itu, otaknya taruh di lutut apa. Malah sekarang kena penyakit menular, cinta ya cinta tapi jangan gini - gina amat Arjuna." ucap Emak yang terus berbicara sepanjang jalan.
"Mak, udah dong, jangan ngomong terus. Malu itu di lihat, disini banyak dokter yang Sinta kenal." ucap Sinta berbisik.
"Eh.. Sinta, Emak kamu itu lagi kesel sama Mas kamu. Orang cinta itu harus seperti ini, kalau Davina meninggal dia mau ikut meninggal juga."
"Mak, kok ngomong begitu."
Sinta dan Emak sampai di depan ruang isolasi, disana sudah ada Ibu Vera dan Ibu Tika. Sinta lantas bertanya pada perawat yang sedang duduk di depan meja yang tidak jauh dari ruang isolasi.
"Sus, saya keluarganya Arjuna. Mau melihat dia, apa boleh masuk?" ucap Sinta.
"Maaf mba, tidak bisa. Hanya bisa lihat dari kamera CCTV saja, itu juga keluarga dari dokter Davina tidak bisa masuk." ucap Suster.
"Lah terus gimana? saya itu orang tuanya. Ingin tahu keadaan anak saya, masa harus lihat di Tv." ucap Emak.
"Mak, ini aturan rumah sakit. Kalau Emak masuk nanti tertular juga gimana?" ucap Sinta.
"Uwalah itu anak bikin susah." ucap Emak.
"Maaf, ini keluarganya Arjuna?" tanya Ibu Tika.
"Eh iya, saya Euis Emak nya Arjuna. Ini adiknya Sinta calon Bidan." jawab Emak Euis, dan mereka saling bersalaman.
"Saya Tika, Mami nya Davina." ucap Ibu Tika.
"Uwalah cantiknya, kayak artis persis Davina." ucap Emak.
"Maaf Tante, kalau Emak saya begini." ucap Sinta yang malu karena tingkah Emak.
"Ah bisa saja Ibu ini, Ibu juga cantik sama kayak putrinya." ucap Ibu Tika.
"Eh.. itu bocah, kenapa malah belai rambut sama cium kening." ucap Emak saat melihat dari layar CCTV.
"Bocah sableng, orang tua disini panik anaknya di isolasi. Malah yang di dalam ciuman, katanya sakit, ini sakit apa Sinta kakak kamu? kena Malarindu atau Malaria?" ucap Emak.
Sinta hanya tersenyum, karena suara Emak yang lantang, membuat perhatian para suster di sekitar ruang isolasi.
"Sepertinya, anak kita bu sudah kasih kode." ucap Ibu Tika.
"Saya senang, kalau kita jadi besan." ucap Emak.
****
"Makan dulu." ucap Arjuna menawarkan makan.
"Saya haus, makan nggak selera." ucap Davina.
Arjuna memberikan minum pada Davina, hingga habis satu botol tanpa sisa. Arjuna merasakan sakit di seluruh tubuhnya, namun Arjuna tetap berusaha tidak terlihat sakit di mata Davina.
__ADS_1
"Makan ya, dikit saja." ucap Arjuna.
"Kamu juga makan." ucap Davina.
"Iya ini makan." ucap Arjuna mencoba makan, namun tidak ada selera.
"Keluarga kalian ada di luar, mereka memberikan buah." ucap dokter Roni.
"Terima Kasih." ucap Davina.
"Orang tua kalian kompak ya, akur semoga keluar dari sini kalian cepat menikah." ucap dokter Roni sambil tersenyum.
"Apaan sih." ucap Davina.
"Kawin Yank." ucap Arjuna.
"Mau nya kamu." ucap Davina.
Arjuna tidak sampai habis, karena rasa tidak selera makan, Davina memegang pipi Arjuna, dan Arjuna tersenyum.
"Nggak enak ya?" tanya Davina.
"Iya nggak enak, kamu juga sama kan?" jawab Arjuna kembali bertanya.
"Iya."
Uhuk.. uhuk.. uhuk.
"Yank, kamu merasakan sesak?" ucap Davina panik, lantas mengambil Walkie talkie nya.
"Tolong, segera tolong Arjuna."ucap Davina.
Dokter Roni dan dokter Rizal datang, dengan segera mengecek kondisi Arjuna. Davina berusaha sekuat tenaga untuk bangun, hingga tubuh lemas nya sanggup berdiri.
" Yank, kamu rasakan sesak?" ucap Davina panik.
"Kamu jangan pikirkan saya." ucap Arjuna.
"Virusnya begitu cepat menyebar, kita harus segera berikan vaksin pada keduanya." ucap dokter Rizal.
"Siapa yang sedang mengambil vaksin nya?" tanya Davina.
"Ayah kamu, yang ambil kesana sendiri." ucap dokter Roni.
"Daddy! "
****
"Ya Allah dokter, cepat itu tolong anak saya. Ya Allah jangan sampai anak saya meninggal dunia sekarang, dia belum nikah." ucap Emak.
"Emak, kok doanya gitu sih. Itu sedang ditolong pasti sembuh." ucap Sinta.
__ADS_1
"Emak takut Sinta." ucap Emak.
"Kita sama seorang ibu, kita berdoa agar anak kita bisa cepat sehat." ucap Ibu Tika.
"Amin ya Allah." ucap Emak.
Ibu Vera sibuk menghubungi suaminya Pak Haris, namun tidak ada balasan atau mengangkat teleponnya.
"Apa dia sudah ada di pesawat ya?" ucap Ibu Vera panik.
Ibu Vera berjalan ke arah Ibu Tika dan Emak Euis sambil memperhatikan CCTV, terlihat Davina sedang berdiri melihat Arjuna yang sedang di tangani oleh dokter.
"Mungkin sedang dalam perjalanan kemari." ucap Ibu Vera.
"Apa kamu yakin, dia sudah kembali pulang dalam waktu cepat." ucap Ibu Tika.
"Saya sudah berusaha menghubunginya." ucap Ibu Vera.
"Ya Allah, segera hilangkan penyakit pada keduanya." ucap Emak.
Uhuk.. uhuk..
Tiba - tiba Davina batuk darah, tubuhnya tidak bisa lagi berdiri sempurna, hingga tergeletak di lantai.
"Davina." ucap Rizal panik, dan dengan segera mengangkat tubuh Davina ke atas tempat tidur.
Arjuna menoleh ke arah Davina, yang tiba - tiba tidak sadar, perlahan kedua mata Arjuna tampak buram dan gelap seketika tidak ingat apa - apa lagi.
***
Ibu Tika memegang perutnya, tubuhnya lemas saat mendapatkan kabar Davina dan Arjuna tidak sadarkan diri.
"Mba pulang saja, biar saya disini."ucap Ibu Vera.
" Saya tidak bisa tinggalkan rumah sakit, sampai anak saya sadar." ucap Ibu Tika.
"Tapi kondisi mba kan sedang hamil, saya takut terjadi sesuatu pada anak mba."
"Saya akan tetap disini." ucap Ibu Tika.
"Sudah Mak jangan nangis terus, Mas Arjuna pasti sadar." ucap Sinta menenangkan Emaknya.
"Kamu itu, punya otak taruh dimana? Mas kamu itu nggak sadar, gara - gara penyakit sialan. Kalau nggak bangun lagi gimana? Emak sama siapa? hiks.. hiks.. "
"Istighfar Mak, jangan bicara seperti itu. Mas Arjuna pasti bangun, Mak harus yakin."
.
.
.
__ADS_1